Cerita Program Hamil Ketiga: Mengatur Jadwal Traveling Saat Program Hamil

Saat menentukan untuk promil berarti secara nggak langsung kita terikat oleh komitmen. Komitmen buat istiqamah dan menjalani segala prosesnya demi tujuan memiliki momongan. Itulah paling tidak yang saya pegang teguh, biar program hamilnya bisa lancar tanpa terkendala proses yang terlewati atau ada satu tindakan yang terlupakan. Tapi saya juga nggak bisa selama menunggu tahap demi tahap tindakan dengan diam di rumah. Saya pun memilih tetap traveling selama menjalani promil ketiga.

Selain karena memenuhi undangan dan ajakan teman sesama blogger ataupun nonblogger, traveling saat promil ketiga menjadi semacam pengalih perhatian dari rasa sakit dan jenuh yang dialami. Iya, sakit dalam artian harfiah karena beberapa tindakannya memang menyakitkan juga jenuh karena lamanya periode promil saat itu. Selain itu, traveling juga bikin otak dan jiwa saya jadi refresh. Sekembalinya dari traveling, entah kenapa jiwa saya jadi selalu legawa menerima suratan takdir.

Namun, traveling di tengah-tengah menjalankan promil itu nggak mudah. Ada disiplin jadwal yang harus selalu ditepati. Konsekuensinya bisa jadi mengulang semua proses jika 1 saja proses terlewati. Dan melewati 1 proses itu juga berarti menambah panjang periode promil dan mengulang kembali tindakan dengan biayanya yang nggak murah itu. Selain itu, saya juga harus bersedia repot untuk membawa segambreng obat dan konsisten disiplin minum obat di destinasi yang dituju. Jadi saat akan menentukan pergi traveling saat promil, saya memang harus mempertimbangkan banyak hal.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Tip Mempersiapkan Keuangan untuk Program Hamil

Kalau kamu sedang promil dan pengen tetap bisa traveling, saya kasih beberapa tips dan poin-poin yang mungkin bisa diperhatikan saat akan mengatur dan merencanakan traveling:

Cek Tahapan Tindakan

Ketika mau traveling, saya selalu mengecek sampai dimana fase tindakan promil yang sedang saya jalani. Ada masa-masa yang digaris merah alias terlalu berisiko untuk traveling seperti hari ke 7-12 setelah masa haid. Pasalnya, di hari-hari tersebut biasanya diharuskan untuk melakukan beberapa tindakan seperti cek darah, cek hormon, HSG, bahkan mikrokuretase. Selain itu, ada juga hari ke 21/22 setelah haid, itu juga biasanya jadi hari ´masuk lab´ lagi untuk cek hormon.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Menghadapi Berbagai Tes Laboratorium

Selain itu, saya juga nggak akan traveling jika memasuki masa konsumsi obat yang dimasukkan lewat lubang vagina. Pasalnya, saya paling nggak bakalan butuh bantuan suami buat memasukkan obatnya, seperti halnya saat saya harus memakai viagra di 10 hari pertama setiap bulan selama 6 bulannya. Sangat sulit kalau dalam periode memasukan obat itu dilakukan sendiri dan nggak mungkin juga saya minta tolong orang lain. Ya kali! Sementara itu, suami saya pun nggak selalu ikut saya saat traveling.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Bersahabat dengan Viagra

Selalu Komunikasikan Jadwal dengan Petugas Medis yang Bertanggung Jawab

Salah satu keuntungan promil ketiga saya di Sammarie adalah selalu diingatkan saat menjelang jadwal tindakan atau masuk lab. Setelah saya lapor tanggal haid ke suster yang bertanggung jawab, biasanya untuk tindakan-tindakan selanjutnya yang dilakukan dalam 1 siklus haid akan diingatkan sebelumnya via telepon. Jadi saya juga nggak lupa dan jadi pertimbangan kalau mau bepergian.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Bye Viagra, Welcome Menstruasi

