Pengalaman Terjebak di Kumpulan Tas Bernilai Ratusan Juta

Beberapa hari yang lalu saya temu kangen bersama salah seorang sahabat, teman main saat kuliah lebih tepatnya, di sebuah mall di pusat Jakarta. Teman saya, namanya Kak Okta, sedang ada pekerjaan di Indonesia. Dia sudah lama tinggal Austria dan kami sudah sembilan tahun nggak ketemu. Sembilan tahun nggak ketemu, ternyata pas temu kangen sama Kak Okta saya dapat pengalaman baru.

Kami bertemu di sebuah bazaar barang-barang bermerek di mall tersebut. Kenapa disitu? Karena Kak Okta di Austria adalah penjual barang-barang branded, dari tas, sepatu, sampai perhiasan berbagai merek dan sedang ada bisnis disitu. Selain itu, Kak Okta juga menitipkan barang-barang bermerek bawaannya dari Austria di bazaar tersebut.

kak-okta
saya dan Kak Okta

Saya nggak keberatan ketika menemani Kak Okta berburu barang branded yang akan dibawa pulang dan dijual lagi ke Austria. FYI, Kak Okta punya akun jualan di Instagram yaitu addicted2brand, bisa dilihat langsung di instagram ya sis, hihi.Β Ini berarti, Kak Okta nggak asing sama barang-barang bermerek dan sudah biasa berkomunikasi sama sosialita pemburu tas ratusan juta rupiah.

Awalnya, ketika menemani saya masih ragu kalo barang-barang di bazaar tersebut asli. Saya kira KW aja gitu kayak di ITC soalnya barang-barangnya yang mayoritas adalah tas bermerek cuma ditaruh begitu saja. Memang ada yang dipajang atau di-packing khusus misal dilapisin plastik tapi itu juga cuma sedikit. Padahal satu tas harganya jutaan rupiah. Waaaww, berapa kali upah job review ya?

satu tas harganya puluhan juta tapi diecer begini aja majangnya
satu tas harganya puluhan juta tapi diecer begini aja majangnya
harganya silau atau bikin silau?
ini second lho ya
satu harga tas bisa buat DP KPR nih
satu harga tas bisa buat DP KPR nih

Selanjutnya Kak Okta ngobrol sama si pemilik booth. Pemilik booth di sini sebagian besar adalah sosialita yang biasanya bukan hanya kolektor tas branded tetapi juga sudah menjadikan tas-tas bermerek tersebut sebagai sebuah bisnis. Bisnis yang menggiurkan dan mendatangkan untung besar tentunya karena bazaar dengan produk yang harga satuannya bernilai jutaan rupiah tersebut ternyata banyak banget pengunjungnya. Pas saya lihat penampilan dari atas ke bawah semuanya bermerek, dari kaki sampai kepala. Mungkin disitu saya aja yang bebas melenggang nggak pakai tas ratusan juta, tas saya cuma ratusan ribu.

Sebagai mantan wartawan yang juga pernah liputan dan minimal pegang tas ratusan juta, saya sih nggak kaget ya. Tapi ketika berada di tengah-tengah para sosialita itu saya heran bin kagum. Yap, apalagi kalo nggak mendengarkan apa yang mereka omongkan. Yang namanya ngobrolin atau beli tas yang harganya puluhan atau ratusan juta itu ibarat mau beli gorengan lho, nggak pakai pikir panjang.

hayo tebak itu yang jilbab putih artis siapa?
hayo tebak itu yang jilbab putih artis siapa?

Setelah puas putar-putar sama Kak Okta, kami pun melipir ke tempat makan. Sambil berkangen-kangenan, saya diceritain juga tentang fenomena-fenomena kepemilikan barang bermerek di Indonesia. Dari pembicaraan itu ternyata saya semakin ngeh bahwa sosialita yang koleksi tas harganya ratusan juta bahkan miliaran itu benar-benar ada lho di Indonesia. Bahkan teman Kak Okta penggila tas bermerek yang koleksinya sudah hampir satu kamar banyaknya. Kalo udah kayak begini, masih bilang negara kita miskin? Atau memang sebenarnya kesenjangan sosial itu benar adanya dan jurang pemisahnya semakin lebar? Dari obrolan itu, saya banyak dapat pengetahuan baru nih, antara lain:

1. Banyak orang Indonesia yang beli tas ratusan juta kayak beli gorengan, nggak pakai mikir. Begitu ada model terbaru langsung beli. Maka nggak heran kan kalo pernah denger berita salah satu seri tas bermerek yang cuma diproduksi beberapa buah saja salah satunya dimiliki oleh orang Indonesia. Sedangkan produk yang sama dimiliki juga sama Victoria Beckham.

