Menciptakan Cara #BahagiaDiRumah Setelah Resign dari Pekerjaan

Dulu saat saya masih aktif bekerja sebagai jurnalis, tak pernah terpikir untuk resign lalu menjadi ibu rumah tangga. Diam di rumah tanpa pekerjaan adalah hal yang membosankan menurut pemikiran saya saat itu. Apalagi saya orang yang suka sekali sama kegiatan dan kesibukan. Dari zaman kuliah saya selalu menyibukan diri dengan kegiatan kampus dan kerja sambilan. Makanya, saat itu saya berpikiran berhenti kerja dan diam di rumah adalah hal yang membosankan dan ‘neraka’ banget buat saya.

Akan tetapi, takdir berkata lain. Setelah hampir enam tahun menjadi jurnalis, akhirnya saya harus rehat di rumah. Dua kali keguguran saat masih aktif bekerja membuat saya memutuskan untuk berhenti bekerja pada September 2015 lalu. Saya harus rehat pikiran, perasaan, dan fisik di rumah. Rasa bosan kerap kali muncul ketika di rumah. Apalagi saya belum punya anak. Jadi, waktu saya di rumah tidak begitu disibukkan oleh pekerjaan mengurus anak.

Belum lagi ketika melihat banyak teman yang masih bekerja. Duh, rasanya pengen kerja lagi. Mengingat masa dulu setiap hari pergi ke kantor, bertemu teman-teman, atau pulang diisi dengan nongkrong bareng kayaknya jadi sesuatu yang mengasyikan. Tapi hidup kan harus memilih. Jalan hidup saya mengharuskan saya saat ini untuk memilih tinggal di rumah, jangan terlalu capek dan stres. Ya sudah nggak apa-apa.

Selalu Berpikiran Positif agar #BahagiaDiRumah

Ada orang yang bilang bahwa banyak orang stres karena tekanan pekerjaan. Saya percaya betul itu karena dulu juga saya sering stres karena tekanan pekerjaan atau suasana kantor. Tetapi percayalah, ada juga orang yang stres karena tidak mengerjakan apa-apa. Lha iya, seperti saya ini yang terkadang suka stres sendiri karena di rumah tidak mengerjakan apapun. Jadi, jangan anggap orang yang stay di rumah tidak stres juga. Nah, saya ini contohnya.

Tapi saya nggak boleh larut terlalu lama dalam stres di rumah. Akan percuma rasanya resign kerja untuk menghindari stres, eh ini di rumah kok malah stres lagi. Ya itu namanya cuma memindahkan stres. Oleh karena itu, saya harus berpikiran positif bahwa ada hal-hal baik yang saya petik ketika saya di rumah atau ada hal-hal buruk yang bisa saya perbaiki setelah saya resign kerja dan memutuskan di rumah. Di antaranya:

  • Bisa hidup lebih sehat

    Jujur, saat bekerja jadi wartawan saya sangat susah hidup sehat. Memang, saya selalu membawa bekal ketika ke kantor dengan harapan makanan rumah akan lebih sehat daripada makanan beli di luar. Tapi terkadang, waktu makan jadi tak tentu. Maklum, kerja wartawan kan nggak kenal waktu. Kalau lagi santai ya santai banget. Kalau lagi sibuk, jangankan buat makan, kadang hasrat buang air saja saya tahan.

    Nah setelah resign dan menghabiskan waktu di rumah, saya bisa hidup lebih sehat. Saya bisa cukup tidur, makan teratur, buang air besar lancar (saya adalah tipikal orang yang sering sembelit), dan punya banyak waktu buat berolahraga. Ketika lebih sehat secara fisik dan mental, saya siap juga untuk melakukan program hamil kembali. Dari sini saya sadari betul arti bahagia di rumah adalah ketika sehat. Sesederhana itu.

  • Punya lebih banyak waktu untuk menekuni hobi

    Dulu saat masih kerja, saya menulis di blog paling hanya dua kali dalam sebulan. Kalau diibaratkan rumah, blog saya jarang ditengok dan mungkin sangat berdebu. Nah, sejak resign saya jadi punya banyak waktu untuk menekuni hobi menulis saya. Walaupun belum terlalu banyak postingan per bulan, paling tidak sudah ada kemajuan daripada saat saya masih kerja. Saya mulai belajar hal lain juga seperti belajar desain grafis yang paling sederhana untuk kepentingan blog.

    Saya yakin, punya banyak banyak waktu luang di rumah artinya punya banyak waktu untuk mengembangkan kemampuan. Tidak hanya di hobi menulis, hobi yang lain pun demikian. Saya juga mengalami kemajuan di hobi memasak dan membuat kue. Sepertinya memang sepele ya, tapi hal-hal sepele ini justru yang bikin saya bahagia di rumah.

