Visit Tidore Island – Melihat Surga Kecil Bersahaja di Maluku Utara

Ino marimori nyinga… (Mari satukan hati…)
Munara baso dadi kuwae… (Agar beban yang berat menjadi ringan…)
Hamoi ua ngone bato… (Jika semua bersaudara…)
Maku gosa jira ifa… (Jangan saling memburukkan…)
Gabi gura matai dou… (Walau kita berbeda…)
Dolo-dolo fomaku baso… (Tapi tetap saling menghargai…)
(Moro-Moro)

Saya menutup buku Laki-Laki dari Tidore karya Alberthiene Endah. Ada rasa yang membuncah di dada ketika membaca kisah Achmad Mahifa, Walikota Tidore periode 2005-2015 ini.

Tidore dalam ingatan saya adalah suatu daerah yang namanya kerap muncul dalam buku-buku sejarah sekolah. Tentang kisah kesultanan, heroisme perlawanan penjajah, serta rempah-rempah yang konon menjadi magnet Bangsa Eropa mau jauh-jauh berlayar ke Indonesia. Namun, ternyata Tidore tidak hanya tentang masa lalu. Tidak hanya tentang sejarah. Tidore lebih dari itu.

tidore wikipedia
Captured from Google

Kota Tidore Kepulauan atau yang dikenal dengan nama Tidore merupakan salah satu kota yang terletak di Provinsi Maluku Utara. Tidore Kepulauan terletak di sebelah barat pantai Pulau Halmahera. Letak pulaunya sangat dekat dengan Ternate bahkan perjalanan ke Tidore dari Ternate hanya memakan waktu sekitar 30 menit menggunakan speedboat. Tidore secara historis merupakan salah satu kota yang memiliki peninggalan kerajaan Islam sejak abad ke-7.

Kata Tidore berasal dari gabungan tiga rangkaian kata Bahasa Tidore, yaitu To Ado Re yang artinya “Aku Telah Sampai”. Jauh sebelum Islam datang ke bumi nusantara, Tidore dikenal dengan nama “Limau Duko” atau “Kie Duko” yang berarti pulau yang bergunung api. Ya, Tidore adalah sebuah pulau dimana gunung dan laut kompak mewujudkan keindahan alam. Tidore adalah sebuah daerah dimana pembangunan bisa berjalan tanpa menggerus nilai-nilai kearifan lokal. Tidore adalah sebuah daerah di mana kejayaannya tertulis di buku-buku sejarah sekolah dan dipelajari dari generasi ke generasi.

Tidore bukan cuma berjaya pada masa lampau. Sampai saat ini Tidore masih menyimpan banyak tempat indah yang menjadi magnet bagi pengunjung. Kota Tidore masih tumbuh dengan kesahajaannya. Jalanan kota mulus beraspal yang jauh dari bising dan kemacetan bersisian dengan rumah-rumah penduduk yang rata-rata beratapkan seng. Di sisi lain, hamparan laut yang berombak tak henti menambah kesegaran dan kecantikan alam Tidore. Alberthiene Endah dalam bukunya menggambarkan “Bunyi yang memimpin di Tidore adalah suara debur ombak dan azan. Tempat hiburannya adalah alam dengan segala nuansa sunyinya. Tidore memiliki banyak ruang untuk menemukan tenteram.”

Kearifan Lokal dan Budaya Tidore

Tidore tumbuh dengan kearifan lokalnya. Kemajuan zaman tak menggerus kesahajaannya. Salah satunya adalah lagu Moro-Moro yang saya tuliskan di atas. Moro-moro hingga saat ini masih dilestarikan, bersama dengan budaya Kabata. Moro-Moro dan Kabata adalah sebuah iringan atau nyanyian masyarakat Tidore yang dilagukan secara berbalas-balasan antarkelompok saat mengolah hasil panen atau bergotong-royong ketika melakukan suatu pekerjaan. Kearifan lokal ini dilestarikan karena konsep dan semangat gotong-royong yang dimiliki masyarakat Tidore ada di dalamnya. Budaya ini menjadi alat pemersatu di kalangan masyarakat.