2. Kebanyakan orang Asia suka tas bermerek dengan warna-warna ngejreng seperti kuning, pink, orange, tosca, putih, atau merah. Sedangkan orang Eropa suka warna-warna gelap atau kalem kayak hitam, khaki, cokelat, atau abu-abu.

3. Orang Indonesia adalah konsumen tas yang apik. Second hand tas bermerek di Indonesia masih mulus. Kalau pun ada cacat paling sedikiiit banget kayak kulitnya cuil beberapa milimeter atau warnanya sedikit kusam. Sedangkan second hand tas bermerek yang sudah dipakai orang Eropa pastilah udah wassalam. Ya, karena mereka memang benar-benar buat dipakai bukan cuma buat gaya. Makanya Kak Okta gencar cari tas bermerek second hand dari Indonesia buat para pelanggannya di Eropa karena kondisi fisiknya masih bagus. Apalagi untuk seri-seri tertentu yang langka atau bahkan sudah nggak keluar biasanya justru nemu di Indonesia. Orang Indonesia memang sangat merawat tas bermereknya.

4. Di Indonesia orang bisa pakai tas bermerek buat sekedar jalan ke mall, jemput anak, atau pergi wisata ke kebun binatang bahkan dengan baju seadanya yang penting gaya nenteng tas branded. Sedangkan di Eropa,Β untuk pakai tas bermerek orangnya biasanya memang berpenampilan gorjes dari head to toe. Tasnya dipakai memang buat di acara-acara yang istimewa.

5. Demi gaya, orang Indonesia rela beli tas bermerek sampai utang atau kredit. Bahkan, biar kata nggak ada duit pas jalan ke mall juga sempat-sempatin masuk ke counter tas branded buat sekedar window shopping. Sementara, counter-counter tas branded di Eropa hanya dimasuki orang-orang yang memang punya kemampuan buat beli tas tersebut.

6. Tas bermerek juga ada kastanya, tiga merek tas dengan kasta yang tinggi yaitu LV, Chanel, dan Hermes. Kalo di Indonesia, Hermes yang kayaknya paling mendongkrak status sosial pemakainya.

7. Jangan kira artis atau orang yang nenteng tas bermerek itu beneran dia beli gress baru dan sepenuhnya miliknya. Bisa jadi dia beli second (kayak di bazaar ini dan saya liat beberapa artis nyobain tas bermerek second), atau rental, atau malah KW. Kalo masalah tas branded rental, saya pernah liputan (bisa googling, Butterfly Republic). Memang ada yang menyewakan tas bermerek dengan sistem member atau keanggotaan terbatas, tujuannya biar orang nggak boros beli tapi bisa tetep kece dan gaya gonta-ganti tas.

8. Orang yang sudah terbiasa pegang atau beli tas bermerek biasanya sudah mengetahui betul seluk-beluk tasnya. Dari seri, warna, model, perangkat di dalamnya, sampai sertifikat. Makanya mereka tahu betul mana yang asli dan mana yang abal-abal. Antarsesama kolektor tas bermerek juga biasanya sudah saling kenal.

9. Orang yang sudah ‘langganan’ beli dan punya member card merk tertentu biasanya punya keistimewaan khusus baik itu soal harga yang lebih murah atau informasi yang paling update jika ada seri baru tas yang keluar. Maka nggak heran ketika dijual lagi untungnya bisa puluhan atau bahkan ratusan juta. Tentunya ini sudah lebih dari cukup buat nombokin tiket perjalanan mereka berburu tas keliling Eropa.

10. Orang Eropa malu pakai tas KW dan mendingan nggak usah pakai daripada KW. Sementara di Indonesia, biar dikata sosialita ada juga yang ikut nenteng tas bermerek tapi ternyata KW.

Jadi ya segitu dulu serba-serbi soal tas bermerek dan pemiliknya. Saya sempet kaget sih pas Kak Okta cerita ini tapi bersyukur juga karena dapat informasi baru. Dan berada di tengah-tengah sosialita pengguna tas bermerek merupakan pengalaman baru yang tak terlupakan. Saya juga nggak minder karena nggak pakai tas KW, haha.

Terima kasih Kak Okta sudah mengajak saya muter-muter.

foto jadul nih, btw saya cocok nggak kalo nenteng beginian?
foto jadul nih, btw saya cocok nggak kalo nenteng beginian?

 

ratna dewi

 

73 Comments
Previous Post
Next Post