Tentang Teamwork dalam Proses MengASIhi

Tentang Teamwork dalam Proses MengASIhi

Kalau ngomongin ASI, semua mata, sudut pandang, kekaguman, bahkan sampai prasangka jatuh ke pihak ibu. Memang, ASI yang nyata-nyata singkatannya adalah Air Susu Ibu nggak bisa lepas dari sosok seorang ibu dalam perjalanannya. Tapi, berapa orang kah dari kita yang sadar dan peduli peran ayah yang juga sama-sama besar dalam keberhasilan proses menyusui? Atau jangan-jangan selama ini saya, kita, dan banyak perempuan hingga masyarakat lain masih berkutat bahwa ayah nggak ada hubungannya sama proses menyusui? Kalau begitu mulai sekarang mari kita luruskan sudut pandang soal menyusui dan siapa-siapa saja yang berperan untuk keberhasilannya.

Ada yang bilang bahwa keberhasilan ibu memberikan ASI eksklusif adalah keberhasilan ayah dan support system, begitu pula kegagalan ibu dalam proses ASI eksklusif juga merupakan kegagalan ayah dan support system. Jadi, selain ibu ada peran ayah yang juga sangat penting dalam proses mengASIhi yang kadang disepelekan, tidak dianggap, atau bahkan dilupakan baik itu oleh ayah sebagai subjek maupun orang-orang di sekelilingnya.

Sebagai orang yang bahkan sampai sekarang masih menyusui di saat anak sebentar lagi akan menginjak usia 2 tahun, saya merasakan sekali peran suami sekaligus ayah dalam proses menyusui. Walaupun tidak mendapuk dirinya sebagai ayah ASI dan terkesan cuek dengan label-label tersebut tapi toh nyatanya suami saya hingga sekarang mampu untuk membawa saya dalam keberhasilan pemberian ASIX, lalu lanjut hingga 2 tahun, memberi dukungan pada ibu menyusui yang newbie ini hingga bebas dari baby blues, dan sekarang mulai mengedukasi lingkungan sekitarnya tentang betapa pentingnya ASI bagi bayi.

Baca Juga:   ASI dari Dua Sisi, Ketika Peran Ayah Begitu Penting dalam Proses Menyusui

Dukungan Suami saat MengASIhi

Sering saya nanya sama suami, kenapa sampai berusaha keras sekali untuk saya dan Aqsa dalam proses pemberian ASIX hingga dilanjut ASI hingga menuju 2 tahun usia buah hati kami tetapi selalu dijawabnya dengan berseloroh dan hitung-hitungan matematis.

¨ASI itu murah. Bayangin aja kalau kasih susu yang taruhlah sekaleng atau sekardusnya harganya 100-150 ribu dan hanya bertahan buat paling lama seminggu, kali pemberian selama sebulan, kali satu tahun udah berapa duit itu? Mendingan uangnya dikumpulin, dikasihin ke kamu buat senang-senang. Kamu senang, ASI lancar, anak kita sehat. ¨

Pertama kali saya mendengar jawaban itu, saya hanya tertawa. Jawaban suami saya yang orang sains ada benarnya juga. Namun, lebih jauh dari seloroh itu dia tahu betul bahwa ASI adalah makanan yang baik, bahkan paling baik, bagi bayi yang baru lahir.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Tentang MengASIhi dan Dukungan di Baliknya

Keseriusan suami saya belajar soal ASI bahkan dimulai dari sejak sebelum saya melahirkan. Kami mengikuti kelas hypnobirthing yang di dalamnya juga ada informasi ´tipis-tipis´ soal menyusui dan bagaimana memperlakukan seorang ibu menyusui agar ia bebas dari baby blues yang biasanya jadi momok bagi new mom dan biang keladi ASI seret. Suami saya juga membaca dan mencari informasi lain soal menyusui baik itu dari buku ataupun internet.