  • Punya banyak waktu untuk mengurus rumah dan suami

    Beruntung saya sudah punya rumah sendiri saat sudah resign kerja. Jadi waktu saya bisa digunakan buat beres-beres rumah. Tak ada lagi cucian piring numpuk sampai berhari-hari, lantai kotor penuh debu saat diinjak, atau tempat tidur berantakan saat akan ditinggal pergi seperti saat dulu masih tinggal di kontrakan. Sekarang karena rumah sendiri yang dibeli dari hasil keringat berdua suami, jadi merawatnya juga lebih giat.

    Saya juga jadi punya banyak waktu dengan suami. Mulai belajar sedikit-sedikit tentang dunia digital, dunia yang selama ini suami saya geluti. Pas sekali dengan momen saya ingin membangun blog menjadi lebih baik lagi. Selain itu, pembicaraan kami juga lebih ‘nyambung’. Jadi, ini sekaligus sebagai momen untuk kami agar lebih mendekatkan diri lagi sebagai suami istri.

Menciptakan Cara #BahagiaDiRumah

Diakui memang ada saat-saat tertentu dimana saya merasa sangaaattt bosan di rumah. Ingin mencari aktivitas baru di luar atau berpikir mungkin saja kalau bekerja lagi akan enak. Tapi saya urungkan dahulu niat itu. Sekarang saya berpikir, mencari kebahagiaan di rumah itu ya sumbernya dari saya sendiri. Saya harus membuat sesuatu yang bisa membahagiakan saya. Makanya, saya banyak mengisi kegiatan di rumah dengan berbagai aktivitas. Beberapa di antaranya adalah aktivitas baru yang sebelumnya belum pernah saya coba. Hasilnya? Cukup baik. Sejauh ini saya masih menikmati berbagai kegiatan di rumah.

Untuk menghilangkan rasa bosan dan stres, inilah beberapa kegiatan yang biasanya saya lakukan di rumah:

1. Menulis

Sejak memutuskan untuk resign dari pekerjaan, akhirnya saya punya banyak waktu untuk menekuni hobi saya. Salah satunya adalah menulis di blog. Blog yang telah saya buat akhirnya bisa rutin ter-update seminggu dua hingga tiga kali. Saya bisa membagi informasi yang berguna pada orang lain melalui blog.

Dari menulis ini pun saya mendapatkan banyak apresiasi. Dari yang sekadar membaca dan mengapresiasi tulisan saya hingga menang beberapa perlombaan. Belum banyak memang, tapi saya yakin seiring berjalannya waktu saya akan terus belajar untuk menulis hal-hal berguna. Saya belajar pula berkompetisi dengan banyak orang melalui tulisan.

2. Membaca

Saya adalah salah satu orang yang yang hobi membeli buku. Namun sayangnya ketika masih aktif bekerja buku yang saya beli hanya ditumpuk begitu saja atau cuma dibaca setengahnya. Lalu saya membeli lagi, ditumpuk lagi, demikian terus menerus siklusnya.

Beruntung setelah resign dari kerja saya pindah rumah. Di rumah yang baru ini, suami saya membelikan saya rak buku khusus untuk menampung buku-buku saya yang selama ini teronggok di kardus. Punya banyak waktu luang dan melihat jajaran buku yang tersusun rapi menjadi mood booster tersendiri untuk membaca. Saya akhirnya punya banyak waktu luang untuk membaca satu-satu buku yang dulu saya beli dan hanya ditumpuk.

sudut membaca di rumah yang membuat saya selalu bergairah buat membaca
sudut membaca di rumah yang membuat saya selalu bergairah buat membaca

3. Memasak atau membuat kue

Ketika saya masih bekerja, memasak hanya menjadi rutinitas. Setiap awal minggu saya dipusingkan dengan menu apa yang harus dimasak singkat dan cepat jadi mengingat waktu untuk memasak tidak banyak. Nah, setelah punya banyak waktu luang di rumah akhirnya saya bisa mengeksplorasi kesenangan saya memasak. Dari mulai memasak sayur dan lauk yang butuh waktu lama hingga sedikit-sedikit mulai belajar memasak kue.

salah satu kue hasil karya saya buat persiapan Lebaran
salah satu kue hasil karya saya buat persiapan Lebaran

Gayung bersambut ketika suami saya membelikan saya oven panggangan untuk membuat kue. Sekarang saya mulai berani membuat resep-resep baru dan suami adalah pendukung setia saya. Ia mempersiapkan diri untuk menjadi tester dan kritikus pertama dari masakan-masakan saya.

4. Membuat DIY bersama suami

Mumpung masih berdua alias belum punya anak, saya punya banyak quality time bersama suami. Biasanya kami menghabiskan waktu dengan melakukan banyak hal, salah satunya adalah membuat DIY (do it yourself). DIY yang kami buat tidak susah, hanya bermodalkan sampah kaleng susu atau botol minuman bekas. Ya hitung-hitung kami juga mengurangi sampah rumah tangga.

