Rabu, 5 November 2014: Azka Pergi Tanpa Pesan

Kami sedang masuk dalam fase yang bahagia, mungkin paling bahagia dalam masa-masa pernikahan kami. Setelah sudah beberapa minggu bayi yang ada di kandunganku bergerak aktif, bahkan sangat aktif, kami punya segudang rencana bulan ini. Pengen USG 4d karena penasaran, mulai berencana belanja perlengkapan bayi, cari tahu tentang senam hamil, bahkan Senin kemarin saat saya perawatan gigi di RS kami pun sudah tour de hospital buat tahu keseluruhan tentang RS dimana aku akan melahirkan. Tapi semuanya hancur.

Pagi ini aku bangun tanpa firasat. Suamiku bilang kalo tadi pagi si dedek geraknya aktif banget. Entah saat kapan tapi sepertinya saat suamiku terbangun di malam atau menjelang subuh. Dia memang suka memegangi perutku akhir-akhir ini, bahkan tanpa aku tahu. Hanya untuk merasakan gerakan anak kami.

Aku menjalani aktivitas seperti biasa. Bangun, masak, mandi, lalu berangkat ke kantor. Liputan hari ini agaknya cukup bersahabat. Ke gedung DPR dan tidak melelahkan. Bahkan bisa dibilang aku tidak kerja karena kameramenku dipakai temanku yang kameramen pasangannya tidak masuk karena sakit. Jadi aku tidak melakukan tugas apapun, hanya ikut dia untuk wawancara. Hari ini ia wawancara Effendi Simbolon tentang rencana kenaikan harga BBM.

Di DPR aku hanya mondar-mandir. Sempat ke lantai 3 untuk ketemu Setya Novanto tapi beliau lagi rapat, kata Mba Nurul Arifin yang sekarang jadi “LO” (liaison officer)-nya. Aku turun lagi, menunggu Effendi Simbolon yang akan wawancara setelah live.

Tak ada firasat atau rasa apa-apa. Hanya beberapa saat perutku terasa sakit. Aku hanya mengelus-elusnya seraya berkata “kuat..kuat..kuat..ikut ibu kerja ya dek”. Lalu rasa itu hilang. Anakku memang baik, dia tak pernah merepotkan, bahkan saat kuajak kerja.

Tapi mungkin itulah komunikasi terakhirku dengannya. Aku masih ingat setelah temanku wawancara dengan Effendi Simbolon, dengan bangganya sambil bercanda aku bilang ” saya lagi magang bang, tapi karena hamil, hahaha”. Ya, saat itu memang saya ngga pakai seragam dan dia menanyakan kok ngga pake seragam. Betapa bangganya aku, bangga karena jadi ibu hamil.

Tapi mungkin itu menjadi kebanggaanku yang sesaat karena hingga sore, Azka tak juga bergerak. Aku masih cuek, mungkin Azka sedang tidur karena aku capek mondar-mandir di DPR. Hati sudah tak tenang, tapi aku masih mencoba berpikiran positif. Malamnya, aku bilang pada suami ” Kok dedek belom bergerak-gerak ya tumben”. Dan suami hanya bilang, mungkin dia lagi bobo lalu menyuruh saya istirahat saja.

Malamnya, seperti biasa saya terbangun untuk ke kamar mandi. Merasakan ayunan di perut saat berjalan di antara kantuk. “Oh mungkin si dedek gerak nih,” pikirku. Tapi mungkin ayunan itu menandakan dia sudah tidak ada, tidak bergerak, hanya terdorong kesana kemari di antara air ketuban. Namun, saya terlalu tidak peka. Dan dia pergi tanpa pesan. Ya, Azka pergi tanpa pesan. Tanpa memberi pertanda apapun pada saya.

Ibu sayang Azka :*

0 Comments
Previous Post
Next Post