Lelaki yang Turun ke Dapur

Ada yang bilang kalo laki-laki adalah raja, hakikatnya adalah diladeni. Bahkan ketika hidup di dalam rumah. Semboyan yang kayak begini masih berlaku nggak sih? Masih ada nggak sih lingkungan atau laki-laki yang bahkan ‘mendewakan’ dirinya? Masih ada lho ternyata, masih banyak malah yang saya temui *duuhh*.

Lelaki yang turun ke dapur? Chef Juna maksudnya? Bukaaaann. Lelaki kan selama ini, di Indonesia khususnya, diidentikan jarang menyentuh area-area domestik di rumah. Memasak misalnya, kalo yang memang profesinya chef lain cerita ya. Laki-laki dalam konteks lingkungan keluarga yang dimaksudkan disini.

Sering nggak kita jumpai laki-laki atau suami yang mengotak-kotakan dirinya? Tugas suami adalah mencari nafkah dan istri tugasnya di dapur, sumur, kasur. Walaaahh masih ada lho ternyata. Mental-mental lelaki yang menjadikan dirinya raja, apa-apa selalu diladeni, atau ogah turun bantuin istri atau ibunya di pekerjaan rumah.

Beruntung sekali saya punya suami yang masih mau bantuin pekerjaan rumah. Kalau mau dimasakin enak yang bumbunya complicated, suami saya masih mau buat ngulek bumbunya lho karena saya nggak bisa ngulek apalagi kalo yang diuleknya banyak. Suami saya juga masih mau cuci piring, masak nasi, angetin sayur, atau bersihin isi kulkas. Kalo masak emang nggak mau ya, karena nggak bisa.

Trus suami saya malu gitu karena turun ke dapur? Nggak kok. Berani dan mau turun ke dapur justru malah memberi nilai plus bagi seorang laki-laki. Seksi malahan, wuhuuu. Saya juga ngga terus-terusan nyuruh suami buat ngerjain pekerjaan dapur ya mentang-mentang dia mau turun ke dapur.

Saya justru sering kasian kalau liat temen yang dikotak-kotakan sama suaminya. Ada lho laki-laki yang masih gengsi turun ke dapur. Jangankan buat ngulek, sekedar bikin kopi atau ngambil makanan nggak mau dan menggunakan the power of ‘nyuruh orang’. Bahkan saat istrinya repot atau lagi sakit atau hamil, dia nggak mau sekedar dimintai tolong masak nasi pake magic com. Atau sekedar nganterin ibunya ke pasar atau diminta tolong gantiin tabung gas aja nggak mau karena itu bukan pekerjaan yang ‘laki banget’. Hmmm kadang nggak mau sama nggak bisa emang beda tipis ya.

Tapi laki-laki dengan sifat seperti itu nggak serta-merta terjadi begitu saja kok. Kalo diliat, justru lingkunganlah yang membentuk. Saya sering liat, yang gengsi-gengsi itu justru memang dimanja sama keluarganya. Dalam artian memang dijadikan raja dan selalu diladenin. Tanpa diminta, sudah dari dulu kalo mau makan diladenin ibunya, nggak pernah ambil sendiri, bikin kopi juga gitu, turun ke dapur juga nggak boleh, akhirnya keterusan enak deh. Bahkan ada lho keluarga yang memang memposisikan bahwa lelaki itu ya harusnya raja dan diladenin.

Jadi saya nggak pernah manjain suami donk? Nooo, kalo memang pas lagi mau barengan makannya, saya masih sering kok ngambilin dia makan. Tapi kalo pas lagi repot atau sakit, suami ya makan mandiri alias self service. Dan tentunya merembet ke hal-hal domestik lainnya.

Ya intinya, IMHO laki-laki yang gengsi turun ngerjain pekerjaan domestik untuk sekedar bantuin ibu atau istrinya sudah so yesterday alias kuno ya. Zaman sekarang kayaknya sharing pekerjaan sudah lebih biasa dan orang-orang lebih open minded soal itu.

Daann bukankah laki-laki yang turun ke dapur kegantengannya jadi naik beberapa persen? Setuju?

 

-jawzq-

 

* picture from gratisography

1 Comment
Previous Post
Next Post