Namun, jauh dari itu lagu Moro-Moro buat saya memiliki nilai filosofis yang amat dalam. Bukan cuma tentang gotong-royong di Tidore tetapi juga cocok melambangkan persatuan di Indonesia. Maknanya seolah menyentil kita di tengah panasnya berbagai isu yang bergulir di tanah air akhir-akhir ini. Lagu Moro-Moro seolah ingin memberi tahu bahwa apapun perbedaan kita, jangan saling memburukkan. Malu lah kita yang hidup zaman sekarang serba sensitif soal perbedaan apapun, padahal sejak dulu masyarakat Tidore sudah menggaungkan soal persatuan melalui sebuah lagu.

Selain Kabata dan Moro-Moro, masih ada beberapa budaya khas Tidore yang patut kita ketahui. Dari yang berbentuk ritual adat sampai tari-tarian. Budaya-budaya ini patut untuk terus dilestarikan karena memiliki nilai filosofis yang dalam.

1. Syahdunya Pelayaran Ritual Adat Lufu Kie

Lufu Kie adalah perjalanan laut atau pelayaran ritual adat “Hongi Taumoy se Malofo” sebagai bentuk ungkapan rasa syukur Sri Sultan se I Bobato atas telah terciptanya keamanan, kedamaian, ketentraman kehidupan rakyat Kesultanan Tidore. Prosesi ritual adat Lufu Kie diawali dari Kedaton Kesultanan Tidore. Sultan Tidore didampingi Jou Boki bersama para Bobato dan Imam Syara sebelum keluar dari kedaton, dibacakan salawat oleh Imam Ngofa, kemudian Imam Togubu membacakan doa selamat.

lufu kie (tidore.go.id)
Pelayaran Lufu Kie (Sumber foto: https://tidorekota.go.id/)

Selanjutnya Sultan dan rombongan berjalan kaki dari kedaton menuju doro kolano atau dermaga Kesultanan. Sebelum naik ke Kagunga, Imam Kesultanan Tidore membacakan doa selamat. Kemudian, Jojau mengeluarkan idin kepada Gimalaha MarsaolySogaro Hongi”, Gimalaha Marsaoly meneruskan idin tersebut Kepada Gimalaha Tomaloutola pandara, naro tapu”, dan Gimalaha Tomalou menyerukan ”Hongi Taumoi se Malofo”. Maka bertolaklah barisan perahu juanga sesuai urutan diikuti perahu Kagunga Sultan diiringi pukulan tifa. Perahu-perahu ini akan mengelilingi Pulau Tidore. Rombongan juga tak lupa berziarah ke makam keramat para Waliullah yang telah berjasa besar pada Kesultanan Tidore.

2. Tegangnya Atraksi Baramasuwen (Bambu Gila)

Baramasuwen atau bambu gila adalah atraksi budaya dengan menggunakan sebatang bambu dengan panjang sekitar empat ruas, sabut kelapa, kemenyan, dan bara api. Bambu-bambu tersebut dipegangi oleh lima atau lebih orang kemudian sang pawang meniupkan asap kemenyan sambil membaca doa untuk mengisi kekuatan di lubang bambu tersebut. Tak berapa lama bambu-bambu tersebut bergerak sendiri. Atraksi ini pada zaman dahulu digunakan untuk mengangkat material berat dalam proses pembangunan.

3. Tobo Safar, Bukan Sekadar Mandi Biasa

tobo safar (tidore.go.id)
Ritual Tobo Safar (Sumber foto: https://tidorekota.go.id/)

Ritual Tobo Safar adalah sebuah prosesi mandi untuk membersihkan diri secara massal yang dilaksanakan pada Bulan Safar.  Prosesi adat Tobo Safar ini dilakukan sebagai simbol meminta pertolongan kepada Allah SWT agar seluruh masyarakat Kota Tidore kepulauan terhindar dari segala macam bahaya dan fitnah. Kegiatan ini sarat dengan nuansa adat Tidore. Biasanya dalam kegiatan Tobo Safar akan ditampilkan atraksi budaya seperti parade juanga, tarian tradisional, pementasan musik tradisional, dan sajian makanan adat Tidore. Prosesi ini biasanya dilaksanakan hampir di seluruh tempat di Kota Tidore Kepulauan, namun oleh masyarakat Desa Mafututu dikemas dalam ritual adat dan gelar seni budaya yang dipusatkan di Teluk Gamgau.

