Batik Purworejo, Siap Bersaing di Tingkat Nasional Maupun Internasional

Hallooo…

Postingan ini masih berisi tentang perjalanan saya mudik ke Purworejo untuk mencari tahu informasi tentang Batik Purworejo. Awal pengen mencari tahu dan menulis tentang Batik Purworejo ini adalah karena keprihatinan saya terhadap minimnya informasi seputar Batik Purworejo. Padahal, menurut saya Batik Purworejo ini adalah sebuah potensi yang dimiliki oleh Purworejo. Potensi ini saya yakini mampu membawa kabupaten yang terletak di selatan Jawa Tengah ini lebih terkenal di mata masyarakat..

Makanya saya senang banget ketika mudik ke rumah dan berhasil mewujudkan keinginan untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Batik Purworejo. Saya mencari informasinya sendiri, satu per satu, dibantu suami liputan ke lokasi, dan ketika semua terkumpul bahkan sampai jadi vlog (yang walaupun pas jadi malah mirip feature news) waaahh senangnya bukan main. Semoga segala informasi ini bisa membantu banyak orang yang membutuhkan info tentang Batik Purworejo.

Lokasi kedua saya hunting Batik Purworejo adalah Kantor Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Purworejo. Letaknya di Jalan Mayjen Sutoyo no 93, Purworejo atau lebih tepatnya di pojok alun-alun Purworejo sebelah barat. Saya tahu tentang Batik Purworejo di Dekranasda ini awalnya dari hasil browsing tapi sayang infonya hanya sedikit sekali. Di sana ada terselip nama Jazid Bastomi, orang yang sangat peduli perkembangan Batik Purworejo. Namun, belum sempat saya menghubungi Mas Jazid lewat media sosial, sayanya udah keburu pulang.

Beruntung, saat pulang Bapak Mertua mengajak saya dan suami untuk mencari cover jok mobil di daerah Purworejo dan melewati kantor Dekranasda ini. Saya pun melihat sekilas Kantor Dekranasda terbuka dan banner besar bertuliskan “BATIK PURWOREJO”. Saya bilang sama suami kalau besok harus kesana, ke Kantor Dekranasda. Harus!! Saya nggak peduli, harus pakai izin atau nggak yang penting coba dulu. Perkara nanti diusir ya sudah, kan sudah mencoba. Untuk urusan diusir atau ditolak, mental saya sudah kebal saat dulu jadi wartawan.

spanduk Jazid Batik di depan Kantor Dekranasda Purworejo
spanduk Jazid Batik di depan Kantor Dekranasda Purworejo

Saat hari H dan menuju ke Kantor Dekranasda saya agak harap-harap cemas karena saya pikir untuk masuk, liputan, mencari informasi, atau wawancara tentang Batik Purworejo akan diharuskan membawa surat izin. Iya, tahu sendiri kan kalau berurusan dengan birokrasi di daerah rumit urusannya, apalagi yang belum terlalu terbuka dengan informasi dan dunia digital. Saya sudah khatam perkara kayak begini pas mau sidang usulan masalah skripsi.

Dengan membawa kamera hape ala-ala ngevlog, saya sampai di parkiran Kantor Dekranasda. Saya pun kasih opening sedikit kalau sudah sampai di Kantor Dekranasda lalu masuk. Saya sempat membayangkan kalau Kantor Dekranasda itu dalamnya seperti museum dan bingung siapa yang akan saya mintai keterangan. Tapi ternyata berbeda lho. Saya pun bertemu langsung saat itu dengan Mas Jazid Bastomi dengan sambutan yang di luar perkiraan. Ramah dan terbuka sekali.

Batik Purworejo, Bukan Barang Baru

Saya dipertemukan dengan orang yang tepat. Mas Jazid adalah desainer sekaligus pegiat Batik Purworejo. Beliau diberi izin untuk mengembangkan Batik Purworejo dan menempati Kantor Dekranasda. Di Kantor Dekranasda inilah terpajang berbagai macam Batik Purworejo dari berbagai pengrajin batik di desa-desa seluruh Kabupaten Purworejo yang bernaung di dalam brand Jazid Bastomi Batik.

Mas Jazid Bastomi, sang desainer batik
Mas Jazid Bastomi, sang desainer batik

Mas Jazid bercerita banyak tentang Batik Purworejo. Setahu saya, batik ini mulai ada sekitar tahun 2010-an. Ternyata saya salah besar. Batik Purworejo ternyata sudah ada sejak zaman dulu, sejak zaman mbah-mbah kami ada. Namun, motifnya tidak seperti motif yang sekarang. Warnanya pun dulu merupakan warna-warna natural seperti sogan dengan warna-warna dominan seperti cokelat atau merah maroon, yang mana warna-warna ini didapat dari pewarnaan menggunakan bahan alami.

