Saya Pernah Sangat Tidak Percaya Diri Karena Kehilangan Anak

Setiap orang pasti ingin punya jalan hidup yang ideal, yang diimpikan. Saya pun demikian. Semua ingin berjalan ideal, normal, dan on the track. Dari sekolah-lulus-dapat pekerjaan dan penghasilan yang bagus-menikah di usia kebanyakan orang menikah-hamil dengan mudah-punya anak-karier tetap lancar setelah punya anak-anak tumbuh dengan baik-keluarga harmonis dan bahagia, begitu dan seterusnya. Semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Hidup memang kita yang menjalankan tapi jangan lupa ada titik-titik dalam hidup yang di luar kendali kita. Itulah takdir. Ada hal-hal yang memang datang di luar rencana kita. Ada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian kita. Namun, hal yang kadang terlupakan itulah justru mengubah hidup kita. Seperti halnya yang saya alami. Peristiwa kehilangan anak beberapa tahun lalu sungguh merenggut rasa percaya diri yang selama ini terpupuk.

Saya Si Anak yang Tumbuh dengan Penuh Percaya Diri

Dulu saya adalah orang dengan rasa percaya diri yang cukup tinggi. Perjalanan masa kecil saya membawa saya jadi gadis yang tumbuh dengan penuh percaya diri. Bapak saya dari kecil memang membiasakan saya untuk tampil di tempat umum. Mulai dari mengikutkan lomba nyanyi antar-RW, lomba nyanyi di radio, komunitas radio, tunjuk tangan di kelas, sampai disuruh naik panggung kalau ada pentas-pentas tertentu.

Dari situ saya tumbuh jadi anak yang penuh percaya diri. Saya tidak takut di tempat umum. Saya tidak minder bertemu orang baru. Saya punya prestasi cemerlang di sekolah. Saya dikenal orang-orang di kalangan kampung saya. Saya berhasil melanjutkan pendidikan di sekolah-sekolah favorit. Saya sangat percaya diri tampil di panggung-panggung umum. Saya selalu ingin duduk di bagian depan. Saya senang menjadi pusat perhatian. Begitulah saya, tumbuh dengan rasa percaya diri yang cukup tinggi.

Hidup saya pun on the track sekali. Target-target yang saya ciptakan banyak yang tidak meleset. Satu atau dua target tentu ada yang sedikit meleset tapi tidak gagal. Dari perkara melanjutkan sekolah ke tempat favorit, lulus tes ini itu, jadi sarjana dengan nilai yang memuaskan, dan tak perlu menunggu lama untuk bekerja. Selanjutnya saya membangun karir di media massa menjadi seorang jurnalis televisi, profesi yang membuat ibu saya sangat bangga. Hingga akhirnya saya menikah di usia 26 tahun. Lengkap sudah hidup saya. Semua on the track.

jadi reporter di televisi nasional membuat rasa percaya diri saya berada di titik tertinggi
jadi reporter di televisi nasional membuat rasa percaya diri saya berada di titik tertinggi

Lalu apakah saya nggak pernah ada masalah selama itu? Pernah pasti. Saya pernah bertemu dengan riak-riak gelombang tapi semua itu saya anggap mudah karena toh akhirnya bisa saya lalui. Saya anggap itu batu kerikil yang memperkokoh perjalanan kehidupan saya. Dan dari semua itu yang paling penting adalah saya masih berdiri tegak menjadi orang yang percaya diri, menjadi orang yang masih senang jadi pusat perhatian.