4. Semangat Sejarah Perjuangan dalam Paji Nyili-Nyili

Secara harfiah “paji” berarti bendera dan “nyili” berarti daerah. Paji Nyili-Nyili atau Obor Negeri-Negeri merupakan simbolisasi atas semangat sejarah perjuangan Sultan Nuku dan pasukannya pada tanggal 12 April 1797 yang dikenal sebagai Revolusi Tidore. Biasanya Paji Nyili-nyili diarak dari malam hingga pagi hari. Rute Paji Nyili-Nyili merujuk pada rute perjuangan Sultan Nuku yang berkonsentrasi di Akelamo, Pulau Mare, dan Pulau Tidore. Prosesi ini berlangsung setiap tahun tepatnya pada bulan April.

5. Heroisme dalam Tarian Soya-Soya

Tarian soya-soya merupakan bagian dari budaya Maluku Utara. Tarian ini mengisahkan tentang perang yang dilakoni oleh kaum pria, diiringi alat musik tifa dan gong. Tarian Soya-Soya Tidore memiliki ciri khas tersendiri di antaranya adalah dibawakan dengan pakaian dan pola gerak yang berbeda. Mereka pun memaknai tarian dengan arti yang berbeda-beda sesuai dengan jenisnya. Misalnya Soya-Soya Seli (dipentaskan di keraton), Soya-Soya Malige, Soya-Soya Kalaodi, dan Soya-Soya Romtoha.

6. Keramahan Penyambutan Tamu dalam Tarian Barakati

Tarian Barakati (Sumber foto: https://tidorekota.go.id/)
Tarian Barakati (Sumber foto: https://tidorekota.go.id/)

Tarian Barakati adalah tarian khas Tidore yang menggunakan Tifa, Saragi, dan Rebab. Tarian ini biasanya dijadikan sebagai tarian penyambutan tamu yang berkunjung ke Tidore. Maksud dari tarian ini adalah memohon berkah dan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa agar para tamu dapat menikmati perjalanan selama di Tidore sampai kembali ke tempat tujuan dengan selamat.

7. Ngeri-Ngeri Sedap Melihat Atraksi Ratib Taji Besi

Tradisi ini merupakan salah satu ritual keagamaan yang berkembang dalam tradisi masyarakat Islam di Tidore. Tradisi ini dilakukan untuk menebus nazar tertentu. Prosesi dilakukan dengan kegiatan ratib dengan wirid tertentu dalam tahlilan dan dihadiri para Joguru (petinggi kesultanan), pejabat tetangga, dan kerabat dekat. Atraksi yang menggunakan ritual sakral ini menggunakan benda tajam dan ditancapkan ke tubuh manusia.

Jatuh Cinta Pada Gurabunga

Jatuh cinta saya yang pertama ketika membaca sesuatu tentang Tidore adalah dari Gurabunga. Gurabunga adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Tidore yang letaknya berada di ketinggian 1.100 mdpl. Gurabunga letaknya berada di lereng Gunung Kie Matubu. Gunung Kie Matubu yang sering terlihat diselimuti kabut membuat Gurabunga seolah terlihat seperti negeri di atas awan. Tak jarang juga orang menjuluki tempat yang terkenal akan kebun sayur dan rempahnya ini dengan ‘kulkasnya Tidore’ karena hawanya yang dingin.

Gurabunga terasa istimewa karena di tempat ini alam dan kebudayaan Tidore masih terasa kental. Nama Gurabunga berarti kebun bunga karena ketika menginjakkan kaki di kelurahan ini, konon kita akan disambut deretan bunga warna-warni di pinggir jalan. Selain nama dan letaknya yang istimewa, ada beberapa hal yang membuat Gurabunga terasa spesial, antara lain:

1. Keanekaragaman Marga

Kelurahan ini dihuni oleh lima marga yaitu Mahifa, Toduho, Tosofu Malamo, Tosofu Makene, dan Folasowohi. Lima marga ini hidup berdampingan dengan damai dan harmonis. Setiap marga juga memiliki pemimpin adat masing-masing.

2. Rumah Adat Fola Sowohi

Fola Sowohi, berasal dari dua kata yaitu fola dan sowohi. Fola berarti rumah sedangkan sowohi berarti tuan rumah. Fola Sowohi dikenal sebagai rumah musyawarah dalam tradisi masyarakat Tidore. Karena rumah adat Fola Sowohi merepresentasi kumpulan dari lima marga pembentuk Tidore. Fola Sowohi ini terdapat di Gurabunga.