“Motif yang paling menonjol sejak zaman Mataram Islam itu motif sogan,”ujar desainer baju yang beberapa kali pernah membawa nama harum Batik Purworejo ke kancah fashion show profesional.

Suami saya pun mengiyakan soal Batik Purworejo yang memang sudah ada dari dulu. Pasalnya simbah dari suami saya pun dulunya pembatik di desa.

Namun, seiring perkembangan zaman Batik Purworejo mengalami perubahan. Sekarang, Batik Purworejo memiliki warna yang lebih colorfull dari merah, pink, kuning, hijau, biru muda, hingga orange. Ini tak lepas dari banyaknya warna-warna sintetis yang sekarang banyak digunakan untuk membatik.

batik-adipurwo
Saya dan beberapa motif Batik Purworejo
berbagai koleksi Batik Purworejo karya Mas Jazid
berbagai koleksi Batik Purworejo karya Mas Jazid
Batik Purworejo yang dipamerkan di Kantor Dekranasda
Batik Purworejo yang dipamerkan di Kantor Dekranasda

Sementara itu, untuk motif pun Batik Purworejo juga mengalami perubahan 180 derajat. Banyak motif baru yang keluar di antaranya motif Adi Purwo. Adi Purwo merupakan motif yang di dalamnya terdapat kekayaan khas Purworejo baik itu kekayaan alam, kuliner, maupun budaya seperti Tari Dolalak, Bedhug Pendhowo, durian, manggis, clorot, geblek, atau kambing etawa.

Batik Purworejo yang tren sekarang ini memang terdiri dari motif Adi Purwo itu. Sama halnya dengan liputan saya tentang Batik Purworejo karya ABK sebelumnya, pada dasarnya Batik ABK dengan Jazid Batik ini sama. Hanya saja, Jazid Bastomi Batik lebih halus dalam motif, pembuatan, dan hasil akhirnya karena memang dirancang dan dibuat secara profesional oleh pengrajin batik. Produk pengrajin batik di bawah naungan Jazid Bastomi Batik pun sudah dipasarkan secara komersil. Salah satunya bisa dibeli di Kantor Dekranasda Kabupaten Purworejo ini.

(Baca juga: Batik Purworejo Karya ABK, Batik Tak Biasa dari Sekolah Luar Biasa)

Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, Mas Jazid pun memberikan inovasi dan sentuhan khusus pada Batik Purworejo buatannya. Di antaranya adalah menggabungkan motif klasik dengan motif Adi Purwo yang jadi ciri khas Batik Purworejo sekarang, misalnya menggabungkan motif parang dengan Tari Dolalak. Atau dengan cara lain yaitu memperhalus gambar kambing etawa sehingga hasilnya tidak kaku namun masih tetap berbentuk kambing.

Motif lain juga dibuat dan dikreasikan oleh Mas Jazid. Misalnya, ia mengkreasikan motif Sawunggaling. Mas Jazid berinisiatif mengangkat Sawunggaling dalam batik karena sejarah Sawunggaling pun sangat kental dengan Purworejo.

“Setiap desainer batik biasanya punya kreasi batik Sawunggaling. Seperti Iwan Tirta punya ciri khas Sawunggaling sendiri, begitu juga dengan saya,” ujar pria yang terjun di dunia Batik Purworejo dari tahun 2005 ini.

saya dan Mas Jazid dengan karyanya, Batik Sawunggaling
saya dan Mas Jazid dengan karyanya, Batik Sawunggaling

Berjaya di Tingkat Nasional, Diminati di Dunia Internasional

Sejak mulai terkenal kembali tahun 2004, Batik Purworejo sudah banyak mengeluarkan motif baik itu motif klasik, modern, ataupun modifikasi. Sementara Mas Jazid menjadi perpanjangan tangan para pengrajin batik yang diakuinya masih sangat kesulitan untuk memasarkan produknya. Apalagi pembatik biasanya adalah mereka kaum ibu atau simbah yang sudah sepuh. Nah, insyaallah saya pun jadi perpanjangan tangan Mas Jazid untuk memasarkan produk Batik Purworejo ini lewat tulisan.

Di bawah brand Jazid Bastomi Batik, Batik Purworejo sudah pernah tampil ke beberapa pameran baik skala nasional maupun internasional. Salah satunya adalah Inacraft yang diadakan setiap tahun di JCC. Mas Jazid dari tahun 2008 telah mengikuti InaCraft dan membawa brand Jazid Bastomi Batik. Salah satu prestasi terbesarnya adalah ketika Ibu Ani Yudhoyono membeli batik dari brand Jazid Bastomi Batik.

