Nyamuk Bandel Membuatku Kehilangan Pengalaman sebagai Jurnalis Pemula

Memori 9 Mei 2012 yang masih saya ingat betul hingga saat ini.

Siang itu, saya bersiap untuk diantar pacar (yang sekarang sudah resmi menjadi suami) saya dari kost untuk menuju rumah sakit. Demam 3 hari berturut-turut membuat saya yang antiobat akhirnya menyerah dan pasrah ketika akan dibawa ke rumah sakit terdekat.

Sementara itu, dari kamar sebelah terdengar sayup-sayup suara teman kost saya yang heboh karena ada berita terbaru. Teman satu kost saya hampir semuanya adalah jurnalis di tempat saya bekerja. Mereka berkumpul di satu kamar untuk update informasi.

“Ada pesawat Sukhoi hilang kontak katanya, breaking…breaking…” ujar salah seorang teman.

Saya bergeming mendengar kabar itu lalu melenggang ke rumah sakit karena harus ‘temu kangen’ dengan dokter untuk mengetahui sakit apa yang sedang saya derita.

Kehilangan Kesempatan di Momen Bersejarah

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, begitu kata peribahasa. Setelah melalui pemeriksaan di UGD saya diharuskan untuk cek darah. Sementara menunggu hasil cek darah, saya direkomendasikan untuk dirawat inap karena kemungkinan saya terindikasi terkena demam berdarah. Duh, makin sedihlah hati ini. Apalagi ketika hasil laboratorium keluar. Benar saja saya terkena demam berdarah dan harus dirawat selama beberapa hari.

Sementara di luar sana hingar-bingar keriuhan Pesawat Sukhoi yang jatuh semakin ramai. Breaking news dimana-mana, termasuk di televisi tempat saya bekerja. Seluruh jurnalis turun ke lapangan. Ada yang dikirim ke kaki Gunung Salak, Lanud Atang Sanjaya, rumah sakit, tempat kerja korban, kediaman keluarga korban, dan masih banyak lagi. Sedangkan saya hanya bisa terkapar dengan selang infus tertancap di tangan di sebuah kamar rumah sakit. Sedihnya…

Setiap hari, berbagai informasi ter-update selalu saya lihat melalui televisi di dalam ruang perawatan. Alangkah bangganya melihat teman-teman saya bekerja di dalam momen bersejarah walaupun itu sebuah musibah. Mereka yang bertugas di lapangan dengan segala suka-dukanya adalah pahlawan bagi siapapun yang haus akan informasi terkini. Nah, sementara saya? Harus menahan perih setiap hari ketika diambil darah untuk mengetahui apakah kadar trombosit saya sudah mengalami kenaikan.

Perih, karena saya juga harus menyerah pada demam berdarah di saat rekan kerja saya mengambil peran dalam peristiwa bersejarah. Saya bahkan harus menyerah pada saran dokter yang mengharuskan rawat inap, obat-obatan, jarum dan selang infus yang harus diganti di tangan kanan dan kiri karena sering bengkak, hawa rumah sakit, dan tempat tidur. Sedihnya… Semua terpaksa saya turuti daripada malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika saya bersikeras untuk bekerja dan nekat dengan demam berdarah yang menyerang saya saat itu.

Sering saya berpikir, padahal saya sudah menganggap tempat yang saya tinggali (kost) selama ini bersih. Kamar saya pun selalu saya bersihkan secara rutin. Tapi di situ saya berpikir, bersih saja mungkin tidak cukup. Nyamuk penyebab demam berdarah bisa bersarang bahkan di tempat-tempat yang kelihatannya bersih. Bisa pula saya terkena gigitan nyamuk di tempat lain seperti kantor, di lapangan saat saya liputan, atau mungkin di dalam mobil. Entahlah….

