Yogyakarta, Sehari setelah Hujan Badai

Kereta yang saya naiki perlahan memperlambat lajunya ketika memasuki kawasan Stasiun Tugu, Yogyakarta. Saya melihat jam di ponsel, sudah hampir pukul 06.00. Jogja pagi ini cerah, matahari bersinar terang setelah beberapa hari yang lalu didatangi si ‘Cempaka’ yang memporak-porandakan banyak tempat.

Kereta akhirnya benar-benar berhenti sekitar pukul 06.00. Pagi itu Jogja sangat ramah menyambut kedatangan saya dan suami. Sinar matahari yang hangat menembus kulit kala saya keluar dari Stasiun Tugu. Jogja hari itu amat berbeda dari 2 hari sebelumnya dimana hujan deras dan angin kencang berkombinasi menciptakan badai dan bencana di beberapa tempat.

Setelah bertransaksi dengan pemilik rental motor, kami pun menuju tempat dimana menginap yaitu di daerah yang tak jauh dari kampus UGM. Pagi itu, suasana hangat menyambut kami di Jogja, sehangat matahari pagi yang dirindukan masyarakat sana. Sudah sekitar 2-3 hari matahari konon tak mau muncul dan digantikan derasnya hujan. Beruntung, saya pagi itu disambut oleh cerahnya Jogja.

Sarapan di Soto Barokah Pak Soleh

Sarapan soto adalah salah satu tujuan saya dan suami kala ke Jogja. Entah mengapa soto-soto di daerah Jawa Tengah dan Jogja terasa lebih enak ketimbang soto di Jakarta. Padahal kuah dan isinya terkadang amat sederhana. Nggak heran kalau pagi itu, saya dan suami keukeuh sarapan soto ketika sampai di Jogja. Sayangnya, Soto Pak Dalbe yang sudah kami idam-idamkan ternyata nggak buka. Sedikit putus asa, kami pun mencari warung soto yang lain hingga ketemulah Warung Soto Pak Soleh yang tak jauh dari Jalan Magelang.

Kekecewaan kami sama Soto Pak Dalbe yang tutup ternyata ditebus dengan lunas oleh Soto Al Barokah Pak Soleh yang terletak di Jalan Wiratama, Tegalrejo, Jogja. Pagi itu, di warung soto bercat hijau sudah cukup banyak pembeli yang sarapan di sana. Saya dan suami adalah salah satu dari mereka.

soto daging tanpa apa-apa sudah enak
paling suka makan soto sama tempe goreng, bisa nambah berkali-kali tempenya

Soto Pak Soleh ini adalah soto daging. Kuahnya light, nggak nggajih, dan gurih. Suami aja sampai bilang enak banget dan kasih review di Google, sesuatu yang sangat amat langka dilakukannya. Selain soto, ada pula beberapa makanan pelengkapnya seperti tempe jait (tempe goreng), tahu bacem, dan kerupuk. Satu mangkuk soto dihargai Rp 15.000 dengan porsi yang pas buat sarapan pagi. Semangkuk Soto Pak Soleh dengan 3 tempe dan segelas teh manis hangat jadi bahan bakar saya dan suami pagi itu.

Berkejaran dengan Waktu di Tebing Breksi

 

Langit sudah agak mendung kala saya keluar dari penginapan setelah menitipkan barang bawaan. Pagi itu, tujuan kami adalah menuju Tebing Breksi. Sejatinya Tebing Breksi adalah destinasi dadakan kami karena tak masuk dalam itinerary sebelumnya. Awalnya, saya mengusulkan buat ke Candi Ratu Boko tapi setelah dilihat di maps kenapa nggak sekalian ke Tebing Breksi saja toh letaknya nggak jauh. Akhirnya justri Candi Ratu Boko ke-skip dari perjalanan karena keburu hujan.

Pagi itu kami memang berkejaran dengan waktu. Cuaca Jogja yang masih nggak menentu membuat dag dig dug kala bepergian. Hujan bisa saja datang tiba-tiba. Untunglah saat kami tiba di Tebing Breksi cuaca cerah. Hanya butuh biaya parkir Rp 5.000 tanpa tiket masuk untuk menuju tempat wisata ini.

Saya tahu Tebing Breksi dari video klip “Kunci Hati”-nya Afgan. Ternyata apa yang ada di video klip agak berbeda dengan aslinya. Tebing Breksi yang ada di hadapan saya saat itu sedikit berwarna kecoklatan, mungkin karena lumut atau air hujan. Namun tetap bisa dinikmati kok. Untuk menuju ke Tebing Breksi yang berada di Desa Sambirejo, saya bermodalkan google maps. Sempat nyasar sih tapi nggak sampai bingung. Jalan menuju ke tempat ini pun sedikit berkelok dan menanjak tapi masih sangat layak untuk dilewati kendaraan.

