Bobo dan Kenangan yang Tak Terlupakan

Saya sudah bisa membaca dari kelas satu sekolah dasar (SD). Bisa membaca di waktu yang cepat membuat saya akhirnya jadi gila membaca. Saking hobinya, kata Bapak, saya sampai bacain buku pelajaran kalau buku bacaan saya sudah habis. Beruntung, waktu kecil orang tua saya bisa memberikan fasilitas langganan majalah mingguan. Majalah Bobo-lah saat itu yang jadi langganan saya.

Bobo jadi punya tempat tersendiri di masa kecil saya. Maklum, di kota kecil seperti Kutoarjo tidak ada toko buku sebesar Gramedia atau Gunung Agung. Pada zaman itu pun belum menjamur taman bacaan. Jadilah Bobo teman membaca saya satu-satunya karena majalah ini yang paling gampang dicari. Bapak saya langganan dari tukang koran yang notabene adalah temannya.

Bicara soal Bobo, saya seolah jadi ingin memutar kembali waktu. Banyak kenangan masa kecil saya dengan Bobo yang tak terlupakan. Inilah beberapa pengalaman unik saya dengan majalah Bobo saat kecil:

1.Β Bobo-ku dijual lagi sama ibu

Kalau ditanya kemana Majalah Bobo yang dibeli saat kecil dulu, jawabannya nggak ada. Bukan, bukan karena majalahnya sudah dibuang atau dikiloin tetapi Majalah Bobo dijual lagi sama ibu saya hari itu juga setelah selesai dibaca. Saya ingat banget, Bobo biasanya datang Hari Kamis. Hanya butuh beberapa jam buat menghabiskan satu majalah karena saking kutu bukunya saya plus Bobo yang memang tipis halamannya.

Karena ibu saya pedagang dan otak bisnisnya jalan terus jadilah itu majalah yang hanya bisa memuaskan anaknya beberapa jam dijual lagi di kiosnya dan ditaruh di jajaran majalah atau koran baru. Harganya pun dijual dengan harga Bobo baru. Bedanya hanya kalau ada bonus souvenir atau merchandise di dalamnya sudah saya ambil duluan. Alhasil, Bobo yang dijual ibu saya memang terbitan baru tapi nggak ada bonus di dalamnya. Sejak itu, saya kalau baca Bobo nggak boleh lecek apalagi kesiram air karena majalahnya mau dijual lagi. Pertanyaannya, trus ada yang beli nggak? Ada aja tuh. Jadi ibu saya menang banyak deh dari berlangganan Bobo bertahun-tahun.

2. Ke tukang loak demi Bobo bekas

Saya tak puas dengan hanya langganan Bobo karena Bobo baru habis dibaca hanya dalam beberapa jam. Beruntung ada tukang buku loakan di dekat rumah saya. Kayaknya, pada zaman itu ia adalah tukang loak buku satu-satunya di Kutoarjo. Buku yang dijual antara lain buku-buku bekas dari majalah hingga buku pelajaran. Bukunya dijual di emperan toko dan lesehan. Saya ingat, kalau pas hunting Bobo sampai harus merangkak-rangkak ngubek-ubeknya.

Di tukang loak itu semua bukunya bagus. Banyak yang sudah lecek, bau, dan sobek-sobek. Tapi saking cintanya saya sama membaca pada masa itu, saya rela baca buku yang kertasnya saja sudah kuning. Bobo yang dijual di tukang loak lebih murah. Kalau tidak salah ingat, seribu dapat tiga majalah. Bobo yang dijual pun bukan Bobo bekas tahun 90an, tahun saya kecil dulu tetapi tahun 80an. Bahkan saya pernah nemu Bobo terbitan tahun 70an yang harganya kalau tidak salah Rp 100. Dalamnya kayak apa? Bisa dibayangkan, udah kusam dan ada beberapa yang sobek. Tetapi toh tetap saja saya lahap sebagai bahan bacaan.

3. Hunting Bobo bendelan di toko buku

Selain hunting Bobo di loakan, saya juga suka hunting Bobo bekas bendelan. Apaan tuh Bobo bendelan? Bobo bendelan adalah bobo yang dijilid bundel, satu bundel terdiri atas beberapa edisi. Biasanya sih berisi 5-6 edisi. Kalau di loakan Bobo yang dijual itu tahun-tahun lama sedangkan Bobo bendelan ini walaupun bekas tapi tahunnya masih belum terlalu lama. Saya biasa hunting Bobo bendelan di toko buku Sukses, toko buku legendaris dekat rumah saya.

Bobo bendelan ini sesungguhnya adalah Bobo bekas yang tak laku di jual di toko buku Sukses. Biasanya Bobo yang dibendel/dijilid ini adalah Bobo setahun atau dua tahun sebelumnya. Selain Bobo, di Sukses juga ada Majalah Donal Bebek bendelan. Tapi, karena saya nggak begitu tertarik dengan Donal Bebek karena tulisannya terlalu kecil dan format gambarnya seperti komik jadi incaran saya cuma Bobo. Satu Bobo bendelan harganya sekitar Rp 10.000.

4. Gunting-gunting halaman Bobo milik taman bacaan

Kalau yang satu ini, plissss jangan ditiru karena nggak baik. Ini karena saya aja yang nakal waktu kecil, hihi.

Jadi, saat kelas empat SD mulai ada taman bacaan yang buka di daerah rumah saya. Namanya taman bacaan OKE. Sebelum saya teracuni oleh komik-komik macam Mari Chan atau Candy-Candy, saya masih sering pinjam Bobo dari taman bacaan. Tibalah pas ada tugas bikin kliping di sekolah, saya pakai artikel-artikel atau cerita dari Bobo buat saya tempelkan di buku kliping. Artikel klipingan Bobo ini berasal dari Bobo punya taman bacaan yang saya gunting-gunting dalamnya. Saya melakukannya karena saya ogah rugi kalo Bobo yang saya punya jadi rusak.Β Sedangkan Majalah Bobo saya yang baru kan sudah dijual ibu begitu selesai dibaca.

Kalau dipikir-pikir dulu saya nakal juga ya. Dan anehnya, mas-mas penjaga taman bacaan nggak pernah ngeh kalau majalah yang saya pinjam dalamnya sudah tidak utuh alias compang-camping bekas guntingan. Ini karena, setiap saya mengembalikan tidak pernah diperiksa lagi. Pliisss, untuk bagian yang satu ini jangan ditiru ya soalnya kalau mikir hal ini saya jadi merasa ‘kok dulu saya nakal bin iseng ya’.

Duh, menulis ini jadi kangen baca Majalah Bobo. Ternyata saya sudah lama sekali nggak baca Majalah Bobo. Seingat saya, terakhir membaca Bobo kalau tidak pas SMP ya SMA. Tapi, setelah dipikir saya bersyukur juga Bobo mengisi masa kecil saya. Paling tidak, saya jadi tahu banyak hal dan tersalurkan hobi membacanya lewat Bobo. Terima kasih, Bobo.

 

 

44 Comments
Previous Post
Next Post