Akhirnya total 7 hari saya dirawat di rumah sakit dengan biaya hampir Rp 17 juta. Untung semuanya di-cover asuransi kantor. Kalau tidak, mungkin saya bukan saja menyerah sama demam berdarah tetapi juga tagihan rumah sakit. Total 14 hari saya harus izin karena demam berdarah dan 14 hari itulah jadi salah satu momen hectic dunia jurnalistik Indonesia yang saya lewatkan. Saya bahkan tidak ‘mencicipi’ satu pun liputan tragedi pesawat Sukhoi yang menurut saya amat bersejarah. Saya kehilangan satu momen yang bisa saya jadikan pembelajaran sebagai jurnalis pemula karena sakit yang disebabkan oleh hewan bernama nyamuk.

Nyamuk, Si Kecil yang Mematikan

Saya mungkin satu dari banyak orang yang kehilangan sesuatu yang berharga karena nyamuk. Kehilangan kesempatan yang berharga sebagai jurnalis pemula mungkin belum seberapa sakitnya jika dibandingkan seorang ibu yang kehilangan anaknya, seorang kakak yang kehilangan adiknya, seorang adik yang kehilangan kakaknya, atau malah seorang anak yang kehilangan orang tua karena terserang demam berdarah atau penyakit lain yang disebabkan oleh nyamuk. Saya pun pernah mengalami kehilangan teman sekelompok tugas saat awal kuliah karena sakit demam berdarah.

Semua itu tak lain tak bukan karena nyamuk.

Hewan kecil yang kelihatannya sepele ini ternyata sangat mengganggu dan mematikan. Nyamuk disebut sebagai hewan yang paling mematikan di dunia. Data dari WHO (World Health Organization) tahun 2016 menyebutkan bahwa nyamuk adalah binatang paling mematikan di dunia. Sekitar 725.000 orang meninggal setiap tahunnya.

nyamuk bandel (ilustrasi from Pixabay)

Efek nyamuk lebih berbahaya dibandingkan dengan ular, anjing, siput air tawar, atau lalat tse-tse. Pasalnya, bukan cuma memberikan efek gatal saat menggigit, nyamuk juga menularkan berbagai penyakit yang mematikan. Demam berdarah, malaria, zika, kaki gajah (filariasis), sampai chikungunya merupakan penyakit-penyakit yang penyebarannya disebabkan oleh nyamuk. Fakta-fakta dari penyakit ini pun tidak main-main. Berikut beberapa fakta yang diambil dari situs WHO tentang penyakit-penyakit yang disebabkan oleh nyamuk:

  • Pada tahun 2016, diperkirakan ada 216 juta kasus malaria di 91 negara, meningkat 5 juta kasus dari tahun 2015. Kematian Malaria mencapai 445.000 pada 2016.
  • Pada tahun 2000 lebih dari 120 juta orang terinfeksi limfatic filariasis yang disebabkan oleh gigitan nyamuk yang telah terinfeksi mikrofilaria, dengan sekitar 40 juta orang jadi cacat dan tidak mampu akibat menderita penyakit ini.
  • Virus penyebab Chikungunya pertama kali diisolasi antara 1952-1953 dari manusia dan nyamuk. Setelah lama absen, wabah demam CHIK muncul di Indonesia pada tahun 1999.
  • Lebih dari 70% demam berdarah terjadi di Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Di Amerika Latin dan Karibia, kejadian dan tingkat keparahan penyakit ini meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Daerah Mediterania Afrika dan Timur juga telah mencatat lebih banyak wabah penyakit ini dalam 10 tahun terakhir. Sejak 2010 penyebaran virus DBD juga telah dilaporkan di Eropa.
  • Mei 2016, WHO menyimpulkan bahwa infeksi virus Zika selama kehamilan merupakan penyebab kelainan otak bawaan, termasuk microcephaly. Virus yang ditularkan oleh gigitan nyamuk ini juga memicu Guillain-Barré Syndrome. Guillain-Barré Syndrome adalah kondisi langka dimana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang sarafnya.

