Hati-Hati dengan Kesalahan Penulisan Nama dalam Dokumen di Era Digital

Pertengahan tahun ini saya agak menarik diri dari dunia blogger dan datang ke beberapa event blogger. Alasannya bukan karena saya bosan tetapi karena saya sibuk mengurusi adik saya yang mau masuk kuliah. Kesenjangan antara orang tua saya dan teknologi membuat saya akhirnya harus take over perkara cari sekolah adik. Iya, bapak ibu saya nggak cukup melek teknologi sedangkan masuk sekolah apalagi perguruan tinggi zaman sekarang agak sulit kalau tidak ada penguasaan teknologi dari orang tua atau wali murid.

Singkat cerita, sekarang adik saya sudah kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. Tapi perjuangan buat masuk ke perguruan tinggi itu susahnya minta ampun. Selain kemampuan adik saya yang pas-pasan dan mungkin faktor luck-nya kurang (karena berkali-kali ikut tes gagal terus, nggak kayak saya yang sekali SPMB langsung dapat, haha), saya juga diribetkan dengan segala dokumennya. Ya, karena adik saya bersekolah di Purworejo sementara ia mau kuliah di Jakarta. Jadilah saya berharap banget sama bapak dan ibu yang mondar-mandir ke sekolah adik saya buat mengurus dokumen.

Selain ribet mengurus dokumen, kami semua juga ribet sama kesalahan di beberapa dokumen. Kesalahannya sepele banget yaitu penulisan nama adik saya. Nama dia yang sebenarnya berdasar akta kelahiran adalah WIDODO DWI YULIYANTO tapi di beberapa dokumen ditulis WIDODO DWI YULIANTO. Sepele kan? Cuma kurang huruf Y aja.

Padahal menurut saya nama adik saya nggak susah kayak nama anak-anak zaman sekarang. Kebayang nama anak-anak zaman sekarang banyak yang ejaannya susah. Contohnya ejaan I ditulis dengan Y atau EE, huruf yang dobel, ada huruf H di tengah-tengah huruf konsonan dan vokal, atau nama-nama yang diambil dari bahasa asing yang penulisannya susah atau menggunakan huruf/tanda baca tertentu misalnya curek atas (‘) itu rawan salah tulis di dokumen. Kayak nama keponakan saya, ADEEVA SHAQUILLA AFSHEEN (kayaknya sih begini tulisannya) yang dibaca Adiva Saquila Afsin.

(Baca juga: Repotnya Punya Nama Pasaran)

Nama-nama yang rumit penulisannya ini menuntut orang tuanya teliti saat dituliskan dalam dokumen. Paling tidak, mulai dari akta kelahiran. Karena salah sedikit saja bisa repot ke depannya. Apalagi saat ini dimana data-data diri sudah di-record di media digital mulai dari saat lahir, sekolah, hingga mungkin bekerja. Maka tak heran untuk urusan penulisan nama yang benar memang penting sekali. Salah tulis satu huruf saja bisa mengubah banyak hal dan panjang urusannya. Ibaratnya, salah nulis satu huruf saja di kolom URL saat blogwalking bisa jadi broken link. Yah, seperti itulah yang adik saya alami.

Nah, ini beberapa dokumen penting adik saya yang mengalami kesalahan penulisan nama:

  • Kesalahan menuliskan nama di raport
  • Kesalahan menuliskan nama di daftar data diri dan kartu NISN

Sementara itu, bapak dan ibu saya nggak ngeh dengan itu atau mungkin ngeh tapi dibiarkan karena nggak mikir efeknya bisa panjang. Padahal sekarang semuanya serba digital. Panitia seleksi penerimaan baik itu penerimaan mahasiswa, siswa, atau bahkan pegawai negeri bisa dengan mudah mengakses data dan mencocokkan apakah data yang diisi valid dan benar. Banyak bank data yang sudah bisa diakses dengan mudah saat ini. Kalau beda sedikit saja bisa jadi masalah. Paling nggak, panitia pasti akan menanyakan kebenaran datanya.

