We Love You, Adik… (Part 1)

Kami memanggilnya Adik. Dia hadiah yang diberikan Tuhan untuk ulang tahun pernikahan kami yang kedua. Dia hanya titik yang sangat keciiil dalam perutku yang ditandai oleh dua garis positif dalam testpack. Iya, ini adalah adik Azka. Makanya kami menyebutnya Adik.

Aku tak pernah membayangkan secepat ini bertemu Adik. Adik memang direncanakan kehadirannya, tapi kami tak menyangka kalau kemunculannya akan sama dengan Kakak Azka, sebelum bulan puasa. Aku sempat tak percaya karena di tengah terapi hormon prolaktin yang masih tinggi, aku tak merasakan gejala kehamilan apapun selain mual muntah. Tapi mual muntah toh hal yang biasa ketika terapi prolaktin karena efek obat caberlin memang seperti itu. Tapi kata suamiku ini beda.

Aku hampir tiap hari mual. Dia curiga. Mana mungkin caberlin yang diminum seminggu sekali setiap akhir bulan berefek berhari-hari. Ia pun meminta aku tes urin karena tak mau ‘kecolongan’ sama dokter seperti pas hamil Azka dulu. Dan benar saja, dua testpack pertama menunjukkan dua garis, meski yang satu masih samar. Namun, seminggu kemudian kami tak menyerah. Aku pun tes urin kembali menggunakan dua testpack yang berbeda. Dan hasilnya semakin terang. Adik muncul memberikan kami secercah harapan dan kebahagiaan. Tak menyangka, secepat ini.

Kami pun pergi ke dokter kandungan untuk memastikan kehadiran Adik. Dan benar saja, dokter kandungan kami, dr Stefani membenarkan hasil dua garis di testpack. Ada bulatan kecil di dalam rahimku. Dokter bilang, itu kantung kehamilannya dan memang ada tapi belum terlihat denyut jantungnya. Kata dokter, usia Adik sekitar lima mingguan. Dokter memberi selamat dan support karena kehamilan dengan riwayat anak pertama IUFD pasti akan stres dan penuh trauma. Tapi kami senang dengan kunjungan yang pertama kali ini.

Oh ya, dr Stefani sempat bingung ketika USG karena Adik muncul kemudian menghilang sampai beliau bertanya, apa dr Budi, dokter dimana aku program hamil, bílang bahwa rahimku kembar. Aku bilang tidak, tapi dr Arman, dokter yang menangani Azka sebelumnya sempat bilang kalau aku divonis bicornut uterus alias rahim dua rumah.

“Apa ini yang menyebabkan riwayat kehamilan pertama IUFD?” tanya dr Stefani.

Kami menggeleng. Tak pernah tahu kenapa itu terjadi karena sampai sekarang kepergian Azka pun masih misterius.

Dr Stefani bilang bahwa rahimku ada dua. Ia menggambarkan normalnya rahim perempuan satu berbentuk alpukat terbalik. Tapi rahimku terbagi menjadi dua ruangan dan dikhawatirkan menjadi sempit apabila bayi tumbuh semakin besar. Oleh karenanya, dr Stefani menyarankan untuk dirujuk ke Klinik Anggrek Fetomaternal RSCM ketika nanti bulan keempat dan ketujuh agar kami tahu seperti apa perkembangan Adik dan tindakan yang harus dilakukan saat melahirkan. Tapi kemungkinan Adik harus dilahirkan secara caesar jika nanti sudah waktunya. Ah, itu masih lama, pikirku.

Aku senang, suamiku senang. Kami bahagia. Adik datang begitu cepat. Adik berkah ramadhan. Adik kado ulang tahun perkawinan kami yang kedua. Adik adalah secercah harapan bagi keluarga kecil kami. I love you, Adik. Ayah love you, Adik. We love you, Adik….

 

-jawzq-

0 Comments
Previous Post
Next Post