Cintaku Bersemi Saat Reuni

foto yang tersisa dari reuni kelas SMP, hayo saya yang mana?

Saya selalu semangat kalau menceritakan pengalaman berkesan dalam reuni. Kenapa? Soalnya saya dapat jodoh dari reuni. Iya, laki-laki yang sekarang jadi suami saya dulu adalah teman SMP saya, sekelas malah. Kami bertemu lagi saat reuni SMP beberapa tahun lalu. Entah apa yang membuat dia tertarik sama saya. Padahal dulu dilirik pun nggak kayaknya, haha. Jodoh memang nggak terduga ya. Dicari yang jauh eehhh ternyata nyangkutnya di teman yang dulu pernah sekelas.

Sering sekali saya dapat pertanyaan dari orang “Kalian gimana kok bisa saling kenal?” dan kami selalu menjawab “Kita teman SMP kok”. Lalu orang tersebut kaget “Jadi, pacarannya dari SMP? Lama banget” dan kita kompak menjawab “Nggak, ketemu lagi pas reuni”. Lalu kami semua tergelak dan orang yang bertanya kemudian berkomentar “Walah, cinta bersemi saat reuni toh.”

Reuni memang jadi pertemuan kembali saya dan suami yang saat itu sudah terpisah sekitar 7 tahun. Selepas SMP, saya masuk SMA favorit dan suami saya masuk SMA agak favorit, lol. Saya pintar dan suami saya agak pintar (kalau baca yang bagian ini, saya bisa digetok, haha). Iya, NEM saya lebih tinggi jadi saya bisa masuk SMA favorit. Selepas SMA, saya kuliah di Bandung sementara dia kuliah di Bogor.

Komunikasi pertama kami setelah 7 tahun terpisah adalah lewat SMS. Saya yang baru kelar KKN (kuliah kerja nyata) tiba-tiba pagi hari terima SMS dari orang yang mengaku teman SMP dan mengajak reuni. Dia adalah orang yang sekarang jadi suami saya. Saat itu dia berinisiatif mengadakan reuni kelas di rumah salah satu teman kami setelah Lebaran. Saya pun diajak jadi panitia reuni.

reuni-smp
foto yang tersisa dari reuni kelas SMP, hayo saya yang mana?

Karena jadi panitia reuni, saya sering berkomunikasi hingga bertemu sama dia. Dia mengajukan diri jadi ketua sementara saya seksi sibuk. Hingga akhirnya acara reuni terlaksana dan setelahnya kami jadi sering ngobrol, teleponan, smsan, sampai jalan bareng. Saya sih mau-mau aja soalnya kan statusnya teman lama yang baru ketemu. Lagian nggak enak juga kalau menolak kok kesannya menghindar. Yah itung-itung saya nostalgia.

Saya saat itu juga nggak punya pacar jadi nggak akan ada yang cemburu, begitu juga dia. Dan dari situlah kami semakin akrab dan akrab. Lalu kami lanjut pacaran empat tahun dan menikah tahun 2013 sampai sekarang. Yeeeaayyy.

Sayaย dan Dia Bagai Langit dan Bumi

Saya nggak tahu apa yang membuat dia suka sama saya saat itu. Mungkin dia terpesona sama saya yang sudah banyak berubah, hahaha. Biarpun kami sekelas saat SMP tapi saya nggak akrab dengan dia. Saat SMP saya bergaul di lingkungan anak-anak bandel bin alay yang gayanya cupu tapi pengen eksis. Bisa dibayangkan nggak kayak apa? Pokoknya di kelas kerjaan saya suka rame, pas baris mau masuk kelas juga suka ditelat-telatin. Kalau gurunya sudah tua pas pelajaran saya lebih senang di bawah meja buat main kepang-kepangan rambut trus pakai gel rambut glitter yang hits di masanya.

Saya juga ke sekolah pakai sepatu jenggel yang ada haknya dengan rok di atas lutut biar keliatan kekinian pada masanya. Walaupun pas saya ingat-ingat malah ketawa sendiri karena norak banget ternyata. Rambut saya suka dikuncir dua dengan gel glitter. Saya beberapa kali juga sering loncat pagar trus pulang nongkrong di pasar kalau pas nggak bawa sepeda. FYI, di Kutoarjo zaman saya sekolah nggak ada tempat nongkrong jadi kalau nongkrong di pasar.

Saya bukan anak terkenal seperti anak OSIS atau pramuka di SMP. Tetapi saya dan teman-teman se-gank yang sama noraknya masih terkenal lumayan pintar. Buktinya, teman-teman saya itu saat SMA sebagian masih satu sekolah dengan saya dan pada kuliah di universitas bergengsi. Saya SMP pecinta berat boyband macam Westlife, A1, Backstreet Boys, dan Blue. Karena hal ini juga lah pas kegiatan pramuka saya dan teman-teman suka bawa radio dan pernah ketahuan sama kakak angkatan, hihi.

Dengan segala tabiat dan track record pergaulan masa SMP saya, dia yang sekarang sudah jadi suami nggak pernah bergaul dekat dengan saya. Hitungannya jarang banget saya ngobrol dengan dia. Mungkin dia illfeel dengan tingkah laku saya saat masih sekelas pas SMP, haha. Jadilah, boro-boro saya ngobrol dilirik pun nggak.

Sementara dia adalah cowok yang hobi olahraga khususnya sepakbola. Cowok olahragawan pada masa SMP adalah favorit banget kayaknya apalagi buat cewek-cewek. Kalau setiap ada pertandingan bola, namanya dielu-elukan dan diteriaki dengan semangat. Dia juga lebih suka bergaul dan ngobrol sama orang-orang terkenal di sekolah. Sedangkan saya kan cuma remahan nastar alay.

Tentang Cinta di Sebuah Reuni

Setelah dipikir-pikir sekarang, jodoh datangnya memang tak terduga ya. Mungkin kalau nggak ada reuni kecil kelas di tempat teman kami, saya dan suami saya nggak bertemu. Atau mungkin bertemu tapi biasa saja nggak ada rasa apa-apa. Nyatanya, reuni telah berjasa sekali buat kami. Gara-gara reuni saya dan dia jadi bertemu lagi di antara jarak kita saat itu dan mempersatukan kami sampai saat ini.

Tapi biasanya cerita reuni memang selalu memberikan kesan tersendiri. Acara reuni bisa jadi reuni hati. Lihat mantan yang dulu diputusin sekarang ketemu lagi jadi reuni hati. Lihat teman yang dulu cupu jadi keren bikin kesemsem. Lihat teman yang dulu bandel lalu sudah jadi orang sukses bikin pengen lebih dekat. Makanya, acara reuni bisa jadi acara yang ngeri-ngeri sedap. Yang masih pada single bisa jadi berjodoh tapi yang udah punya jodoh (suami atau isteri) bisa jadi pengen single lagi.

Bukannya bermaksud sok posesif, tapi ketika ada acara reuni patut diwaspadai. Kata ibu saya yang sering nonton pengajian Mamah Dedeh, kalau ada reuni sebaiknya bawa juga pasangan kita. Makanya kalau pasangan akan ada acara reuni, kita juga tak boleh cuek. Biar kalau-kalau ada kesempatan buat reuni hati jadi ingat bahwa dia punya pasangan. Betul juga sih yang dibilang ibu saya.

 

ratna dewi

39 Comments
Previous Post
home-sweet-home
Next Post
idul-adha-di-perantauan