#CeritaIbu: Memilih Baju untuk Anak, Local atau High-End Brand?

#CeritaIbu: Memilih Baju untuk Anak, Local atau High-End Brand?

Ketika beranjak hamil tua dan harus mempersiapkan perlengkapan anak termasuk membeli baju, momen itu jadi momen yang sangat menyenangkan. Pasalnya, saya dibebaskan belanja sama suami. Padahal belanjanya sih buat anak alias belanja baju anak tapi entah kenapa terasa menyenangkan. Ada juga kah calon ibu atau ibu-ibu lain yang kayak saya? Sini kita berpelukan dulu.

Berbekal catatan yang sudah dibawa agar nggak kalap saat belanja baju bayi, saya dan suami pun menuju ke baby shop favorit yang ada di dekat rumah. Tapi setelah sampai sana, masyaallah ternyata baju bayi itu buanyaaakk banget model dan merknya. Kami buta sama sekali soal brand baju bayi. Makanya waktu itu saya sempat main ambil aja yang sekiranya lucu dan bahannya nyaman buat dipakai anak cowok tanpa mempertimbangkan harga, brand, ataupun ukuran.

Seiring berjalannya waktu, ternyata perlahan saya tahu soal baju buat bayi dan anak. Sejak anak saya lahir, saya mengalami momen membeli baju bayi secara online maupun offline. Saya secara nggak langsung ´trial and eror´ beberapa merk pada Aqsa. Saya pun sempat mengalami beberapa kali kecele atau barang yang datang nggak sesuai dengan harapan saat membeli baju anak secara online.

Baca Juga:   Belanja Kebutuhan Sandang, Pilih Online atau Offline?

Kriteria Baju yang Nyaman untuk Anak

Sampai sekarang, saya punya merek-merek khusus yang memang saya tandai nyaman untuk Aqsa dan saya. Nyaman di sini dalam artian bahan dan ukurannya buat Aqsa serta harganya buat saya. Sejak punya anak saya pun jadi tahu nggak semua anak bisa memakai sembarang baju. Ada beberapa anak dengan kondisi tertentu misalnya kulit sensitif atau alergi yang tidak bisa memakai baju dengan bahan tertentu.

Aqsa termasuk salah satu anak yang kulitnya tidak rewel dengan bahan baju. Namun, satu hal yang saya ciriin adalah ia tidak bisa memakai baju dengan bahan yang tebal atau double (kaus dalam dan baju luaran) dalam satu waktu di tempat dengan cuaca yang panas. Selain akan mengeluh kegerahan, lama-lama di kulitnya akan timbul biang keringat. Jadi sekarang kalau mau membeli baju untuk anak, saya sudah punya kriteria sendiri.

Saya yakin, tiap orang tua punya kriteria sendiri saat memilih baju anak dan bisa jadi kriteria yang saya terapkan berbeda dengan kriteria orang tua lainnya. It´s okay buat saya dan semua itu tidak untuk menjadi bahan perdebatan karena sudah pasti setiap orang tua tahu kondisi mereka dan anaknya masing-masing. Jadi, berikut beberapa kriteria yang saya patok saat akan membeli baju anak:

1. Bahan nyaman dipakai

Kenyamanan anak adalah yang utama. Itu sebabnya, kalau membeli baju anak yang paling pertama saya prioritaskan adalah bahan bajunya. Apalagi anak saya sedang di fase aktif-aktifnya yaitu menuju 2 tahun dimana ia sering bereksplorasi, main di luar, dan berkeringat. Baju-baju yang berbahan menyerap keringat dan adem saat digunakan sudah pasti jadi pilihan utama saya.

2. Ber-SNI (Standar Nasional Indonesia)

 

Saya baru tahu baju ber-SNI justru setelah kali pertama hunting baju untuk anak sebelum melahirkan. Saya melihat di baby shop hampir semua calon ibu yang saya lihat sedang hunting baju juga lebih memilih merek baju bayi yang sudah diberi cap SNI. Ternyata setelah saya cari tahu lebih lanjut, SNI pada baju bayi (khususnya pada newborn hingga anak usia 2 tahun) ini jadi hal yang penting. Baju bayi harus ber-SNI ini juga sudah diatur lho sama Kemenperin yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian tertanggal 17 Mei 2014. Pemberlakuan di lapangan awalnya dimulai 17 November 2014, namun karena berbagai sebab aturan itu baru bisa diterapkan dan mulai diawasi sejak 17 Mei 2015 lalu.

3. Pilih yang ukurannya lebih besar

¨Anak-anak cepat banget besarnya,¨ ada yang setuju dengan kalimat itu? Saya salah satunya.

Makanya dari pas Aqsa lahir, saya nggak beli banyak baju ukuran newborn. Kalaupun sekarang beli baju, saya  biasanya beli dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari ukuran saat ini agar masa pakai baju lebih panjang. Saat beli baju yang ngepas banget justru malah hanya kepake 1-2 kali dan selanjutnya ´dimuseumkan´ karena sudah sempit. Sayang banget kan?