Fola Sowohi termasuk bangunan suci. Selain berfungsi untuk aktifitas masyarakat, seperti: musyawarah untuk membuka kebun baru, panen  serta penyelesaian sengketa-sengketa adat lainnya, Fola Sowohi juga berfungsi sebagai tempat ritual adat yang berkaitan dengan ritual magis yang menunjuk pada penyembahan bagi roh leluhur untuk penyembuhan. Masyarakat setempat memercayai bangunan tersebut dialiri mukjizat berkat kekuatan doa dan pertolongan roh-roh gaib. Konon tanah padat yang menjadi lantai rumah itu biasa dicongkel dan dijadikan obat penyembuh.

@Regrann from @annie_nugraha – RUMAH ADAT | Gurabunga | TIDORE . Ada 5 rumah adat yg didirikan di Kelurahan Gurabunga | Rumah ini dirawat oleh para Tetua Adat yg bertugas menjaga kelestarian adat istiadat di Tidore | Dibangun beralaskan tanah dengan dinding bambu diikat terpaut 2 yg menguatkan kepatuhan akan 2 kalimat syahadat di dalam Islam Di rumah ini pulalah terjadi proses penerimaan dan perembukan para Tetua Adat dari para leluhur pada saat pemilihan Sultan | Dan tidak semua orang diperkenankan masuk terutama pada saat rangkaian kegiatan ini berlangsung Para pemenang lomba MENULIS BLOG TENTANG TIDORE akan kami ajak melihat dan meliput langsung kelima rumah adat ini di bulan April 2017 #GurabungaTidore #TidoreKepulauan #VisitTidore #PesonaTidore #WonderfulTidore #NgofaTidore #TidoreUntukIndonesia #WonderfulIndonesia

A post shared by Visit Tidore (@visit.tidoreisland) on

Arti bangunan dan filosofi keimanan sangat kental menempel dengan Fola Sowohi. Rumah ini terdiri dari lima bagian ruang yang mengartikan salat lima waktu dalam sehari. Sedangkan seluruh tubuh rumah tersebut diikat dengan dua ikatan tali yang melambangkan dua kalimat syahadat. Bambu-bambu ditata searah dan seragam menjadi dinding rumah. Posisi bambu pun tidak boleh terbalik karena ini mengartikan suatu susunan masyarakat yang satu visi, tidak saling bentrok dan bertentangan. Sungguh, betapa kearifan lokal masih terasa kental pada Fola Sowohi. Dan hal ini masih bisa kita temui di Gurabunga.

3. Sowohi, Sang Penjaga Kemurnian Budaya

Sowohi dikenal juga sebagai pemimpin adat. Gurabunga sendiri dikenal sebagai tempat tinggal para sowohi atau penghubung antara pihak Kesultanan Tidore dengan roh para leluhur. Keberadaan Sowohi memang patut diperhitungkan dalam sejarah, adat istiadat, maupun budaya Tidore. Pasalnya, zaman dahulu ketika Sultan Tidore hendak bepergian ke wilayahnya yang tersebar hingga Papua maka Sultan akan meminta nasihat Sowohi untuk mencari hari baik bepergian.

Saat ini, keberadaan Sowohi di Tidore masih dijaga dan diperhitungkan perannya. Mereka bisa jadi konsultan masalah-masalah yang dihadapi oleh pemerintahan. Bahkan, keahlian Sowohi juga dimanfaatkan untuk merestorasi budaya Tidore. Sebelum festival Budaya Tidore dilaksanakan untuk pertama kalinya tahun 2009, Sowohi menanyakan ke leluhur tentang sejarah dan budaya Tidore yang hilang. Sowohi dengan kekuatan magisnya bahkan dicanangkan sebagai salah satu ikon pariwisata Tidore.

Mereka yang menjadi Sowohi sehari-hari merupakan masyarakat biasa. Mereka adalah para petani atau pekebun yang sehari-hari menggarap tanah. Namun ketika mereka bertindak sebagai Sowohi dengan baju serba putih dan topi khas Tidore, pria-pria ini akan menjadi orang pintar dan penghantar getaran roh-roh gaib. Kedudukan mereka pun terhormat, bahkan Sultan atau orang-orang berkedudukan penting di negeri ini tak jarang mendatangi mereka.

