Pernah Tertipu Investasi Bodong? Kenali Dulu Segala Hal tentang Investasi Berikut Ini!

“Kakak kelasku ada yang ditangkap polisi,” ujar Aji, suami saya, beberapa tahun yang lalu saat kami masih pacaran.

“Hah, kenapa?” tanya saya di ujung telepon. Iya, waktu itu pacarannya masih LDR.

“Katanya kasus investasi bodong. Korbannya banyak. Padahal aku pernah investasi juga sama dia,” ujar Aji.

Lalu pembicaraan kami bergulir lebih panjang. Kala itu, tahun 2010, berita tentang investasi bodong yang menelan banyak korban di Bogor bergulir dengan cepat. Suami saya -yang kala itu masih jadi pacar- adalah orang yang pernah ikut investasi di periode awal. Benar saja uang yang diinvestasikan kembali dengan besaran yang lebih banyak. Sialnya, banyak orang tak seberuntung Aji. Mereka yang tergiur untung besar berbondong-bondong menanamkan uangnya. Namun bukan untung yang diperolehnya melainkan buntung karena tertipu mentah-mentah.

Kasus investasi bodong ini bukan yang pertama. Sering, sering sekali bahkan, saya dengar berita tentang investasi bodong. Sependek karir saya jadi reporter, sudah beberapa kali kasus investasi bodong saya liput. Dari invetasi Koperasi Langit Biru, GTIS, hingga MMM. Bahkan, kasus-kasus investasi bodong ini juga dekat sekali dengan kehidupan orang-orang sekeliling saya. Teman kantor saya pernah tertipu bisnis hape murah dengan sistem investasi. Saudara saya pun pernah tertipu puluhan juta karena iming-iming investasi di bidang konveksi. Betapa kasus investasi bodong bukan hal baru dan langka lagi. Malah bisa jadi orang-orang terdekat kita yang kena efeknya.

Investasi memang penting. Ibarat hidup, investasi adalah pegangan di masa depan khususnya masa tua. Oleh karena itu, banyak orang tertarik berinvestasi bukan hanya untuk mengumpulkan bekal hidup di masa tua tetapi juga untuk mencapai tujuan-tujuannya. Namun sayangnya masih banyak orang yang mengandalkan ‘nafsu’ dan mengabaikan logika saat berinvestasi. Apalagi jika sudah dihadapkan dengan iming-iming imbal balik yang besar dalam waktu yang cepat.

Anka Tama, host yang bikin semarak workshop hari itu

Untuk tahu seperti apa investasi dan memilih investasi, saya adalah orang yang beruntung karena lagi-lagi dapat kesempatan dari Visa dan Kumpulan Emak Blogger buat belajar tentang investasi di Financial Literacy Workshop. Ini adalah workshop ketiga sekaligus yang terakhir bersama Visa setelah sebelumnya dua topik seru tentang finansial juga pernah dijadikan tema workshop.

(Baca juga: Pelajari Hal-Hal Berikut Ini Jika Tak Mau Keuangan Keluargamu Bangkrut)

(Baca juga: Cara Bijak Atur Anggaran Keluarga Biar Tetap Bisa Liburan dan Belanja)

Mengenal Investasi Lebih Dalam

Buta investasi tapi pengen untung gede itulah orang yang rawan terjerat investasi bodong. Untuk tahu soal investasi yang pertama harus dipahami adalah macam investasi antara satu orang dengan orang lain bisa jadi berbeda, tergantung dari kondisi keuangannya. Berikut 5 prinsip dasar untuk berinvestasi yang harus kita ketahui:

1. Pahami Tujuan dan Profil Risiko Investasi

Prita Ghozie – financial educator VISA

Seperti biasa Financial Educator Visa, Mbak Prita Ghozie, dengan semangat menjelaskan banyak hal yang berkaitan dengan investasi. Buat Mbak Prita, investasi itu diibaratkan seperti kita membeli sapi. Kita yang berinvestasi tinggal memilih apakah mau membeli sapi, digemukkan lalu dijual sapinya atau memerah susunya tapi besar sapinya segitu-segitu aja. Seperti halnya investasi. Investasi emas lalu dijual beberapa tahun kemudian itu seperti membeli sapi, digemukkan, lalu dijual. Sementara investasi dalam bentuk deposito itu seperti membeli sapi lalu dinikmati susunya tiap bulan. Nah, mau milih yang mana hayo?