Salah satu ‘buku saku’-nya suami

Karena sudah tahu betapa pentingnya ASI bagi bayi yang baru lahir, suami saya pun berperan sebagai penopang buat saya sebagai ´tentara utama´ dalam proses menyusui. Saya dan suami memang bahu-membahu bertekad bisa memberikan ASI bagi Aqsa, mulai dari mempersiapkan soal fisik, mental, hingga menghalau berbagai komentar negatif, mitos-mitos tak masuk akal, dan bujukan saat orang lain memberikan nasihat soal menyusui yang sekiranya keliru.

Begitu saat saya melahirkan Aqsa dan tidak bisa langsung menyusui karena masih belajar, suami saya tetap mendukung dengan ketenangannya. Dia sudah tahu informasi soal kapasitas lambung bayi saat lahir, jadi tidak khawatir dengan kata-kata orang soal bayi habis lahir yang nangis terus karena ASI-nya kurang. Suami terus mendukung saya untuk menyusui. Katanya, tidak apa-apa kalau ASI belum keluar atau masih sedikit, toh kebutuhan bayi juga masih sedikit di usianya yang baru beberapa hari.

Perjuangan suami paling berat yang menurut saya juga heroik adalah ketika Aqsa harus disinar selama satu hari karena bilirubinnya tinggi setelah saya diperbolehkan pulang. Di situ saya harus tetap memberikan ASI meski berupa ASIP. Karena tidak prepare sama sekali pompa ASI sebelum melahirkan, alih-alih rental atau pinjam, suami saya justru rela berjalan di jalanan sekeliling RS hanya untuk menemukan pompa ASI di baby shop. Nggak cuma itu, setelah saya diperbolehkan pulang, suamilah yang setiap 3 jam menyetor ASIP saya ke RS hingga malam hari menggunakan ojek karena saat itu kami memilih staycation di hotel dekat RS. Saya ingat sekali, dia sampai-sampai harus ke bagian kitchen hotel demi meminta es batu agar ASIP tetap terjaga dengan baik selama di perjalanan.

Dukungan suami agar saya bisa terus menyusui pun nggak putus begitu kami di rumah. Ia rela membeli kulkas 2 pintu demi saya bisa menyimpan ASIP. Dia pula yang malam-malam ikut bangun demi menemani saya menyusui dan menyendawakan Aqsa. Dia yang memijat saya ASI mulai nggak lancar dan payudara mengeras. Dia membebaskan saya membeli makanan atau belanja apapun yang penting saya happy. Bahkan saat di tempat umum, dia akan sukarela menutupi dan menunggui saya yang sedang direct breastfeeding ke Aqsa. Yang dilakukannya adalah hal-hal yang kecil tapi membahagiakan buat busui. Tapi hal kecil inilah yang justru membuat saya bahagia sebagai busui dan membebaskan saya dari baby blues.

Salah satu keberhasilan suami adalah bikin saya happy dan ASI lancar seminggu setelah melahirkan

Ayah dan Calon Ayah Harus Tahu Kebaikan ASI

Saya pernah baca suatu kalimat yang isinya kurang lebih begini, ¨Laki-laki baru belajar jadi ayah saat anak sudah lahir, perempuan bahkan sudah jadi ibu saat dia baru tahu mengandung anak¨. Kalimat ini saya artikan sebagai suatu sindiran halus pada para suami yang bahkan setelah anaknya lahir masih minim informasi soal parenting, termasuk di dalamnya adalah soal menyusui. Oleh karena itu, buat saya persoalan menyusui ini, baik itu suami ataupun istri, seharusnya derajat ilmunya sama. Tidak boleh ada yang timpang. Because breastfeeding is about teamwork.

Menyusui itu banyak sekali tantangannya. Ya tantangan dari anak, ibu, dan lingkungan sekitarnya yang kadang berpengaruh terhadap kelanjutan proses menyusui. Selain ibu, ayah juga harus tahu informasi mendetail soal menyusui termasuk bagaimana seharusnya peran ayah dalam proses menyusui hingga kandungan dan kebaikan apa yang ada dalam ASI sehingga ibu bisa terus menyusui hingga 2 tahun.

