Rebahan Produktif saat PPKM Darurat

Rebahan Produktif saat PPKM Darurat

PPKM Darurat membuat kita, saya sih lebih tepatnya, yang udah punya segudang rencana di luar rumah akhirnya harus membatalkan semua rencana dan beralih ke plan cadangan. Yang paling aman dan memungkinkan tentu saja rebahan di rumah untuk mengisi waktu luang. Apalagi saat itu, penularan covid-19 semakin mudah dan sangat cepat. Serem banget kalau sampai ikut tertular juga.

Baca Juga:   Pengalaman Melewati PPKM Darurat di Kampung Halaman

Tapi sejujurnya, kalau cuma rebahan sambil melakukan apa yang saya suka, kadang jadi bikin rasa bersalah besar dan penyesalan. Jadi, untuk menebus rasa bersalah itu saya usahakan rebahan tapi tetap produktif. Emang susah banget sih, karena pada akhirnya saya yang udah nyaman sama keadaan santai dan tanpa beban harus ‘dipaksa’ untuk bikin sesuatu.

Sebenarnya poinnya bukan pada memaksakan diri, tetapi membiasakan diri untuk tidak malas dan terlalu enak pada keadaan. Memang sih, tanpa harus terlalu memutar otak dan tenaga saya masih bisa hidup nyaman. Tapi kalau yang begini terus-menerus diteruskan, saya yang sangat tahu gimana diri saya, akan jatuh dalam lubang kemalasan dan kemageran yang menjadi-jadi, nggak produktif, bahkan nggak upgrade diri.

So, di PPKM Darurat kemarin saya berusaha untuk tetap produktif meski sambil rebah-rebahan. Berikut beberapa kegiatan yang saya lakukan yang mungkin saja bisa kalian tiru juga sambil tetap di rumah aja:

1. Belajar Bahasa Korea

Sebenarnya dulu saya nggak ada ketertarikan sama sekali sama Bahasa Korea, karena kalau disuruh milih saya lebih pengen belajar Bahasa Spanyol, bahasa asing yang pengen saya kuasai selain Bahasa Inggris. Tapi karena akhir-akhir ini saya senang nonton Drakor, ditambah sedikit rasa impulsif, dan keinginan biar bisa baca Hangeul, akhirnya saya ikut kursus Bahasa Korea.

Baca Juga:   Birthcare Center, Jungkir Balik Dunia Perempuan setelah Melahirkan

Maret lalu, saya sudah selesai ikut kelas Hangeul. Rencananya, bulan ini atau depan saya ikut kelas tata bahasa. Karena jeda dari kelas Hangeul dan tata bahasa lumayan jauh, pas PPKM Darurat kemarin saya buka-buka lagi pelajaran Bahasa Korea yang sudah saya dapatkan. FYI, semuanya bisa saya lakukan sambil rebah-rebahan di rumah karena saya belajarnya online. Selain itu, kelas yang saya ikuti juga murah. Hanya bayar Rp100.000, saya sudah bisa ikut belajar.

2. Ikut webinar

Sudah nggak terhitung berapa webinar, zoom meeting, atau kulwap selama pandemi ini. Rata-rata tema yang saya pilih pun hampir sama yaitu tentang parenting dan kesehatan mental. Karena online, kegiatan-kegiatan ini bisa kita ikuti sambil rebahan dan nyantai. Bahagianya lagi, materi yang disampaikan kadang juga bisa dibaca dan didengarkan ulang.

Baca Juga:   Tetap Sehat Mental dan Keuangan setelah Setahun Pandemi

Kebanyakan webinar yang saya ikuti juga gratisan. Kalaupun bayar, nggak mahal-mahal amat. Dari webinar ini selain saya dapat insight lagi soal parenting atau kesehatan mental, biasanya materinya juga bagus dan bisa dimasukkan jadi konten baik di social media atau blog.

3. Bikin konten social media

Sejak pandemi ditambah PPKM Darurat yang mengharuskan kita buat di rumah terus, saya jadi rajin scrolling timeline. Baca berbagai miniblog yang dikemas secara apik di timeline social media seseorang, cari tahu lebih banyak soal desain Canva, sampai belajar fotografi dari membaca sebuah postingan di akun-akun soal foto. Kelihatannya sepele emang, tapi justru saya suka belajar sedikit-sedikit yang kayak gini.

