Pengalaman Vaksin Covid-19 di Kampung Halaman

Pengalaman Vaksin Covid-19 di Kampung Halaman

Saat saya memutuskan pulang kampung, awal Juni 2021 lalu, vaksinasi masih belum sebanyak sekarang. Stok vaksin masih digunakan untuk kalangan tertentu dan lansia. Sebagai ibu rumah tangga yang nggak punya urgensi khusus dalam masalah pekerjaan, saya mengira bahwa saya masuk daftar terakhir kelompok yang divaksinasi. Apalagi saat itu saya baru selesai sakit dan fisik belum pulih 100%.

Baca Juga:   Pengalaman Sakit saat Pandemi

Kebanyakan yang sudah divaksin adalah mereka yang bekerja di sektor publik seperti PNS, pendidik, pegawai BUMN, wartawan, atau yang kantornya punya akses. Saya pun nggak ngarep pengen langsung divaksin. Apalagi saat itu, vaksin sudah mulai menggunakan jenis Astra Zenecca yang mana KIPI-nya lebih ganas daripada yang sebelumnya, Sinovac. Makanya pas Pak RT wilayah tempat tinggal saya nawarin buat vaksinasi, ditolak dulu sama suami karena takutnya badan saya nggak kuat.

Berita gembiranya, di saat covid sedang menggila, stok vaksin juga semakin banyak. Banyak organisasi, event ulang tahun, dan fasilitas kesehatan yang mengadakan acara vaksinasi gratis yang bisa diikuti secara umum. Senangnya lagi, di Jakarta khususnya, vaksinasi juga menghapus surat keterangan domisili serta surat keterangan kerja dari kantor sebagai syaratnya. Adik saya, adalah salah satu orang ber-KTP daerah yang bisa menikmati fasilitas vaksinasi covid-19 gratis di ibukota.

Baca Juga:   Serba-Serbi Vaksinasi, Biar Nggak Salah Informasi Lagi

Sayangnya, keadaan ini berbeda jauh dengan di daerah. Kampung halaman saya, Purworejo, termasuk daerah yang stok vaksinnya sedikit saat itu. Saat di kota besar banyak lansia sudah tervaksin di periode awal, ibu dan bapak saya belum sama sekali.

Baca Juga:   Piknik Tipis-Tipis ke Alun-Alun Purworejo

Minimnya informasi, banyak narasi negatif soal vaksin, hingga kader yang tidak proaktif bikin lansia-lansia kayak bapak dan ibu saya belum di vaksin. Awalnya, mereka memang takut dengan vaksin covid-19, tetapi setelah berulang kali saya edukasi mereka mau juga. Sayangnya, pas mereka mau justru stok vaksin kosong dan harus menunggu entah sampai kapan.

Di kampung halaman saya, tiap desa akan berbeda keadaannya tergantung pengurusnya. Di desa suami saya, hampir semua lansia sudah divaksin dan dikoordinir dengan baik karena kader dan perangkat desa proaktif. Di desa teman saya, kader sudah proaktif tetapi minat masyarakat masih rendah jadi masih sedikit yang vaksin. Sementara di lingkungan rumah ibu saya, udah mah kader nggak aktif, masyarakatnya juga bodo amat. Jadi combo deh.

Mumpung akan stay lama di kampung halaman, saya proaktif nyari info vaksin. Saya sampai woro-woro ke twitter kalau di kampung saya banyak yang belum tersentuh vaksin. Tanya ke kader dan pengurus RT/RW pun malah nggak tahu. Sekalinya ada event ulang tahun Bhayangkara dan mereka daftar, nggak kepanggil. Sementara saya juga terus berjuang lewat internet, cari banyak informasi dari banyak akun-akun daerah. Sekalinya ada pun, langsung habis hanya selang beberapa menit setelah pengumuman.

Padahal bapak dan ibu saya sudah pengen banget vaksin. Pengen karena mereka lihat penyakitnya sudah semakin parah dan merajalela (tetangga saya yang covid rata-rata meninggal dunia) serta banyak administrasi (naik kendaraan umum dan urus surat-surat di kantor pemerintahan) menggunakan syarat vaksinasi.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Memvaksin Anak di Masa Pandemi

Dan akhirnya, setelah mantengin banyak platform social media plus tanya sana-sini, setelah 1,5 bulan di kampung halaman barulah terlihat hilal vaksinasi. Yang saya prioritaskan tentu bapak dan ibu saya dulu. Begitu ada pengumumannya, saya langsung screenshot, kirim ke ibu, dan ibu minta tolong bapak buat cari infonya ke Puskesmas. Setelah dicari infonya ke Puskesmas terdekat, mereka pun diminta datang tanggal 28 Juli 2021 pagi-pagi dengan membawa KTP.

