#3HaridiBatam: Menilik Para Pejuang Kesehatan di Belakang Padang

Tubuhnya kecil tapi matanya berbinar-binar dan penuh semangat ketika menceritakan keberhasilan menangani anak gizi kurang di wilayah dinasnya. Dialah Jemrish Mikhael Atadena, salah satu Tim Nusantara Sehat (NS) yang bertugas di Puskesmas Kecamatan Belakang Padang. Jemrish bertugas sebagai ahli gizi disana. Maka tak heran, ia kerap berkeliling dan terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya gizi dan makanan sehat.

Lain Jemrish lain pula Sri Purnamawati. Perempuan yang ditugaskan sebagai bidan di Puskesmas Kecamatan Belakang Padang ini juga satu angkatan dengan Jemrish di Tim NS. Dirinya bersama dengan dokter di puskesmas tempatnya bertugas sering mengunjungi para ibu hamil di pulau-pulau yang tidak jauh dari Pulau Penawar Rindu, Kecamatan Belakang Padang. Ia juga sering memberikan penyuluhan tentang kesehatan terhadap ibu hamil hingga bersama mereka menyelenggarakan senam hamil.

Jemrish Mikhael Atadena berpose di depan papan kerja Nusantara Sehat

Selain Jemrish dan Sri, ada pula tiga anak muda hebat lainnya. Mereka adalah Pijar Liendar Ramadhana yang bertugas bidang Kesehatan Lingkungan, Paras Mita Sari di bidang Farmasi, serta Yulianti Nataya Rame Kana di bidang Kesehatan Masyarakat. Mereka adalah pemuda-pemudi yang telah digembleng oleh Kementerian Kesehatan untuk bertugas di daerah-daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK). Tak hanya berbekal ilmu-ilmu kesehatan yang telah dimiliki, mereka juga dibekali dengan ilmu bela negara agar dapat bertahan dan menyesuaikan diri di tempat mereka ditugaskan sebagai Tim NS.

Nusantara Sehat adalah sebuah program peningkatan pelayanan kesehatan mencakup preventif, promotif, dan kuratif dengan melibatkan 5 (lima) sampai 9 (sembilan) tenaga kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, Ahli laboratorium medik, tenaga gizi, dan tenaga kefarmasian) yang ditempatkan di pelosok nusantara.

(Baca juga: #3HariDiBatam: Menjejak Batam Bersama Kementerian Kesehatan)

Program ini sejalan dengan Nawa Cita di bidang kesehatan yang digaungkan Presiden Joko Widodo. Namun sayang, kali ini saya tak menemui dokter dalam Tim NS di Belakang Padang. Semoga di Tim NS gelombang berikutnya semakin banyak dokter muda yang tergerak untuk menjadi pejuang-pejuang kesehatan.

Tim NS ini bertugas setiap hari di Puskesmas Kecamatan Belakang Padang. Tak ada bedanya mereka dengan tenaga kesehatan lainnya yang telah bertugas di puskesmas itu. Tim ini diberi ruangan kerja di lantai dua gedung puskesmas. Jadwal piket pun mereka atur sedemikian rupa. Misalnya Sri yang seorang bidan sering bertugas dari pukul 14.00 hingga 08.00. Semuanya mereka lakukan dengan ikhlas dan suka cita.

Puskesmas Kecamatan Belakang Padang, tempat dinas Tim Nusantara Sehat
Puskesmas Kecamatan Belakang Padang, tempat dinas Tim Nusantara Sehat

Suka duka menjadi Tim NS mereka tanggung bersama. Bertemu masyarakat yang tentunya berbeda kultur dengan mereka memberikan satu pengalaman baru. Jemrish bercerita, pengalaman uniknya adalah ketika mereka harus berkunjung ke pulau-pulau yang masih satu lingkup dalam Kecamatan Belakang Padang menggunakan pompong, perahu kecil yang menjadi kendaraan mereka untuk menyebrangi lautan.

“Kami pernah ke pulau, pas mau pulang ada ombak besar. Kalo miring ya semua teriak aaakkk!!!” ujar Jemrish sambil tertawa mengingat kejadian unik yang pernah dialaminya selama empat bulan bertugas.