Mbak Prita mengatakan semua pilihan itu tergantung kebutuhan kita. Saat kita masih muda dan produktif, gemukkanlah dulu sapinya ketika sudah tua baru perah terus susunya. Itu berarti investasi logam mulia atau emas cocok dimiliki oleh kita yang masih muda dan produktif. Nah, sementara itu ketika sudah pensiun pilihlah investasi yang ‘susunya’ bisa kita perah dan nikmati setiap bulan. Salah satu contohnya adalah deposito.

mau diapakan ‘sapi’ investasimu? (Source from Pixabay)

Sementara itu untuk profil risiko investasi dibedakan menjadi 3 yaitu:

  • Investor konservatif dengan prosentase 100% defensif
  • Investor moderat dengan prosentase 60% Defensif dan 40% Agresif
  • Investor agresif dengan prosentase 30% Defensif dan 70% Agresif

Nah, kamu berada di level investor yang mana nih? Yang masih takut-takut atau sangat agresif dengan risiko investasi? Sebenarnya kita bisa saja berinvestasi yang melebihi profil risiko kita. Namun, yang harus dipahami adalah kita juga harus siap untuk menanggung risiko yang mungkin saja akan menimpa kita.

2. Tentukan Jangka Waktu Investasi

Pahamilah investasi yang kita tanam sekarang akan digunakan untuk kapan. Sesuaikanlah jangka waktu dengan kapan hasil dan aset investasi itu akan kita pakai. Mbak Prita membedakan jangka waktu investasi ini menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Investasi Jangka Pendek
  • Investasi Jangka Menengah
  • Investasi Jangka Panjang

Penjelasannya adalah misalnya kita memiliki anak masih balita dan mempersiapkan diri berinvestasi untuk biaya masuk SD, investasinya masuk jangka pendek karena waktu untuk masuk SD tinggal hitungan beberapa tahun. Sementara persiapan biaya masuk kuliahnya masuk dalam investasi jangka panjang karena masih belasan tahun lagi. Hal ini tentu lain lagi bagi keluarga yang sudah memiliki anak usia SMA. Biaya kuliah bisa jadi dimasukkan dalam pos investasi jangka pendek.

Idealnya, kita memiliki investasi di setiap jangka waktu. Kenapa? Karena adanya inflasi. Inflasi mungkin saja akan membuat kita kesusahan untuk membeli barang di kemudian hari. Inilah yang harus diwaspadai sebelum  menentukan mau dimasukkan jangka yang manakah investasi kita.

3. Ragam Investasi

Yang harus dipahami sebelum mengetahui ragam investasi adalah: TIDAK ADA INVESTASI YANG AMAN DAN UNTUNG BESAR DALAM JANGKA WAKTU CEPAT.

Mbak Prita memberikan pemahaman pada para peserta untuk membedakan yang mana investasi, saving, dan spekulasi:

  • Saving (menabung): tujuan utamanya adalah untuk menyimpan uang yang kita punya dalam jangka waktu relatif pendek, misalnya di bawah 3 tahun. Nilai yang kita tabungkan pun bisa berkurang termakan inflasi. Inilah yang disebut ‘saving is to protect your money’
  • Investasi: untuk menjadi investor yang sukses, paling tidak memerlukan waktu yang agak lama, minimal di atas 3 tahun untuk berinvestasi. Itulah kenapa disebut ‘investing is to growth your money’.
  • Spekulasi: dilakukan dalam jangka waktu yang pendek untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Spekulasi bisa sangat menguntungkan atau merugikan pelakunya. Itulah sebabnya spekulasi disebut juga ‘speculating to game your money’.

Ketiganya tidak salah jika dilakukan, asalkan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, dana pendidikan tidak tepat jika diperlakukan dengan cara spekulasi karena justru akan mempertaruhkan masa depan anak. Pun belum tepat juga jika dimasukkan dalam pos tabungan karena nilai tabungan bisa jadi hanya bertambah sedikit (slow grow) setiap tahunnya.

