Mengenal Si Silent Killer yang Mulai Terasa di Stadium 3

Awal hingga pertengahan tahun ini saya sering menonton acara gosip dan merinding setiap ada berita tentang Yana Zein yang sakit kanker payudara. Ia baru tahu menderita kanker setelah masuk stadium 4 dan mendapati payudaranya bernanah. Dengar itu rasanya saya ingin memeluk diri sendiri dan tiba-tiba takut kalau hal yang sama menimpa saya, duh jangan sampai.

Oleh karenanya setiap ada talkshow edukasi tentang kanker payudara saya selalu semangat ikut. Selain menambah ilmu, talkshow-talkshow ini juga memberikan peringatan kecil pada saya untuk selalu peduli dengan kesehatan dan peka dengan sekecil apapun ‘warning’ dari dalam tubuh. Apalagi kanker payudara yang sudah dikenal sebagai silent killer.

Beruntung pada Selasa (19/9) saya diundang untuk mengikuti bincang santai tentang kanker payudara yang bertajuk ‘Deteksi Dini Kanker Payudara dengan Sadari dan Sadarnis’. Selain menghadirkan pembicara dari Kementrian Kesehatan dan dokter onkologi, talkshow ini juga menghadirkan breast cancer fighters dari Love Pink. Saya selalu kagum sama semangat para pejuang ini karena selain mereka mencoba mengalahkan kanker payudara dalam dirinya, mereka juga masih mau memberikan support pada sesama penderita kanker payudara.

Kurangnya Kesadaran Masyarakat untuk Deteksi Dini

Dr Lily S. Sulistyowati, MM, Direktur P2PTM membeberkan fakta bahwa berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 kanker merupakan penyebab kematian nomer 7 sesudah stroke, TBC, hipertensi, cedera, kematian perinatal, dan diabetes melitus. Sementara itu, kanker payudara merupakan salah satu prevalensi kanker tertinggi di Indonesia. Angkanya mencapai 50 per 100.000 penduduk dengan angka kejadian tertinggi di Yogyakarta sebesar 24 per 10.000 penduduk pada 2013. Nggak heran memang kalau kanker payudara termasuk dalam 10 penyebab kematian terbanyak pada perempuan di Indonesia.

Dr Lily S. Sulistyowati, MM – Direktur P2PTM

Beberapa faktor risiko kanker payudara mungkin saja akrab dengan lingkungan kita namun belum kita sadari. Saya coba kasih tahu lagi beberapa penyebabnya biar kita semua lebih aware. Beberapa penyebab kanker payudara antara lain:

  • perokok aktif dan pasif
  • pola makan buruk
  • usia haid pertama di bawah 12 tahun
  • perempuan tidak menikah
  • perempuan menikah tidak memiliki anak
  • melahirkan anak pertama pada usia 30 tahun
  • tidak menyusui
  • menggunakan kontrasepsi hormonal lebih dari 10 tahun
  • terapi hormonal dalam waktu lama
  • usia menopouse lebih dari 55 tahun
  • pernah operasi tumor jinak payudara
  • riwayat radiasi
  • riwayat kanker dalam keluarga

Fiuuuhh, ternyata banyak juga ya. Buat saya yang pasien program hamil dan sering terapi hormonal menggunakan obat juga perlu diwaspadai nih. Oleh karenanya penting sekali buat melakukan SADARI (periksa payudara sendiri) dan SADARNIS (periksa payudara klinis) secara rutin. Sayangnya, angka SADARI dan SADARNIS dalam masyarakat kita masih sangat kecil. Riset Penyakit Tidak Menular 2016 menunjukkan 53,7% masyarakat tidak pernah melakukan SADARI sementara 95,6% tidak melakukan SADARNIS.

