#CeritaIbu: Pengalaman Memvaksin Anak di Masa Pandemi

#CeritaIbu: Pengalaman Memvaksin Anak di Masa Pandemi

Sejak corona ‘resmi’ masuk ke Indonesia, tempat yang paling saya hindari adalah fasilitas kesehatan dari tempat yang paling sederhana yaitu klinik hingga rumah sakit. Makanya saya cerewet banget sama orang rumah agar jangan sampai sakit dulu selama corona belum hilang. Namun, ada satu hal nyatanya yang nggak bisa terus-menerus saya hindari dan mau nggak mau harus dijalani yaitu vaksinasi.

Vaksin kali ini dilaksanakan saat Aqsa berusia 18 bulan. Di bayangan saya dulu, pas tiba bulannya Aqsa vaksin corona sudah mereda. Kalaupun belum, saya bisa undur hingga 2 minggu sambil menunggu corona reda. Saya optimis banget waktu itu apalagi jadwal vaksinnya saat bulan puasa dan saya sempat optimis corona hilang sebelum puasa. Tapi ternyata ekspektasi saya meleset hingga akhirnya saya harus mengubah rencana.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Ekspektasi dan Realita Menghadapi Fase Makan Anak

Saya selalu membawa Aqsa buat vaksin di dokter anak yang praktik di Sammarie Family Healthcare atau Sammarie Wijaya. Nggak pernah sekalipun kalau pas di Jakarta saya ‘meleng’ buat vaksin di tempat lain karena memang sudah nyaman sekali dengan DSA Aqsa yang bisa diajak ngobrol dan konsul lama serta pelayanan Sammarie Wijaya yang sangat nyaman. Sayangnya, pas tiba jadwalnya vaksin Sammarie Wijaya justru tutup karena corona dan sedang renovasi. Vaksin bisa dilakukan tiap Hari Sabtu, itu pun dengan DSA yang lain karena DSA Aqsa selama renovasi nggak praktik di sana dan disarankan untuk ke RS Asih. Jadi, kalau mau vaksin dengan DSA yang sama di Hari Selasa dan Kamis sore (sesuai jadwal praktiknya).

Sebenarnya, saya dan suami tetap pengen Aqsa vaksin dengan DSA-nya karena sekalian bisa kontrol tumbuh kembang dan konsultasi. Tapi jadwal praktik DSA yang justru cuma ada di RS jadi pertimbangan kami. Kalau masih di Sammarie Wijaya mungkin kami bisa bela-belain kesana walaupun jauh dari rumah karena Sammarie Wijaya merupakan klinik kecil yang nggak ramai orang dan nggak begitu mengantri saat mau vaksin. Namun, begitu DSA malah adanya hanya di RS yang mana lebih ramai dan banyak orang, kami pun keberatan.

Baca Juga:   Tips Ibu Tetap Sehat dan Produktif di Masa Pandemi

Saya sama suami pun berembug. Kami memutuskan mengundurkan vaksin hingga 2 minggu kemudian. Kami juga sempat telepon kembali ke Sammarie Wijaya dan ternyata jadwal vaksin masih tetap sama di Hari Sabtu. Mempertimbangkan kekhawatiran kami kalau Sabtu justru akan bertumpuk orang di Sammarie Wijaya karena sama-sama mau vaksin dan sepemikiran sama kami, akhirnya saya dan suami pun mengambil jalan lain. Kami sepakat buat vaksin di tempat yang ada di dekat rumah saja. Dan akhirnya pilihan kami jatuh ke Rumah Vaksin Ciledug.

Ide vaksin ke RV Ciledug ini digagas suami karena dia habis melihat IGS dr Piprim (so, nggak sia-sia kan akun instagram suami saya follow-follow-in akun dokter) dan ternyata RV Ciledug menerima vaksin saat corona seperti ini. Padahal, sebelumnya saya sempat ragu apakah RV Ciledug itu masih ada atau nggak karena setiap lewat depan bangunannya selalu tutup dan kayak nggak keurus gitu. Ternyata oh ternyata masih buka dan senangnya lagi di RV Ciledug diberlakukan protokol kesehatan yang cukup ketat bagi para pasien.

depannya sudah buluk gini, nggak meyakinkan kalau masih buka praktik

 

Sebelum menuju hari H vaksin, terlebih dahulu suami menelepon ke RV Ciledug untuk memastikan apakah benar-benar buka dan menerima layanan vaksin untuk balita. Setelah dapat jawaban buka, barulah kami book jadwal vaksin yang ternyata baru cocok di minggu depan. Kami juga ditanya mau vaksin apa. Karena Aqsa mau vaksin DPT III, kami juga ditanya merk vaksin yang sebelumnya dipakai. Saya juga minta khusus untuk DPT ini adalah vaksin yang aseluler (yang nggak bikin demam) seperti halnya vaksin DPT yang sebelum-sebelumnya.

Untungnya, RV Ciledug nggak ngantri banget kayak antrian DSA di kampung halaman saya. Saat hari H vaksin, kami hanya perlu datang ke lokasi di jam yang telah ditentukan sesuai nomer antriannya. Saat itu, karena baru sampai nomer 1 dan kami dapat nomer antrian 4 maka kami menunggu beberapa menit terlebih dahulu. Untuk menunggu, pihak RV Ciledug memberlakukan social distancing di ruang tunggunya. Tapi karena saya masih parno, kami pun memutuskan menunggu di mobil. Beberapa orang tua yang lain (apalagi yang membawa bayi) pun memilih menunggu di mobil sampai benar-benar dipanggil oleh petugas.