Fakta-fakta di atas membuktikan bahwa persoalan nyamuk memang seharusnya tidak disepelekan oleh kita. Untungnya beberapa waktu yang lalu saya bersama beberapa blogger yang tergabung dalam Kumpulan Emak Blogger mendapat kesempatan untuk mengikuti community gathering bersama HIT Expert yang diselenggarakan di d’Lab Building, Thamrin. Dalam acara tersebut, saya semakin mendapatkan informasi tentang nyamuk bandel dari brand ambassador HIT, dr Lula Kamal.

dr Lula Kamal dalam community gathering KEB dan HIT

Dikemas dalam games seru nan ringan, pembawa acara saat itu, Lia Atmajaya, dan dr Lula Kamal memaparkan beberapa hal yang menjadi fakta soal nyamuk, antara lain:

  • Perubahan iklim yang semakin tinggi (panas) dan lembab membuat ukuran nyamuk semakin kecil. Semakin kecil ukuran nyamuk justru semakin agresif dan kuat. Itulah sebabnya kenapa nyamuk tidak terpengaruh terhadap pemanasan global.
  • Pada suhu udara dingin, nyamuk semakin sering kawin dan berkembang biak.
  • Siklus perkembangbiakan nyamuk saat ini dari bertelur hingga dewasa semakin pendek. Hal inilah yang membuat nyamuk semakin banyak.
  • Nyamuk cuma butuh 1 cc air yang setara dengan setetes air untuk berkembang biak.

Dari beberapa fakta di atas saya jadi berpikir, pantas saja nyamuk di rumah semakin banyak. Dulu, kata orang saat musim hujan adalah musim banyak nyamuk. Nyatanya kini saat musim hujan atau kemarau pun nyamuk tetap saja banyak di rumah saya.

fakta tentang nyamuk (Source from: FB Page HIT Terinspirasi Ibu)

Sejak tinggal di Jakarta, nyamuk rasanya mendadak semakin mengganas. Apalagi saat dulu saya tinggal di permukiman padat penduduk yang dekat dengan got menganga yang airnya berwarna hitam. Got itu kalau saya umpamakan adalah ‘kerajaan nyamuk’. Duh, jangankan got menganga dengan limpahan air yang sangat banyak, lha wong sekarang saja nyamuk sudah bisa berkembang biak di genangan air yang berada di bawah kucuran dispenser kok.

Membasmi Nyamuk karena Belajar dari Pengalaman

Banyaknya nyamuk di rumah saya dulu mungkin juga karena masih ada beberapa perilaku buruk dari saya dan suami yang belum diperbaiki. Salah satunya adalah suka sekali menggantungkan baju bekas pakai di kapstok dalam kamar. Di situlah justru biasanya dijadikan sarang nyamuk. Pasalnya, nyamuk sangat suka dengan bau tubuh manusia. Apalagi jika baju yang digantung berwarna gelap atau merah, klop deh! Nyamuk semakin senang bersarang di sana.

Memperbaiki Kebiasaan Hidup

Karena pernah punya pengalaman buruk dengan nyamuk dan kehilangan momen berharga karena demam berdarah, saya pun nggak mau tinggal diam dan menyerah sama nyamuk di rumah. Satu hal yang pertama kali harus saya ubah adalah perilaku hidup saya dan suami. Kami sebisa mungkin menghindari membuat banyak genangan air di rumah. Kami membuang sisa-sisa air seperti air bekas menyiram tanaman yang dulu biasanya kami biarkan saja di dalam ember di bawah kran. Kami juga mengusahakan agar tidak ada ceceran air di bawah dispenser agar genangannya tidak jadi sarang nyamuk.

setetes air bisa jadi tempat bertelur nyamuk (ilustrasi milik pribadi)

Selain itu, saya dan suami juga membiasakan tidak menggantung pakaian bekas pakai di kapstok. Selain pakaian, kami juga mulai memasukkan tas kerja atau bepergian ke dalam lemari yang tertutup. Tas-tas berwarna gelap yang biasa kami gantung itu juga menjadi tempat yang empuk untuk nyamuk bersarang.