Ragam pilihan investasi itu sangat banyak, di antaranya adalah:

1. Aset Fisik

ilustrasi rumah (Source from: Pixabay)

Yaitu aset yang dipegang sendiri dan tidak bergantung pada lembaga keuangan tertentu. Kita minimal harus memiliki aset fisik walaupun cuma 1. Aset fisik ini bisa masuk dalam investasi jangka panjang untuk hari tua. Aset fisik mencakup logam mulia dan properti. Di zaman yang serba berkembang saat ini, Mbak Prita tidak saklek mengategorikan properti hanya tanah dan bangunan (apartemen, rumah kos, atau kontrakan). Beberapa barang pun bisa masuk sebagai aset properti asal nilainya bisa ‘hidup’ misalnya: tas branded, kamera, mainan anak, atau baju untuk disewakan.

2. Surat Berharga

Jenisnya antara lain:

  • Deposito (maksimal hanya 12 bulan)
  • Obligasi (risikonya lebih besar dari deposito tapi nilai untungnya juga lebih besar)
  • Saham (memiliki saham di perusahaan terbuka yang diperdagangkan di bursa efek, risikonya paling besar)
  • Reksadana (risikonya lebih kecil daripada saham)

3. Bisnis

Bisnis adalah investasi dengan risiko yang paling tinggi pasalnya modal kita bisa jadi 0 karena bangkrut. Bisnis ini bisa berbentuk franchise atau usaha mandiri. Investasi dalam bentuk bisnis tidak disarankan untuk dana pendidikan anak.

Selain ragam investasi, ketahui pula risiko investasi yang akan kita terima. Ya paling nggak biar nggak shock di tengah-tengah, kita perlu tahu dulu beberapa risikonya, antara lain:

  • Risiko likuiditas yaitu risiko tidak mudah menjual aset investasi yang kita punya menjadi uang tunai.
  • Risiko volatilitas harga yaitu risiko naik turun harga dalam jangka waktu yang pendek. Bisa jadi saat akan kita jual, investasi yang telah kita tanam justru merugi karena harganya sedang turun dalam periode tersebut.
  • Risiko gagal bayar adalah risiko modal yang telah kita tanamkan tidak bisa balik kembali. Contohnya adalah risiko dalam bisnis yang gagal atau risiko menyimpan uang di deposito bunga tinggi namun bank dilikuidasi sementara deposito tidak dijamin LPS.
  • Risiko pasar, contohnya adanya adanya inflasi atau naik turun mata uang.
  • Risiko penipuan berkedok investasi inilah risiko yang paling fatal dan berbahaya dari investasi.

Nah, akhir-akhir ini yang paling sering saya dengar adalah risiko penipuan berkedok investasi. Sudah banyak sekali korbannya, bahkan termasuk orang-orang di sekeliling saya. Di sinilah yang perlu kita pahami bahwa investasi juga harus mengedepankan logika dan menekan rasa serakah walaupun sebetulnya sedang kepepet memerlukan uang.

4. Strategi Investasi

Dalam berinvestasi ada 3 strategi yang bisa diterapkan, antara lain:

  • Cost averaging

Yaitu ketika punya uang banyak jangan lalu membeli semuanya. Idealnya adalah dari uang yang kita punya, kita cicil sedikit demi sedikit aset investasi supaya jika nilai investasi sedang turun kita nggak rugi banyak. Selain itu juga harus disiplin untuk investasi setiap bulan dan tidak terpengaruh kondisi pasar agar tujuan yang kita mau bisa terpenuhi.

  • Diversifikasi Investasi

“Never puts all your eggs in one basket” itulah prinsip investasi. Jangan cuma menanamkan uang di 1 bentuk atau jangka waktu investasi agar kita bisa menggunakan uang yang diinvestasikan sesuai jangka waktu yang dibutuhkan. Hal ini juga bisa meminimalisir risiko dengan berinvestasi di berbagai sektor atau instrumen.