Hingga akhirnya sebuah peristiwa besar terjadi…

Kehilangan Anak yang Meruntuhkan Rasa Percaya Diri Saya

Pertengahan tahun 2014 lalu saya hamil. Rasanya bahagia sekali karena kehamilan ini sudah saya tunggu dalam waktu 11 bulan pernikahan saya dan suami. Kebahagiaan ini rasanya luar biasa dan semakin bertambah ketika bulan demi bulan berjalan. Kehamilan ini adalah kehamilan yang saya peroleh berkat program hamil. Kehamilan ini pula yang membuat tingkat percaya diri saya naik drastis karena di bayangan saya tak lama lagi saya akan jadi wanita seutuhnya.

kebahagiaan saya kala itu
kebahagiaan saya kala itu

Berkat kehamilan ini pula saya jadi semakin percaya diri ketika bertemu orang lain. Iya, karena sebelum hamil saya sempat minder ketika selalu ditanya “Udah isi belum?”. Bahkan, sebelum kehamilan pertama ini saya sempat bilang pada suami “Nggak akan mau pulang kampung sebelum hamil”. Dan memang saya baru pulang kampung setelah usia kandungan lima bulan.

Namun, ternyata ada hal yang saya lupakan. Saya terlalu bahagia. Saya lupa menyisihkan sedikit perasaan untuk rasa sedih. Saya lupa mengosongkan perasaan untuk rasa kecewa. Saya lupa bahwa apa yang ada di perut saya saat itu adalah titipan yang bisa diambil sewaktu-watu oleh Sang Pemberi Kehidupan. Hingga akhirnya sebuah peristiwa besar terjadi. Peristiwa yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Anak saya meninggal dalam kandungan…

Di usia 24 bulan ia yang saya namai Azka meninggalkan saya, suami, dan semua harapan kami. Rencana indah tentang tujuh bulanan, belanja baju, melahirkan, menyusui, dan kegiatan yang akan kami habiskan bersama hilang sudah. Saya sedih. Sangat sedih.

(Baca juga: Mengenal IUFD)

terkadang berkunjung ke makam anak saya tidak menyurutkan kesedihan saya
terkadang berkunjung ke makam anak saya tidak menyurutkan kesedihan saya

Babak baru dalam hidup saya dimulai. Rasa sedih, pilu, kecewa semua bercampur jadi satu. Puncaknya, saya enggan bertemu banyak orang. Saya malu bertemu orang lain. Saya tidak siap untuk terus-menerus ditanyai, disalahkan, dan dikasihani.

Bahkan, saat saya masuk kerja kembali setelah tiga bulan cuti melahirkan rasanya berat sekali. Saya mau tidak mau dan siap ataupun tidak harus berhadapan dengan kenyataan. Menghadapi pertanyaan “Anaknya cewek atau cowok?”, “anaknya sekarang sama siapa?”, atau “anaknya sudah bisa apa?” dari teman kerja atau pun narasumber. Dan pilu rasanya kalau harus menceritakan kembali, semuanya…

Tahun 2015, Tuhan kabulkan kembali permintaan saya untuk hamil lagi. Kehamilan yang kedua kali ini saya rahasiakan dan tidak banyak yang tahu karena saya takut gagal. Kehamilan kedua ini juga belum membuat rasa percaya diri saya kembali seperti semula. Benar saja, hanya sampai tujuh minggu kehamilan ini bertahan dan rasa percaya diri saya runtuh lagi di titik terendah.

Long short story, karena riwayat keguguran inilah saya akhirnya memutuskan untuk resign dari pekerjaan. Pekerjaan reporter yang sebenarnya membuat ibu saya begitu bangga. Berat hati memang melepasnya. Namun, paling tidak saya sedikit lega tidak bertubi-tubi menghadapi pertanyaan, judgement, hingga belas kasihan orang.

(Baca juga: Keputusan Besar)

melepas atribut yang selama hampir empat tahun menemani
melepas atribut yang selama hampir empat tahun menemani

Lalu apakah masalah saya selesai sampai disitu? Tidak. Rasa percaya diri saya masih berada di titik terendah. Apalagi judgement orang kian bertambah setelah saya resign. Judgement orang semakin bertambah tatkala status saya pengangguran dan berkali-kali gagal menjadi ibu. Di sini saya berada di titik tidak siap berinteraksi dengan orang lain selain keluarga saya. Saya tidak kuat menatap mata orang-orang yang belum apa-apa seperti sudah menghakimi saya.

