Tetap Menawan dengan Hijab Instan

Tetap Menawan dengan Hijab Instan

Sejak berhasil mengajak Aqsa keluar rumah dan bisa dandan plus pakai baju yang proper lagi walaupun masih tipis-tipis, satu hal yang saya amati adalah pergerakan Aqsa saat saya gendong. Aqsa merupakan anak yang aktif, yang kalau digendong tangannya suka kemana-mana termasuk ke muka atau leher saya. Makanya saya agak khawatir satu hal yaitu kalau dia ketusuk jarum pentul yang ada di hijab saya.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Event Blogger Pertama bersama Aqsa

Saya ngeh hal ini ketika mengajak Aqsa ke event untuk pertama kalinya. Pas diajak foto, tangan dia suka kemana-mana termasuk ke leher saya dan memungkinkan banget buat penasaran sama apa yang ada di leher trus cussss aja ketancap itu jarum. Ngeri juga. Itu kalau kena tangan, lha kalau dia ndusel trus kepala atau malah matanya yang kena jarum. Duh amit-amit deh. Makanya sejak itu saya jadi concern dengan pemakaian jarum pentul di hijab.

Sempat bertanya di postingan instagram baiknya gimana pakai hijab setelah memiliki anak kecil, banyak yang bilang mendingan ganti pakai peniti atau hijab instan. Perbandingan jawabannya hampir sama sih antara #TimPeniti dan #TimHijabInstan. Tapi akhirnya saya milih hijab instan.

Baca Juga:   Kamu Tim Mana, Hijab Segi Empat atau Pashmina?

Kenapa?

Dulu pas awal-awal pakai hijab saya pakainya peniti (sebelum akhirnya berpindah ke jarum pentul). Sayangnya, pemakaian peniti malah jadi merusak hijab-hijab saya yang kala itu sebagian besar adalah pashmina rajut-rajutan. Di bagian yang sering diberi peniti jadi bolong. Makanya saya pindah ke jarum pentul yang sedikit ramah pada kain.

Alasan lain saya memutuskan memilih hijab instan adalah karena peniti buat saya pun masih rawan. Aqsa yang makin hari tenaganya makin besar plus daya eksplorasinya makin tinggi ditakutkan menarik-narik bagian hijab yang terpasang jarum lalu jarum pentul pun terlepas dari kaitannya. Voila, bisa berabe juga kan ya.

Baca Juga:   5 Tiruan Gaya Berhijab Ibu Pejabat

Sayangnya, saya nggak begitu saja menentukan buat berpindah ke lain hati dari hijab segi empat dan pasmina ke hijab instan. Pasalnya, dari awal pakai hijab, saya adalah orang yang suka bereksplorasi. Suka lihat tutorial pakai hijab trus dipraktikin atau suka beli hijab yang bahannya hampir sama kayak di video-video tutorial trus bikin kreasi model hijab sendiri. Yang begitu-begitu itu bikin saya senang walaupun sekarang udah jarang banget dikreasikan pakai hijabnya. Tapi saya masih suka kok lihat tutorial trus mempraktikan gimana model hijabnya karena buat saya itu menantang.

Lain perkara dengan hijab instan. Karena instan ya udah gitu aja nggak ada tantangan buat dimodel-model bentuk lain. Paling banter disampirin atau dililitkan ke leher. Apalagi hijab instan yang selama ini saya punya adalah bergo-bergo model klasik yang biasanya cuma kepakai kalau mau ke warung atau pasar.

Nah, karena lama pakai hijab instan cuma buat mondar-mandir ke sekitar rumah jadi stigma saya terhadap model hijab ini jadi nggak bagus. Jilbab instan dirasa kurang menantang bagi saya yang suka utak-atik model hijab. Pun biasanya model hijab instan cuma gitu-gitu weh, yang udah dijahit di bawah dagu sebagai pengganti pemakaian kerudung segiempat. Nggak cuma itu, corak hijab instan ya biasanya cuma sewarna. Agak sulit dipadu padan karena nggak bercorak alias polos. Beda sama kebanyakan hijab saya yang punya motif dan warna ramai. Kalaupun nggak ramai ya pasti bergradasi.

Namun, demi kemashlahatan bersama karena tangan dan kepala Aqsa yang mulai aktif kesana-kemari, saya pun memutuskan untuk sejenak beralih ke hijab instan. Saya membeli 3 hijab instan di marketplace. Dimulai dengan membeli yang harganya murah, jadi kalau nggak cocok nggak rugi-rugi amat. Trus milih modelnya pun bervariasi. Ada yang modelnya sederhana, kekinian biar kayak Nissa Sabyan (halah!!), sampai yang agak rumit dipakai (pas pakai saya pasti bolak-balik ketukar yang mana bagian bolongnya yang buat kepala). Sementara itu, untuk urusan warna saya pilih yang lumayan netral dan bukan bold.

Soal bahan, saya suka pakai bahan hijab yang tipis soalnya anaknya mudak keringatan dan panas. Yang penting nggak terlalu menerawang biar nggak susah menyiasatinya dengan ciput kalau mau dipakai.

Hingga saat jilbab instan yang saya beli akhirnya datang, saya cukup puas dengan barangnya. Pun saat dicoba. Namun, saya belum pernah memakainya dalam jangka waktu yang lama soalnya memang belum ada kesempatan. Pas dicoba juga menurut saya not bad-laahh. Mudah-mudahan kalau dipakai dalam jangka waktu yang lama juga tetap nyaman ya. Coba deh kalian lihat, menurut kalian gimana?

Model 1

Model 2

Model 3

Jadi begini bentukan akhirnya? Gimana? Kalau kata saya sih not bad lah ya buat hijab instan harga 20.000an, hahaha.

Karena sudah punya ‘modal’ 3 hijab instan, saya jadi pengen beli yang model dan warna lain lagi. Mungkin next time saya eksplore lebih banyak model, jenis bahan, dan warna ya. Atau siapa tahu ada yang mau endorse saya buat hijab instan ini? Saya terima lho, haha.

 

1 Comment
Previous Post
Next Post