Hamil-Melahirkan-Menyusui, Antara Ekspektasi dan Realitas

Sebagai seseorang yang tiap hari pegang smartphone, terpapar internet, dan akrab dengan social media, saya termasuk yang ´muluk-muluk´ atau punya ekspektasi -ehm, kalau nggak mau dibilang khayalan- yang tinggi soal hamil, melahirkan, dan menyusui. Apalagi zaman sekarang perkara 3 itu bahkan udah jadi komoditi bisnis. Nggak heran kalau di popular post instagram dan saving-an Pinterest saya isinya soal keindahan tentang hamil, melahirkan, dan menyusui ini.

Karena saya hamilnya direncanakan dan dari jauh-jauh hari sudah ditempatkan jadi rencana indah, maka saya punya ekspektasi yang tinggi. Pengen beginilah, pengen begitulah tapi ya ujungnya banyak yang nggak sesuai ekspektasi. Pun dengan menyusui dan melahirkan. Kalau ada yang pengen disalahin, pengen rasanya saya nyalahin instagram sama Pinterest yang kenapa fotonya bagus-bagus banget. Saya kan jadi ngayal babu karena kebanyakan buka instagram sama Pinterest.

Pas nulis ini pun rasanya jadi pengen ketawa lagi. Ternyata saya senorak itu, haha. Yah, maklumin aja lah ya kan ini kehamilan yang ditunggu-tunggu banget jadi semuanya pengennya yang indah-indah dan spesial. Tapi nggak apa-apa walaupun nggak terwujud toh akhirnya bisa saya tulis sambil diketawain sendiri. Lumayan lah buat hiburan.

Hamil, antara Ekspektasi dan Realitas

¨Foto progress kehamilan per bulan lucu kali ya¨

Ekspektasi

Saya sering lihat foto ibu-ibu hamil yang pegangin perut dengan usia kandungan dari 1 sampai 9 bulan, dengan pose yang sama, di tempat yang sama, baju yang sama, dan yang membedakan cuma ukuran perutnya aja. Semakin tambah bulan semakin maju. Nah, yang kayak begini ini saya pengen banget, kayaknya lucu aja gitu. Di Pinterest banyak banget kalau mau nyari.

source from Pinterest

Realitas

Jangan harap mau foto pose indah-indah megangin perut, buat dandan dan pakai baju yang proper aja kadang saya malas, haha. Apalagi buat saya yang anti-no make up saat foto. Belum lagi harus bikin-bikin tulisan di kertas yang menunjukkan keterangan usia kandungan. Udah gitu, trimester pertama pun sempat kena bakteri yang bikin saya tambah mager. Yo wes bubar aja harapan saya buat foto lucu-lucu yang nunjukkin progress perut per bulannya.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: Terserang Flu dan Bakteri
cuma ini foto yang niat saya buat di usia kandungan 4 bulan

¨Kalau hamil nggak usah bilang-bilang, biar surprise aja buat semua orang¨

Ekspektasi

Karena pengen menjalani kehamilan dengan tenang dan nyaman serta bebas judgement, saya pengen cuma saya dan suami yang tahu soal kehamilan ini. Bahkan, orang tua pun nggak pengen kami kasih tahu karena biar surprise plus takut gagal lagi. Belum lagi teman-teman baik di dunia maya ataupun dunia nyata kayaknya dikasih tahunya ntar kalau udah benar-benar berhasil.

Realitas

Periode kehamilan saya kali ini ´nabrak´ bulan puasa dan Lebaran. Kami sudah pesan tiket Lebaran dan mudik sudah jadi tradisi saya dan suami beberapa tahun terakhir, khususnya sejak saya resign dari pekerjaan sebagai wartawan. Ketika ditanya orang tua soal mudik ini dan kami jawab nggak mudik, tentu jawabannya harus yang masuk akal dan akhirnya terlontarlah alasan hamil sebagai alasan saya nggak pulang.