Belum lagi ketika saya membuka social media atau bertemu dengan teman-teman lama. Pertanyaan “sudah isi lagi?” atau “mana anaknya?” selalu saja ada yang terlontar. Melihat betapa menggemaskannya bayi-bayi  yang mereka posting di media social atau dibawa ketika ada acara-acara pertemuan sungguh membuat hati saya ngilu. Dalam hati saya selalu berucap kalau seharusnya saya pun seperti mereka.

(Baca juga: Ketika Mereka Bertanya “Kapan Punya Anak?” pada Perempuan yang Pernah Keguguran)

Menghadapi berbagai macam judgement dan rentetan peristiwa memilukan membuat rasa percaya diri saya berada di titik kritis. Di kehidupan sehari-hari, supporter saya adalah suami. Saya nyaris tidak percaya diri melakukan kegiatan di luar sana tanpa pendampingan suami. Dari mulai fitness hingga datang ke acara blogger. Saya tidak percaya diri kalau datang sendiri, semuanya harus ditunggui suami.

Memulihkan Rasa Percaya Diri yang Hilang

Happiness is not something ready made. It comes from your own actions.Dalai Lama

Rasanya tidak berlebihan kalau saya mengucapkan terima kasih berkali-kali pada aktivitas ngeblog. Berkat ngeblog, saya sudah berani menuliskan uneg-uneg saya.

Lega?

Tentu, tetapi itu saja tidak menyelesaikan masalah. Perlahan, saya mulai berani membuka diri di lingkungan baru. Saya mulai bergaul dengan banyak blogger. Untungnya banyak blogger sangat terbuka dengan saya. Mereka tidak sedikit pun memandang ‘berbeda’ dengan saya. Lambat laun, rasa percaya diri saya mulai naik. Saya pun mulai belajar banyak hal soal ngeblog.

Yang lebih penting lagi, seiring naiknya rasa percaya diri saya mulai berani untuk kemana-mana sendiri. Saya sudah bisa kembali menetapkan target-target hidup saya. Sudah kembali ke level semula kah rasa percaya diri saya? Belum sepenuhnya, tapi saat ini saya berada di titik ternyaman dari proses pemulihan kembali rasa percaya diri yang sempat hilang.

Blog menolong hidup saya. Tak pernah terbersit sedikit pun dalam diri saya akhirnya ‘nyemplung’ menjadi blogger. Perlahan melalui tulisan-tulisan di blog, saya bisa mengaktualisasikan diri. Bahkan saya bisa berinteraksi dengan orang-orang yang serupa nasib dengan saya. Saya merasa tidak sendiri dan mulai bisa memberikan support bagi orang-orang yang senasib ditinggal meninggal buah hatinya saat masih dalam kandungan.

apresiasi sebenar-benarnya adalah email-email yang seperti ini
apresiasi sebenar-benarnya adalah email-email yang seperti ini

Melalui blog juga, saya merasa sangat diapresiasi. Apresiasi bukan datang dari banyaknya materi yang didapat. Banyaknya pembaca yang mampir ke blog hingga menghubungi saya via media sosial atau email untuk menyampaikan rasa terima kasih karena merasa sedikit lega setelah membaca tulisan saya adalah apresiasi yang sesungguhnya. Sementara itu, apresiasi lain juga muncul dalam bentuk materi dan sambutan pertemanan yang hangat dari para blogger. Sungguh, hal ini membuat rasa percaya diri saya yang sudah jatuh bangkit kembali.

Perkara resign dari kantor dan menjadi blogger, saya yakini ini semua sudah digariskan Yang Kuasa. Ini pilihan saya. Saya percaya pilihan ini akan membawa saya jadi seseorang yang lebih baik.