4. Nggak ANTI untuk belanja baju anak secara online

Sewaktu corona belum menyerang kita semua, kalau disuruh milih membeli baju anak secara offline atau online saya pasti memilih secara offline walaupun harus sempit-sempitan di baby shop langganan saya biar nggak kecele atau salah kalau beli secara online. Tujuannya ya agar bisa melihat langsung barang yang ingin dibeli baik itu dari segi bahan atau ukuran. Sekarang, kalau ditanya lagi saya tentu lebih memilih membeli online. Selain bisa mikir lama saat mau membeli juga nggak perlu bersesakan. Berhubung membelinya online, saya yang tadinya ogah ribet kalau belanja online jadi lebih detail untuk membaca bagian deskripsi produk baik itu dari segi merek, ukuran, atau bahan.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Memilih Baju untuk Anak, Local atau High-End Brand?
Keuntungan Beli Fashion dan Aksesoris di Toko Online”]

5. Warna-warna tertentu masih menjadi pilihan

Ada pameo yang bilang ´color has no gender´, saya percaya itu. Tapi untuk anak, saya memang sedikit lebih picky soal warna. Saya nggak mengharamkan Aqsa buat memakai baju beraksen atau motif warna pink, tapi tidak juga memberinya baju berwarna pink gonjreng bulat-bulat padanya. Selain itu, saya juga menghindari terlalu banyak baju berwarna cerah karena kadang susah hilang kalau terkena noda. Apalagi anak seusia Aqsa kalau makan masih berantakan. Begitu kena noda seperti cokelat, kuah opor, atau noda buah naga jadi susah tersamarkan kalau bajunya berwarna cerah seperti putih atau krem.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Memilih Baju untuk Anak, Local atau High-End Brand?
Tentang Belajar Mencuci Baju Bayi bagi Ibu Baru”]

6. Harganya ramah di kantung

Harga sangat jadi pertimbangan buat saya dalam membeli baju. Prinsip saya sekarang adalah nggak mau terlalu banyak membeli baju dengan harga yang cukup mahal buat Aqsa. Yang penting kualitas bagus, nyaman dipakai, dan harga miring. Apalagi baju-baju Aqsa cepat sesaknya karena ia sedang bertumbuh kembang dan terkadang gampang kotor karena ia suka bereksplorasi. Oleh karena itu, harga-harga baju menengah dengan kualitas yang baik biasanya jadi pilihan saya.

7. Tidak pilah-pilih merek

Poin yang satu ini secara nggak langsung berhubungan dengan poin nomer 6. Saya bukan orang yang brand-minded atau tergila-gila dengan high end brand. Buat saya, yang penting baju nyaman dipakai anak dan harganya masih masuk akal itu layak dibeli. Saya juga nggak anti sama produk-produk dalam negeri atau local brand. Saya malah kadang senang banget kalau ada local brand untuk baju anak dengan harga yang jauh lebih miring dari merek luar negeri yang sudah terkenal padahal kualitasnya nggak jauh beda.

Local Brand vs Brand Luar Negeri

Saya orang yang jarang, juarang banget malah, beli baju brand luar negeri atau high end brand. Pasalnya selain harganya lumayan mahal untuk ukuran kantung saya, beberapa brand juga harus dibeli langsung di store yang biasanya adanya di mall-mall besar. Sedangkan saya dan suami adalah orang yang jarang pergi dan sengaja untuk belanja baju di mall. Paling banter hanya makan, cuci mata, atau ke tempat permainan anak. Jadilah memang saya jarang banget punya baju anak bermerek dari luar negeri. Kalaupun ada hanya 1-2 baju jumlahnya.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Brand Baju Bayi Favorit

Saya justru lebih senang untuk membeli local brand atau brand local. Pasalnya, brand lokal lebih gampang untuk ditemukan dan harganya jauh lebih murah dari brand luar negeri. Setuju nggak kalau soal yang satu ini? Kecintaan saya sama brand lokal ini ternyata juga terakomodir saat melihat video Youtube dari akun Ninja Xpress berikut ini:

Video dari Channel Ninja Xpress tersebut (https://bit.ly/Jajal_E2_RD) diberi judul JAJAL yang merupakan singkatan dari Jajan UKM Lokal. JAJAL merupakan kategori konten yang tayang setiap seminggu sekali yang berisi tayangan untuk mencoba dan membuktikan kualitas produk lokal dengan harga terjangkau yang layak dipertimbangkan serta dapat bersaing dengan high-end brand atau brand yang berasal dari luar negeri.

Dalam video JAJAL tersebut diadakan semacam blind test pada 3 ibu muda yang tinggal di kota besar (Jakarta) dan memiliki anak di bawah usia 10 tahun. Ketiga ibu muda tersebut disodorkan 6 merk baju (masing-masing ibu diberi 2 baju merek berbeda) yang terlebih dahulu telah ditutup label mereknya. Baju-baju yang diperlihatkan berasal dari 2 brand yang berbeda yaitu Time Kids yang merupakan merek lokal Indonesia dan Gingersnaps yang merupakan produk keluaran dari negara Filipina.

