Bebas Repot dengan Celana Kulot

Halloooo…

Rasanya sudah lama banget nggak ngisi blog karena pemalesan, hahaha. Akhirnya dipaksa juga buat nulis artikel karena mau nggak mau daripada si blog berdebu. Sebelum nulis lebih panjang, ini adalah artikel pertama saya tentang fashion. Iya, bismillah mau nambah niche satu lagi di blog yaitu tentang fashion. Kenapa kok baru sekarang? Ya karena baru sempat dan kepikiran, hihi.

Sebenarnya saya bukanlah orang yang fashionable banget. Belanja juga jarang-jarang dan bukan penyuka barang branded. Basic-nya cuma senang mix n match baju aja sih dan kali ini memberanikan diri banget buat nulis tulisan tentang fashion. Jadi untuk para fashionista, fashion blogger, atau suhu dari dunia fashion saya angkat topi dan mohon pencerahan kalau ada yang kurang-kurang.

Oke, tulisan pertama saya mau mengangkat tentang celana kulot. Why celana kulot? Karena item ini yang paling dekat dengan keseharian saya. Celana kulot adalah celana yang bentuknya lebar sampai ke bawah. Bahasa kerennya celana kulot adalah pallazo pants. Celana ini identik dengan fashion retro. Kalau kata ibu saya sih zaman dulu celana kulot ini nama bekennya bray-bray.

Buat saya, celana kulot adalah celana yang sangat nyaman dipakai khususnya untuk saya yang sehari-hari menggunakan hijab. Ada beberapa alasan sih mengapa saya suka sekali pakai celana kulot:

  • Bentuknya lebar sehingga bebas untuk bergerak kesana kemari.
  • Tidak terlalu membentuk lekuk badan, beda banget kalau saya memakai celana jeans.
  • Nggak repot saat pakai karena hanya dipakai selapis, berbeda kalau saya pakai rok karena harus pakai dalaman dulu berupa legging atau celana panjang. Oleh karenanya saya lebih suka bawa celana kulot saat traveling karena ringkas.
  • Membuat badan terlihat lebih tinggi, lagi-lagi ya karena celana kulot bentuknya lebar.

Ada banyak macam bentuk celana kulot dari yang pendek, panjang, 3/4 (tiga per empat), sampai 7/8 (tujuh per delapan). Bahannya pun berbagai jenis. Yang paling sering saya temui adalah bahan jersey, katun motif barik, jeans, atau wedges. Kalau celana kulot yang saya punyai semuanya berbahan jersey karena bahannya ringan dan enak dipakai.

Jatuh cinta saya sama si celana kulot ini adalah berawal dari saat hamil dulu. Dari semua celana dan baju yang mulai menyempit, hanya celana kulot bahan jersey inilah yang masih ‘ramah’ di perut. Karet dan bahannya nggak menekan perut sehingga nggak bikin sesak atau begah. Karena saya bukan tipikal orang yang suka pakai daster atau gamis saat hamil, akhirnya si celana kulot inilah yang jadi kesayangan saya.

Celana kulot kesayangan saya warnanya hitam dan dibeli secara nggak sengaja di Pasar Tanah Abang seharga Rp 55.000. Saya agak menyesal beli celana ini karena kenapa cuma beli 1 item dan warna padahal celananya enak dipakai. Pas saya mau beli lagi ke Pasar Tanah Abang, saya sudah lupa tokonya dimana karena itu belinya nggak sengaja. Sampai sekarang, celana itu jadi celana kulot terenak yang saya miliki.

celana kulot hitam ini jadi celana kesayangan sampai sekarang

Suka Duka dengan Celana Kulot

Buat saya, celana kulot ini ibarat fashion item peralihan di fase berpakaian muslimah. Saya memang belum istiqamah dan sanggup untuk memakai rok lebar atau gamis sehari-hari. Namun, saya juga sedikit demi sedikit sudah meninggalkan celana jeans atau celana dengan bahan apapun yang ketat dan membentuk tubuh sebagai pakaian luar. Oleh karena itu, sebagai alternatifnya saya memakai celana kulot. Sekilas memakai celana kulot terlihat seperti rok namun saya masih bisa jejingkrakan bergerak bebas dengan celana ini.

Ada 5 celana kulot yang saya punya. Kelimanya berbahan jersey yang artinya mudah sekali terbang-terbang tertiup angin. Kalau lagi di pantai dengan celana kulot jenis ini, seneng karena kalau difoto jadi ada efek terkena anginnya (haha, teteup ya urusannya sama foto). Sayangnya, celana kulot jenis ini cukup berbahaya kalau dipakai untuk membonceng motor. Lho kenapa?