Saya nggak lama di Tebing Breksi. Hanya naik ke atas, melihat pemandangan Jogja dari atas, berfoto sama burung hantu, dan berfoto di sekitar tebing adalah kegiatan yang saya lakukan pagi itu. Udara di sana lumayan dingin, mungkin saja karena tempatnya yang memang berada di ketinggian atau bisa saja karena bercampur sisa-sisa badai kemarin. Namun udara dingin itu justru membuat pagi kami menjadi begitu segar.

Candi Ijo di Kesunyian

Sayang sekali rasanya kalau sudah ke Tebing Breksi tapi nggak mampir ke Candi Ijo. Seperti pagi jelang siang waktu itu, saya dan suami bablas ke Candi Ijo setelah puas menikmati Tebing Breksi. Candi Ijo letaknya tak jauh dari Tebing Breksi, sekitar 300 meter menanjak ke atas. Jika tak membawa kendaraan pribadi, kamu bisa tour naik jeep dari Tebing Breksi dengan tarif tertentu.

Sampai di Candi Ijo langit mulai mendung. Setelah memarkirkan motor di parkiran, kami pun masuk ke kawasan Candi Ijo yang sunyi dan tenang. Tiket masuk kesini adalah Rp 5.000 per orang. Yang saya suka dari Candi Ijo (dan mungkin candi-candi lain yang tak begitu populer) adalah kawasannya yang sunyi dan tak begitu luas. Buat saya, ini membangun suasana intim untuk melihat dan mempelajari tentang candi itu sendiri.

Masuk ke kompleks Candi Ijo tak seperti bayangan saya tentang kompleks candi bersejarah. Kalau boleh saya gambarkan, ini seperti candi di tengah permukiman. Candi-candinya tak banyak namun masih terawat dengan baik. Sayangnya, di lokasi masih minim informasi tentang sejarah Candi Ijo yang bisa pengunjung gali. Maka setelah puas berkeliling candi tanpa guide pun saya lalu melanjutkan berfoto diri. Pas lagi foto trus wondering kalo foto prewedding di sini pasti keren. Apalagi temanya Jawa Kuno. Ah, ulang aja apa ini foto prewednya jadi post-wed? Hahaha.

postwedding ala-ala bermodalkan kamera disandarin ke tas

Sayang sekali hari itu Jogja hanya ramah setengah hari. Baru saja kami sampai di parkiran motor, hujan deras sudah menyambut. Untung ada jas hujan rental motor sebagai penyelamat. Tapi sayangnya kami nggak bisa melanjutkan perjalanan ke Candi Ratu Boko, padahal itu adalah destinasi utama. Ya sudahlah, mungkin next time bisa ke Ratu Boko dalam kondisi cuaca yang lebih ramah.

Makan Malam dan Silaturahmi di Angkringan JAC

Photo by @imasatrianto

Ke Jogja sayang banget kalau nggak makan di angkringan. Sepertinya di setiap sudut Kota Jogja ditemui banyak pedagang makanan dan minuman yang khas dengan suguhan nasi kucingnya ini. Dari angkringan yang biasa sampai yang cukup premium ada di Jogja. Yang istimewa (seperti slogan kotanya) adalah harganya yang bersahabat di kantong rakyat. Jadi, sayang banget kalau sudah ke Jogja tapi tak makan di angkringan.

aneka makanan di Angkringan JAC (Photo by @imasatrianto)

Namun, angkringan yang satu ini berbeda dengan angkringan pada umumnya. Letaknya di kompleks keraton, dekat dengan Taman Sari. Kalau biasanya kita makan angkringan di warung tenda pinggir jalan di atas gerobaknya atau lesehan, konsep angkringan ini adalah makan di pendapa keraton. Makanannya mayoritas sama dengan angkringan, namun ada tambahan Bakmi Jogja, jajan pasar, dan nasi sayur. Tempatnya juga enak buat makan dan ngobrol berlama-lama walaupun suasananya temaram. Saya, suami, dan keluarga makan di tempat ini dalam rangka ketemuan sama Manda dan suami. Thanks Manda sudah mengajak saya dan keluarga makan di angkringan yang lain daripada yang lain.

Sarapan di Soto Pak Marto

Saya dan suami memang anaknya ‘nyoto’ banget. Kalau ke Jogja, Solo, Semarang, atau daerah lain di Jawa pasti mencari soto buat makan. Kalau bisa pagi, siang, sore, malam makan soto pasti kita jabanin. Seperti pagi itu, di hari berikutnya, kami sekeluarga (sama bapak ibu mertua dan adik ipar) memilih sarapan Soto Pak Marto yang katanya terkenal enak.