4. Gurabunga, Desa Terbersih Kedua Se-Indonesia

Alam Gurabunga memiliki magnet tersendiri yang bisa mengundang para wisatawan untuk datang ke tempat ini meski medan yang dilalui untuk menuju ke Gurabunga menanjak dan melewati banyak tikungan tajam. Ketika sampai di sini semua terbayarkan dengan pemandangan bunga-bunga cantik, jalan-jalan desa yang tertata rapi, udara sejuk, dan cahaya matahari hangat yang membuat tanah Gurabunga terkenal subur.

Tanaman sayur dan buah-buahan tumbuh subur di Gurabunga. Tak heran jika pada tahun 2007, desa yang memang memiliki suasana alam yang bersih dan asri ini dinobatkan sebagai Kelurahan Terbersih Kedua di Indonesia (sumber: www.disbudpar.malutprov.go.id). Tak hanya itu saja, dari Gurabunga kita dapat melihat pemandangan yang cantik dari hamparan lautan biru hingga Pulau Halmahera.

Kemolekan Wisata Alam di Tidore

Tidore adalah paket komplit sebuah daerah. Ada gunung tinggi yang menjulang, ada pula perairan-perairan cantik yang menghias di dalamnya. Perairan-perairan cantik ini seolah sebagai penghias Tidore yang masih damai dalam balutan keindahan alam dan kearifan budayanya. Kalau kamu ke Tidore, mampirlah ke destinasi-destinasi wisata ini agar kamu bisa melihat betapa Tuhan begitu indah menciptakan Tidore.

1. Melihat Indahnya Bawah Laut di Pulau Failonga

Pulau Failonga ini tempat yang kece buat @travelerien foto-foto cantik dengan topi lebar dan kainnya yang melambai-lambai itu. Ada yang mau jadi fotografernya di Tidore bulan April nanti? ???????? . . Kamu blogger? Mau ikut berkunjung ke Tidore bareng travel blogger Indonesia lainnya menyaksikan perayaan tahunan Tidore bertema Tidore Untuk Indonesia? Pantau terus instagram kami yuk buat update infonya. Cc @annie_nugraha @zenfauzans @yopiefranz Colek para blogger @emakmbolang @adventurose @omnduut @utamiisharyani @ayularas @setianingsih_sumaryo @rosannasimanjuntak @ariepitax @adieriyanto @agunghan_ @gulanyagulali @atanasia_rian @mamanisss #Tidore #VisitTidore #WonderfulTidore #WonderfulIndonesia #WisataIndonesia #tidoreisland #visittidore #enjoytidore #pulautidore #pesonaindonesia #malukuutara #indonesiatimur #indonesiatravel #traveling #travelgram #ternate #tidore #jalanjalan #traveling #travelinsta

A post shared by Visit Tidore (@visit.tidoreisland) on

Pulau Failonga merupakan pulau kecil tak berpenghuni yang terletak di Kepulauan Tidore yang  luasnya hanya mencapai 0,8 hektar. Pulau ini memiliki pasir putih halus dan air laut yang jernih. Pesona bawah laut Pulau Failonga merupakan salah satu magnet yang membuat wisatawan ingin melihat langsung keindahan terumbu karang, ikan, dan biota lautnya. Untuk menuju pulau ini, wisatawan harus menyewa kapal cepat dari Pulau Ternate maupun Tidore.

2. Menyapa Lumba-Lumba di Pulau Mare

Pulau Mare merupakan pulau kecil yang keindahannya tak kalah dengan pulau-pulau lain di wilayah administratif Kepulauan Tidore. Pulau yang terletak di Kecamatan Tidore Selatan ini juga terkenal dengan pantai cantik dan keindahan bawah lautnya yang sangat cocok dinikmati sambil snorkling atau diving. Tak hanya itu, Pulau Mare juga terkenal memiliki daya tarik atraksi lumba-lumba yang bisa dilihat pada sore atau pagi hari sekitar pukul 06.00 WIT.  Untuk menuju ke Pulau Mare, wisatawan bisa menggunakan kapal cepat yang bisa dinaiki dari Pelabuhan Rum, Tidore atau bisa juga ditempuh selama 30 menit dari pelabuhan tradisional di Kelurahan Tomalou, Kecamatan Tidore.