Jazid Batik dalam katalog InaCraft 2014
Jazid Batik dalam katalog InaCraft 2014

Selain itu, Mas Jazid juga pernah membawa Batik Purworejo ke pameran bertaraf internasional di Singapura. Di sana, justru batik dengan motif klasik yang sangat digemari.

“Apalagi bule biasanya paling suka sama Batik Purworejo motif klasik,” ujar Mas Jazid.

Di tingkat daerah pun Mas Jazid sudah berhasil membawa nama harum Batik Purworejo. Di tingkat Jawa Tengah, ia berhasil menyabet beberapa kejuaraan dengan mengusung brand Jazid Bastomi Batik. Di antaranya adalah Juara Ide Terbaik Lomba Rancang Busana Batik dan Tenun 2008 yang dilaksanakan oleh Dekranasda Propinsi Jateng. Sementara di tingkat Kabupaten Purworejo, Batik Purworejo sudah jadi langganan digunakan ketika ada event spesial misalnya pemilihan Bagus dan Roro Purworejo.

Banyaknya event yang telah diikuti Mas Jazid dengan membawa Batik Purworejo akhirnya membuka pintu kesempatan lain yang lebih luas untuk mengembangkan Batik Purworejo. Beberapa desainer kenamaan mulai melirik dan memesan hasil karyanya. Salah satu yang saya lihat ketika mampir ke Dekranasda adalah pesanan Poppy Dharsono yang sedang dikerjakannya.

Untuk pemasaran batik, saat ini Mas Jazid mengandalkan link perorangan yang ia miliki serta melalui Kantor Dekranasda Purworejo. Sayangnya, ia memang belum menyentuh aspek pemasaran di dunia digital seperti website atau social media. Semoga dengan tulisan serta postingan vlog atau foto Batik Purworejo yang saya unggah di blog dan social media bisa membantu pemasaran Batik Purworejo di dunia digital.

Selain melatih dan membimbing para pengrajin batik di Purworejo, Mas Jazid juga menerima desain batik eksklusif. Desain batik eksklusif adalah desain batik yang dipesan khusus oleh pemesannya. Biasanya sang pemesan hanya ingin desain itu dipakai untuk dirinya alias satu-satunya dan tidak ada yang menyamai. Di Kantor Dekranasda itu Mas Jazid biasanya bertemu customer yang ingin memesan batik, ngobrol sebentar untuk tahu seperti apa motif yang diinginkan, lalu menggambarnya. Motif itu kemudian diberikan pada pengrajin batik untuk dikerjakan. Tidak lama baginya untuk menggambar motif, 15 menit juga jadi kok.

Mas Jazid menunjukkan salah satu hasil sketsa Batik Purworejo
Mas Jazid menunjukkan salah satu hasil sketsa Batik Purworejo

Saat ini, Mas Jazid punya harapan besar untuk pengembangan Batik Purworejo. Ia berharap Batik Purworejo bisa dicintai dan dipakai oleh masyarakat lokal Purworejo dahulu. Ia ingin memasyarakatkan motif khas Purworejo seperti kambing etawa menjadi motif yang sangat lumrah dipakai oleh masyarakat.

“Kalau di Thailand banyak orang yang bangga memakai kain etniknya yang bergambar gajah, saya juga pengen kelak Batik Purworejo dengan gambar kambing etawa bisa dipakai banyak orang atau wisatawan seperti halnya kain Thailand,” pungkasnya.

motif Adipurwo yang terdiri dari kambing etawa, Tari Dolalak, durian, geblek, dan clorot
motif Adipurwo yang terdiri dari kambing etawa, Tari Dolalak, manggis, geblek, dan clorot

Nah, buat yang akan jalan-jalan ke Purworejo jangan lupa buat mampir ke Dekranasda dan beli Batik Purworejo sebagai oleh-olehnya. Kalau kamu beruntung, kamu bisa berbincang atau bertanya-tanya mengenai Batik Purworejo dengan Mas Jazid Bastomi.

Yang pengen lihat lebih lengkap liputan saya tentang Batik Purworejo yuk simak juga vlog saya saat berkunjung kesana:


Buat kamu yang tertarik soal Batik Purworejo dan ingin menggali informasi lebih dalam lagi, bisa menghubungi Mas Jazid ya:

JAZID BASTOMI (JAZID BATIK)
Jln Mayjen Sutoyo no. 93, Purworejo (Kantor Dekranasda Purworejo)
Telp: (0275) 321433 atau 081328562915
jazid.bastomi@yahoo.co.id

 

ratna dewi

32 Comments
Previous Post
Next Post