  • Jangka investasi

Hasil investasi itu tidak datang dalam jangka waktu cepat. Risiko berinvestasi tidak dapat dihindari namun pada umumnya bisa diminimalisir dengan lamanya jangka investasi. Itulah mengapa, investasi disebut sebagai alat terbaik untuk membantu kita meraih long term goal.

5. Review dan Realokasi

Setelah menanamkan uang, kita juga harus review dan realokasi. Kita harus tetap memantau apakah investasi yang telah kita tanamkan sedang naik atau turun.

Waspada Investasi Bodong

Bicara investasi bodong, walau sudah banyak peringatan yang diberikan baik itu oleh OJK atau pemerintah tapi tetap saja ada yang jadi korban. Lihat saja di berita-berita televisi atau koran, setiap tahun pasti masih selalu ada kasus investasi bodong. Beberapa hal yang harus diwaspadai adalah:

  • Jangan tergiur imbal hasil BESAR dan PASTI. Semua investasi pasti ada risiko dan hasilnya tidak dapat dijamin.
  • Periksa legalitas dan izin perusahaan yang menawarkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sekarang sudah ada fitur periksa izin perusahaan investasi di website OJK.
  • Skema investasi harus jelas. Coba cek darimana potensi keuntungan diperoleh. Misalnya, jika dari bisnis ketahui benar bisnis apa yang sedang dikerjakan.
  • Hati-hati dengan money game, arisan berantai, tawaran investasi kebun ABC, dan lainnya.

Misalnya dalam investasi bodong GTIS (Golden Traders Investasi Syariah). Kebetulan dulu saya sempat meliput investasi bodong ini dan mengunjungi kantornya yang sudah tutup di daerah Muara Karang. Sayangnya, pihak GTIS menolak saat saya ingin meminta konfirmasi pada mereka untuk cover both side. Beberapa hal yang dicurigai dari investasi GTIS adalah:

  • Jual beli emas atau investasi di emas?
  • Kalau jual beli, apakah dilaksanakan pada harga pasar wajar?
  • Kalau investasi, mana ‘sapi betinanya’ dan dari mana asal bonusnya?

Tentang Investasi Syariah

Mungkin banyak orang yang sedikit ketakutan untuk memulai investasi, termasuk saya. Pertanyaan-pertanyaan apakah hasil investasi ini halal atau apakah ada hasil riba di dalamnya terus menghantui. Nah, Mbak Prita memberi tahu pada peserta workshop kalau investasi syariah itu prinsipnya adalah terbebas dari unsur MAGHRIB (MAisir-GHarar-RIBa).

  • Maisir adalah memperoleh sesuatu dengan sangat mudah tanpa kerja keras atau mendapat keuntungan tanpa bekerja. Contohnya adalah judi atau spekulasi.
  • Gharar artinya penipuan, tidak jelas, atau samar-samar. Hal ini sering terjadi dalam investasi bodong yang kadang tidak diketahui apa bisnis dan darimana sumber keuntungannya. Selain itu investasi atau jual beli rumah dalam sebuah tanah yang belum ada bangunan dan belum dibebaskan kepemilikannya pun bisa masuk dalam kategori gharar.
  • Riba artinya adalah penambahan, misalnya meminjamkan uang dalam waktu lama lalu ditangguhkan pembayarannya agar ada penambahan pembayaran atau berbunga.

Nah, gimana sudah jelas soal investasi ini? Jadi sudah memutuskan mau investasi apa?

Selama 3 kali ikut financial literacy workshop ini, saya semakin bertambah ilmunya dan sedikit-sedikit melek tentang keuangan. Beberapa tips dari Mbak Prita pun mulai saya terapkan di dalam lingkup kehidupan keuangan rumah tangga. Namun, ada sedihnya juga di pertemuan ketiga ini. Pasalnya, ini adalah pertemuan terakhir bukan cuma sama Mbak Prita dan Visa tapi juga para blogger kece di sesi workshop tentang keuangan ini.

Terima kasih Visa yang telah mencerahkan kami para Menteri Keuangan rumah tangga. Semoga kelak ada workshop-workshop lain yang juga bermanfaat dan saya bisa join lagi di dalamnya.

 

 

14 Comments
Previous Post
Next Post