Buat saya, ASI merupakan cairan ajaib yang diciptakan langsung oleh Tuhan yang di dalamnya terdapat banyak sekali kandungan nutrisinya. Memberikan anak ASI berarti juga memenuhi hak-haknya sebagai anak. Saya pernah beberapa kali ikut workshop dan talkshow soal menyusui dan mendapatkan banyak informasi soal kebaikan dan nutrisi ASI di antaranya adalah tiap 28 ml ASI mengandung 19-23 kalori dengan 3,6-4,8% dari protein, 28,8-32,4% dari lemak, dan 26,8-31,2% dari karbohidrat. Sementara itu sebagian besarnya adalah laktosa.

Selain itu, ASI juga memiliki banyak kebaikan baik bagi ibu, bayi, ataupun keluarga. Bagi bayi, ASI memiliki beberapa kebaikan dan manfaat, antara lain:

  • berguna untuk perkembangan otak dan penglihatan yang lebih baik
  • memperkecil kemungkinan infeksi pernafasan dan telinga
  • meminimalisir alergi pada kulit
  • mencegah kematian mendadak pada bayi (SIDS)
  • menjaga jantung lebih sehat
  • meminimalkan masalah pada perut atau pencernaan serta alergi makanan

Sedangkan bagi ibu, ASI memiliki kebaikan antara lain:

  • mengurangi risiko kanker payudara dan ovarium
  • mempercepat penurunan berat badan
  • mempercepat kontraksi rahim
  • mencegah perdarahan
  • mengurangi anemia
  • menjadi kontrasepsi alami bagi tubuh
  • memberikan rasa kasih sayang dan mempererat bonding pada si kecil

Bukan hanya untuk ibu dan anak, ASI pun memiliki kebaikan dan manfaat bagi keluarga. Ini yang kadang orang-orang lupakan karena menyusui biasanya hanya seputar ibu dan anak. Padahal, ASI pun punya manfaat bagi ayah dan juga keluarga, antara lain:

  • menghemat biaya daripada jika harus memberikan susu formula
  • praktis dalam pemberiannya
  • mendukung pembentukan anak menjadi pribadi yang sehat dan cerdas

Karena banyaknya kebaikan ASI, mulai sekarang calon ayah bahkan calon suami harus sadar dan mencari informasi sebanyak-banyaknya soal mengASIhi. Buat calon ayah, saya punya beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mendukung ibu saat mengASIhi, antara lain:

  • Bersikap supportif dan tidak meragukan kemampuan ibu dalam menyusui. Seperti halnya suami saya yang bersikap tenang ketika satu hingga dua hari Aqsa lahir belum juga bisa menyusu di saat anggota keluarga lain sudah tergoda buat memberikan susu formula karena memang dia tahu bayi punya cadangan makanan saat lahir.
  • Memberikan afirmasi positif dan pujian untuk meningkatkan kepercayaan diri ibu.
  • Membantu memberikan ASI perah saat ibu ingin beristirahat. Bahkan ketika Aqsa masih bayi, suami saya rela melek menemani saya memberikan ASI tengah malam demi memastikan anak saya baik-baik saja posisinya dan rela menunggu untuk menyendawakannya.
  • Menemani ibu saat berkonsultasi dengan konselor laktasi. Bukan cuma ke konselor laktasi, suami bahkan sampai ikut kelas-kelas ibu hamil dan menyusui saat saya masih hamil.
  • Membantu menyiapkan kebutuhan yang menunjang bagi ibu menyusui. Yang paling sederhana buat saya adalah memberikan saya keluangan waktu untuk me time walaupun hanya 30 menit biar saya nggak stres karena capek mengurus anak.

