#CeritaIbu: Tentang Flu dan Bagaimana Menghadapinya

#CeritaIbu: Tentang Flu dan Bagaimana Menghadapinya

Saya masih ingat betul ceritanya. Saat itu akhir Maret 2018, tiga minggu setelah saya dinyatakan (berhasil) hamil untuk yang ketiga kalinya saya terserang flu yang ditularkan dari suami. Kondisi hamil, apalagi hamil yang sangat dihati-hati setelah 2 kali keguguran, membuat saya nggak bisa minum sembarang obat. Saya biarkan saja flu itu walaupun kepala berat, hidung meler, tulang-tulang sakit, dan suhu badan sudah mulai naik. Karena toh yang ada di pikiran saya nanti juga akan sembuh sendiri.

Tapi ternyata saya salah prediksi. Flu yang menyerang saya ternyata jadi celah bagi penyakit lain masuk. Trikomonas vaginalis, bakteri yang menyerang bagian alat vital yaitu vagina tiba-tiba bangun dan membuat saya bahkan sampai susah jalan karena rasa sakit, gatal, dan perih yang melanda di area kewanitaan. Setelah saya konsultasikan ke dokter kandungan saya, bisa jadi bakteri itu memang sudah ada di lipatan-lipatan vagina sebelumnya karena gaya hidup saya yang suka buang air di tempat umum. Karena daya tahan tubuh yang sedang drop, bakteri-bakteri itu ´bangun´. ´Bangun´-nya bakteri-bakteri itu bisa jadi karena double combo daya tahan tubuh yang sedang lemah yaitu karena hamil dan flu.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: Terserang Flu dan Bakteri

Sesepele itu memang, tapi efeknya cukup bikin saya deg-degan. Saya takut kenapa-kenapa dengan janin saya saat itu. Saya trauma kalau tiba-tiba janin saya hilang detak jantungnya seperti yang sudah-sudah karena bakteri itu. Untungnya semuanya bisa tertangani dengan tepat waktu.

Itu cerita pengalaman buruk saya dengan flu. Lain lagi yang terjadi dengan anak saya, Aqsa. Beberapa minggu yang lalu setelah pulang kampung, Aqsa tertular saya yang terkena flu saat di kampung halaman. Alhasil, dia susah nafas karena hidungnya tersumbat dan rewel. Ini belum seberapa. Lalu apa yang bikin hati saya patah sepatah-patahnya? Ketika flu itu akhirnya bikin dia (kembali) nggak mau makan alias GTM. Saya bisa paham, paham banget malah kalau orang lagi flu itu nggak enak makan atau bahkan ngapa-ngapain. Tapi yang bikin saya sedih adalah nafsu dan semangat Aqsa makan itu saya bangun dari nol ketika dulu dia GTM. Kemarin-kemarin sudah berhasil bahkan sampai dokter anaknya kagum dengan kenaikan berat badan Aqsa. Namun akhirnya, bangunan semangat makan yang telah saya bangun itu runtuh hanya karena satu faktor yaitu flu.

Baca Juga:   #CeritaIbu: GTM, Drama Panjang Banyak Babak

Flu tampaknya memang penyakit yang sepele. Yang katanya bisa sembuh sendiri hanya dengan istirahat. Tapi pernah nggak kita menghitung berapa jam waktu penurunan produktivitas kita karena flu? Atau hal apa saja yang hilang hanya karena flu? Atau dampak buruk apa yang terjadi sama tubuh kita karena diawali dengan flu?

Coba kita hitung. Coba kita renungkan.

Flu memang sudah nggak bisa disepelekan. Ini juga mendasari The Asian Parent dan Kenapa Harus Vaksin dari Sanofi Pasteur membuat talkshow yang berjudul Happy Kids with No Flu Worries yang diadakan di Paradigma Kafe, Minggu (10/11).

Namira Monda ´Dealing´ with Flu

Zaman sekarang, flu jangan hanya dianggap enteng dengan kalimat penghiburan ´dibawa istirahat aja, ntar juga sembuh sendiri´. No!! Kalau bisa sedini mungkin dicegah, kenapa tidak?

Apalagi untuk seorang Namira Monda, influencer yang juga ibu muda dari seorang anak berkebutuhan khusus. Namira Monda atau yang akrab disapa Monda menuturkan pengalamannya saat sang anak, Aurora, terserang flu yang bisa menyebabkan Aurora menjadi sangat rewel. Apalagi sehari-hari Aurora menggunakan NGT (Nasogastric Tube), flu bisa menyebabkan dahaknya semakin banyak. Selain itu, Aurora yang belum bisa mengomunikasikan dengan baik apa keluhannya akhirnya membuatnya hanya bisa menangis dan rewel. Melihat itu, Monda dan suami merasa kasihan. Jangankan Monda yang memiliki anak berkebutuhan khusus lalu flu, saya saja kalau Aqsa flu dan mengganggu kesehariannya rasanya sedih banget.

Namira Monda

Karena sangat tahu dampaknya jika Aurora kena flu, Monda menjadi sangat ´strict´ terhadap orang-orang dewasa di sekitarnya yang terkena flu. Ia sebisa mungkin  membatasi interaksi orang-orang dewasa di sekitar Aurora saat mereka terkena flu agar tidak menularkan penyakitnya. Monda juga mengharuskan orang-orang yang berinteraksi dengan Aurora untuk vaksin flu agar tidak mudah terkena penyakit tersebut hingga menularkannya pada sang buah hati.

Jangan Salah Kaprah dengan Flu

Flu memang penyakit yang ringan, tetapi kalau datang bahkan terlalu sering bisa sangat mengganggu aktivitas. Itu kalau terjadi pada orang dewasa. Kalau pada anak-anak? Tentu kurang lebih sama. Yang pasti kalau anak sakit kita sebagai orang tua juga nggak cuma repot tapi juga sedih.

Itulah kenapa sebagai pencegahan flu selain selalu menjalankan pola hidup sehat, salah satu cara lainnya adalah vaksin influenza.

Sebelum membahas lebih banyak soal vaksin flu, saya mau kasih gambaran sedikit tentang vaksin. Yep, selama ini ternyata masih banyak orang tua yang abai bahkan nggak mau memberikan vaksin pada anaknya dengan berbagai alasan, dari prinsip, sibuk, hingga alasan finansial. Padahal vaksin wajib dari pemerintah sekarang ini sudah bisa didapatkan dengan gratis di Puskesmas.

Kalau tujuan vaksin adalah untuk membebaskan seseorang atau seorang anak dari penyakit, itu tentu salah. Saya pernah baca, guna vaksin bukan cuma melindungi anak dari bahaya penyakit tetapi menghindarkan anak menularkan penyakit pada orang lain. Semua itu dilakukan agar tercipta immunity herd pada setiap individu sehingga tercipta lingkungan masyarakat yang sehat. Bayangkan kalau ada anak yang tidak divaksin MMR lalu terkena Rubella dan dia menularkannya pada ibu hamil? Efeknya akan sangat buruk. Itu kenapa saya setuju banget sih dengan pernyataan ini. Vaksin tuh bukan untuk menyelamatkan anak kita saja, tapi juga orang lain agar terhindar dari dampak yang lebih buruk.

Sementara itu menurut dr Atilla Dewanti, SpA seorang dokter anak dari sebuah RS di Jakarta menjelaskan secara lebih teknis mengenai vaksin. Vaksinasi adalah suatu kegiatan memasukkan kuman yang telah dilemahkan agar tubuh memiliki imunitas yang lebih tinggi sehingga punya daya tahan yang lebih baik terhadap penyakit tertentu. Seperti yang kita tahu, vaksin ini tidak hanya dilakukan untuk anak-anak tetapi juga untuk orang dewasa. Dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh maka sel imunitas akan bekerja hingga membentuk kekebalan dalam tubuh terhadap kuman penyakit tertentu.

Trus pertanyaannya, tetap bisa kena penyakitnya nggak kalau sudah divaksin? Dr Atilla menyatakan tetap bisa terkena hanya saja peluangnya kecil. Kalaupun terkena, tidak akan sampai terjadi komplikasi atas penyakitnya. Jadi buat para orang tua, penting banget untuk memperhatikan dan memedulikan soal vaksin itu bagi anaknya. Karena vaksin adalah hak anak. Vaksin aman kok bagi anak. That’s why sebelum terpengaruh oleh berita-berita hoax soal vaksin ada baiknya para orang tua cek, recheck, cross check, double-triple check kalau perlu ke ahlinya.

Lalu soal vaksin influenza ini mengapa menjadi sangat penting bagi anak? Kenapa harus vaksin?

Dr Atilla Dewanti merunutkan sebab akibatnya. Untuk seorang anak agar bertumbuh kembang dengan baik tentulah butuh stimulasi. Stimulasi bisa dengan banyak hal, dari berinteraksi dengan orang lain hingga bermain di luaran seperti playground, daycare, taman, hingga sekolah. Saat berinteraksi dan bermain di luaran itulah, kita nggak bisa mengontrol si kecil apakah dia selalu bersinggungan dengan orang yang sehat. Masa iya, biar anak kita tetap sehat lalu kita kekepin aja di rumah dan nggak boleh ´melihat´ dunia luar karena takut kena penyakit? Kan nggak mungkin juga.

Salah satu penyakit yang sering banget ditemui adalah flu. Ya, ternyata fakta menunjukkan bahwa rata-rata orang dewasa bisa terkena terkena flu 2 kali dalam setahun dan anak-anak setidaknya 4 kali dalam setahun. Angka yang kayaknya kecil ya tapi saya sih tetap nggak mau kalau Aqsa kena flu walaupun cuma sekali dalam setahun. Efeknya bisa panjang.

Lalu gimana caranya untuk mencegah flu? Salah satunya ya dengan vaksin flu.

Tapi untuk tahu seberapa sering anak kita terkena flu, kita harus bisa membedakan antara flu atau influenza dengan pilek biasa atau common cold terlebih dahulu. Emang beda ya? Beda donk ternyata dan saya baru tahu.

Flu adalah penyakit pernafasan yang sangat menular, disebabkan oleh virus influenza yang menginfeksi mulai dari hidung, tenggorokan, dan apabila tidak diobati bisa menyerang paru-paru dan menyebabkan pneumonia. Seseorang bisa terjangkit flu dari satu hari sebelum sakit sampai beberapa hari kemudian (biasanya 7 hari). Selama itu pula, kita berpotensi menularkan penyakit flu pada orang lain. Itulah kenapa kalau flu, kita mending istirahat di rumah dan seminimal mungkin membatasi diri dulu berinteraksi dengan orang lain.

Ciri-ciri gejala flu:

  • Demam tinggi hingga menggigil
  • Hidung tersumbat
  • Tidak nafsu makan
  • Nyeri otot dan badan sehingga tidak berselera melakukan apa-apa
  • Batuk
  • Mudah lelah
  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan
  • Muntah (umunya sering terjadi karena dipicu sakit tenggorokan atau sakit saat menelan makanan)

Sementara itu, common cold sedikit berbeda dengan flu. Dua-duanya memang sama disebabkan karena virus dan bisa menyebabkan hidung meler. Namun, gejala influenza lebih berat karena disertai demam serta menggigil. Namun pada pilek, kita masih bisa beraktivitas dan anak-anak masih ceria karena umumnya tidak disertai dengan nyeri otot atau demam.

Ciri-ciri pilek atau common cold:

  • Disebabkan oleh virus
  • Hidung tersumbat, tenggorokan sakit, dan batuk
  • Infeksi saluran pernafasan

Penularan flu khususnya pada anak-anak sangatlah mudah, walaupun tidak bersentuhan langsung dengan penderita flu. Anak-anak apalagi yang sudah bersekolah tetap bisa dengan mudah terserang flu hanya karena satu ruangan dengan anak lain yang terkena flu (ingat, virus flu menular lewat udara), memegang tangan orang yang bersentuhan dengan penderita flu dan belum cuci tangan, hingga bersentuhan dengan tisu atau saputangan penderita flu.

Dr Atilla mengatakan bahwa virus flu itu tahan lama. Virus flu bisa bertahan hidup selama 48 jam. Sementara anak-anak khususnya yang sedang dalam tahap eksplorasi dalam 30 menit bisa memegang 300 objek. Bisa dibayangkan antara 300 kali memegang sesuatu apakah semuanya steril? Tentu tidak. Bisa jadi objek yang dipegangnya ratusan kali itu terpapar virus flu. Hiiii….

Nah, sebagai orang tua kadang kita ada salah kaprahnya nih. Mungkin juga termasuk saya. Banyak di antara orang tua yang ketika anaknya sudah terserang flu malah memberikan antibiotik terhadap anak, padahal itu TIDAK PERLU. Kan flu disebabkan oleh virus, that´s why nggak perlu antibiotik. Antibiotik biasanya digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Lalu apa yang harus dilakukan jika terkena flu? Ya cukup istirahat, banyak minum air putih, dan banyak makan buah yang mengandung vitamin C dan A.

Setelah tahu banyak hal tentang flu gimana kita bersikap saat kita sendiri terkena flu?

Saat terkena flu:

  • Selalu sedia tisu di tas untuk menutup bersin atau batuk
  • Jangan menaruh bekas bersin atau ingus sembarangan, buanglah di tempat sampah secepatnya
  • Tangan yang terpapar flu bersihkan dengan cuci tangan sesering mungkin
  • Hindari bersentuhan fisik dengan orang lain selama flu
  • Bersihkan benda-benda yang kita pegang saat terkena flu

Sementara itu, untuk pencegahan flu apa yang bisa kita lakukan? Salah satunya adalah berikan VAKSIN FLU, hanya setahun sekali kok. Dengan vaksin, kemungkinan untuk terkena flu menjadi kecil selama satu tahun. Kenapa satu tahun? Karena tiap tahun vaksinnya berubah. Ada banyak keuntungan melakukan pencegahan flu dengan menggunakan vaksin.

Keuntungan memberikan vaksin flu:

  • Membantu mencegah terkena flu
  • Tidak menularkan flu pada orang lain
  • Kalaupun kita tetap terkena flu, akan membuat flunya menjadi ringan sehingga tidak sampai menimbulkan efek lain yang lebih buruk
  • Mencegah komplikasi seperti pneumonia

Lalu kapan seorang anak sudah harus dibawa ke dokter saat flu? Dr Atilla mengatakan anak harus segera  jika anak sudah panas tinggi, sesak nafas hingga megap-megap dengan frekuensi nafas lebih dari 50 kali per menit.

Vaksin flu ini universal banget kok, bisa diberikan pada anak-anak hingga orang dewasa. Ibu hamil, anak-anak yang berusia lebih dari 6 bulan, orang lanjut usia, orang terdekat dengan anak kita termasuk baby sitter, dan para tenaga kesehatan/ medis. Untuk kalian yang sudah berencana ingin vaksin flu, dr Atilla menyarankan untuk meminta vaksin flu yang 4 strain (mengandung cakupan/virus 4 jenis, yang paling banyak).

Sampai sini udah ngerti kan soal flu dan vaksinnya? Sudah tercerahkan kan? Kalau saya sih sudah banget, bahkan sudah punya rencana untuk vaksin flu buat Aqsa di kontrol dengan DSA selanjutnya. Yuk, cegah flu dengan vaksin!

se-happy ini memang kalau nggak flu, bisa bebas cium-cium

Nah kalau ditanya soal flu ini, saya bisa kasih simpulan sedikit untuk mencegah hingga mengatasinya:

  • Selalu hidup sehat dengan cukup istirahat dan makan makanan bergizi
  • Vaksin flu untuk seluruh anggota keluarga termasuk babby sitter atau ART
  • Jika sudah mulai ada gejala flu seperti hidung tersumbat atau meler, saya biasanya berjemur di matahari pagi, banyak minum air putih hangat, istirahat, dan makan buah yang mengandung vitamin C
  • Pakai masker, selalu cuci tangan, dan minimalisir mencium anak saat flu
  • Jika sudah panas sudah tinggi, minum paracetamol

Semoga sampai sini sudah jelas dan tercerahkan soal flu dan vaksin flu ya. Trus setelah ini gimana? Yuk lah kita sama-sama vaksin, sekali untuk melindungi seluruh keluarga kita selama satu tahun.

Yang masih pengen tahu banyak soal vaksin, cek langsung aja instagramnya @kenapaharusvaksin ya.

Semangat sehat selalu.

 

0 Comments
Previous Post
Next Post