Kanker Payudara Baru Terasa di Stadium 3

Dr Bob Andinata SpB (K) Onk dari PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia) menjelaskan bahwa SADARI merupakan salah satu tindakan deteksi dini yang penting. Deteksi dini adalah program screening untuk pasien yang sehat. Pasien sehat ini dibedakan menjadi 2 yaitu pasien sehat dengan faktor risiko dan pasien sehat tanpa faktor risiko.

dr Bob Andinata SpB (K) Onk

Faktor keturunan, misalnya ibu atau kakak kandung menderita kanker payudara, akan meningkatkan 2 kali faktor risiko terkena kanker payudara. Sementara faktor risiko yang bisa diubah adalah gaya hidup (usia menikah, makanan, pola hidup, dan lain-lain).

“ASI adalah obat yang paling bagus untuk mencegah kanker payudara,” ujar dr Bob.

Oleh karenanya, penting bagi perempuan untuk memberikan ASI pada anak-anaknya karena selain mencukupkan nutrisi pada buah hati, juga mencegah kanker payudara pada sang ibu.

Karena kanker payudara sudah jamak terjadi pada perempuan di sekeliling kita, nggak ada salahnya kalau mulai saat ini kita perlu melakukan deteksi dini kanker payudara. Salah satu caranya adalah dengan SADARI (Periksa Payudara Sendiri).

SADARI dibedakan menjadi 2 yaitu pada pasien yang haidnya tidak teratur dan teratur. Pada pasien dengan haid teratur, pemeriksaan SADARI dilakukan pada hari ke 7-10 maksimal di hari ke 14 dihitung dari hari pertama haid karena pada hari-hari itulah payudara mulai melunak. Sementara untuk perempuan dengan haid tidak teratur, pemeriksaan SADARI bisa dilakukan di tanggal yang sama setiap bulannya.

Untuk melakukan SADARI, langkahnya antara lain:

1. SADARI dengan cara berdiri

  • Berdirilah di depan kaca besar di dalam kamar mandi
  • Lihat apakah ada perubahan kulit di sekitar payudara (misalnya kulit berubah menjadi seperti kulit jeruk)
  • Lihat apakah ada perubahan bentuk di sekitar payudara (benjolan atau bentuk puting yang tertarik ke dalam)
  • Tangan kanan meraba payudara kiri dari arah pinggir memutar ke tengah hingga ke arah puting, lalu pencetlah bagian puting. Sebaliknya, ulangi pada payudara sebelah kiri dengan cara yang sama.
  • Jika ada cairan keluar seperti darah maka wajib diwaspadai dan segera periksakan ke dokter.
  • Rabalah di sekitar ketiak, kelenjar getah bening, dan leher. Rasakan apakah ada benjolan.

2. SADARI dengan cara tiduran

  • Posisikanlah tubuh dalam posisi terlentang dan bagian punggung diganjal dengan bantal.
  • Tangan kanan meraba payudara kiri dengan punggung kiri diganjal bantal. Ulangi dengan posisi yang sebaliknya.
  • Posisi seperti ini memungkinkan benjolan kecil-kecil yang tidak nampak saat SADARI dengan posisi berdiri akan lebih terasa.

SADARI ini menurut dr Bob memungkinkan seorang perempuan bisa 70% mendiagnosis apakah ada benjolan atau tidak. Selain bisa dilakukan sendiri, para perempuan yang sudah menikah juga bisa meminta tolong pada suami untuk melakukan SADARI.

“Benjolan sebesar 2 cm itu sudah terasa saat diraba kok,” ujar dr Bob Andinata.

Dr Bob menyatakan kalau pasien-pasiennya sebagian besar datang sudah dengan kondisi kanker payudara stadium tinggi. Itulah kenapa kanker payudara masuk dalam penyakit yang silent killer. Pada stadium 1 kanker payudara, benjolan sudah ada namun kecil. Pada stadium 2, benjolan akan semakin besar namun belum ada rasa sakit. Pada stadium 3, benjolan akan semakin besar, sudah ada luka, namun sakitnya masih bisa ditahan. Nah pada stadium 4 inilah sakitnya akan terasa dan rasanya sangat luar biasa sakit.

