Kisah di Balik Jajanan Masa Kecil

Bicara soal jajanan masa kecil, saya termasuk orang yang doyan jajan. Kebiasaan doyan jajan ini bahkan masih bertahan sampai sekarang. Sebagai anak tunggal saat kecil (sebelum adik saya lahir) dan punya ibu yang memiliki kios makanan, saya sangat bebas buat mengakses makanan. Kalaupun jajanan yang saya inginkan tidak ada di kios ibu saya, maka tak perlu gegulingan buat minta uang jajan. Saya pun langsung dikasih uang buat jajan.

Ibu saya juga bukan tipikal orang yang menjaga makanan dan mengharuskan anak buat makan sehat. Makan apa saja saya diperbolehkan. Kebanyakan jajanan favorit saya masa kecil adalah snack macam Chiki. Saya dari kecil memang nggak begitu suka coklat jadi memang nggak sering makan coklat. Tapi kalau jajanan snack yang ber-MSG saya doyan banget deh. Pokoknya masa kecil hidup saya akrab banget sama MSG.

Tak jarang, gara-gara kebanyakan jajan nggak sehat saya jadi sering sakit radang tenggorokan, amandel, hingga batuk. Dasar sayanya bandel, tetap saja setelah sembuh saya makan lagi jajanan-jajanan nggak sehat itu. Seringnya makan jajanan masa kecil, saya jadi teringat punya banyak kisah soal jajanan masa kecil. Ini beberapa kisah saya dan jajanan masa kecil yang masih saya ingat:

1. ‘Diperbudak’ Tazos

Chiki snack itu memang makanan yang enak banget, bahkan sampai sekarang. Biar kata banyak yang mencibir isinya cuma angin tapi Chiki Ball itu jajanan favorite saya waktu kecil. Dari rasa coklat, kaldu ayam, hingga keju saya suka. Apalagi dulu di dalam kemasan Chiki Ball berhadiah Tazos. Wuiiihh, saya jadi semangat lagi makan Chiki-nya.

tazos (Gambar dari www.djamandoeloe.com)
tazos (Gambar dari www.djamandoeloe.com)

Oh ya, yang nggak tahu Tazos itu adalah permainan disk kecil bergambar karakter kartun tertentu dan bisa disusun dengan menyelipkan tazos yang lain di gerigi pinggiran tazos. Tazos juga bisa dipakai untuk bermain tembak sasaran dengan cara menembak tumpukan tazos. Tapi kalau buat saya, tazos dijadikan koleksi. Koleksi tazos saya saat itu mencapai satu wadah shuttlecock. Sayangnya, sekarang sudah hilang semua.

Buat saya, mengumpulkan tazos sebanyak itu nggak masalah. Saya dengan gampang bisa mengambil Chiki Ball di kios ibu atau malah membuka kardus-kardus Chiki yang belum dipasang di rumah. Dalam waktu sehari saya bisa makan 3 hungga 5 bungkus Chiki dan ibu saya santai-santai saja. Selain Chiki, saya juga bebas buat makan snack lain seperti Cheetos, Chitato, atau Jet-Z. Koleksi tazos saya pun semakin banyak dan mungkin paling banyak di antara teman-teman saya. Nggak heran, pas masa kecil saya sering sakit tenggorokan dan batuk gara-gara kebanyakan makan Chiki.

2. Makan nasi pakai snack mie

Saya pas kecil termasuk anak yang picky banget sama makanan. Bahkan, saya termasuk anak yang nggak doyan makan. Saking nggak doyannya, ibu saya jadi sering bawa saya ke restoran-restoran yang makanannya enak biar saya mau makan. Tapi nyatanya saya tetap nggak doyan.

Zaman SD, saya malah mau makan kalau lauknya snack mie. Inget kan snack Mimi yang bungkusnya warna kuning putih dan harganya murah banget itu? Mungkin zaman saya SD masih Rp 25. Nah, itu lauk saya kalau makan. Saya paling doyan makan pakai Mimi itu. Mimi enak buat digadoin ataupun dimakan pakai nasi. Selain Mimi, saya suka makan pakai Krip-Krip. Nah kalau yang ini masih ingat juga kan? Itu lho yang bungkusnya warna merah putih trus ada gambar anak kecil warna hijau.

krip-krip (Gambar dari: www.tokopedia.com)
krip-krip (Gambar dari: www.tokopedia.com)

Krip-krip ini rasanya berbumbu banget. Nggak heran, pas kecil saya sering beli langsung serenceng. Soalnya, sekali buka dan dituang ke mulut langsung habis sih. Sementara rasanya nagih banget. Nah, selain Mimi dan Krip-Krip ada juga snack mie legendaris lain yang saya (dan kalian pasti) suka yaitu Anakmas dan Anak Mamee. Dua snack ini yang bikin rasanya jadi hidup adalah bumbu tuang yang ada di dalamnya. Kalau Anakmas rasanya gurih agak pedas, sementara kalau anak Mamee rasanya gurih agak manis. Yang pasti rasa MSG banget deh. Duh, kalau inget zaman kecil kayaknya saya diperbudak MSG banget nih, hihi.