Baca Juga:   Menikmati Lebaran di Jakarta (Lagi)

Sementara itu, sebagai orang yang kerjaannya akrab dengan social media dan blog dimana emang kerjaannya ´pamer´ secara nggak langsung, susah banget emang buat menyembunyikan kehamilan. Ada sponsored post yang buat menuliskannya lebih enak dikaitkan dengan kehamilan. Ada endorse produk ibu hamil dan menyusui yang menggiurkan banget. Belum lagi kok ya ndilalah pas hamil banyak yang nawarin saya event dan jalan-jalan yang tentu saja harus saya tolak dengan menggunakan alasan hamil.

¨Kan aku nggak bisa baby moon pas hamil ini, staycation di hotel aja ya?¨

Ekspektasi

Karena alasan kesehatan dan juga riwayat kehamilan terdahulu, maka kehamilan ketiga ini saya dan suami memang nggak merencanakan baby moon. Jangankan baby moon, mudik aja nggak dapat izin dari dokter, hiks. Jadilah buat hiburan saya merencanakan dari jauh-jauh hari buat staycation aja di hotel yang enak yang dekat-dekat rumah. Sekalian kan bisa foto ala-ala foto kehamilan gitu. Tapi nanti aja staycation-nya pas udah trimester ketiga biar kalau foto perutnya udah kelihatan.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: Catatan Kehamilan di Trimester Ketiga

Realitas

Trimester ketiga malah jadi trimester sibuk tiap pekannya. Selalu ada ajaaa acara. Tiap akhir pekan kalau nggak beli-beli keperluan bayi lah, ada orang tua datang berkunjung lah, beberes rumah jelang kelahiran lah, dan yang paling sering adalah malas keluar karena perut udah eungap. Alhasil nggak ada itu staycation-staycation cantik di hotel. Yang ada malah ´staycation dadakan´ sehari setelah keluar dari RS pascamelahirkan karena harus setor ASI tiap 2 jam sekali. Jadinya mau nggak mau emang harus menginap di hotel yang dekat RS deh.

Melahirkan, antara Ekspektasi dan Realitas

¨Melahirkan pervaginam aja biar cepat pulihnya¨

Ekspektasi

Karena sudah pernah melahirkan pervaginam, makanya saya pengen yang kali ini melahirkan pervaginam juga biar pemulihannya cepat. Makanya saya ikutan kelas hypnobirthing, prenatal yoga, nungging tiap malam, ngepel jongkok, sampai beli gymball buat olahraga.

Realitas

Saya harus menyerah di atas meja operasi caesar karena baby posisinya melintang setelah sebelumnya padahal posisi kepala sudah di bawah. Oke, buat yang ini saya emang nggak boleh egois memaksakan kehendak. Saya baca banyak artikel yang intinya ´It´s okay to get SC´ selama buat kepentingan keduanya. Beruntungnya, saya bisa menjalani dan melewati proses SC dengan lancar. Mau lahiran pervaginam atau SC toh sama-sama merasakan pengorbanan jadi ibu.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: Menghadapi Persalinan Caesar

¨Lucu kali ya kalau bisa foto-foto pas melahirkan¨

Ekspektasi

Akun-akun kayak @bukaan.moment @diabirthphoto yang saya tongkrongin pas hamil bikin ngiler dan ngayal babu kalau melahirkan pengen didokumentasikan juga biar ada cerita. Apalagi kalau nonton video-videonya bikin nangis. Oke, kalaupun nggak bisa nyewa jasa fotografer profesional, paling nggak pas habis SC bisa foto bertiga sama suami juga dari ruang operasi kayak beberapa orang yang udah-udah. Kalau perlu dandan dulu deh kayak Rachel Goddard sebelum SC, haha.

Realitas

Lupakan yang estetik-estetik saat melahirkan karena semua itu SULIT. Yang pertama, nggak semua dokter dan RS ´ramah´ dengan perizinan buat birth photography. Kedua, nggak semua suami boleh nungguin di ruang operasi trus abis bayi lahir bisa foto bertiga dengan latar belakang dokter dan petugas medis yang lagi sibuk kerja ngobok-obok bagian bawah sana. Ketiga, jangankan mau tampil cantik kayak Rachel Goddard atau Kate Middleton habis melahirkan kalau dandan aja malas. Malah pas SC saya tidur nyenyak sampai ngorok. Bubar deh semuanya, haha.

