#3HariDiBatam: Menjejak Batam Bersama Kementerian Kesehatan

press-tour-kementerian-kesehatan

Saya masih ingat betul yang saya rasakan saat tahu bahwa saya masuk dalam 10 blogger terpilih yang ikut press tour jalan-jalan ke Batam bersama Kementerian Kesehatan. Kegirangan pastinya. Padahal, awalnya saya sempat nggak percaya menang kompetisi 3 Hari Jalan-Jalan ke Batam bersama Kementerian Kesehatan karena yang ikut kebanyakan jaauuuhh lebih berpengalaman di bidang blogging daripada saya. Saat itu saya pun telat tahu. Untungnya Mbak Shinta Ries ‘menyenggol’ saya di Facebook. Dan inilah cerita saya selama tiga hari di Batam yang sengaja saya kasih tag #3HariDiBatam.

Setelah sempat berkomunikasi via Whatsapp group, akhirnya para blogger yang diundang ke Batam dikumpulkan terlebih dahulu di Kementerian Kesehatan sehari sebelum keberangkatan. Duh saya jadi dejavu semasa jadi wartawan karena beberapa kali wira-wiri ke Kemenkes dan nongkrong di Puskom. Belum lagi yang berkomunikasi dengan kami Bu Septi, yang dulu sering saya gangguin buat cari narasumber. Selain diberi briefing tentang kegiatan selama tiga hari di Batam, kami juga diberi sedikit gambaran materi tentang apa yang nanti akan disampaikan di Batam. Salah satunya adalah materi tentang data.

Terpilih menjadi 10 blogger yang berangkat ke Batam saja saya sudah senang banget. Euforianya nggak karuan karena ini adalah kali pertama saya diperbolehkan keluar kota lagi sama suami pascaboikot dinas luar kota semasa jadi wartawan dulu. Iya, suami saya dulu tidak memperbolehkan saya keluar kota semasa jadi wartawan. Yah mungkin kelewat khawatir karena saya dulu wartawan investigasi.

Tapi keluar kota kali ini sungguh berbeda. Walaupun kami para blogger juga pergi bersama para jurnalis tetapi tetap saja beda. Saya bebas menentukan angle tulisan atau foto apa yang mau dijepret dan di-publish di tulisan. Dari sebelum berangkat, saya sudah ada bayangan akan menulis apa. Selain itu, kami para blogger juga harus meng-update informasi via media sosial dengan hashtag #SahabatIndonesiaSehat. Alhasil saat tiga hari itu timeline saya dipenuhi cuitan, status, dan update foto tentang kegiatan di Batam.

Akhirnya Menjejak Batam

Saat hari keberangkatan tiba, saya rasanya sudah nggak karuan. Senang campur deg-degan takut ketinggalan pesawat. Alhasil dari semalam saya dan suami sudah nggak bisa tidur. Apalagi malam sampai pagi di hari keberangkatan hujan turun dan beberapa jalan tergenang banjir. Duh semakin deg-degan aja takut terjebak macet. Untunglah saya sampai bandara jam 07.00 diantar suami pakai taksi. Disana sudah ada beberapa peserta yang datang juga Bu Septi yang selalu setia memberi informasi pada kami.

Hari pertama, ini adalah pertama kali saya menjejak Batam. Jangan ditanya bagaimana senangnya. Sebelum kami meninggalkan bandara, kami juga sempat menengok Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Hang Nadim, Batam. Di sini saya dan teman-teman bertemu dengan Bapak Abdul Salam selaku Kabid Pengendalian Karantina dan Bapak Bapak Romer Simanungkalit selaku Kasi Karantina KKP.

Kantor Kesehatan Pelabuhan Hang Nadim Batam
Kantor Kesehatan Pelabuhan Hang Nadim Batam
Pak Romer Simanungkalit (kiri) dan Pak Abdul Salam (kanan)
Pak Romer Simanungkalit (kiri) dan Pak Abdul Salam (kanan)

Walaupun singkat, kami diberi beberapa info tentang KKP. Sebelumnya, saya kira KKP itu cuma seperti UKS atau posko kesehatan biasa soalnya memang ruangannya kecil. Tapi ternyata tidak lho. KKP ini menjadi badan cegah tangkal, yang berguna mengawasi keluar dan masuknya penyakit dari atau ke Indonesia. Apalagi akhir-akhir ini bermacam-macam virus muncul seperti flu burung, SARS, MERS, Ebola, hingga Zika. Nah disinilah fungsi KKP yang ternyata penting sekali.

