Second Opinion

“Mba maaf aku ngga bisa masuk lagi hari ini, bayiku detak jantungnya ilang. Tolong kasih tau teman produser lain via personal message aja ya, jangan di grup. Thx”

Begitu pesan via whatsapp yang aku kirimkan pada salah satu asisten produserku untuk izin tidak masuk. Aku sengaja tidak memberitahukan via grup karena masih sangat berharap pendapat dr Arman salah. Ya, masih berharap my Azka masih ada dan tidak membuat panik temanku.

Ini hari Jumat. Jumuah mubarokah seharusnya. Tapi mungkin ini menjadi seperti Jumat keramat di KPK karena aku harus menerima putusan,apapun bahkan yang terburuk sekalipun.

Suamiku sudah mencoba menguatkan dirinya. Bercerita pada adiknya dan tante kami yang rumahnya tak begitu jauh. Ia tak sanggup kalau harus menahannya, ujarnya.

Atas saran keluarga tante kami, kami pun dibawa ke rumah sakit yang berbeda. Berharap Azka masih ada sambil menangis di antara tangisan adik ipar dan sepupu-sepupuku yang menengokku pagi itu. Ikhlaskan, dia sudah jadi tabungan surga kalaupun Azka mrmang harus pergi. Ikhlaskan. Kata yang mudah tapi ternyata sangat sulit. Sangat sakit.

Dengan diantar suami dan tanteku, kami menuju RS yang berbeda. Setelah beberapa menit menunggu di ruang UGD, kami pun dirujuk ke poli kebidanan dan kandungan. Tanteku tak berhenti mengelus perutku sambil berkata “ayo bangun dek…bangun..jangan tidur” . Tapi semakin dielus aku semakin merasa Azka telah pergi.

Tak berapa lama, namaku pun dipanggil oleh perawat untuk masuk ke ruangan dr Susi, obsgyn saat itu. Dengan sangat hati-hati dia bertanya padaku ada apa, lalu kami pun bercerita. Ia mengajakku untuk usg dan bertanya sebelumnya saya ditangani oleh dokter siapa.

“Pendapat saya sama dengan dr Arman, bayinya sudah tidak ada denyut jantungnya. Ditandai dengan tulang kepala yang sudah menumpuk.”

Lagi-lagi aku tidak bisa berkata apa-apa. Suamiku sudah pasrah. Sementara tanteku berlinang air mata.

“Penyebabnya kenapa ya dokter?” tanya suamiku masih penasaran.

“Dokter Arman bilang penyebabnya kenapa?”

“Bukan dari faktor luar sih.”

“Iya memang benar bukan dari faktor makanan, kecapekan, apalagi ibu tidak jatuh. Kemungkinan karena beberapa hal, biasanya masalah tali pusat atau plasenta. Bla..bla..bla..” dr Susi masih menjelaskan panjang lebar yang intinya sama dengan dr Arman. Yang intinya bayiku telah meninggal. Yang intinya tak ada yang bisa diperbuat untuk mengembalikan Azka.

Sama halnya dengan dr Arman, dr Susi pun memberi surat rujukan apabila aku telah siap untuk melahirkan Azka, dengan bantuan persalinan normal. Semata-mata untuk tidak menyakiti rahimku dan Azka bisa dapat adik secepat mungkin.

Dr Susi pun dengan terbuka menyerahkan keputusan di tangan kami. Dengan bantuan siapa Azka akan dilahirkan. Namun, aku ingat kata-katanya sebelum kami berpamitan.

“Ibu tidak usah sedih, dengan hamil berarti ini membuktikan sel telur ibu dan suami sehat. Rahimnya juga sehat. Bisa hamil. Banyak pasien saya yang sudah bertahun-tahun menikah belum bisa hamil.”

Kata-kata yang sebenarnya diucapkan dengan teduh dan menyejukkan. Tapi hari itu aku sudah terlalu kalut. Dan second opinion itu tak ada bedanya lagi.

Aku melirik hp ku. Banyak pesan, notifikasi whatsapp, dan missed call disitu. Aku baru ingat, semalam aku minta temanku mendoakanku tanpa memberi tahu ada apa denganku. Dalam hati aku berkata, sekarang doakan my Azka juga ya..

Ibu sayang Azka :*

1 Comment
Previous Post
Next Post