Contoh kasusnya nama adik saya di NISN kok beda dengan nama di akta kelahiran. Kalau nggak segera diurus saya khawatir bisa panjang lagi urusannya. Daripada kenapa-kenapa dan menyesal, misalnya sudah diterima di sekolah yang diinginkan tapi tersandung masalah penulisan nama di dokumen, akhirnya kami pun memperbaiki semua dengan:

1. Mengganti seluruh lembar raport asli adik saya selama enam semester di SMK

Karena, sejak awal di raport SMK penulisan namanya memang sudah salah. Padahal raport dan ijazah SD dan SMP adik saya benar penulisan namanya. Daripada terlanjur, berkepanjangan, dan mumpung belum di-submit dokumen-dokumennya ke website pendaftaran perguruan tinggi jadi kami memilih mengganti ulang seluruh lembar raport. Totalnya ada enam semester lembar raport yang diganti. Beruntung, guru dan kepala sekolah adik saya kooperatif. Hanya butuh dua hari lalu raport baru pun jadi.

2. Meminta surat keterangan salah penulisan nama NISN di sekolah awal pembuatan NISN

NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) ini berlaku pada siswa selama ia sekolah. Biasanya pada saat pendaftaran sekolah, NISN ini digunakan. Eh ndilalah, kartu NISN adik saya hilang. Untuk tahu NISN-nya saya harus cari di website Kemdikbud. Pas saya masukkan nama WIDODO DWI YULIYANTO dan tempat tanggal lahir adik saya ternyata nggak ada datanya. Giliran saya memasukan nama WIDODO DWI YULIANTO beserta tempat tanggal lahirnya ternyata keluar NISN-nya.

Paniklah saya apalagi kartu NISN-nya hilang dan yang ada cuma fotokopi. Untungnya, persyaratan hanya memerlukan fotokopi NISN. Tapi tetap saja, nama yang tertera di kartu NISN berbeda dengan yang di KTP dan KK. Lalu saya browsing soal kesalahan nama yang ditulis di NISN. Dari hasil browsing lho kok malah mengharuskan daftar lagi seperti membuat NISN baru yang mana hal itu membutuhkan waktu lama. Sementara saat itu adik saya sudah diterima di perguruan tinggi dan semua persyaratan harus dilengkapi dalam dua hari.

Kami lalu bertanya pada kerabat yang bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Saran beliau, adik saya nggak perlu bikin NISN lagi tapi cukup melampirkan surat keterangan kesalahan penulisan nama dari sekolah tempatnya membuat NISN. Itu artinya, harus ada surat keterangan dari SD dimana adik saya membuat NISN.

Akhirnya, bapak saya esok pagi harinya datang ke SD dimana dulu adik saya sekolah untuk meminta surat keterangan kesalahan penulisan nama tersebut. Beruntung, pihak guru dan sekolah kooperatif jadi hari itu juga selesai dan tinggal di-scan lalu kirim via email ke saya. Fiuuhhh, case closed deh.

surat keterangan kesalahan penulisan nama di NISN
surat keterangan kesalahan penulisan nama di NISN

Setelah itu, saya banyak belajar dari peristiwa penulisan nama. Kesalahan yang sepele tapi akibatnya bisa merepotkan. Oleh karena itu, bagi para orang tua saya punya saran nih agar kasus seperti adik saya tidak terulang kembali:

  1. Pilihlah nama anak yang mudah dalam ejaan dan penulisan supaya kelak tidak dipusingkan karena kesalahan satu huruf saja.
  2. Selalu teliti setiap dokumen penting dimana ada nama kita, anak, atau keluarga kita. Periksa dengan teliti apakah huruf per hurufnya sudah sesuai dengan akta kelahiran.
  3. Selalu tekankan pada petugas atau orang-orang yang akan membuat dokumen penting yang ada penulisan namanya misal petugas kelurahan, Pak RT, petugas catatan sipil, atau guru soal penulisan nama. Apalagi nama-nama yang susah ejaan dan penulisannya. Kalau perlu beri notes yang bertuliskan nama dengan huruf yang besar. Yah, maklum lah orang kan tempatnya salah dan dosa. Siapa tahu mereka-mereka sedang lelah atau ngantuk jadi bisa saja salah menuliskan nama.
  4. Kalau menemukan kesalahan penulisan nama di dokumen apapun itu, secepatnya melapor untuk diperbaiki. Jangan ditunda-tunda. Lebih cepat lebih baik karena memperbaiki dokumen biasanya butuh waktu yang tidak sebentar.
  5. Selain penulisan nama, jangan lupa juga cermati data diri lain dalam dokumen penting misalnya tempat lahir, tanggal lahir, nama orang tua, dan sebagainya. Jangan sampai ada kesalahan. Kalau pun ada kesalahan, berlaku saran-saran saya yang di atas ya.

Ada yang pernah punya pengalaman serupa dengan saya? Yuk, share juga di kolom komen ya.

 

ratna dewi

60 Comments
Previous Post
Next Post