Album Kenangan untuk Azka

Kalo bicara soal menulis, itu udah hobi saya sejak lama. Sejak saya SMP saya sudah nulis cerpen secara manual alias ditulis di buku tulis dan saya suruh teman-teman saya membaca. Jadi menulis adalah passion saya? Bisa dibilang begitu sampai saat ini. Dan kini, menulis menjadi terapi buat saya. Menulis menjadi semacam self healing buat saya yang akhir-akhir ini diuji begitu hebatnya oleh Tuhan.


Menulis untuk Meringankan Beban

Tanggal 8 November 2014, saya mengalami kejadian yang luar biasa meluluhlantakan jiwa raga saya. Saya kehilangan anak dalam kandungan saya. Saya kehilangan Azka, buah hati yang sudah saya nantikan bersama suami. Saya seperti kehilangan semuanya. Hidup saya berada di titik terendah. Saya nggak tahu apa yang mau dilakukan. Semuanya terasa begitu sakiiittt.

image

Saya diberi cuti untuk istirahat pascamelahirkan selama tiga bulan dari kantor saya waktu itu. Tiga bulan, jangankan dibayangkan, seminggu dijalani saja terasa setahun. Bayangan akan Azka, tendangan di perut saya, semua memori tentangnya terekam jelas. Yang bisa saya lakukan hanya menangis lagi, lagi, dan lagi.

Saya nggak punya benda kenangan pribadi tentang Azka. Yang saya punya hanya foto wujudnya yang begitu kecil membiru penuh darah meringkuk dalam sebuah baskom dalam keadaan tak bernyawa. Sungguh menyedihkan. Bahkan saya sering tidak berani melihat foto itu dan tidak akan saya share ke media sosial mana pun. Saya juga tak punya kenangan rasa pelukan, mendengar tangisnya, atau melihat senyumnya. Saya menemui Azka yang sudah tak bernyawa, menemuinya yang sudah dalam diam.

Berhari-hari, berminggu-minggu tenggelam dalam kesedihan rasanya capek juga. Sampai akhirnya saya butuh pelampiasan. Saya harus menulis. Mengabadikan semua memori saya tentang saat-saat terakhir bersama Azka. Kebetulan suami saya dulu pernah membuatkan akun Tumblr dan mengunduh aplikasinya di handphone. Jadilah saya menumpahkan semuanya di situ. Jadi tahu kan kenapa platform blog saya berbeda yang lain? Karena saat itu yang saya butuhkan cuma pelampiasan rasa sedih dan saya menemukan aplikasi Tumblr di hape, jadilah saya curhat disitu.

Posting awal blog saya langsung sembilan tulisan nggak tanggung-tanggung. Nulisnya sambil nangis, previewnya berurai airmata lagi karena harus mengingat semua kesakitan dan kenangan pahit saat-saat terakhir bersama Azka.  Awal posting cuma dibaca lagi dan lagi lalu nangis. Penuh nostalgia. Penuh kerinduan. Beruntung saya masih ingat dan mengabadikan momennya dalam blog.

Saya nggak pernah kepikiran blog akan seperti ini itu. Nggak pernah kepikiran akan monetize blog. Nggak pernah kepikiran kalo platform blog saya berbeda dari yang lain. Yang saya butuhkan hanya media menulis. Saya bahkan saat itu nggak pernah nge-share tulisan saya. Blog seolah-olah benar-benar menjadi buku harian pribadi, tempat saya menumpahkan segala uneg-uneg biar terasa lebih ringan. Itu kenapa postingan-postingan awal saya tentang Azka tanpa foto. Itu karena saya nggak tahu blasss tentang dunia blogging. My blog just dedicated to Azka. Makanya saya nggak pernah mau ganti profil, karena blog ini ada untuk Azka.

image

Berani Berbagi dan Dukungan Suami

Hingga akhirnya saya memberanikan diri buat nge-share tulisan tentang Azka di Facebook dan ternyata responnya bagus. Lalu saya terus menulis, menulis, dan menulis. Tak melulu tentang kisah Azka tetapi tetap ada hubungannya. Lalu postingan mulai diberi gambar dan saya share lagi di Facebook, responnya baik, begitu seterusnya. Sampai suami saya menyarankan untuk ikut Kumpulan Emak2 Blogger biar tulisannya makin berkembang, akhirnya saya pun nurut.