Sampai di situ, saya udah senang banget. Saking excited-nya, sehari sebelum mereka vaksin aja saya pagi-pagi ke Puskesmas juga buat ngecek. Ternyata memang pekan vaksinasi dimulai tanggal 28 Juli 2021 untuk Kabupaten Purworejo.

Pas Hari H bapak dan ibu vaksin, saya yang paling excited. Saya udah wanti-wanti mereka buat jangan begadang dan sarapan dulu sebelum berangkat. Bapak pun berangkat terlebih dahulu buat ngantriin KTP sebagai ganti nomer urut, sementara ibu saya anterin. Sampai di Puskesmas pun saya berkali-kali cek mereka buat memastikan antriannya oke (karena hanya bermodal KTP tanpa surat undangan) dan bisa vaksin. Setelah semuanya oke (karena sudah lolos pre-screening test) dan bahkan orang tua saya dapat nomer antrian awal, saya pun pulang.

suasana hari pertama vaksin di Puskesmas

Sementara saya? Di kampung, sebenarnya saya juga pengen banget vaksin. Tapi, fokus saya terlebih dahulu justru ke bapak sama ibu. Yang penting mereka vaksin dulu, baru nanti saya. Tapi ndilalah hamdalah, saya kebagian undangan sisa dari Pak RT sebelah yang juga kenal baik dengan keluarga saya.

Kebagian undangan sisa tuh rasanya nano-nano. Di satu sisi saya senang karena kemungkinan bisa vaksin. Tapi di sisi lain, saya sedih. Katanya undangannya sampai sisa karena banyak orang yang nggak mau atau menolak buat vaksin. Padahal menurut saya, kesempatan mudah ini tuh nggak datang 2 kali. Setelah itu, orang harus cari sendiri kalau mau vaksin di daerah saya.

Saya juga was-was dan agak ragu sebenarnya bisa vaksin atau nggak karena KTP saya tuh Jakarta. Tapi setelah nanya terlebih dahulu saat mengumpulkan undangan dan sebelum pre-screening test dan kemungkinan besar bisa, saya jadi rada pede.

Pas pre-screening test, ada banyak kendala sebenarnya di saya. Lebih ke masalah administrasi sih, karena masalah kesehatan semuanya saya lolos dan lancar. Di kertas undangan, masih tertulis nama tetangga saya yang kata Pak RT nggak bisa dan lupa saya ganti. Trus KTP saya yang masih KTP Jakarta sempat udah mau batal. Tapi untungnya, surat undangan adalah dokumen paling kuat saat itu. Setelah ditanya saat ini tinggalnya di mana dan saya yang memang dulunya tinggal di rumah ibu saya, akhirnya pre screening test pun lolos.

pre-screening test vaksin di Puskesmas dekat rumah ibu saya

Sebenarnya, nggak ada bedanya menurut saya vaksin di Jakarta dan kampung halaman berdasarkan pengalaman yang diceritakan adik saya yang vaksin di Jakarta. Hanya saja, di kampung halaman sampai pada saat saya vaksin (akhir Juli 2021), peserta vaksin masih didominasi lansia khususnya yang belum kebagian jatah vaksin di periode awal. Nggak heran kalau jenis vaksin yang diberikan adalah Sinovac, yang KIPI-nya minimal.

Hanya saja, karena lokasi vaksin yang sempit dan peserta yang tumplek blek di satu waktu, vaksin di kampung halaman rawan nggak patuh prokes. Peserta vaksin yang banyak dan waktu tunggu yang lumayan lama, bikin mereka jadi mengabaikan physical distancing. Kursi yang tadinya ditata berjarak sedemikian rupa dan diberi tanda silang untuk penjarakkan, sudah nggak berbentuk. Padahal tadinya bukan cuma kursi yang diberi jarak, penentuan tempat menunggu bagi mereka yang sudah vaksin, akan disuntik, dan masih screening test pun jadi nggak berguna karena pada akhirnya peserta duduk di tempat yang sekiranya kosong. Peringatan buat physical distancing dari petugas pun nggak ada.