Saat kita menggunakan celana kulot berbahan jersey, bahan yang ringan otomatis akan membuat celana mudah tertiup angin. Karena celana kulot bentuknya lebar maka kemungkinan bisa masuk ke dalam jeruji sepeda motor jika tidak berhati-hati dan dibiarkan begitu saja kalau membonceng motor. Untuk menyiasatinya, biasanya saya menata celana terlebih dahulu sebelum motor berjalan.

Bahan celana yang menjuntai-juntai saya lipat dan kempit di antara paha saya dan yang membonceng. Kalau lagi boncengan sama suami sih enak-enak aja karena posisi paha saya menjepit dan nempel sama suami. Lha kalau sedang sama babang ojek online? Inilah masalahnya. Karena risih, saya lebih suka memegangi dengan kedua tangan atau saya tindih dengan beban tas yang biasa saya letakkan di tengah. Agak repot sih memang, tapi daripada paha dan dengkul saya nempel di babang ojek lebih nggak enak lagi, haha.

Situasi akan berbeda kalau bahan celana kulot yang dipakai adalah bahan jeans, wedges, katun, atau bahan lain yang lebih ‘antep’ atau berat daripada jersey. Namun, IMHO kalau semakin lebar kulot semakin hati-hati pula ketika membonceng motor. Khawatirnya kalau celana yang menjuntai bisa masuk ke jeruji ban motor kan membahayakan.

Celana kulot juga fleksibel untuk situasi apapun. Saya pernah pakai celana kulot untuk kondangan, tetapi juga disesuaikan dengan baju dan acaranya. Seringnya sih saya pakai celana kulot pas traveling karena selain nyaman dipakai juga gampang di-packing. Apalagi untuk celana kulot berbahan jersey yang tahan kusut walau sudah digulung-gulung sekalipun.

Hati-Hati Membeli Celana Kulot Secara Online

Beberapa celana kulot yang saya punyai dibeli di tempat yang berbeda. Ada yang secara online maupun offline. Dua celana kulot saya dibeli di pusat grosir, Pasar Tanah Abang dan ITC Cipulir. Sedangkan 3 lainnya dibeli secara online. Mudah banget kok untuk memeroleh celana kulot ini. Coba saja datang ke ITC-ITC atau pusat grosir, banyak banget celana kulot yang ditawarkan. Pun dengan beberapa toko online baik di instagram atau marketplace. Harganya pun variatif.

Buat harga, syukurnya saya dapat yang murah. Bahkan, celana kulot terakhir yang saya beli didapat dengan harga Rp 100.000 untuk 3 celana. Murce banget kan? Pas lhaa sama saya yang prinsipnya ekonomis dalam soal fashion. Buat saya, no brand no problemo. Yang penting nyaman dipakai.

Sayangnya, pengalaman saya beli celana kulot secara online agak kurang enak. Ekspektasi saya celana kulot yang di gambar adalah sama dengan di bayangan saya yaitu celananya lebar dari pinggul sampai ke mata kaki. Sayangnya, pas datang dan saya cobain ternyata celananya ngepas banget di pinggul sehingga nyeplak banget di daerah pantat dan lipatan selangkangan. Untungnya, saya punya banyak baju yang panjangnya hingga mencapai paha. Jadi, daripada tak terpakai akhirnya saya siasati saja si celana kulot di mix n match dengan tunik atau baju-baju yang panjangnya minimal sepaha.

Belajar dari pengalaman itu, akhirnya sekarang saya kalau beli celana kulot di online pasti hati-hati banget. Well, harga memang menentukan kualitas terutama bahan dan jahitan tapi jangan lupa juga untuk teliti bagaimana potongan si celana kulot. Jangan sampai niatnya mau menyamarkan lekuk tubuh, eh malah jadi semakin terlihat karena celana kulot yang dipakai nggak sesuai potongan. Jangan lupa juga tanyakan secara detail bahan celana kulot pada penjual. Pasalnya, apabila terlalu tipis bahannya dikhawatirkan akan menerawang saat dipakai. Pasti nggak mau khan dilihatin orang gara-gara hal konyol seperti itu?

Nah, berikut beberapa referensi foto saya pas mix n match celana kulot:

 

7 Comments
Previous Post
Next Post