Ketika Perkara Hamil Menjadi Rumit

moms and the city

 

Dulu dokter kandungan saya pernah bilang, hamil itu anugerah tapi nggak ada hamil yang mudah. Yap, kalau bisa saya menambahkan, menikah dan hamil bukanlah perkara yang mudah. Jadi, buat yang sedang galau karena tak kunjung menikah, nikmatilah! Karena ketika menikah, hal itu bukanlah menjadi perkara yang mudah dan serta merta masalah menjadi selesai. Faktanya, welcome to the jungle.

Membaca Moms and The City, lalu sejenak saya merefleksikan ke dalam diri saya sendiri. Memang tidak ada hamil yang mudah. Kelihatannya menyenangkan, tapi ternyata banyak hal-hal yang harus diperhatikan, bahkan tak jarang justru menimbulkan trauma seperti saat saya hamil Azka. Saya pernah chatting dengan sesama teman senasib, kalau hamil ternyata rumit, susah dan rempong. Padahal selama ini kalau melihat teman-teman atau orang yang hamil by accident, walaupun stres karena menanggung malu atau malah ditinggal pasangannya, toh baby mereka tetap hidup, tetap survive, tetap lahir selamat dan sehat sampai gede. Sementara saya dan teman saya yang sangat menantikan buah hati, sudah dijaga sedemikian rupa, diperhatikan asupan makanannya, tetap saja failed. Gagal. Saya harus mengalami IUFD dan teman saya pun keguguran karena blighted ovum atau janin tidak berkembang.

Walaupun secara de facto saya belum menjadi seorang ibu, tapi toh saya pernah merasakan hamil, all day sickness, swinging mood, sampai melahirkan. Membaca Moms and The City seolah berkaca dan dalam hati selalu bilang “oh iya bener juga” atau “ini gue banget”. Padahal selama ini saya selalu denial kalo saya sudah beranjak tua dan akan menjadi ibu-ibu. Itu sebabnya, dulu saya paling males baca artikel kesehatan apalagi forum ibu-ibu dengan sapaan “bun” atau “moms”-nya. Geuleuh alias geli di kuping, menurut saya. Ya, berita politik memang selalu seksi untuk dibaca apalagi bagi saya yang berprofesi sebagai wartawan. Kalaupun baca artikel tentang perempuan, seringnya baca tentang gaya hidup, fashion, atau gosip artis Hollywood. Saya selalu merasa masih muda, dinamis, obsesif, dan masih senang hura-hura dengan teman.

Tapi sejak hamil Azka, saya akhirnya mulai baca artikel kesehatan dan semua yang berbau ibu-ibu. Ah, andai saja saya nemu Moms and The City pas hamil Azka dulu, pasti membaca buku parenting atau artikel kesehatan akan menjadi lebih menyenangkan. Lalu saya berandai-andai lagi, ah andai saja waktu juga bisa diputar. Ya, Joy Roesma dan Nadia Mulya bisa mengemas segala hal yang berbau parenting dan ibu-ibu dengan lebih crunchy. Itu sebabnya saya mengagumi tulisan mereka dari buku yang pertama, KOCOK! The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites. So,can’t wait for the next edition, Moms and The City volume 2.

Menjaga kehamilan pun bukan cuma urusan perempuan, laki-laki pun hukumnya wajib. Yah, sahamnya kan barengan dan sama, tidak ada saham mayoritas disini. Itu sebabnya, buku ini layak menjadi santapan kaum lelaki. Setidaknya biar mereka tahu dan paham kenapa tiba-tiba istrinya menangis sendiri malam hari, menangis kalau suami pulang telat sedikit, marah-marah kalau suami salah sedikit, atau ngambek gara-gara suami lupa beliin sate padang dan bilang ngga sayang istri dan anak. Pahamilah, bahwa kami-kami yang hamil berada di bawah kendali dan kekuasan yang namanya kerajaan “hormon”.

Terakhir, tak banyak pesan saya bagi yang sedang hamil selain “jagalah!”. Hamil adalah pengalaman berharga. Dan bagi saya hamil dan kehilangan anak di tengah-tengah kehamilan merupakan pengalaman yang sangat berharga.

-jawzq-

1 Comment
Previous Post
azka dan juz
Next Post
sendiri