Tips Lancar Menyusui dan Menghasilkan ASI Berkualitas

Sebelum punya anak, saya pikir menyusui itu gampang. Lha tinggal keluarin payudara lalu diisap sama bayi. Sepele. Makanya saya heran kok sampai banyak pihak bikin banyak acara dari workshop, talkshow, pekan menyusui, sampai kulwap soal menyusui. Ternyata pas mengalaminya sendiri, menyusui memang nggak mudah. Ada banyak tantangan dari diri sendiri dan halangan dari pihak luar yang bisa-bisa menghambat proses menyusui. Sebagai orang yang (akhirnya) berhasil memberikan ASIX dan lanjut menyusui hingga hampir 2 tahun, berikut tips lancar mengASIhi dari saya:

  • Keras kepala dan pantang menyerah, itu yang harus dimiliki oleh ibu apalagi ibu baru. Akan ada orang-orang baik itu dari support system ataupun di luar itu yang berkomentar negatif atau membanding-bandingkan, membujuk untuk memberikan susu formula, atau bahkan mendiagnosis bayi kita kurang ASI yang akan membuat new mom berkecil hati. Kalau sudah begini, keras kepala dan pantang menyerah jadi salah satu kunci saat menyusui.
  • Hindari stres. Stresnya busui biasanya berasal dari beberapa faktor seperti bayi yang terus-menerus menangis (percayalah buibu, bayi baru lahir memang baru bisanya menangis, kalau dia langsung bisa ngomong malah seram) dan omongan orang. Buat yang terakhir ini, hempaskan dan tutup kuping saja. Jangan diambil hati karena bisa jadi beban pikiran. Yakinlah kita bisa mencukupi nutrisi bayi melalui ASI.
  • Cukup minum air. Air memengaruhi kuantitas air susu dan sejatinya bahan baku ASI terdiri atas 2 kandungan yaitu: 90% dari minuman ibu (bahan baku utama) dan 10% dari makanan ibu
  • Makanan makanan yang bernutrisi. Makanan memengaruhi kualitas air susu. Ada yang disebut nutrisi mikro yaitu nutrisi yang tergantung dari asupan makanan. Jadi jika sang ibu tidak makan, tidak ada zat gizi yang keluar dari ASI. Contoh nutrisi kelompok satu adalah vitamin A, vitamin B (B1, B2, B6, dan B12), vitamin D, Iodium, choline, dan selenium.

Untuk mencukupi nutrisi, ibu perlu memakan makanan yang bergizi. Yang paling penting adalah dalam makanan ibu harus terdapat kandungan protein hewani yang sangat diperlukan bagi bayi di 1000 hari pertamanya. Selain itu, nggak ada salahnya juga ibu mencukupkan nutrisi ASI dengan mengonsumsi suplemen bernutrisi lengkap untuk dapat menghasilkan asi bernutrisi.

Suplemen bernutrisi yang bisa direkomendasikan bagi ibu menyusui adalah Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold (PBFG). Blackmores PBFG mengandung 17 nutrisi esensial yang dibutuhkan agar ibu dapat secara optimal memberikan asi bernutrisi bagi buah hati, di antaranya: 

  • Asam folat dan zat besi yang dapat membantu menjaga ibu dari resiko anemia
  • Kalsium untuk pertumbuhan tulang dan gigi buah hati serta mencegah terjadinya osteoporosis pada ibu 
  • Zat besi yang tidak menyebabkan konstipasi sehingga aman dan bantu ibu jaga energi
  • Omega 3/DHA yang menunjang pertumbuhan otak dan mata si kecil. Omega 3/DHA dalam Blackmores PBFG ini tidak berbau sehingga tidak menyebabkan mual saat dikonsumsi 
  • Vitamin & Mineral lainnya yang dibutuhkan oleh ibu menyusui
Terima kasih ayah sudah membersamai dan mendukung penuh kami saat proses menyusui

Blackmores PBFG ini berupa kapsul salut selaput yang bisa dikonsumsi 2 kapsul setiap hari setelah makan atau sesuai petunjuk dokter. Kepopuleran Blackmores sebagai suplemen ibu menyusui pun sudah bukan isapan jempol lagi. Beberapa hari yang lalu ketika menjenguk adik ipar saya yang memiliki anak usia 5 bulan, ia memberikan testimoni bahwa Blakckmores sangat membantunya dalam memproduksi ASI yang kaya nutrisi sehingga kenaikan berat badan anaknya pun selalu tercukupi dari bulan ke bulan. Padahal awalnya adik ipar saya ini termasuk orang yang hampir putus asa menyusui karena banyak mendengar omongan negatif orang lain soal ASI-nya. Kini ia pun semakin lancar menyusui dengan suplemen bernutrisi dari Blackmores.