3. Indahnya Pulau Maitara Tak Hanya Ada di Lembaran Uang

Pulau Maitara sekilas tidak asing di mata masyarakat Indonesia karena keindahan pulau ini tercetak dalam pecahan uang Rp 1.000,-. Pulau yang terletak di antara Pulau Ternate dan Tidore ini memiliki pantai yang bagus dan air laut yang jernih. Tak hanya itu, Pulau Maitara juga terkenal dengan keanekaragaman ikan dan juga terumbu karang. Ada banyak cerita tentang asal-usul pulau ini. Dari cerita mitos hingga sejarah. Untuk menuju ke pulau ini, wisatawan bisa menempuh perjalanan menggunakan speedboat sekitar lima menit dari Pelabuhan Bastiong Ternate atau tiga menit perjalanan dari Pelabuhan Rum Tidore.

4. Menikmati Uniknya Sumber Air Panas di Ake Sahu

Ake dalam Bahasa Tidore berarti air sedangkan sahu berarti panas. Di Pantai Ake Sahu ini terdapat sumber air panas yang menjadi daya tarik lokasi ini. Air panas tersebut konon memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Uniknya pemandian air panas tersebut adalah air yang berada di kolam tidak terintrusi air laut, sehingga rasanya tetap tawar. Sumber air ini mengalir dari lereng Gunung Kie Matubu dan muncul dari sela-sela bebatuan di bawah sebuah pohon besar di tepi pantai. Untuk mencapai kawasan ini wisatawan bisa menempuhnya dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat dengan jarak tempuh sekitar 8 km dari pusat kota.

5. Bersahajanya Laboratorium Pengetahuan Alam Kalaodi

Kalaodi merupakan sebuah kelurahan yang terletak 700 mdpl di Kota Tidore Kepulauan. Kalaodi bisa dibilang miniatur kampung ekologi. Selain berfungsi sebagai laboratorium pengetahuan alam, kehidupan penduduk Kalaodi sangat harmonis dan selaras dalam memperlakukan alam khususnya pada warga yang hidup di kawasan hutan lindung Tagafura. Kalaodi terkenal memiliki hawa yang sejuk serta menghasilkan buah durian yang sangat manis. Untuk menuju Kalaodi wisatawan dapat menempuhnya dengan jalan darat selama sekitar 25 menit dari pusat kota.

6. Merasakan Segarnya Mata Air Luku Celeng

luku celeng (tidorekota.go.id)
Mata Air Luku Celeng (Sumber foto: https://tidorekota.go.id/)

Luku Celeng berarti air yang berdering. Mata air ini berada di dataran tinggi Kalaodi tepatnya di Dusun Golili, Kecamatan Tidore Timur. Daya tarik area ini adalah mata air yang berada di daerah lembah yang diapit oleh gunung-gunung tinggi. Mata Air Luku Celeng ini bertingkat dua, tingkat pertama bernama Luku Celeng sedangkan tingkat kedua bernama Luku Sum. Untuk menempuh daerah ini wisatawan bisa berjalan kaki dari Desa Kalaodi dan menuruni lembah dengan jarak sekitar 1 km melewati areal perkebunan penduduk setempat.

Tidore dan Kejayaan Zaman Dulu

Saya masih ingat betul, nama Tidore kerap terdengar kala pelajaran sejarah masa sekolah dulu. Ya, Tidore merupakan sebuah kesultanan yang cukup tersohor namanya. Sebelum masuknya pengaruh Islam, raja di Tidore disebut dengan “Kolano” bukan “Sultan”.  Baru setelah kedatangan ulama Ja’far Shadiq, gelar Kolano diganti menjadi Sultan.

Pada masa kejayaannya, Kesultanan Tidore berhasil menguasai sebagian besar wilayah Halmahera Selatan, Pulau Buru, Ambon, dan pulau-pulau di pesisir barat Papua. Bahkan, dalam sejarahnya Tidore berhasil merangkul wilayah Papua. Sultan Cirilyati, Sultan Ibnu Mansyur, Sultan Saifuddin, dan Sultan Nuku memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap Papua.

Saat banyak Bangsa Eropa beramai-ramai ke wilayah Indonesia, Tidore termasuk salah satu tempat yang tak luput untuk didatangi. Kekayaan alam berupa rempah-rempah konon menjadi magnet yang membawa banyak Bangsa Eropa rela berlayar ke wilayah Tidore. Dalam sejarahnya, Tidore sempat bersekutu dengan Spanyol saat kepemimpinan Sultan Mansur. Hal ini dilakukan untuk mengimbangi kekuatan Kesultanan Ternate yang bersekutu dengan Portugis. Setelah Spanyol mundur pada tahun 1663, Tidore menjadi salah satu kerajaan paling independen di wilayah Maluku.