KKP berhak memberlakukan perlakuan khusus bagi orang-orang yang terinfeksi penyakit-penyakit tersebut. Biasanya sih mereka yang dari luar negeri diperiksa agar penyakit tersebut nggak menyebar di Indonesia. KKP juga berhak melakukan karantina (isolasi) terhadap orang dengan penyakit tertentu yang sekiranya bisa menular atau membahayakan saat terbang misalnya cacar. Selain itu, KKP juga bisa melakukan pengobatan, cek kondisi fisik, hingga rekomendasi izin terbang untuk penumpang (khususnya ibu hamil).

Rombongan memang tidak lama mampir di KKP. Kami harus lanjut untuk santap siang dan city tour. Saya sangat antusias melihat sudut-sudut Kota Batam. Kota yang memang sebagian wilayahnya adalah daerah industri. Jepret sana jepret sini pun terus dilakukan. Tak lupa kami berfoto dengan background tulisan WELCOME TO BATAM yang memang jadi icon kota tersebut. Sayangnya waktu itu Bunda Icha ketinggalan pesawat, jadi kami hanya bersembilan. Tapi itu tak mengurangi kehebohan kami para blogger.

Malamnya, kami kembali bertemu di sebuah ruangan hotel untuk makan amalam sekaligus ramah tamah dengan pihak Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Batam dan One Data Indonesia. Setelah itu, para blogger dan Mas Anjari masih sempat nongkrong di Harbour Bay. Kami menikmati malamnya Kota Batam sambil makan gonggong, panganan khas Kota Batam. Gonggong adalah semacam siput laut yang dimakan dengan cara diambil menggunakan tusuk gigi dari dalam cangkangnya lalu dicelupkan ke sambal. Enyaaakk.

Hari kedua kami menuju ke Belakang Padang. Dengan menyebrangi lautan selama sekitar 20 menit menggunakan perahu pompong, kami tiba di Pulau Penawar Rindu, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam. Disini kami bertemu dengan para pejuang-pejuang kesehatan yaitu Tim Nusantara Sehat yang bertugas di Puskesmas Kecamatan Belakang Padang. Selain itu, kami juga melihat langsung Pulau Penawar Rindu dari dekat. Bagaimana kondisinya? Postingan lengkapnya tentang ini tunggu ya di postingan berikutnya.

pulau-belakang-padang

Nggak hanya itu, kami pun sempat mampir ke PT McDermot selaku perusahaan yang punya kepedulian tinggi terhadap HIV/AIDS di Batam. Data-data tentang HIV/AIDS yang diungkapkan perwakilan Dinas Kesehatan Batam pun cukup mencengangkan.

Hari ketiga, acara sudah hampir semuanya selesai. Kami cek out dari hotel lalu menuju Jembatan Barelang yang tak lain adalah salah satu icon Kota Batam. Walaupun hanya mendatangi satu jembatan, tetapi kami sudah cukup puas. Yah apalagi kalo bukan puas berfoto narsis. Yang pasti kami bersepuluh cukup heboh selama disana. Selesai dari jembatan satu kami pun bersantap siang. Karena waktu masih cukup panjang, setelah makan siang rombongan pun masih sempat ke Pantai Setokok walau hanya sebentar. Yang bagian ini juga tunggu aja ceritanya ya. Stay tune terus pokoknya.

jembatan-barelang

Ada yang masih kurang? Oh ya, dari tadi saya belum menyinggung banyak soal kuliner. Selama tiga hari kami di Batam, setiap hari selalu menikmati seafood. Dari kepiting, cumi, udang, ikan hingga gonggong. Iya, restoran seafood memang mudah sekali ditemukan di Batam. Di kepulauan memang makanan andalan biasanya seafood. Eits, tapi makannya harus kira-kira ya. Kalo nggak bisa kolesterol soalnya.

gonggong, salah satu kuliner khas Batam
gonggong, salah satu kuliner khas Batam
hari pertama sudah disambut kepiting ini
hari pertama sudah disambut kepiting ini

Akhirnya, tiga hari di Batam saya nggak cuma punya pengalaman jalan-jalan tetapi juga teman-teman blogger yang seru dan ramai. Nggak hanya itu, saya juga menyaksikan langsung pengabdian pemuda-pemudi di bidang kesehatan plus dapat tambahan pengetahuan tentang kesehatan khususnya HIV/AIDS. Pengen tahu cerita lengkap semuanya? Pantengin terus blog saya yaa…

(Bersambung)

 

ratna dewi

 

19 Comments
Previous Post
ida tahmidah
Next Post
Menilik-Para-Pejuang-Kesehatan-di-Belakang-Padang