Tak hanya melengkapi nutrisi bagi ibu dan buah hati, Blackmores di bawah naungan Kalbe Blackmores Nutrition juga turut memperingati World Breastfeeding Week 2020 dengan menggandeng blogger yang pernah atau sedang menyusui dengan memberikan serangkaian edukasi di media sosial bagi sesama ibu hamil dan menyusui, mengenai pentingnya ASI dan masa menyusui serta pemenuhan ASI bernutrisi untuk ibu dan bayi.

Tiffany Pratiwi Suwandi selaku Brand Manager Kalbe Blackmores Nutrition menyatakan bahwa Kalbe Blackmores Nutrition menyadari pentingnya dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan pemberian ASI. Masih dalam rangka memperingati World Breastfeeding Week 2020, selain mengedukasi seputar ASI dan menyusui melalui akun Instagram @blackmoresid, Kalbe Blackmores Nutrition juga mengajak para ibu untuk berbagi pengalaman dan tantangan di masa-masa menyusui serta dukungan lingkungan dan orang-orang terdekat dalam membantu menghadapi tantangan di masa-masa menyusui.

Nggak cuma itu, komitmen berkelanjutan Kalbe Blackmores Nutrition dalam mendukung upaya pemenuhan nutrisi ibu hamil dan menyusui juga telah dibuktikan melalui kerjasama Kalbe Blackmores Nutrition dengan Yayasan Bumi Sehat, organisasi non-profit yang berfokus pada penyediaan akses layanan kesehatan berkualitas, higienis, serta pengupayaan kelahiran anak secara layak.

Terpilihnya Yayasan Bumi Sehat ini bukan tanpa alasan. Dickson Susanto, General Manager Kalbe Blackmores Nutrition menyatakan sejak 2017 sudah mereka bermitra dengan Yayasan Bumi Sehat dan secara berkelanjutan telah membantu pemenuhan gizi ibu hamil dan menyusui melalui pembagian 12.000 botol Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold setiap tahunnya di Klinik Bumi Sehat, yang tersebar di 3 kota yaitu Denpasar, Aceh dan Papua.

Selain kaya nutrisi, Blackmores PBFG ini pun sudah bisa didapat dengan mudah di e-commerce seperti Tokopedia, Blibli, Lazada dan Shopee di toko-toko yang bertuliskan Official Store (Kalbe). Selain itu, berbagai informasi kesehatan, kehamilan, dan menyusui pun bisa didapat langsung dari akun sosial media Blackmores Indonesia. Jadi ke depannya, nggak ada cerita lagi soal ayah atau ibu yang masih minim informasi soal menyusui.

Website : https://www.blackmores.co.id/mom-and-baby/
Instagram: @blackmoresid

Jadi, para ayah, calon ayah, ibu, calon ibu, serta calon pasutri, yuk belajar sejak dini soal menyusui. Cukupkan juga nutrisi ASI dengan melengkapinya dengan Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold. Saya yakin bahwa ASI bernutrisi untuk ibu dan bayi yang istimewa harus dipersiapkan bahkan sejak kehamilan. Karena sejatinya, menyusui bukan cuma soal ibu dan bayi. Ayah pun berperan penting dalam hal menyusui. Begitu juga dengan support system yang lain. Because breastfeeding is about teamwork.

Selamat mengASIhi untuk mama-mama!

 

5 Comments
Previous Post
Next Post