Tulisan saya masih dalam satu garis lurus, tentang perjuangan untuk mendapat buah hati. Saya masih jarang ngeshare di grup KEB apalagi pas mulai masuk kerja lagi, menulis jadi nomer ke sekian. Saya berpikir, kok kayaknya tulisan saya sedih-sedih mulu ya. Akhirnya saya pun memberanikan menulis topik lain termasuk resensi buku yang saya anggap menarik.

Lucky me, punya suami seorang programmer, saya pun dibeliin domain. Tapi sayangnya domain dengan .com (dot kom) udah ngga ada. Kenapa? Iya, karena nama saya terlalu pasaran, sedih ya. Mau pake ratnadewi.com atau dewiratnasari.com semuanya udah dibeli orang, jadilah pakai .me (dot me). Kok lain daripada yang lain? Kata suami saya ga apa-apa, yang penting kan isi blognya. Content is king. Hmmm, baiklah saya pede lagi. Oh ya, suami saya juga berperan besar di blog saya, mulai dari beliin domain, desainin ini itu, naroh ini itu di blog, sampai kadang jadi fotografer blog, hihi.

image

Menulis dan blogging terus menjadi self healing buat saya. Berbagai tulisan utamanya tentang perjuangan kami untuk memperoleh momongan terekam jelas. Saya mulai pede buat nulis topik lain, mulai pede buat optimasi media sosial buat nge-share postingan, dan mulai pede ikut giveaway meski belom pernah menang, haha. Saya mulai ketagihan menulis, blogging, blogwalking, sharing tulisan, dan apalah-apalah itu tentang dunia blogging. Itulah yang membuat saya ngga kesepian dan sedih banget saat keguguran yang kedua, kehilangan Adik.

Dan ketika keputusan besar untuk resign harus saya putuskan, terlebih dahulu saya sudah memikirkannya. Saya pede. saya percaya diri ketika banyak orang mensupport saya, apalagi di beberapa komunitas blogger. Saya pede menanggalkan pekerjaan saya sebagai jurnalis dan kemudian mengabdikan diri menjadi blogger (walo belum profesional). Saya bangga karena saya ngeblog dan saya nggak sedih karena saya ngeblog.

Dan dalam waktu dekat ini, saya dan suami punya rencana-rencana besar buat memajukan blog. Paling tidak, suami saya sangat support ketika saya sudah niat dan bismillah mau ngeblog secara profesional. Kata suami, berbagilah dari hal-hal yang kecil tapi menyentuh pembaca.

Jadinya sekarang saya menjadi pembaca dan ‘pengamat sosial’, semua karena apa? Karena ngeblog. Nggak apa-apa saya nggak bisa ketemu orang-orang penting di negeri ini karena kamu bisa ciptakan peluangmu dalam bidang menulis dengan ngeblog. Banyak peluang bisa terbuka berkat ngeblog, itu yang saya lihat dari blogger-blogger yang sudah senior. Melalui ngeblog sekarang saya juga bisa lebih dekat dengan suami karena saya bisa tanya apapun tentang dunia internet dan suami saya siap untuk membantu developing blog saya.

Dan dengan ngeblog, saya dan suami punya album kenangan tentang Azka yang bisa dibaca sewaktu-waktu. Sewaktu-waktu kalau kami rindu.

Tulisan diikutsertakan pada Giveaway Cerita di Balik Blog.

-jawzq-

1 Comment
Previous Post
Next Post