Di puskesmas tempat saya vaksin, setelah selesai suntikan pertama biasanya kami akan diberi kartu. Kartu itu menunjukkan tanggal kami vaksin dosis pertama dan tanggal untuk dosis kedua pun sudah tertulis di sana. Selain itu, ada juga nomer kontak yang harus dihubungi apabila ada keluhan setelah vaksin dilakukan. Saat vaksin dosis kedua, peserta hanya perlu mengumpulkan kartu tersebut sebagai tanda antrian, tidak perlu lagi menggunakan undangan atau KTP. Selain kartu, di kedua vaksin kami juga dapat paracetamol untuk jaga-jaga apabila ada demam setelahnya.

Vaksin dosis kedua diterima setelah 4 minggu (28 hari) dari vaksin pertama. Dosis kedua lebih gampang karena hanya menyerahkan kartu yang dibagi di dosis pertama lalu prescreening test kesehatan. Sayangnya, vaksinasi dosis kedua saat itu peserta buanyak jadi saya harus nunggu lama sekitar sejam buat vaksin. Selain itu, pas menunggu pun karena penuh dan tempatnya nggak begitu luas, jadi banyak orang mengabaikan jaga jarak.

Pengalaman vaksin dosis kedua tiap orang berbeda-beda. Kalau saya rasa suntikannya lebih sakit dan efek setelah itu pegalnya masih terasa sampai 2-3 harian. Ternyata dulu suami saya pun begini rasanya. Sedangkan bapak saya hanya terasa suntikannya yang lebih sakit tetapi nggak ada efek pegal. Nah, kalau ibu saya malah nggak ada efek apa-apa sama sekali. Sama halnya seperti suntikan pertama.

Oiya, sehabis vaksin ini kami dikasih semacam surat sebagai keterangan sudah divaksin 2 dosis. Selain surat, untuk peserta vaksin yang sepuh diminta untuk download aplikasi pedulilindungi buat mengunduh sertifikat. Kalau yang muda mah pasti sudah tahu aplikasi ini.

Kalau bisa disimpulkan, serba-serbi vaksin di kampung halaman saya itu:

  • Lama nunggu pekan vaksinnya bahkan harus cari sendiri tapi sekalinya ada banyak banget.
  • Sekarang di tiap RS sudah ada hari-hari tertentu untuk vaksin covid-19 dan hampir semua pendaftaran dilakukan secara online. Jadi, buat kalian yang punya orang tua di daerah (Purworejo khususnya) dan belum vaksin, tolong bantu daftarkan mereka ya. Link pendaftarannya silakan buka di akun-akun rumah sakit di Purworejo.
  • Vaksin sementara ini hanya untuk penduduk yang berdomisili di sana atau ber-KTP daerah tersebut.
  • Jenis vaksin sudah banyak, dari Sinovac, AZ, sampai Moderna. Sinovac biasanya ada di Puskesmas-Puskesmas. Sementara di RS kebanyakan AZ dan Moderna.
  • Karena terkadang peserta vaksin banyak dan tempat vaksin tidak begitu luas, perhatikan protokol kesehatan dan jaga jarak masing-masing.
  • Kalau belum ada vaksin di kampung halamanmu, jangan melulu mengandalkan kader atau perangkat desa. Coba tanya ke puskesmas terdekat, bidan desa, atau cari infonya di akun instagram daerah/ dinkes setempat.
  • Karena terbatasnya stok vaksin, biasanya vaksin dosis 1 dan 2 harus di tempat yang sama (tidak boleh berganti/pindah).
  • Orang berdomisili atau pemegang KTP luar daerah kemungkinannya sangat kecil untuk vaksin lokal (di daerah) tanpa surat keterangan apapun.
  • Jangan heran kalau masih banyak orang yang nggak mau atau menolak vaksin dengan berbagai alasan, kalau ketemu mereka edukasi aja terus.

Itu dia pengalaman saya vaksin covid-19 di kampung halaman. Alhamdulillah, dari cerita ibu sekarang sudah semakin banyak orang yang mau dan mencari vaksin covid-19 dengan berbagai alasan dan stok vaksin pun semakin banyak. Kita berdoa bersama, semoga semakin banyak orang yang vaksin dan patuh prokes sehingga pandemi lekas menghilang dari muka bumi.

 

4 Comments
Previous Post
Next Post
Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota
Rekomendasi

Sweet & Sour, Realita Kisah Cinta Kaum Muda di Kota