Selain itu, saat kontrol atau datang ke klinik pascatindakan tertentu saya juga selalu tegaskan dan konfirmasi ulang lagi sama susternya perihal tindakan-tindakan apa saja yang nantinya dilakukan dan nggak. Dengan itu biasanya mereka lihat status medis saya. Kalau ada tindakan yang standarnya ada tetapi di saya nggak perlu dilakukan saya double check lagi dengan bilang, misalnya ¨Berarti fix ya Sus saya nggak perlu mikrokuretase? Soalnya pas tanggal ini saya mau ke Lombok¨. Dengan begitu saya bisa puas dapat jawabannya dan bisa traveling tanpa beban.

Baca Juga:   Menanti Senja di Pantai Kuta Lombok

Perhatikan Lamanya Bepergian

Lupakan traveling dengan periode yang lama karena susah sekali buat menyesuaikan jadwalnya. Saat promil, saya sudah say no buat bepergian dengan jangka waktu lebih dari 7 hari karena nggak tenang, takut ada salah satu tindakan yang kelewat. Makanya, pas promil saya juga ikhlas nggak jadi umroh bareng keluarga karena makan waktu 10 hari sementara jadwalnya tabrakan dengan suntik ILS.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Suntik ILS dan Tes ASA

Makanya, pas waktu promil saya memilih traveling di tempat-tempat yang dekat (paling jauh ke Malaysia). Sementara itu, durasi traveling paling lama 7 hari. Saya legawa untuk meninggalkan ajakan dan rencana traveling yang lamanya lebih dari seminggu karena takut tabrakan sama jadwal tindakan atau bertepatan sama habisnya obat (karena minum obat harus selalu kontinyu hingga hamil).

Baca Juga:   FAM Trip's Diary: 9 Destinasi 9 Keistimewaan di Resorts World Genting

Bawa Seluruh Obat

Bagi mereka yang selama promil ada treatment menggunakan obat seperti saya, jangan lupa untuk bawa seluruh obat yang diperlukan. Kalau saya sih biasanya nggak dibawa semuanya tetapi disesuaikan dengan jumlah harinya juga. Misalnya hanya seminggu ya bawa 1 lembar atau beberapa buah disesuaikan dengan lamanya bepergian. Obat-obat itu biasanya saya masukkan dalam satu kantung tersendiri dan masuk dalam tas utama (bukan koper atau tas yang ditaruh di bagasi) karena dalam sehari saya bisa lebih dari 5 kali minum obatnya. Jadi memang harus selalu stand by plus jaga-jaga juga takutnya di bagasi takut kenapa-kenapa seperti ketinggalan atau tertukar.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Baca Hasil Lab dan Panen Obat

Selain obat, saya juga bawa resepnya. Takutnya kalau di bandara ditanya obat apa, jadi saya tunjukkan resepnya (walaupun selama ini nggak pernah terjadi sekalipun itu ke penerbangan luar negeri). Selain itu, resep obat berguna kalau-kalau obat habis atau hilang di lokasi traveling. Jadi, saya bisa beli kembali obatnya dengan resep yang dibawa.

Sulit Merencanakan Jangka Panjang

Sudah nasibnya memang kalau pas promil itu ruang gerak kita jadi sedikit terbatas. Apalagi buat saya yang haidnya nggak teratur dan nggak tahu datangnya kapan. Jadi kalau mau bepergian nggak bisa direncanakan dari jauh-jauh hari. Berbeda mungkin dengan mereka yang sudah punya jadwal haid teratur dan sudah bisa diperkirakan kapan ‘si merah’ datang.

carilah teman traveling yang mengerti bahwa kamu sedang promil

Jadi jangan harap bisa merencanakan sebulan sebelumnya. Ini kejadian saat saya mau ke Lombok bersama teman saya, Cenie. Beberapa hari sebelum ke Lombok ternyata saya haid pertama lagi setelah setahun lebih nggak haid. Saya pun harus segera lapor ke suster dan menjalani banyak tindakan yang sudah direncanakan karena kalau menunggu siklus selanjutnya entah kapan lagi datangnya. Saat itu beruntung tiket belum dibeli, hotel belum di-booking, dan Cenie pun sebagai sahabat saya mengerti. Alhasil setelah benar-benar konfirmasi dengan suster tanggal-tanggal berapa saja saya harus ke klinik, saya baru bisa beli tiket, booking hotel, dan menyanggupi traveling selama seminggu dengan Cenie.