Ketika menulis blog, saya menjadi diri sendiri. Ketika menulis blog, rasa senang dan percaya diri saya seketika bangkit kembali. Hidup saya kini lebih terarah. Saya pun bisa menetapkan target-target sambil terus mengembalikan rasa percaya diri seperti semula. Seperti halnya tes tingkat kepercayaan diri yang sudah saya lakukan di www.serioxyl-confidence.com, seperti inilah saya sekarang.

hasil-test-serioxyl

Saya percaya dengan blog ratnadewi.me ini saya bisa, paling tidak, memberikan support pada perempuan-perempuan yang tidak percaya diri di luar sana karena belum memiliki anak. Karena nantinya, perkara memiliki atau ditinggalkan hanyalah masalah waktu.

Adakah di antara kalian yang pernah mengalami berada di titik terendah dalam hidup karena kehilangan sesuatu yang disayang? Sini kita pelukan dulu *group hugs*. Berikut saya kasih tip supaya kalian yang masih berusaha memulihkan rasa percaya diri juga bisa bangkit seperti saya:

  • Rehatlah sejenak dari lingkungan dan orang-orang yang memberikan energi negatif. Jauhi sementara atau selamanya orang-orang yang selalu berpikiran negatif, menuduh tak beralasan, mencibir, bahkan nyinyir yang membuat kita justru semakin terpuruk.
  • Masuk dan bergaullah dengan lingkungan baru. Pilih lingkungan baru yang memberikan pengaruh dan energi positif buatmu, yang selalu mendukung langkahmu, yang tak segan memperingatkanmu apabila langkahmu kurang tepat.
  • Selalu berikan sugesti positif pada diri sendiri. Ini yang selalu saya tanamkan. Salah satunya adalah dengan selalu membubuhkan hashtag #daysofhappiness di postingan-postingan instagram saya. Tagar ini bukan sekadar tagar tetapi suatu pengingat untuk saya bahwa setelah semua peristiwa pahit yang saya alami, saya akan menjalani hari-hari yang penuh kebahagiaan.

  • Keluarga adalah supporter terbaik kala lara. Karena saya hidup berjauhan dengan orang tua maka suamilah supporter terbesar saya. Saya pun patut berterima kasih pada suami yang selalu setia mendampingi dan menghibur saat sedih. Sesekali, ajaklah pergi sekadar liburan bersama dengan keluarga terdekat. Hal ini selain memberikan rasa bahagia juga melatih keberanian saya untuk kembali keluar rumah dan muncul di tempat umum.
  • Salurkan kesedihan dan energi negatifmu dengan melakukan hobi, kesenangan, atau passion yang sesuai dengan diri. Jangan justru menjerumuskan pada hal-hal yang merusak. Ayo kita ubah duka jadi karya karena niscaya karya akan memupuk rasa percaya diri. Kalau saya memilih melampiaskannya dengan menulis dan ngeblog. Kalau kalian bagaimana?
  • Jangan lupa ada faktor X yang terkadang tidak bisa diurut pikir secara logis tapi buat saya ini sangat bekerja dengan efektif: DOA. Kalau sudah mulai gelisah bersapalah dengan Tuhan, apapun agamamu, bagaimana pun caranya. Karena terkadang dengan doa semua beban menjadi sedikit ringan dan hati menjadi lega.

Sekarang saya yakin bahwa hidup bahagia tak selamanya harus seperti kereta yang berada pada jalurnya untuk mencapai stasiun tujuan. Tapi ada kalanya, hidup juga seperti cahaya yang berbelok atau berubah arah agar bisa menghasilkan keindahan alam seperti halnya sebuah pelangi.

Saat ini saya sedang terus berusaha ikhlas dan membahagiakan diri sendiri. Saat ini juga saya sudah legowo dan memulai kembali program hamil bersama suami. Doakan saya, doakan kami ya.

Ini kisah saya bergelut dengan rasa percaya diri, kalau kisahmu seperti apa?

“Post ini diikutsertakan dalam Blog Competition Serioxyl X IHB“

ratna dewi

 

28 Comments
Previous Post
Next Post