Selanjutnya, di bawah kepemimpinan Sultan Saifuddin, Tidore berhasil menolak penguasaan VOC terhadap wilayahnya dan tetap menjadi daerah yang merdeka hingga akhir abad 18. Sejarah Tidore ini tergambar jelas di beberapa bangunan monumental yang masih kokoh berdiri sebagai saksi sejarah di Tidore. Bangunan-bangunan ini kini masih berdiri kokoh dan menjelma menjadi tempat pariwisata. 

1. Kadato Kie

Kadato Kie dibangun pada masa Sultan Muhammad Taher pada tahun 1812. Bentuk Kadato Kie menyerupai orang yang sedang duduk bersila dengan maksud memuja Allah SWT. Sedangkan kubahnya yang berbentuk kerucut bermakna kedamaian. Kadato Kie sempat hancur total pada tahun 1912 akibat politik adu domba. Pada tahun 1997 dilakukan restorasi oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Maluku dan direnovasi oleh Pemda Kabupaten Halmahera Tengah pada 2006.

2. Masjid Sultan Tidore

masjid kesultanan tidore
Masjid Sultan Tidore atau dikenal dengan nama Sigi Kolano (Sumber foto: https://tidorekota.go.id/)

Masjid ini dibangun pada tahun 1710 M pada masa pemerintahan Sultan Djamaludin. Masjid ini menggambarkan kejayaan Kesultanan Tidore masa lampau. Bangunan ini memiliki bentuk arsitektur Islam Jawa dengan atap menjulang yang tadinya beratapkan alang-alang dan daun sagu sehingga terkenal dengan nama Sigi Kolano. Namun sejak tahun 1884 atap masjid telah diganti dengan seng.

3. Benteng Torre

Benteng Tore terletak di Kota Soasio dan menjadi salah satu benteng pertahanan Spanyol untuk melawan Belanda saat itu. Benteng ini dibangun oleh Bangsa Portugis pada 1521 M. Letak benteng ini terdapat pada ketinggian kurang lebih 50 meter dari permukaan laut, terbuat dari batu gunung yang direkat dengan campuran kapur dan pasir.

4. Benteng Tahula

Benteng Tahula dibangun oleh Bangsa Spanyol dan digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata dan pertahanan saat melawan Belanda. Benteng yang terkenal dengan nama Sanctiago Caualleros de los de la de ysla Tidore ini terdapat pada Kelurahan Soasio, sekitar 100 meter dari Keraton Kesultanan Tidore. Untuk menuju Benteng Tahula, wisatawan dapat menempuhnya dengan kendaraan darat sekitar 30 menit dari Pelabuhan Rum.

5. Museum Sonyinge Malige

Museum ini berada di lantai dasar Kadato Kie. Barang-barang peninggalan sejarah yang terdapat di museum ini berupa mahkota Sultan Tidore, tandu sultan, stempel kesultanan, alat-alat perang, perabot kesultanan, pakaian kebesaran Sultan, lampu hias keratin, dan lain-lain. Salah satu koleksi museum yang istimewa adalah Al Quran tulis tangan yang ditulis oleh Qalem Mansur pada tahun 1657.

6. Tugu Pendaratan Bangsa Spanyol

Tugu ini terletak di kawasan pesisir Pantai Rum. Tugu yang dibuat oleh Kedutaan Besar Spanyol ini dibangun untuk memeringati Kedatangan Bangsa Spanyol di Tidore oleh Juan Sebastian El Cano beserta awak kapal Trinidad dan Viktoria yang merapat di Tidore pada tanggal 8 November 1521.

Cita Rasa Khas Tidore

Selain kaya budaya dan tempat wisata, ternyata Tidore pun memiliki berbagai penganan khas, dari jajanan, minuman, masakan, hingga olahan hasil laut dan ikan. Besar dengan kekayaan rempah-rempah patutlah membuat makanan khas Tidore juga kaya dengan kandungan rempah-rempah. Ditambah lagi lokasi daerah yang berada di pesisir laut tak pelak membuat masyarakat Tidore terbiasa dengan hasil laut dan olahan ikan.