Ketiga ibu dalam video JAJAL diberi langsung 2 kaus anak (T shirt) lalu  diperbolehkan untuk menginterpretasikan baju-baju tersebut dari segi sablon, motif, bahan, cuttingan, jahitan, penampilan baju asli vs foto di katalog online, hingga harga baju. Dari video tersebut, ada beberapa highlight atau simpulan yang bisa diambil yaitu:

  • Dari segi sablon, brand lokal nggak kalah saing dengan high end brand. Brand lokal sudah menggunakan sablon berbahan rubber dengan base cat air yang diklaim baby skin friendly, tidak tembus ke bagian dalam baju, dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit.
  • Motif, brand lokal yang kali ini diusung lebih unggul karena memiliki motif yang edukatif yaitu gambar sesuatu dan terdapat tulisan Bahasa Indonesia serta Bahasa Inggris yang memungkinkan anak bisa belajar kosakata 2 bahasa sekaligus.
  • Bahan baju brand lokal menggunakan bahan cotton combed 24s dan 30s yang sedikit lebih tebal dibandingkan dengan bahan baju dari brand luar negeri yang memiliki bahan katun jersey. Namun, keduanya diklaim para ibu memiliki bahan yang adem dan menyerap keringat.
  • Cuttingan kaus brand lokal lurus layaknya kaus biasa sedangkan brand luar negeri memiliki cuttingan yang sedikit membentuk badan. Sedangkan untuk jahitan, keduanya sama-sama rapi hanya saja untuk brand luar negeri jahitan di bagian leher, yang kadang kala membuat risih anak jika menempel di kulit, ditutup lagi oleh kain agar tidak terasa jika tergesek kulit.
  • Penampilan baju asli versus foto di katalog online baik itu pada brand lokal maupun luar negeri sama-sama memiliki perbedaan. Ada baju yang di foto katalog asli terlihat terang sementara aslinya lebih gelap begitu pula ada yang sebaliknya.
  • Untuk harga, poin yang satu ini memang yang paling terlihat berbeda. Harga kaus brand lokal dibanderol Rp 75.000 sedangkan brand luar negeri dibanderol Rp 175.000 dengan kualitas yang tidak jauh berbeda tetapi harganya jelas jauh berbeda,. Lagi-lagi semua kembali pada ibu untuk memutuskan ingin membeli yang brand lokal atau luar negeri berdasarkan harganya.
  • Untuk mix and match, kedua kaus dari brand yang berbeda ini sama-sama punya keunggulan baik itu dari segi warna ataupun motif sehingga bisa di-mix and match dengan beberapa item baju tergantung dari situasi dan kondisi saat mengenakannya. Hal yang disepakati para ibu muda dalam video adalah bahwa brand lokal dengan harga yang jauh lebih miring punya kualitas dan daya jual yang hampir sama dengan high end brand dari luar negeri.

Dalam memilih baju anak lagi-lagi semuanya kembali pada situasi dan kondisi kita serta kenyamanan anak. Buat saya, nggak harus saklek dengan satu brand. It´s okay untuk membeli high end brand dari luar negeri selama budget memang ada dan nggak memaksakan. Tapi kalaupun budget pas-pasan dan pengen lebih efisien dalam memilih baju anak, brand lokal yang berkualitas sekarang buaanyaak sekali jumlahnya di Indonesia. Selain itu, produk brand lokal pun bisa dibeli baik itu secara offline ataupun online.

So, dari video di atas kita belajar banyak hal soal brand lokal versus high end brand yang ternyata bisa bersaing dan punya market serta bargaining position sendiri. Sejalan dengan semakin bersaingnya brand lokal dengan high end brand, Ninja Xpress pun melalui kampanye #ObsesiUntukNegeri terus melakukan kampanye kolaborasi melalui konten Youtube bersama para kreator lokal untuk mendukung UMKM dan brand lokal serta para komunitas menghadapi new normal. Selain JAJAL, ada pula beberapa program lain yaitu:

  • Bedah (Berita Daerah)
  • Berguru (Belajar Ragam Usaha Baru)
  • Batuntas (Bahasa Tuntas Komunitas)
  • Ninja Talk yang menyajikan kenyataan hidup dan konsekuensi yang mau tak mau harus dipilih oleh manusia di
    tengah pandemi.
  • OASIS (Obrolan Asik Seputar Bisnis)
  • Obrol Obsesi yang berisi kisah-kisah inspiratif
  • Informinutes yang memberikan berbagai tips untuk tetap bertahan di masa pandemi ini

Jadi, sudah lebih tahu kan sekarang kalau brand lokal sudah semaju itu? Bahkan dalam produk baju anak. Nggak ada kata malu dan gengsi lagi untuk beli dan pakai produk lokal karena sekarang produk lokal pun sudah teruji kualitasnya.

 

 

7 Comments
Previous Post
Next Post