Biasanya kami ‘menyulap’ sampah-sampah rumah tangga itu menjadi wadah barang atau pot tanaman. Kami pun menggunakan cara yang simpel, hanya mewarnainya dengan berbagai cat warna-warni yang kami beli di toko cat. Hasilnya memang sederhana misalnya pot warna-warni tapi pernak-pernik kecil inilah yang justru ikut berperan dalam mempercantik rumah baru saya. Harapannya, saya dan suami bisa membuat lebih banyak DIY kreatif dengan limbah rumah tangga. Selain bisa mengurangi sampah, kegiatan ini juga mempererat hubungan suami istri.

5. Berkebun

Rumah baru saya memang tidak besar. Namun, saya tetap menyisihkan sedikit lahan untuk ditanami sesuatu. Tujuannya supaya rumah terlihat tidak gersang dan ada unsur kehijauannya. Akhirnya saya dibantu suami menghias lahan yang cuma beberapa meter itu dengan berbagai tanaman. Mulai dari tanaman hias, bunga, sampai sayur-sayuran.

Yang saya lakukan ini memang sederhana. Akan tetapi, berkebun di kota dengan lahan terbatas tidak segampang yang saya pikirkan. Beberapa kali tanaman yang saya tanam mati karena tidak tahu secara detail cara menanamnya. Namun, kebahagiaan muncul ketika tanaman yang saya rawat mulai tumbuh bunga atau buahnya. Ini adalah hal yang sepele tapi hal-hal kecil inilah yang justru membuat saya bahagia di rumah.

#BahagiaDiRumah itu salah satunya saat lihat tanaman pare yang ditanam sudah mulai berbuah
#BahagiaDiRumah itu salah satunya saat lihat tanaman pare yang ditanam sudah mulai berbuah

28 Tahun Sang Penebar Inspirasi

The most important thing is to try and inspire people so that they can be great in whatever they want to do – Kobe Bryant

Ketika masih aktif bekerja, saya membayangkan menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang membosankan. Tidak pernah terpikir dalam benak saya untuk berhenti kerja dan menjadi ibu rumah tangga. Rupanya takdir justru membawa saya untuk mencicipi bagaimana rasanya menjadi ibu rumah tangga. Ternyata setelah dijalani, menjadi ibu rumah tangga yang menghabiskan banyak waktu di rumah tidak seseram yang saya bayangkan.

Saya percaya bahwa kebahagiaan di rumah harus kita ciptakan sendiri. Oleh karena itu, saya menggali banyak hal untuk dijadikan inspirasi kegiatan di rumah. Salah satu hal yang menginspirasi saya adalah Tabloid Nova. Ya, tabloid yang sudah berumur 28 tahun ini tak hanya menyampaikan banyak informasi bagi perempuan tetapi juga inspirasi.

Saya bukan setahun dua tahun mengenal Tabloid Nova. Dari saya kecil, saya biasa membaca Tabloid Nova di lapak koran yang biasa dijual ibu saya. Secara garis besar isinya masih sama dan yang pasti selalu menghadirkan sesuatu yang baru dan menarik untuk dibaca dan diaplikasikan. Dan kini, di tengah gempuran media online yang menyebabkan banyak media massa terpaksa gulung tikar, Nova masih ada dan setia menemani para pembaca khususnya para wanita.

tak pernah takut bosan di rumah karena ada Nova
tak pernah takut bosan di rumah karena ada Nova

Dari Nova saya belajar banyak hal dari fashion, memasak, kesehatan, hingga menata rumah. Membaca fisik Tabloid Nova mengingatkan saya tentang banyak memori, salah satunya adalah ketika menemani ibu saya berjualan di stasiun. Saat itu salah satu cara mengusir bosan menemani berjualan adalah dengan membaca Nova. Nova bukan sekadar tabloid tetapi juga media penuh kenangan terhadap kehidupan saya dahulu.

Saya sempat ‘jauh’ dari Nova ketika masa kuliah hingga bekerja. Setelah menikah, saya ‘dipertemukan’ kembali dengan Nova oleh suami saya. Saya ingat suami saya membawakan Nova ketika saya terpuruk akibat kematian anak saya di dalam kandungan dan tidak punya kegiatan selama tiga bulan karena cuti melahirkan. Ia sering membawakan tabloid ini untuk saya.

“Buat baca-baca, siapa tahu nemu inspirasi bikin apa,” begitu kata suami saya.

Kini, saya pun bisa semakin mudah menikmati informasi-informasi yang disampaikan Nova. Selain di Tabloid, saya juga bisa membaca berbagai informasi melalui website Nova. Semoga Nova selalu memberikan inspirasi buat para perempuan Indonesia dan kokoh memposisikan diri sebagai tabloid yang memberikan informasi berguna bagi pembacanya. Happy 28 Novaversary.

 

ratna dewi

69 Comments
Previous Post
Next Post