Selain di kapstok, dulu saya dan suami bahkan sering menggantungkan baju bekas pakai di treadmill. Treadmill pun jadi sarang nyamuk, jangan ditiru ya! (ilustrasi milik pribadi)

Karena pernah punya pengalaman dengan demam berdarah, saya pun mengubah pola tidur. Saya yang sejak resign kerja lebih banyak di rumah, menghindari untuk tidur di jam-jam rawan nyamuk Aedes Aegypti antara jam 8-10 pagi. Padahal dulu ketika masih baru resign kerja, saya suka tidur lagi sekitar pukul 09.00 atau setelah suami pergi ke kantor. Rasanya tidur jam segitu adalah kenikmatan yang hakiki, namun saya harus mengubah habit itu daripada malah kena demam berdarah untuk yang kesekian kalinya kan, naudzubillah. Di pagi hari, saya lebih memilih buat bersih-bersih rumah dan membuka jendela yang berpotensi jadi sarang nyamuk.

Walaupun saya dan suami sudah mengubah banyak perilaku buruk, nyatanya nyamuk juga masih banyak berkeliaran di dalam rumah. Sampai-sampai kalau malam hari saya dan suami tidak bisa tidur karena saking banyaknya nyamuk. Belum lagi sprei tempat tidur kami yang terdapat banyak bercak darah karena nyamuk yang sudah kenyang dan tak berdaya sering tertindih atau ditepuk sama kami, yang akhirnya justru bikin darah dari badannya muncrat kemana-mana. Sprei warna cerah pun berubah jadi motif ‘polkadot’ karena bekas darah, hiks.

Basmi Nyamuk Bandel dengan HIT Expert

comunity gathering KEB bersama HIT

Selain mengubah kebiasaan hidup, saya juga menggunakan HIT untuk membasmi nyamuk bandel. Namun ternyata walau sudah lama menggunakan HIT, banyak hal yang masih salah kaprah dan belum saya tahu. Untungnya, dari community gathering bersama HIT dan Godrej saya jadi tahu banyak informasi mendasar soal penyemprotan HIT Expert. Kenapa? Ya kembali lagi karena nyamuk-nyamuk zaman now yang semakin ganas perkembangbiakannya, hingga kita pun harus punya ‘strategi’ dalam menyemprotkan nyamuk.

HIT Expert

Karena nyamuk berevolusi menjadi semakin bandel, manusia pun harus semakin cerdik untuk menanggulanginya. Oleh karena itu, sekarang HIT sudah mengeluarkan HIT Expert sebagai revolusi terbaru dengan 4 kelebihan dalam satu produk, yaitu:

1. Formula baru dengan partikel yang lebih kecil atau disebut microparticle

Formula ini diklaim sudah paling aman di kelasnya (insektisida kelas U atau unlikely to present acute hazard in normal use yang ramah untuk manusia) dan bisa bertahan lama di udara sehingga dapat membasmi nyamuk bandel dengan lebih baik.

2. HIT Expert memiliki teknologi double nozzle (2 lubang semprot)

Teknologi double nozzle menghasilkan semprotan menjadi lebih jauh dan merata ke seluruh ruangan. Karena formulanya sudah aman, maka HIT memilih berinovasi di bagian teknologi semprotnya. Teknologi double nozzle ini memudahkan kita untuk menyemprotkannya ke dalam seluruh ruangan dan tidak boros.

dua lubang semprot HIT Expert

3. Kemasan HIT Expert terbaru yang premium didesain dengan ergonomis

Desain ergonomis ini membuat lebih nyaman ketika digenggam dan disemprotkan. Semprotan yang dihasilkan pun lebih halus.