Ya, perahu pompong memang menjadi moda transportasi yang akrab dengan masyarakat kepulauan di Batam. Pompong itulah yang selalu mengantarkan mereka untuk menyebrangi lautan ke Batam atau ke pulau-pulau lain di sekitarnya. Dan Tim NS di Kecamatan Belakang Padang ini mau tak mau juga harus akrab dengan moda transportasi yang satu ini saat berdinas mengunjungi pulau-pulau lainnya yang masih satu kecamatan dengan Kecamatan Belakang Padang.

Selain itu, tim NS juga bertempat tinggal di sebuah rumah yang telah disediakan yang letaknya tidak jauh dari Puskesmas Kecamatan Belakang Padang. Kesulitan air kerap mereka alami saat tinggal disana. Bahkan, ada yang bercerita bahwa rumah mereka pernah dibobol maling sehingga ada beberapa barang-barang berharga seperti laptop yang hilang. Namun, kejadian-kejadian ini tak menyurutkan semangat mereka untuk terus mengabdi sebagai pejuang kesehatan di Belakang Padang.

pompong bersandar di dermaga Pelabuhan Rakyat Belakang Padang
rumah tinggal Tim Nusantara Sehat Belakang Padang
rumah tinggal Tim Nusantara Sehat Belakang Padang

Masalah Kesehatan di Belakang Padang

Kementerian Kesehatan menyadari betul bahwa daerah-daerah tempat dimana Tim NS ditempatkan memiliki masalah kesehatan. Belakang Padang adalah salah satunya. Menurut Sri Rubiati, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Batam, Belakang Padang masih termasuk daerah endemik malaria. Selain itu, di pulau inilah pertama kali ditemukan penderita HIV/AIDS  di Batam pada tahun 1992.

Selain masalah penyakit, masih banyak perkara lain yang menjadi pekerjaan rumah Tim NS. Pijar Liendar Ramadhana, salah satu anggota Tim NS Belakang Padang memaparkan masalah sanitasi, gizi, gaya hidup, dan pergaulan bebas menjadi masalah-masalah yang menjadi pekerjaan rumah mereka. Seperti halnya yang pernah dikatakan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, drg. Oscar Primadhi, yang paling susah adalah mengubah kebiasaan masyarakat. Dan inilah yang menjadi tantangan Tim NS.

Masalah sanitasi menjadi masalah utama di Belakang Padang. Masih banyak perilaku masyarakat yang tidak memedulikan kebersihan lingkungan seperti membuang sampah sembarangan. Buang sampah langsung ke laut sudah menjadi kebiasaan di Belakang Padang. Kebiasaan inilah yang perlahan ingin diubah oleh Tim NS dengan membiasakan masyarakat untuk mengumpulkan sampah di kantong plastik yang nantinya akan diangkut oleh tukang sampah atau petugas kebersihan.

“Biasanya kami ngomong sama anak-anak sehingga mereka tahu. Kalau orang tua sudah susah karena sudah jadi kebiasaan. Makanya kalo ada orang tua mau buang sampah sembarangan, anak-anak yang bilang nggak boleh,” ujar Jemrish, pria yang berasal dari Alor, NTT ini.

pulau-belakang-padang

Masalah lainnya adalah tentang kebiasaan buang air besar. Masyarakat Belakang Padang masih banyak yang mengandalkan jamban cemplung saat buang air besar. Hal ini dikarenakan mayoritas masyarakat Belakang Padang membangun rumah di atas laut sehingga masyarakat tidak memiliki septic tank. Jadilah mereka lebih memilih buang air besar langsung di atas air laut.

Selain itu, pasokan air yang sangat minim juga menjadi masalah pelik di pulau ini, apalagi jika musim kemarau tiba. Air yang tersedia biasanya keruh dan kotor. Sebagian besar masyarakat memeroleh air dari air hujan yang ditampung di wadah-wadah seperti ember dalam keadaan terbuka. Kebiasaan inilah yang biasanya menimbulkan berkembang biaknya nyamuk aedes aegypty penyebab demam berdarah.