Setelah pasien nomer 3 masuk, kami pun memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu yang saat itu sepi karena hanya ada kami. Selain diberlakukan social distancing di ruang tunggu dan kasir, di ruang pemeriksaan pun sama. Jarak antara meja dokter dan tempat duduk pasien di depannya diberi jarak. Sesuai lah dengan protokol kesehatan selama masa social and physical distancing gini.

di tiap kursi sudah ada tandanya, ini Aqsa duduk pas ruang tunggu sedang kosong, kalau pas situasi ramai yang bertanda X itu nggak boleh diduduki ya

Saat masuk ke ruang pemeriksaan, dokter dibantu dengan asistennya hanya mengukur tinggi badan, lingkar kepala, dan berat badan Aqsa. Kemudian sebelum menyuntikkan vaksin, dokter mengecek vaksin apa saja yang sudah diberikan pada Aqsa sebelumnya. Sambil ngecek ternyata Aqsa sudah heboh nangis duluan, yang walaupun sudah digendong dan ditenangkan sama ayahnya tetap saja meraung-raung. Jadilah saya ngobrol sama dokternya juga rada nggak fokus. Tapi garis besar obrolannya saya tahu dan ternyata cuma sebentar kami ngobrolin vaksin lalu suntik deh. Setelah suntik, selesai dan bayar-bayar. Iya udah gitu aja.

Nggak ada sesi konsultasi karena setelah vaksin pun dokternya menyudahi. Ya saya maklum sih. Mungkin karena yang pertama situasinya lagi pandemi gini kan, kurang-kurangin interaksi sama orang lain yang nggak diketahui riwayat kesehatannya. Yang kedua ya mungkin karena dokternya pun bukan dokter anak, jadi memang biasa job desk-nya nyuntik trus udah aja. Dan yang ketiga, takutnya ada pasien selanjutnya yang sudah mengantri. Saya maklum banget kok. Segitu aja saya udah bersyukur bisa memvaksin Aqsa dengan mudah dan minim risiko.

Enaknya lagi, vaksin di RV Ciledug (dan mungkin RV lainnya), kami cuma bayar harga vaksinnya sebesar Rp 930.000 untuk vaksin DPT aseluler. Jasa suntik sama biaya lain-lainnya nggak ada. Ini jelas lebih dan sangaaatt murah dibanding biaya biasanya kalau vaksin di dokter anak. Bayangin aja, kalau di dokter anak biasanya kami harus bayar biaya jasa dokternya sekitar Rp 250.000, belum lagi biaya admin, pendaftaran, dan lain-lain. Sekali vaksin bisa jutaan. Cuma ya memang kami bisa berlama-lama konsul dan tanya ini itu ke dokter. DSA juga memeriksa menyeluruh kesehatan Aqsa nggak cuma tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala. Memang ya, semuanya ada harga yang harus dibayar.

So, setelah semua yang saya alami soal memvaksin anak di masa pandemi ini, berikut saya bisa memberikan tips memvaksin anak di masa pandemi:

  • Pilih fasilitas kesehatan yang sekiranya aman dan mengakomodasi kenyamanan orang tua, misalnya: buat saya klinik kecil lebih nyaman daripada rumah sakit besar yang mungkin banyak terdapat orang sakit
  • Cari informasi sebanyak-banyaknya soal faskes yang akan dijadikan tempat memvaksin dengan menelepon sekaligus reservasi atau cari testimoninya di Google/instagram jika memiliki akun instagram
  • Datang mepet di jam vaksin yang sudah ditentukan agar tak terlalu lama menunggu
  • Bagi yang membawa kendaraan seperti mobil, jika memang harus menunggu lebih baik menunggu di mobil dan turun saat sudah atau akan segera dipanggil
  • Jika memang harus menunggu, patuhi aturan di lokasi saat menunggu seperti physical distancing, memakai masker, atau tenang saat menunggu
  • Ajak anak untuk duduk dengan tenang dan tidak berlarian, jika memang anak ingin berjalan-jalan atau berinteraksi dengan orang lain, pastikan tetap jaga jarak dan memakai masker
  • Pastikan setelah pulang dari tempat vaksin, cuci tangan dengan bersih, mandi, dan cuci semua baju yang dipakai saat di tempat umum
  • Berdoa agar kita semua diberi keselamatan dan dijauhkan dari penyakit

Itu dia pengalaman dan sedikit tips dari saya saat memvaksin anak di masa pandemi seperti sekarang ini. Memang kadang dilema sih memilih antara mengundurkan jadwal vaksin karena takut untuk ke fasilitas kesehatan atau tetap sesuai jadwal tapi mau nggak mau kita pasti ketemu orang banyak. Saran saya sih, tetap disiplin sama protokol kesehatan saat keluar rumah termasuk ajarkan juga pada anak. Insyaallah semuanya akan lancar dan baik-baik saja.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Menjaga Kesehatan Anak di Masa Pandemi

Mari berdoa semoga pandemi ini cepat berlalu biar kita bisa memvaksin anak di fasilitas kesehatan tanpa rasa takut.

 

5 Comments
Previous Post
Next Post