Menyusui, antara Ekspektasi dan Realitas

¨Pengen deh foto keluarga dan newborn¨

Ekspektasi

Sekarang lagi zaman newborn photography yang mana si bayi didandanin pakai aksesoris dan properti lucu-lucu. Pakai kostum profesi lah atau ditaroh di dalam keranjang. Imut aja gitu. Sekalian newborn photography sekalian juga foto bertiga alias foto keluarga baru yang bahagia sambil gendong anak.

pengen fotoin Aqsa kayak begini tapi suami nggak tega (Source: pixabay)

Realitas

Lupakan newborn photography karena izin dari suami alias bapaknya bocah nggak keluar. Bukan, bukan masalah biaya tapi lebih ke ´nggak tega´ katanya. Suami nggak tega lihat anak baru lahir dilipat kesana kemari, ditidurin di dalam keranjang, atau malah ditengkurepin buat pose-pose tertentu. Maklum aja lah ya karena dapatnya susah, jadi diperlakukannya kayak kristal yang rawan pecah. Udah gitu, saya juga nggak mau memaksakan kehendak, misalnya biar kelihatan kekinian di feed social media maka majang foto newborn baby sekaligus panggil jasa fotografer profesionalnya.

Selain itu, menyusui bikin malas dandan. Aslik! Jangankan mau foto cantik-cantik bertiga, mandi lama dan habis mandi sisiran aja udah syukur banget. Pengennya ya udah berpenampilan seadanya, pakai daster dengan kancing bukaan depan, atau tidur pas baby tidur karena kebanyakan begadang.

¨Nanti mau fotoin progress pertumbuhan bayi tiap bulannya, aaahh”

Ekspektasi

Oke, gagal foto kehamilan week by week atau month by month, nggak boleh gagal juga donk buat update tumbuh kembang si kecil month by month-nya. Apalagi sekarang banyak printable stuff dan juga aplikasi yang bisa ngebantu sekaligus lucu-lucu. Habis itu update di social media deh biar jadi ibu kekinian.

Realitas

Aqsa ulang bulan aja saya lupa, gaes! Saking sibuknya dengan drama ibu menyusui, haha. Ingat-ingat pas lihat postingannya mbak Eni Martini yang emang tanggal lahir anaknya samaan sama Aqsa. Yo wes lah jangankan bikin-bikin properti lucu dari printable stuff atau aplikasi, foto-foto juga nggak sempat. Wes ndak apa-apa sekaligus biar Aqsa dan foto-fotonya nggak terlalu eksis di social media. Emang komitmen saya sama suami nggak mau terlalu banyak posting soal anak di socmed, bahkan nama panjangnya pun nggak, karena khawatir akan kejahatan dan penyalahgunaan aja sih. Jadi ada pembenaran, kan?

Itu tadi beberapa ekspektasi dan realitas yang ternyata berbeda 180 derajat pada akhirnya. Kalau diingat-ingat sekarang, lumayan lah bisa buat keketawaan. Hmm, tapi nggak semuanya ekspektasi saya pas hamil, melahirkan, dan menyusui meleset kok. Masih ada yang on the track alias tepat sasaran kayak pas ikut kelas hypnobirthing, berhasil nggak pakai make up hampir di seluruh periode kehamilan, nggak makan mie instant dan memilih makanan sehat, sampai konsisten meng-ASIhi hingga saat ini dimana saya nulis artikel ini.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: Ikut Kelas Hypnobirthing

Jadi buat kamu ibu hamil, yang baru saja melahirkan, atau sedang menyusui, apa aja ´khayalan tingkat tinggi´ kalian di momen-momen itu? Sharing juga yuk!

 

0 Comments
Previous Post
Next Post