Soto Pak Marto letaknya nggak jauh dari Angkringan JAC dan Taman Sari. Walaupun namanya sudah terkenal tapi saya kaget karena tempatnya nggak begitu terbuka alias warungnya ketutup sama pohon-pohonan. Tapi begitu masuk ke dalam warung soto jangan heran kalau rame sekali. Bahkan untuk dapat duduk aja bisa ngantri.

warungnya ketutup pepohonan
soto daging yang bikin nagih
seporsi ‘toping’ lidah sapi goreng ini harganya cuma Rp 12.000

Soto di sini adalah soto daging dengan rasa kuah yang light tapi tetap gurih. Selain soto daging, kita juga bisa pesan pelengkap yang lain yaitu berupa jeroan atau lidah sapi. Seporsi lidah sapi atau toping jeroan juga lidah dihargai hanya Rp 12.000, harga yang amat murah menurut saya. Sementara itu, di meja pun sudah tersedia cemilan gorengan yang bisa dimakan sebelum, sesudah, atau bahkan bersama dengan soto.

Berburu Kerajinan Kulit di Desa Wisata Manding

Sebelumnya saya nggak pernah tahu kalau di Jogja ada desa wisata yang terkenal akan kerajinan kulitnya. Yang saya tahu selama ini kerajinan kulit ya cuma di Garut dan Cibaduyut (sepatu kulit). Ternyata di Jogja pun ada. Saya nggak tahu sebelum ibu mertua yang mengajak kami kesana. Tempatnya berada di Kabupaten Bantul, nggak jauh dari pusat kota Jogja (IMHO, Jogja kemana-mana rasanya kok dekat ya? Perasaan saya aja atau memang dekat?)

Di Desa Wisata Manding ini, ibu dan bapak mertua saya belanja kerajinan kulit. Sementara saya cuma lihat-lihat karena memang nggak begitu tertarik sama kerajinan kulit. Di sini ada banyak toko yang menawarkan barang berasal dari kerajinan kulit, baik itu kulit asli maupun sintetis di sepanjang jalan desa. Bagi mereka yang suka barang-barang dari kulit, tempat ini adalah surga. Banyak toko yang menawarkan kerajinan kulit di sini, harganya pun terjangkau. Nggak heran kalau banyak wisatawan bahkan sampai berbus-bus datang ke tempat ini.

Makan Siang Kesorean di Mangut Lele Mbah Marto

Jam di ponsel menunjukkan sekitar pukul 14.30 kala kami menuju ke Mangut Lele Mbah Marto buat makan siang. Siang jelang sore itu, gerimis berjatuhan di area Bantul. Namun mobil yang membawa saya dan keluarga tetap melaju ke arah tempat dimana Mangut Lele Mbah Marto berada. Letaknya tak jauh dari Desa Wisata Manding, hanya saja untuk mencarinya rada njlimet karena memang letaknya masuk-masuk ke dalam.

Keputusan makan di Mbah Marto ini semata-mata karena saya pengen nostalgia DLK (dinas luar kota) ke Jogja pada 2013 lalu saat masih kerja. Dulu driver yang membawa saya dan kameraman mengantar makan di Mangut Lele Mbah Marto di Minggu siang. Alhasil kami surprise sekaligus excited melihat konsep makan di pawon dan makanannya pun enak. Kameraman saya sampai nambah-nambah karena pedas mangut lelenya nendang banget.

Namun entah mengapa mungkin karena sudah menjelang sore dimana warung sudah mau tutup, makanan yang saya makan tak seenak dulu. Mangut lelenya masih nendang pedasnya tapi bumbunya kurang. Pun lauk pauk di pawon Mbah Marto sudah habis-habisan (tinggal mangut, sayur gudeg, dan opor ayam). Padahal sore itu pengunjung yang makan masih lumayan banyak. Sore itu, perut kami pun ditutup sama pedasnya mangut lele Mbah Marto.

Ada kejadian nggak terlupakan setelah makan di sini yaitu dompet suami saya yang hilang dan baru ketahuan setelah sampai Wates. Atas bantuan teman (yang juga mau otw ke Purworejo), dia menyusuri ke tempat Mbah Marto dan ndilalah ketemu tuh dompet. Dompet ternyata jatuh dari saku suami ke bagian bawah lincak (bangku panjang dari bambu) tanpa terasa. Kami semua sempat panik apalagi di Mangut Lele Mbah Marto nggak ada yang bisa dihubungi (soalnya yang tinggal di rumah hanya Mbah Marto yang usianya udah mau 100 tahun). Alhamdulillah masih rezeki, sore itu dompet suami pun nggak resmi hilang.

Begitulah seluruh kisah ‘mampir’ Jogja sebelum pulang ke Purworejo. Alhamdulillah, Jogja sehari setelah amukan Cempaka, ramah dikunjungi.

 

 

20 Comments
Previous Post
Next Post