Sementara itu, gizi juga menjadi bidang yang tak luput dari pantauan Tim NS. Diakui Tim Nusantara Sehat bahwa sayuran sangat jarang dan mahal di kepulauan ini karena memang harus didatangkan langsung dari Batam yang notabene jauh. Jadilah banyak masyarakat yang belum sadar betul konsumsi gizi pada makanannya. Melihat ini, Jemrish meminta masyarakat disini untuk memberikan PMT (pemberian makanan tambahan) berupa susu bubuk pada anak-anaknya. Ia juga menghimbau untuk mengkreasikan PMT pada makanan lain agar anak-anak tidak bosan.

Masalah lain yang tak kalah pelik adalah masalah sosial. Karena berbatasan langsung dengan Singapura, membuat masalah sosial seperti narkoba dan seks bebas masih banyak di Belakang Padang. Sejarah pulau ini yang dahulu banyak kawasan prostitusi membuat kasus HIV/AIDS seolah melekat. Apalagi kasus HIV/AIDS pertama di Batam berasal dari pulau ini. Oleh karena itu, setiap ibu hamil di pulau ini wajib dites HIV/AIDS.

Bidan Sri Purnamawati dari Tim NS menuturkan angka kehamilan di bawah umur masih banyak terjadi di Kecamatan Belakang Padang. Kebanyakan dari mereka memang setelah lulus sekolah langsung menikah atau ada pula yang hamil di luar nikah sehingga harus menjalani kehamilan di usia yang belia. Padahal kehamilan di usia yang masih sangat muda rentan sekali.

Komitmen Kementerian Kesehatan dan Nusantara Sehat untuk Indonesia

Dyah Satyani Saminarsih, M.Sc, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDG’s, yang juga hadir dalam kunjungan ke Belakang Padang mengungkapkan Tim NS ditempatkan di daerah-daerah perbatasan, pinggiran dan kepulauan. Tercatat saat ini ada Tim NS yang diletakan 120 puskesmas di pulau-pulau terluar Indonesia. Di tempat-tempat itulah ada kewajiban negara untuk hadir. Selain itu pembangunan kesehatan dimaksudkan tidak hanya sehat fisik, tetapi juga membentuk pola pikir dan kebiasaan hidup sehat.

Dyah Satyani Saminarsih, M.Sc berpose dengan Tim Nusantara Sehat Belakang Padang
Dyah Satyani Saminarsih, M.Sc berpose dengan Tim Nusantara Sehat Belakang Padang

“NS adalah representasi dari negara. Jadi kami titip kepada bapak dan ibu di Belakang Padang, mohon NS diingatkan kalau ada yang kurang berkenan,” ujar Diah S. Saminarsih dalam sambutannya di gedung pertemuan Kecamatan Belakang Padang.

Tim NS yang ditempatkan ini tidak sembarang bekerja. Mereka juga terus dimonitor dan dievaluasi. Mereka juga dilatih untuk memecahkan masalah lokal yang ada. Oleh karenanya, mereka yang terjun adalah berupa tim. Drg. Oscar Primadhi yang juga turut hadir menyatakan bahwa NS berbasis tim sebagai modal penguatan pembangunan kesehatan. Tentunya penguatan pembangunan kesehatan tak bisa berdiri sendiri sehingga perlu didukung oleh seluruh unsur masyarakat. Disinilah diharapkan kolaborasi NS dan kesadaran masyarakat dapat membentuk simbiosis mutualisme yang bisa meningkatkan pembangunan kesehatan Indonesia.

Maju terus Nusantara Sehat! Tetaplah menjadi anak-anak muda yang menginspirasi!!!

drg. Oscar Primadhi bersama Kepala Puskesmas Belakang Padang dan Tim Nusantara Sehat
drg. Oscar Primadhi bersama Kepala Puskesmas Belakang Padang dan Tim Nusantara Sehat
semangat terus wahai para pejuang kesehatan!!
semangat terus wahai para pejuang kesehatan!!

 

ratna dewi

25 Comments
Previous Post
Next Post