Baca Juga:   Mewujudkan Mimpi yang Tertunda ke Gili Trawangan

Jangan Nekat Traveling Jika…

Traveling memang salah satu cara untuk melarikan diri sejenak dari penatnya program hamil. Tapi, buat traveling selama program hamil juga harus memperhatikan kondisi tubuh. Ada beberapa kondisi yang menurut saya lebih baik ditunda atau dibatalkan untuk traveling. Saya ambil contoh dari diri saya sendiri aja. Sebagai orang yang menderita hiperprolaktin dan harus minum obat penurun prolaktin yang kadang bikin mual banget, maka saya memilih buat nggak traveling daripada malah nggak menikmati saat traveling karena rasa mual yang hebat.

Baca Juga:   Hallo Hiperprolaktin

Intinya, traveling adalah untuk mendapatkan kenyamanan di tengah ketidaknyamanan program hamil. Jangan sampai nekat traveling tapi justru menyiksa atau malah merepotkan orang lain selama di lokasi. Pertimbangkan baik-baik unsur kesehatan dan konsultasikan kondisi pada dokter kandungan yang menangani selama program hamil.

Perhatikan Asupan Makanan

Traveling emang biasanya sepaket dengan wisata kuliner. Makanan khas lokasi yang dituju bahkan biasanya jadi destinasi tersendiri yang masuk dalam itinerary. Walaupun makanan di lokasi traveling menggiurkan, namun kita juga jangan lupa untuk memerhatikan asupan makanan. Jangan sampai malah kalap yang berujung menyulitkan program hamil.

Emang bisa? Ya bisa aja. Misalnya selama ini sudah susah payah membangun hidup sehat, eh selama traveling malah kalap yang mengakibatkan hancurnya bangunan hidup sehat yang sudah diatur sejak lama. Atau bagi mereka yang memiliki masalah antibodi tinggi kayak saya sehingga harus menghindari makanan-makanan tertentu yang menyebabkan alergi. Jangan sampai karena tergoda kelezatan makanannya, malah jadi bikin alergi atau antibodi melonjak tinggi. Kan bisa berabe.

Baca Juga:   Cerita Program Hamil Ketiga: Food Response Test

Hal Lain yang Harus Diperhatikan

Berani memutuskan untuk traveling saat promil buat saya berarti berani untuk mengambil risikonya termasuk siap masuk klinik atau laboratorium walaupun barusan landing. Yup, saya pernah mengalaminya waktu habis pulang dari Labuan Bajo. Dengan kondisi masih pakai ‘kaus seragam’ dari Labuan Bajo dan menenteng ransel besar isinya baju kotor, dari bandara saya langsung naik bus ke Blok M lalu selanjutnya bablas ke Sammarie buat ambil darah.

Baca Juga:   Jatuh Cinta Seketika pada Labuan Bajo

Selain itu, perhatikan stamina juga. Jangan sampai terlalu capek yang akhirnya menyebabkan stamina drop. Ya pokoknya, harus pintar-pintar atur waktu dan stamina.

Buat saya, segimanapun menyiksanya promil tetap harus dibuat menyenangkan dengan cara kita sendiri. Kalau saya tentu diselingi dengan traveling. Kalau kalian mungkin beda lagi. Promil nggak menyurutkan niat untuk mengunjungi tempat-tempat indah nun jauh di sana. Ingat, promil juga bukan penghalang untuk mendapatkan kebahagiaan dengan jalan traveling. Tinggal pintar-pintarnya kita aja mengatur semuanya.

 

 

 

 

0 Comments
Previous Post
Next Post