#CeritaIbu: Ekspektasi dan Realita Menghadapi Fase Makan Anak

#CeritaIbu: Ekspektasi dan Realita Menghadapi Fase Makan Anak

Drama makan adalah drama dengan babak terpanjang yang saya dan suami alami sejak menjadi orang tua. Apalagi sekarang-sekarang ini, drama makan harus ‘head to head’ dengan kebut-kebutan menaikkan berat badan. Sungguh, yang begini membuat saya dan suami harus benar-benar putar otak untuk menghadapi drama makannya Aqsa dan target kenaikan berat badan.

Target menaikkan BB Aqsa yang diiringi dengan drama makan ini tak pelak membuat kami, saya khususnya, menanggalkan semua angan-angan yang indah dan ‘ideal’ tentang makan dan memberi makan bayi yang dulu sering saya idam-idamkan. Saya sudah tutup mata dengan feed instagram ibu-ibu yang memperlihatkan anaknya sangat doyan makan. Bye feed instagram tatjanabima yang sangat menggemaskan saat doyan makan dengan menu yang sering gonta-ganti. Selamat tinggal feed instagram chawrelia yang sering memperlihatkan lucunya Galendra saat excited akan makan. Atau lupakan instastory Andien yang sering merekam Kawa makan sendiri sementara orangtuanya haha hihi ngobrol di sampingnya.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Serba-Serbi Menjaga Berat Badan Anak Tetap Stabil

Karena kenyataannya nggak seindah itu.

Sejak Aqsa GTM beberapa bulan lalu, drama makan ternyata masih sering muncul dengan babak-babak baru. Apalagi kalau anaknya mulai bosan atau habis panas badannya (padahal nggak sampai demam karena hingga saat ini Aqsa alhamdulillah belum pernah demam yang literally demam). Kenaikan BB yang irit tiap bulannya juga akhirnya membuat kami menggunakan banyak cara agar Aqsa mau makan dan BB bertambah. Bahkan, cara-cara yang sebelumnya saya anggap ‘haram’ kalau sudah mentoookkk banget ya akhirnya dilakukan juga. Ujung-ujungnya ekspektasi makan dengan indah, tenang, dan damai yang digadang-gadang dulu saat akan punya anak, tak selamanya tercapai.

Baca Juga:   #CeritaIbu: GTM, Drama Panjang Banyak Babak

Ekspektasi 1

“Anakku akan makan tanpa distraksi, tidak ada gadget, tidak ada mainan di depannya”

Realita 1

Kalau sudah rewel dan mulai bosan dengan makanan hingga suapan tak sampai 10 sendok, perlahan saya keluarkan mainan balok-balokan dengan posisi Aqsa tetap di high chair. By the way, ini bukan cuma saya aja yang begini karena sama ayahnya pun juga. Bahkan, kadang apa yang diminta anaknya dituruti saja. Yang paling konyol pernah mereka makan sambil payungan di dalam rumah.

Kasih mainan ke Aqsa ini lumayan membantu dia mau mangap dan mengunyah makanannya dengan cepat. Kalau balok-balokan sudah mulai bosan, saya putar otak keluarkan entah itu bukunya, mainan lain, atau benda-benda di sekitarnya yang dianggap aneh sehingga fokus mogok makan dan susah mangapnya dia teralihkan ke yang lain.

Atau kalau sudah susaaaahhh sekali makan, bahkan kami biarkan saja pun dia tetap nggak merasa lapar, akhirnya kami keluarkan gadget. Dari yang hanya speaker bulat dengan isi lagu anak-anak, iPad, atau menonton Youtube di ipad. Frekuensinya memang juaraaang banget, cara ini ibaratnya keluar kalau sudah mentok tok tok. Tapi toh tetap saja nggak ideal.

foto sebelah kanan itu laptop betulan yang sudah mati yang sekarang buat mainan dia

Salah nggak? Ya salah, saya mengakuinya dan ini nggak sesuai kaidah makan yang direkomendasikan. Tapi ya gimana, kadang kami orang tuanya juga udah putar otak segala cara tapi anaknya tetap selow saja walaupun nggak makan.

Ekspektasi 2

“Anakku akan makan dengan duduk di high chair, di rumah agar dia berlatih untuk tahu kalau dia sedang makan”

Realita 2

Iya benar duduk di high chair kalau pas lagi mood makannya baik, tapi kalau udah mulai muncul tanda-tanda GTM, lemahlah kami sebagai orang tuanya. Paling gampang biasanya dibawa ke restoran dengan harapan ia tetap bisa makan di kursi tapi dengan suasana baru. Atau kami bawa ke tempat bermain seperti taman atau kebun binatang, dia juga kadang masih mau untuk makan sambil duduk di kursi biasa atau stroller dengan melihat suasana baru.

jalan-jalan sambil refreshing cari tempat makan baru buat Aqsa

Kalau itu nggak mempan juga, kami dudukkan di sepedanya di rumah dengan pemikirian Aqsa tetap makan sambil duduk walaupun duduknya di sepeda. Kalau itu nggak berhasil juga, sepedanya (atau kadang stroller) kami dorong keluar rumah dengan harapan dia berada di tempat duduk yang bukan biasanya dan menikmati suasana yang baru juga. Pemikiran kami sampai di sini, toh dia masih duduk juga walaupun kami ajak berkeliling.

Terakhir, kalau sudah hopeless dan dia sering teriak-teriak minta turun dari high chair waktu makan, akhirnya kami lepas saja dan membiarkannya makan sambil jalan-jalan. Salah nggak yang begini? Ya salah, banget. Ini pun kami usahakan seminimaaallll mungkin. Tapi ya itu, lagi-lagi kami melakukan saat udah nggak ada ide, hopeless, capek banget, atau emosi jiwa melanda saat Aqsa dengan GTM-nya mulai kumat. Kalau di situasi yang normal dan ideal, saya dan ayahnya tentu memilih memberi makan dia di high chair.

Ekspektasi 3

“Anakku akan makan 30 menit saja, selesai atau nggak selesai 30 menit kita sudahi”

Realita 3

“Tambah lagi deh 15 menit, soalnya setengah jam baru dapat 5 suap aja”

Biasanya itu kalimat buat ‘menenangkan’ buat saya dan suami. Awal-awal emang 15 menit sih bilangnya, tapi lama-kelamaan nggak kerasa kok satu jam lebih ya. Kalau menurut feeding rule atau yang DSA-nya Aqsa rekomendasikan, waktu makan ideal itu 30 menit habis atau tidak habis. Tapi kenyataan di ‘lapangan’ kadang suka bikin kami pengen improvisasi.

wajah bosan ibu kalau Aqsa kelamaan makannya

Ya habis gimana, 30 menit tuh kalau pas lagi susah makan kadang cuma 5 suap aja. Itu juga pakai perjuangan banget. Trus kalau setiap makan cuma 5 suap, 2 hari aja pasti udah turun timbangan Aqsa. Salah nggak kalau nambah ‘injury time’? Salah banget, harusnya kan emang ditegakan 30 menit selesai. Tapi ya gimana, buat ibu yang anaknya sering GTM kadang tambahan waktu tuh diharapkan bisa bikin makanan yang masuk tambah banyak dan BB anak cepat naik. Yang senasib sama saya pasti ngerti.

Ekspektasi 4

“Anakku akan dilatih makan sendiri, pegang sendok sendiri dari sejak ia tahu apa itu makan dan makanan”

Realita 4

Makan sendiri, pegang sendok sendiri tuh otomatis bikin durasi makan lebih lama. Apalagi kami harus mengejar waktu 30 menit. Kalau lagi ‘benar’ selera makannya, 30 menit itu Aqsa bakal makan sampai habis semangkuk. Makanya, sekarang saya mendingan mengejar makan habis 30 menitnya dulu. Perkara pegang makan atau sendok sendiri, biasanya saya lakukan pas waktu ngemil. Jadi, waktu makan besar benar-benar konsentrasi untuk habis selama 30 menit.

Bukannya apa-apa, kalau Aqsa makan sambil belajar nyendokin sendiri, jatuhnya jadi luamaaa banget. Satu sendok paling hanya berisi beberapa butir nasi. Tiap mau nyendok aja lama banget dipegang-pegang dulu. Belum lagi makanan berpotensi dijadikan mainan, misalnya nasi dipenyet-penyet atau ikan disuwirin lalu dibuang ke bawah. Jadi lebih aman pas waktu ngemil saja belajarnya. Apalagi kalau ngemil kan makanannya lebih gampang disuapkan seperti puff, biskuit, potongan buah, atau roti yang sudah dipotongin.

Ekspektasi 5

“Aku akan memberi makan anak dengan lembut, penuh kasih sayang, dan pancaran cinta biar bonding kami semakin erat”

Realita 5

Punya anak dan menghadapi drama makan tuh sungguh menguras hati dan emosi. Kesabaran benar-benar diuji apalagi kalau sudah melakukan banyak hal buat mengatasi GTM tapi anak nggak juga mau makan. Kadang juga saya pengen nangis.

Idealnya, makan itu dengan suasana hati yang gembira dan penuh kasih sayang agar vibes yang tercipta juga menyenangkan dan bonding dengan anak juga makin erat. Tapi ya namanya hidup, kadang pas nyuapin sayanya ngantuk, capek, pengen cepat-cepat melakukan sesuatu lain, jadinya pas makan suasananya nggak enak. Bukan cuma nyuruh cepat-cepat ke Aqsa, marah-marah mulu, atau yang paling baru banting-banting barang karena saking emosinya Aqsa GTM, makan berantakan, pengen sambil main atau minta ini itu, tapi susah nyuap.

Salah nggak? Salah banget dan saya pun nggak membenarkan marah-marah ke anak saat makan. Saya sadar benar, saya juga bukan ibu yang sempurna yang bisa terus ceria menghadapi drama bersama anak. Kadang ada rasa nggak sabar dan emosi, tapi percayalah sebenarnya saya pengen melakukan yang terbaik buat Aqsa. Saya takut dia nggak naik-naik BB-nya, stunting, atau gizi buruk gara-gara susah makan. Tapi ya balik lagi, kadang ada kondisi yang tidak ideal yang akhirnya bikin saya emosi jiwa.

Ekspektasi 6

“Anakku akan makan makanan dan cemilan sehat, organik kalau perlu, dan nggak akan aku kenalkan dengan makanan instan atau junkfood”

Dulu selalu makan sama chiaseed, tapi sekarang buat ibunya aja deh chiaseednya

Realita 6

MPASI itu pada intinya mengajarkan dan mengenalkan anak untuk mau makan makanan rumah. Jadi, soal MPASI ini nggak usah dibikin ribet kalau kata dr Meta Hanindita, panutan saya. Pakai segala sesuatu yang murah dan mudah didapatkan di rumah. Padahal dulu saya menggembar-gemborkan MPASI penuh keribetan seperti yang sering saya lihat di socmed dan ternyata kini saya sadar, saya adalah emak-emak korban socmed, haha.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Happy Menapaki Tahapan MPASI bersama Nuby

Sejak saat itulah, saya yang dulu strict banget sama MPASI nggak boleh ini nggak boleh itu jadi melonggar apalagi sejak Aqsa sering GTM. MPASI ‘idealis’ yang dulu sering saya buat tanpa gula garam sekarang sudah kaya rasa biar enak. Sedikit gula garam nggak haram, kok. Bahan-bahan MPASI yang dulu terdiri dari superfood dan organik yang ketika belanja sampai jutaan harganya, sekarang sudah diganti jadi bahan-bahan yang ada di rumah dan bisa dibeli di tukang sayur. Dan ternyata superfood juga belum tentu baik untuk bayi karena bayi bukan orang dewasa bertubuh mungil. Superfood ini justru makanan yang bisa membuat BB bayi naiknya jadi seret.

Dulu penggemar nutritional yeast, tapi sejak pernah beli ada kutunya dan ternyata nggak perlu buat bayi, dibuang deh jadinya

Lalu, ketika GTM melanda dan Aqsa mulai bosan dengan nasi maka saya akan ‘lari’ ke MPASI instan yang ternyata menurut dokter pun nggak apa-apa dan lebih tertakar nilai gizinya. Yang penting saya lihat dulu di kemasannya apakah menunya benar-benar untuk MPASI. Kemudian ketika kami ayah ibunya lagi enak-enak makan di McD atau KFC dan tetiba Aqsa pengen nyobain makanannya, ya kami kasih aja. Toh porsinya juga sedikit palingan 5 buah kentang goreng dan beberapa suap suwiran ayam sudah kenyang. Karena kalaupun banyak, tentu kami nggak bolehin. Itu jatah bapak ibunya, bok! Hahaha.

Itu dia ekspektasi dan realita menghadapi fase dan drama makan anak. Sebelum terjun langsung di ‘lapangan’, berekspektasi setinggi langit itu nggak masalah. Namanya juga mengusahakan yang baik buat anak. Namun, setelah terjun langsung dan tahu situasi dan kondisinya, ternyata harus mau fleksibel dan mengalah demi kebaikan anak.

Tapi, walaupun banyak ekspektasi yang akhirnya hancur, masih ada beberapa prinsip yang saya pegang teguh kok seperti nggak memberi anak mie instan orang dewasa dulu, nggak kasih makanan pedas sama anak, belum mau ngasih makanan kalengan, dan belum kasih susu baik itu UHT, kental manis, atau formula yang benar-benar fungsinya buat diminum, bukan buat campuran makanan. Jadi walaupun banyak ekspektasi dan idealisme yang runtuh, masih ada beberapa prinsip yang dipegang teguh.

Last but not least, jadikan momen makan sebagai momen kebahagiaan buat kalian ya mama dan papa. Kalau ada drama-drama, semoga seluruh dramanya yang merepotkan segera berlalu.

 

 

0 Comments
Previous Post
Next Post
Begin Again, Lika-Liku Panjang Kehidupan Pasangan Nikah Kontrak
Rekomendasi

Begin Again, Lika-Liku Panjang Kehidupan Pasangan Nikah Kontrak