3. Es orson bikin batuk

Sebelum saya suka jajan es teh atau es buah bungkusan di SD, minuman favorit saya adalah es orson. Orson itu minuman sejenis sirup atau limun, warna-warni, manis tapi ada sedikit rasa-rasa buah dan sodanya. Soalnya kalau pas ditelan terasa kayak perih-perih enak gitu di tenggorokan, hihi. Sayangnya, pas saya googling orson yang dimaksud pas saya SD itu nggak ketemu.

penjual es orson di sekolah saya mirip-miriplah kayak begini (Gambar dari: Twitter)
penjual es orson di sekolah saya mirip-miriplah kayak begini (Gambar dari: Twitter)

Pas SD, es orson di sekolah saya dijual sama bapak-bapak paruh baya pakai sepeda. Seingat saya, orson ini nggak ada merknya trus dikemas di botol-botol kayak botol sirup. Karena bapak saya disiplin banget sama jajanan yang saya makan pas kecil, saya sering dimarahi kalau jajan es orson ini. Soalnya kata bapak saya es orson ini pakai gula biang/sakarin yang bikin batuk. Saya nggak tahu itu benar apa cuma alasan bapak saya biar saya nggak minum es orson lagi. Yang pasti, pas sekitar saya kelas 3 SD penjual es orson ini sudah nggak ada lagi di SD saya.

4. Mister huruf N di permen karet YOSAN

Kalau yang satu ini kayaknya jadi teka-teki anak-anak tahun 90an deh. Pasalnya, nggak pernah ada yang menemukan huruf N pada tulisan di permen karet YOSAN. Padahal saya termasuk orang yang sering makan permen karet Yosan pada zaman itu karena tinggal ambil di kios ibu saya. Bahkan, saya sering nongkrong dan memulung bungkus-bungkus permen karet Yosan di kios ibu tetapi tetap aja nggak pernah nemu huruf N-nya. Entah sebenarnya huruf N itu benar-benar ada dan dicetak sama produsen permen karetnya apa nggak. Wallahualam.

permen karet Yosan (Gambar dari: www.tokopedia.com)
permen karet Yosan (Gambar dari: www.tokopedia.com)

Kalau yang belum tahu soal fenomena huruf N di permen karet YOSAN ini pasti bukan anak 90an. Di masa itu ada permen karet yang di dalam bungkusnya tercetak huruf-huruf Y-O-S-A-N dan kalau terkumpul semua hurufnya maka akan mendapatkan hadiah sepeda. Nyatanya, sampai permen karet Yosan ganti kemasan pun (dari bungkusan kertas sampai plastik), belum pernah saya dengar ada orang yang menemukan huruf N-nya.

5. Dapat permen cicak dari ‘judi’

Permen cicak memang amat fenomenal di zamannya. Permen cicak adalah permen warna-warni yang bentuknya kecil dan konon menyerupai telur cicak. Rasanya sih nggak genah, manis-manis rada hambar gitu. Permen ini sering nggak sengaja kebeli soalnya suka ada di dalam kemasan lotre. Harganya murah, seingat saya dulu Rp 25 bisa dapat 5 kupon lotre yang di dalamnya beli permen cicak.

lotre permen cicak (Gambar dari: www.kompasiana.com/ lotere-jadul-masih-ada lho)
lotre permen cicak (Gambar dari: www.kompasiana.com/ lotere-jadul-masih-ada lho)

Nah, sebenarnya saya nggak terlalu suka permen cicak ini. Bahkan, kalau lotre sudah dibuka permen cicaknya suka ikut kebuang. Apalagi saya suka dimarahin bapak kalau dikasih uang malah dibeliin lotre soalnya katanya itu judi. Saya zaman kecil mana tahu kalau itu judi. Pokoknya, saya beli lotre yang harganya murah biar bisa dapat hadiahnya. Sementara permen cicaknya kadang saya makan kadang nggak.

6. Sok merokok pakai permen

Saya bukan lahir di keluarga yang merokok. Bapak saya tidak merokok tapi saya pada masa itu selalu suka kalau lihat bapak-bapak merokok sambil ngobrol sama temannya yang merokok juga. Kayaknya akrab gitu. Sementara kalau lihat bapak saya kayak nggak punya teman karena nggak merokok. Yah, kalau sekarang sih boro-boro senang sama orang merokok bawaannya justru sebel soalnya asapnya kan bahaya.

Saking terinspirasinya sama orang merokok, saya pernah diam-diam ambil satu slop rokok dagangan ibu saya. Rencananya waktu itu mau dibuat main rokok-rokokan di masjid sama teman-teman saya. Tapi, sayangnya rokok yang hilang dan saya simpan di lemari baju itu keburu ditemukan ibu saya karena merasa stok dagangannya ada yang hilang. Batal deh saya main rokok-rokokan (pakai rokok beneran) sama teman-teman saya. Duh, kalau ingat yang satu ini kok saya merasa bandel banget pas waktu kecil.

permen rokok (Gambar dari: food.detik.com)
permen rokok (Gambar dari: food.detik.com)

Sebagai gantinya, saya beli permen rokok-rokokan saja. Kebetulan di waktu itu lagi zaman permen rokok. Itu lho, permen yang bentuknya memanjang seukuran rokok dan dibungkus pakai kertas bergambar persis dengan rokok yang sedang menyala. Harganya kalau tidak salah Rp 100 saat itu. Kalau sudah beli permen rokok, saya dan teman-teman lalu pura-pura ngobrol sambil merokok. Rasanya sok iye banget dulu, haha. Sekarang sih saya sudah sadar kalau rokok nggak baik buat kesehatan jadi malah menjauh kalau ada yang merokok.

Nah, itulah kisah di balik jajanan masa kecil saya. Kalau ada hal-hal yang nggak baik jangan ditiru ya. Yuk, share juga pengalamanmu dengan makanan waktu kecil di kolom komentar.

 

ratna dewi

34 Comments
Previous Post
Next Post