Baca Juga:   Basic Photography for Blogging, Pelajaran Penting Fotografi untuk Mempercantik Blog

Selanjutnya, ya tentu saja saya saya praktikin sendiri bikin konten buat social media saya. Bersyukur sekali karena bisa belajar dengan cara yang santai banget gini. Rebah-rebahan saya pun nggak berakhir sia-sia tanpa karya.

4. Redesign dan Mix n Match Baju

Ini adalah kegiatan antimainstream yang sama sekali nggak pernah saya perkirakan terjadi saat PPKM Darurat dan di kampung halaman. Bermula dari kebosanan pakai baju yang begitu-begitu saja dan mumpung ada ibu saya yang bisa bantuin jahit, saya pun merombak beberapa baju jadi lebih berbeda.

Hanya bermodal iron patch dan renda, beberapa baju yang tadinya polos berubah menjadi lebih ceria dan tetap nyaman buat dipakai. Pun dengan beberapa elemen baju seperti outwear, blazer, atau mini tanktop yang kayaknya nggak bakal kepakai karena saya berhijab akhirnya bisa diakal-akalin. Inspirasinya dari mana? Tentu aja dari internet. Tinggal buka Pinterest atau contek gaya influencer kreatif seperti Diana Rikasari, maka redesign dan mix n match ini bisa terjadi.

5. Menulis Review

Kegiatan ini terjadi karena saya nggak mau drama atau film yang saya tonton berlalu begitu saja dan waktu yang saya habiskan buat nonton semua itu sia-sia hingga menimbulkan penyesalan dan rasa bersalah. Selain itu, banyak keresahan saya menyangkut tema atau logika cerita yang berputar di kepala dan ingin banget saya tuangkan dalam tulisan. Berbekal itulah, saya akhirnya bilang sama suami untuk bikin blog baru yang khusus untuk menulis review semua tontonan yang pernah saya tonton.

Baca Juga:   Memutar Ulang Memori Masa Lalu bersama Film Critical Eleven

Di blog baru itu, saya menulis tanpa beban dan bisa menumpahkan semua uneg-uneg yang ada di kepala saya soal film atau drama. Semua yang saya tulis adalah pendapat saya dan tentunya sangat subjektif. Orang bisa saja setuju tapi sah-sah aja kalau mau kontra.

Kalian yang suka nonton, bisa juga mulai nulis reviewnya kayak saya di blog. Biar waktu yang terpakai nggak terasa sia-sia. Ajaibnya, pembaca blog baru saya bahkan sudah hampir menyamai blog ini. Mungkin karena banyak orang rebahan yang pengen cari referensi drama kali ya. Saya kasih beberapa insight soal blog tentang review tontonan ya:

  • Carilah bahan review berasal dari drama/film yang pernah ditonton sebelumnya
  • Beli atau gunakan template yang simpel, bright, dan SEO friendly
  • Seragamkan featured image, kalau di blog khusus review saya gunakan poster berformat portrait untuk featured image
  • Cari dan review tontonan dari berbagai genre dan artis yang berbeda agar ‘pisau’ kita semakin tajam saat membedah suatu drama/film
  • Carilah nama domain yang seusai dengan niche tentang review, seperti halnya blog review tontonan saya yang bernama inireview.com
  • Beli domain yang murah meriah tapi tetap berkualitas, salah satu rekomendasi saya adalah domain niagahoster

Niagahoster merupakan layanan web hosting Indonesia terbaik dengan fitur hosting terlengkap dan dukungan support 24 jam untuk kemudahan dalam meraih kesuksesan online. Beberapa alasan mengapa harus membeli domain di Niagahoster adalah:

  1. Bebas pilih nama domain
  2. Banyak domain murah
  3. Penyedia domain terpercaya
  4. Dukungan teknis 24/7
  5. Fitur domain lengkap
  6. Integrasi blogspot cepat

So, rebahan bukan berarti kita nggak bisa melakukan apa-apa, kok. Beruntunglah dengan fasilitas internet sekarang ini karena banyak hal bisa dilakukan sambil santai di kamar atau dalam keadaan yang bahkan nggak pernah kita bayangkan sebelumnya sebelum pandemi. Yang paling penting adalah asal ada kemauan, rebahan bisa jadi produktif, menghasilkan karya, atau bahkan materi.

Udah siap rebah-rebahan produktif?

 

0 Comments
Previous Post
Next Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota