Perempuan Berdaya di Masa Pandemi, Apa Bisa?

Perempuan Berdaya di Masa Pandemi, Apa Bisa?

Ngobrolin pandemi memang nggak ada habisnya. Pandemi berimbas ke banyak bidang, dari ekonomi, kesehatan, gaya hidup, hingga peran. Salah satunya adalah peran saya sebagai perempuan.

Ada yang setuju sama kalimat saya ini? Sini…sini… kita merapat dulu.

Saya sering menuliskan dalam artikel-artikel saya bahwa saat awal menghadapi pandemi saya tidak panik atau takut tetapi bahagia karena WFH (work from home). WFH berarti semua anggota keluarga berkumpul di rumah, yang artinya seperti liburan. Pandemi = liburan digaji. Iya, sesempit itu pikiran saya saat itu. Tapi ternyata pandemi jauh lebih dari itu.

Baca Juga:   #CeritaCorona: Berdamai dengan #DiRumahAja

Tanpa saya sadari, pandemi ternyata membawa saya ke jurang rutinitas domestik yang sangat dalam. Saya yang sehari-hari adalah stay at home mom, jatuh ke dalam rutinitas pekerjaan domestik yang membosankan tanpa bisa mengambil jeda sejenak. Kalau dulu sebelum pandemi, akhir pekan adalah waktu saya menikmati hidup dengan ke salon atau ke acara-acara blogger yang mana jadi me time saya, namun kini tidak bisa. Hidup saya seperti terkurung di dalam bangunan 87 m² yang bernama rumah.

Sehari-hari, rutinitas saya sudah terpola sekali. Bangun tidur, memasak, bebersih rumah, main sama anak, mengurus Aqsa, hingga akhirnya tidur lagi. Rutinitas itu kadang membuat saya lelah, jauh lebih lelah daripada saat suami belum bekerja dari rumah. Saat pandemi entah mengapa Aqsa menjadi jauuhh lebih aktif di rumah dan saya harus bekerja keras untuk memberikannya pengertian atau bahkan ‘menjauhkannya’ saat suami butuh konsentrasi sendiri saat bekerja. Dan itu rasanya melelahkan.

Satu tahun, rutinitas itu berulang hingga 365 hari. Bisa dibayangkan? Outputnya tanpa saya sadari adalah saya yang sedikit stres sehingga berdampak pada hubungan dengan suami.

Pandemi Tetap Berdaya, Apa Bisa?

Pandemi bikin saya mengubur banyak hal, impian, rencana, dan cita-cita yang sudah dirancang. Salah satu hal yang harus saya ikhlaskan adalah rencana untuk mengikuti kelas penulisan skenario. Padahal saya sudah memimpikan untuk mengikuti kelas ini dan membangunkan kembali passion saya di dunia perfilman. Sayangnya pandemi datang dan rencana-rencana itu satu per satu hilang.

Saat itu saya merasa satu-satunya orang yang paling menderita. Sudah mah di rumah terus lalu nggak punya waktu untuk sendiri. Arena aktualisasi diri saya pun hilang di depan mata. Saya sedih, saya terpuruk. Tetapi saat itu ternyata main saya kurang jauh. Saya kira saya sendiri yang seperti ini. Saya kira saya sendiri perempuan yang paling menderita. Saya kira saya sendiri yang bisa-bisa berujung pada depresi. Tetapi nyatanya tidak. Ada banyak perempuan, jutaan atau mungkin ratusan juta di dunia yang sangat terdampak baik itu profesi, hubungan sosial, atau pun perannya gara-gara pandemi.

Baca Juga:   Tips Ibu Tetap Sehat dan Produktif di Masa Pandemi

Saat itu saya tenggelam ke dalam jurang rutinitas semakin dalam dan semakin dalam. Bahkan blog ini, rumah kedua saya pun sempat berdebu dan tak pernah tersentuh karena saya terlalu lelah fisik. Nyatanya, bukan cuma saya yang begini. Banyak perempuan bahkan ibu bekerja yang saat pandemi menjadi berperan berlipat, bukan hanya 2. Ya menjadi istri, ibu, pekerja, bahkan guru. Tak jarang, mereka pun juga lelah dengan pandemi. See, jadi bukan hanya saya kan yang merasa tidak baik-baik saja karena pandemi? Ada banyak orang, mari kita berpelukan.

Untungnya, saya punya support system yang sangat mendukung. Teman-teman yang baik yang selalu memberikan banyak cintanya, suami yang pengertian dan selalu memahami luapan emosi saya, dan anak yang lucu yang selalu membasuh kelelahan jiwa saya.

Saya berpikir kalau terus-menerus lelah dan tenggelam dalam rutinitas, ini akan tidak sehat baik itu bagi mental ataupun fisik. Bahkan, perlahan saya pun sering sakit karena stres. Saya nggak mau ini terus-menerus terjadi. Perlahan saya bangkit, saya ingin bangkit. Pandemi memang membuat banyak rencana menjadi amburadul, tapi toh tetap ada solusi.

Baca Juga:   Kemudahan Memproteksi Diri dari Penyakit di Masa Pandemi

Saya lupa bahwa kita semua punya teknologi. Internet dan segala rupanya membuat pandemi terasa lebih ringan asal tahu bagaimana caranya. Saya yang terpuruk perlahan menata emosi, duduk dulu untuk berpikir panjang daripada terus menerus menyalahkan keadaan. Toh nyatanya semua bisa diperbaiki kok. Memang pelan, tapi semua bisa asalkan dijalankan.

Saya yang stay at home mom mencoba berdaya dari rumah saja. Perlahan, saya tata kembali jadwal harian saya hingga saya punya waktu sedikit untuk membangun blog ini. Saya pun mencoba ikut banyak kegiatan, membangun jejaring dengan banyak orang, hingga akhirnya berhasil mendirikan sebuah komunitas yang bisa menjadi support system bagi perempuan. Satu hal yang dulunya tidak pernah ada dalam pikiran saya.

Berkegiatan di komunitas ternyata membantu kita jadi berdaya, lho!

Lalu pandemi dan rutinitas harian bersama anak, saya ubah menjadi kegiatan yang menyenangkan yang bisa menambah konten blog saya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Saya bisa tetap bermain dengan anak saya, sekaligus mengisi konten blog. Ya, semua permainan yang saya mainkan dengan Aqsa, bisa saya jadikan tulisan. Rasanya sayang kalau pengalaman ini saya biarkan begitu saja tanpa ada jejak rekaman. Dan tulisan blog adalah jejak itu.

Baca Juga:   Ide Bermain Anak Usia 2 Tahun (Part 1)

Kemudian pandemi mengubah banyak hal dalam hidup saya. Saya yang dulu tidak pernah suka dengan sesuatu yang berbau Korea, akhirnya jatuh cinta pada dramanya. Drama Korea membuat jiwa belajar saya bangkit. Saya si ibu rumah tangga mencoba berdaya dan meng-upgrade kemampuan diri dengan belajar Bahasa Korea. Memang masih sangat dasar, belajar Hangeul dari yang paling awal. Tapi toh nyatanya saya sudah bangga, karena saya mampu bertahan dan berdaya saat pandemi. Inilah cara saya merayakan hidup sebagai seorang perempuan di masa yang sangat sulit ini. Inilah cara saya untuk bebaskan langkah berani menghadapi pandemi.

berdaya di rumah dengan upgrade pengetahuan baru

FWD Insurance dan Dukungan bagi Kemajuan Perempuan

Mungkin tidak semua perempuan seberuntung saya. Ada banyak dari mereka yang bahkan tidak bisa menikmati hidup karena pandemi. Ada banyak yang mungkin lelah dengan ketidakpekaan lingkungan sehingga tidak bisa berkembang. Bagi saya, tidak apa-apa. Sudah bertahan sejauh ini saja, luar biasa.

Semua perempuan hebat. Every woman has their own battle. Itulah kenapa saya kurang begitu suka kalau perempuan dikotak-kotakkan hingga akhirnya menimbulkan perpecahan. Cukup sudah perang working mom vs SAHM, ASI vs susu formula, atau lahiran per vaginam vs SC, karena di balik semua itu ada perjuangan perempuan yang sangat tidak mudah. Cukup sudah perang-perang yang melelahkan ini. Sudah saatnya sekarang kita bergandengan tangan dan saling menguatkan untuk sesama perempuan.

Tapi toh nyatanya, perempuan juga butuh kekuatan selain dari perempuan. Lingkungan sekitar, pemerintah, bahkan institusi-institusi swasta termasuk jadi pihak yang bisa mendukung perempuan untuk maju. Salah satu institusi yang perlahan ingin membawa perempuan pada kemajuan adalah FWD Insurance.

Baca Juga:   FWD Life, Asuransi yang Mengerti Para Penghobi Kegiatan Ekstrem

FWD merupakan perusahaan asuransi yang di mata saya berbeda karena selain berbasis digital juga menyasar banyak kalangan terutama anak muda dengan gaya hidupnya. Pendekatan baru FWD ini ingin mengubah cara pandang masyarakat tentang asuransi. FWD hadir di industri dengan mendobrak stigma lama dan meyakini bahwa asuransi adalah sumber kekuatan. Oleh karena itu, dalam kampanyenya yang bertajuk Everyday Heroes, FWD Insurance fokus untuk mengajak nasabah agar terus berani menuju versi merayakan kehidupan ala mereka. Selain itu, mereka harus tetap yakin bahwa jika terjadi sesuatu, FWD Insurance tetap hadir untuk mendukungnya.

Bahkan dalam rangka memeringati Hari Perempuan Sedunia, asuransi berbasis digital ini pun mendorong para perempuan untuk berdaya walaupun mungkin ada banyak keterbatasan serta sistem yang mengotak-kotakkan perempuan dari dulu. Untuk mendobraknya, FWD menghadirkan para srikandi-nya dalam virtual gathering Rayakan Hari Perempuan Sedunia.

FWD Insurance membawa sosok perempuan yang duduk pada jabatan-jabatan strategis di institusinya. Mereka adalah:

  • Maika Randini Chief Marketing Officer FWD Insurance
  • Maria Magdalena Chief Governance Officer dan Direktur Kepatuhan FWD Insurance
  • Indrayana Agustsaputra Chief Bancassurance Officer FWD Insurance
  • Carol Mary Quertier Chief of Operations Officer FWD Insurance

Empat wanita yang berasal dari latar belakang berbeda ini berbagi pengalamannya seputar dunia perempuan dan profesionalisme mereka dalam berkarir khususnya di FWD Insurance. Apalagi sekarang saat pandemi, peran perempuan sebagai ibu, guru, istri, dan bekerja menjadi tumpang tindih karena situasi. Maria Magdalena Chief Governance Officer dan Direktur Kepatuhan FWD Insurance bercerita saat ini ia ditantang untuk tetap bisa memberikan perhatian di rumah sebagai ibu dan pandai membagi waktu serta mengembangkan prioritas sebagai seorang wanita karir.

Agar berdaya, perempuan harus saling mendukung satu sama lain. Masing-masing harus meluruhkan sifat penghakiman yang kadang datang paling depan. Sementara itu, agar berdaya dalam keluarga, perempuan tak melulu harus bekerja. Namun mereka juga harus mengerti tentang tata kelola keuangan keluarga agar masa depan bisa lebih terjamin dan tertata. Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk perencanaan keuangan keluarga adalah memiliki perlindungan berupa asuransi.

Selain mendukung perempuan berkarir, FWD Insurance melalui tagline-nya “Bebaskan Langkah, Berani!” yang juga dimaknai beragam oleh para pemimpin perempuannya. Tagline ini pun sejalan dengan peran perempuan baik itu sebagai ibu, istri, ataupun pribadi yang mandiri.

Indrayana Agustsaputra atau yang akrab disapa Ina memaknai tagline ini sebagai keberanian seorang perempuan untuk keluar dari zona nyaman untuk melakukan sesuatu yang baru di pandemi. Salah satunya adalah keberanian perempuan untuk mengambil langkah berani dalam mempersiapkan kebutuhan asuransi bagi keluarga.

Sementara itu Maika Randini atau akrab disapa Kiki memaknai Bebaskan Langkah Berani sebagai keberanian untuk melihat bahwa seorang perempuan juga layak berada di posisi tertentu. Apalagi kadang sebagai perempuan, rasa insekyur dan nggak percaya diri membawa kita pada titik yang akhirnya bisa membuktikan bahwa memang kita tidak bisa. Nah, Bu Kiki memaknai “Bebaskan Langkah, Berani!” ini sebagai tagline untuk saatnya menghancurkan rasa insekyur dan percaya pada diri sendiri bahwa perempuan pun bisa melakukan banyak hal.

Maria Magdalena, Chief Governance Officer dan Direktur Kepatuhan FWD Insurance memaknai “Bebaskan Langkah, Berani!” sebagai keberanian untuk melakukan apa saja yang kita mau tetapi semuanya harus tetap seimbang. Artinya sebagai perempuan kita bisa melakukan apa saja asalkan tetap mengingat perannya sebagai ibu di rumah dan tak lupa kewajibannya sebagai seorang wanita karir. Hal ini pula diaminkan oleh Carol Mary Quertier. Carol menggarisbawahi tagline ini sebagai semangat untuk bersatu dan berani menghadapi tantangan.

Karena semangat FWD dalam mendukung perempuan inilah akhirnya mereka menggagas #FWDCommunity Ladies Talk dengan tema Women Empower Women. Empat orang srikandi perempuan FWD ini ingin menunjukkan bahwa perempuan apalagi yang duduk di bangku kepemimpinan juga bisa bersatu dan nggak identik dengan persaingan. Semangat inilah yang ingin ditularkan mereka bahwa meskipun dunia di luar mereka sebagai seorang pemimpin perempuan itu tidak mudah tapi karena saling mendukung satu sama lain maka semuanya bisa menjadi lebih mudah.

Singkatnya #FWDCommunity Ladies Talk ini adalah sebuah wadah untuk perempuan untuk mendapatkan support, inspirasi, teman, pengetahuan, bahkan  saudara baru yang saling menguatkan. Program ini mengajak perempuan di
Indonesia untuk berkembang bersama melalui serangkaian workshop dan coaching menarik terkait dengan literasi finansial, kesehatan mental, karir dan wirausaha, dan berbagai topik lainnya.

banyak artikel seru di FWD Max

Untuk bergabung dalam community ini pun caranya gampang sekali. Kita hanya perlu download aplikasi FWD Max dan mendaftar di FWD Community. Setelah mendaftar, nantinya akan ada banyak konten menarik yang bisa didapat dari quiz, artikel tentang passion (Passion Story), serta informasi berguna lainnya yang ada di dalamnya. FWD Community ini buat saya tentu akan sangat berguna bukan hanya saat pandemi karena dengan di rumah saja pun saya tetap bisa berdaya dan mengembangkan diri melalui konten dan program digitalnya.

So, pandemi atau harus di rumah saja karena kondisi yang tidak memungkinkan pada akhirnya bukan jadi penghalang kok bagi perempuan. Hanya ada 2 kuncinya versi saya, MAU dan LINGKUNGAN MENDUKUNG maka berdaya dari rumah bukan hanya jadi sebuah mimpi saat ini.

Yuk, bebaskan langkah, berani!

Untuk tahu program, kegiatan, dan informasi seru lain seputar FWD, jangan lupa follow akun instagram @fwd_id ya.

 

 

 

 

4 Comments
Previous Post
Next Post
Begin Again, Lika-Liku Panjang Kehidupan Pasangan Nikah Kontrak
Rekomendasi

Begin Again, Lika-Liku Panjang Kehidupan Pasangan Nikah Kontrak