kemasan HIT Expert mudah digenggam

4. HIT Expert memiliki 2 pilihan wangi baru

Dua pilihan wangi baru HIT Expert yang premium dan ramah di hidung, yakni Sweet Flower dan Fresh Citrus akan sangat disukai keluarga.

dua varian wangi baru HIT Expert

Cara Menyemprotkan HIT Expert

Walaupun formulanya aman, bagaimanapun juga HIT Expert merupakan insektisida yang penggunaannya harus cermat dan berhati-hati terlebih lagi saat disemprotkan. Dr Lula Kamal pun memberikan tip saat akan menyemprotkan HIT Expert:

1. Kosongkan ruangan sebelum menyemprotkan HIT Expert

Bagaimanapun juga HIT Expert adalah racun serangga, jadi alangkah baiknya untuk menyemprotkan HIT saat ruangan kosong atau tidak ada orang lain beraktivitas. Jangan menyemprot HIT Expert di depan orang atau dalam ruangan yang masih terdapat orang.

semprotkan HIT Expert saat siang hari di ruangan kosong

2. Matikan AC saat menyemprotkan HIT Expert

Kekuatan formula HIT Expert akan berkurang jika terkena embusan angin dari AC atau kipas angin. Saat udara panas (tanpa AC dan kipas angin), nyamuk justru akan beterbangan ke seluruh ruangan.

3. Perhatikan waktu menyemprot

Dr Lula Kamal merekomendasikan waktu menyemprot di pagi dan sore hari. Pasalnya di waktu-waktu itulah nyamuk Aedes Aegypti penyebab demam berdarah berkeliaran. Dulu biasanya saya menyemprot nyamuk pada malam hari namun ternyata pada malam hari nyamuk justru berada di sarangnya.

4. Semprotkan HIT Expert di udara

Dengan teknologi microparticle, cukup semprotkan HIT Expert ke udara. Microparticle-nya akan bertahan kurang lebih 15 menit kemudian perlahan menghilang (dissolve). Itu sebabnya, formula microparticle HIT Expert tidak berbekas atau menempel di bantal atau sprei.

“Kalau wanginya masih ada, bukan berarti partikel aktifnya masih ada,”ujar dr Lula Kamal.

5. Perhatikan lingkungan sekitar

Hindari menyemprot HIT Expert di ruangan atau tempat yang terdapat makanan terbuka atau banyak orang. Jika memang terdapat makanan, tutup memakai tutup wadah yang benar-benar rapat/tanpa celah karena bagaimanapun juga microparticle HIT Expert mampu menembus tutup makanan yang berlubang atau memiliki celah. Lebih baik lagi singkirkan makanan terlebih dahulu sebelum menyemprot HIT Expert.

Dalam community gathering kami juga disadarkan bahwa pencegahan dan pembasmian nyamuk bukan hanya peran kita, tetapi juga harus ditularkan pada orang lain.

“Nggak mungkin juga dong rumah kita sudah bersih tapi ternyata nyamuknya datang dari tetangga sebelah yang joroknya minta ampun,” ujar dr Lula Kamal.

Oleh karena itu, lingkungan sekitar juga harus disadarkan tentang betapa pentingnya mencegah dan membasmi nyamuk bandel di sekitar kita. Seperti halnya HIT sadar betul untuk memberikan edukasi pada para ibu yang berlatar belakang dunia digital. Karena dengan informasi yang telah diberikan pada para ibu digital kemudian akan disebar dan dibaca banyak orang, mudah-mudahan bisa menghambat perkembangbiakan dan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk.

keseruan community gathering KEB dan HIT Expert

Nah, ini pengalaman saya berjibaku sama nyamuk bandel. Kalau pengalaman kalian bagaimana? Share juga yuk di kolom komentar!

 

 

 

 

Sumber data:

  • www.who.int diakses pada 10 Desember 2017

 

49 Comments
Previous Post
Next Post