Jajanan khas Tidore masih bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional dan juga di beberapa kegiatan masyarakat Tidore. Jajanan khas ini memiliki rasa yang manis dan cocok dijadikan cemilan apabila berkunjung ke Tidore. Beberapa penganan seperti kue lapis Tidore, pisang coe, apang coe, waji, kue asidah, dan kue coe adalah makanan yang patut dicoba apabila kita bertandang ke Tidore. Jangan lupa lengkapi pula dengan minuman pendampingnya yaitu kopi khas Tidore.

Kopi Tidore bukanlah kopi biasa karena dalam kopi ini tercampur kekayaan khas Tidore yaitu rempah-rempah. Kopi Tidore biasanya dihidangkan dengan gula pasir dan rempah-rempah seperti pala, kulit kayu manis, dan juga pandan. Selain kopi Tidore ada pula guraka. Guraka merupakan air jahe yang diberi gula aren dan taburan kacang kenari. Paling pas dinikmati dengan camilan khas Tidore.

Tak hanya kaya panganan khas, cara makan di Tidore pun ada yang khas. Tradisi jamuan makan adat di Tidore dikenal dengan nama Munara Fou Saro. Jamuan ini merupakan acara kehormatan dari tuan rumah kepada tamu dari negara atau daerah lain sebagai bentuk rasa hormat. Dalam jamuan makan ini ada beberapa jenis makanan khas Tidore yang dihidangkan antara lain foki sinanga, nyao hogo rica, bira gosi, katupa, dan pali.

wisata kuliner tidore
(Sumber foto: https://tidorekota.go.id/)

Mayoritas wilayah Tidore yang berada di pesisir pun membuat hasil laut dan ikan di sana melimpah. Tak heran kalau banyak olahan ikan dan laut yang bisa dinikmati jika kita berada di Tidore. Beberapa hasil laut dan olahan itu adalah garampati (abon ikan cakalang/tuna), ikan masa kering (ikan cakalang yang dimasak dengan bumbu hingga kering), ikan ngafi (ikan teri yang dikeringkan), ikan tore, nyao magi/kuah ikan (hasil olahan jeroan ikan untuk bahan dasar campuran sambal, lalampa, ikan cakalang fufu, dan masih banyak lagi.

Semua hal yang telah saya tuliskan di atas membuat saya dan mudah-mudahan yang membaca tulisan ini semakin ingin berkunjung dan napak tilas ke Tidore. Bukan hanya menikmati pariwisatanya, tetapi juga menikmati kesahajaan kota ini. Menggali pelajaran bagaimana sebuah daerah masih bisa mempertahankan jati diri budayanya dan tak mengalah pada dobrakan zaman. Mempelajari bagaimana Tidore memahami dan bersahabat dengan kehidupan.

Menuliskan semua tentang Tidore dan membaca banyak tulisan tentangnya membuat pikiran saya berkelana jauh ke sana. Rasanya benar-benar penasaran dengan kota kecil ini. Dari banyak buku dan tulisan tentang Tidore, tak sedikit yang memuji keindahan alamnya. Tak heran jika ada yang bilang bahwa “Tidore diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum”. Bahkan saya yang baru membaca tulisan-tulisan tentang Tidore pun ikut tersenyum. Semoga ada kesempatan untuk saya dan banyak orang lain berkunjung ke Tidore. Semoga!

Mari sama-sama kita Visit Tidore Island untuk mengenali bahwa Nusantara sudah berjaya sejak dahulu kala.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Tidore Untuk Indonesia.

visit tidore island

ratna dewi

Notes:

– Featured image diambil dari website https://tidorekota.go.id/home/

Sumber tulisan:

– Buku Laki-Laki dari Tidore, Diangkat dari Kisah Nyata Achmad Mahifa karya Alberthiene Endah.
– Buku promosi wisata Tidore “Explore The Enchanting Tidore”
– https://tidorekota.go.id/home/
– https://disbudpar.tidorekota.go.id/
– http://disbudpar.malutprov.go.id/
– http://www.antaramaluku.com/berita/23734/pemkot-tikep-intensifkan-pelestarian-budaya-lokal
– http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmalut/2015/07/03/zonasi-benteng-tahula/
– http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbmaluku/2014/06/04/fola-sowo-hi-arsitektur-tradisional-tidore-kepulauan/
– http://travel.kompas.com/read/2013/04/21/11272345/Berkunjung.ke.Negeri.di.Atas.Awan.

25 Comments
Previous Post
Next Post