Dari data yang dr Bob miliki, pasien di stadium 1 penanganannya cukup operasi tanpa harus kemoterapi dan radiasi. Semakin stadiumnya naik, semakin banyak pula tindakan yang diberikan. Ini berarti semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan. Semakin awal stadium datangnya, semakin kecil biaya pengobatannya. Hal ini justru berkebalikan dengan angka harapan hidup. Bahkan mereka yang baru berobat di stadium 4, angka harapan hidupnya hanya 20 %.

Cerita Cancer Fighter

Shanti Persada, perempuan pendiri Love Pink yang juga penyintas kanker payudara menceritakan sedikit pengalamannya. Shanti tahu dirinya menderita kanker payudara pada tahun 2010 pada stadium 3B. Ia saat itu datang ke dokter dengan kondisi payudara bengkak hingga akhirnya dokter onkologi yang memeriksanya menyadari bahwa Shanti didiagnosa kanker payudara stadium 3B. Dari situlah kemudian Shanti melakukan pengobatan dengan cara biopsi dan banyak penanganan lainnya.

Shanti tidak hanya memeriksakan diri pada 1 dokter, ia pun meminta second opinion pada 6 dokter lainnya. Namun keenam dokter lainnya menyatakan diagnosa yang sama. Mulai April 2010 ia pun melakukan pengobatan kanker payudara. Selama pengobatan itulah, ia bertemu dengan perempuan lain yang sedang sama-sama berjuang dengan kanker payudara salah satunya adalah Madeline Muti.

Shanti Persada (berbaju putih) bersama pembicara lain dalam talkshow Deteksi Dini Kanker Payudara

Mereka akhirnya saling support hingga akhirnya terasa lebih ringan dan tidak sendiri. Memang, konon bagi penderita kanker mental adalah hal yang paling sulit dikuatkan. Namun, Shanti mencoba menguatkan mentalnya dengan ‘mengajak ngobrol’ dan memberikan afirmasi positif pada sel-sel kankernya. Dari situlah juga akhirnya Shanti bertemu Samantha Barbara yang terdiagnosa kanker payudara pada tahun 2013. Dari situlah akhirnya tercetuslah untuk membentuk Love Pink sebagai support group antarpenderita kanker payudara dan Samantha Barbara bertindak sebagai ketuanya.

Hingga saat ini, Love Pink sudah men-support sekitar 700 perempuan dalam waktu 3 tahun dan kebanyakan berasal dari Jakarta. Hal ini merupakan kebanggaan tetapi sekaligus sesuatu yang menyedihkan mengingat setiap tahun anggota Love Pink selalu bertambah berarti setiap tahun semakin banyak pula penderita kanker payudara. Selain support, sudah banyak kegiatan yang dilakukan termasuk salah satunya adalah kegiatan jemput bola dengan memberikan voucher USG pada para perempuan untuk memeriksakan kesehatan payudaranya di Puskesmas atau rumah sakit.

Samantha Barbara-Ketua Love Pink Indonesia

Kini, Love Pink sudah semakin melebarkan sayapnya dengan membuat aplikasi LovePink Breasties dimana di aplikasi ini mampu mendeteksi kanker payudara secara dini. Selain itu, Love Pink juga secara rutin menyelenggarakan Indonesia Goes Pink (dulunya Jakarta Goes Pink) yaitu ajang lari maraton yang dilakukan bukan hanya untuk memeringati bulan kanker payudara sedunia yang jatuh pada Bulan Oktober, tetapi juga untuk ajang charity. Untuk mengetahui lebih lengkap tentang Indonesia Goes Pink ini, bisa buka websitenya di www.indonesiagoespink.com.

Gimana sudah tergerak untuk melakukan deteksi dini kanker payudara? Kebanyakan perempuan mungkin masih takut memeriksakan diri namun justru ketakutan itulah yang harus dilawan. Semangat untuk memerangi kanker payudara sejak dini!!!

 

5 Comments
Previous Post
Next Post