Alasan-Alasan yang Membuat Menikah Menjadi Begitu Sulit

Kebanyakan orang pasti pengen menikah. Hmmm siapa sih yang nggak pengen nikah? Tapi kadang menikah nggak semudah yang dibayangkan lho. Apalagi di Indonesia. Eits, saya bukan curhat karena saya sudah menikah dan sudah pernah melewati drama-drama menikah. Tapi saya tergelitik aja buat bikin postingan ini karena terinspirasi sama tulisannya Innnayah.

rukun nikah

Sering sekali ya kita lihat semacam ‘propaganda menikah’ di media sosial seperti gambar di atas. Mudah ya sepertinya. Tapi jangan harap menikah dengan keluarga di Indonesia segampang yang dibilang gambar di atas. Syarat yang di bawahnya, walaupun tidak tertulis tapi sesekali memang benar adanya dan diajukan oleh pihak keluarga atau orang tua.

Iya, karena menikah di Indonesia melibatkan keluarga. Banyak yang bilang, menikah berarti juga mempersatukan dua keluarga. Jadi jangan harap restu didapat kalo syarat tidak dipenuhi. Banyak teman saya yang sudah pacaran bertahun-tahun belum kunjung menikah karena salah satu pasangan nggak memenuhi syarat oleh orang tua atau keluarganya.

Beda agama, beda strata sosial, atau beda suku sih sudah terlalu mainstream ya jadi ganjalan untuk menuju ke jenjang pernikahan di masyarakat kita. Banyak perbedaan lain yang bisa jadi ganjalan menikah. Nah, berikut hal-hal yang saya pikir ‘konyol’ yang jadi ganjalan kenapa ada pasangan-pasangan yang belum direstui atau malah batal untuk menikah. Eh disclaimer dulu ya, ini versi pengalaman saya dan cerita yang pernah saya dengar. Tapi ternyata beneran ada lho yang kayak begini.

1. Calon pasangan tidak berpendidikan minimal S1

Pertanyaan pertama yang terbersit adalah ini mau menikah atau mau melamar pekerjaan sih? Ada ternyata orang tua yang mensyaratkan seperti ini, khususnya jika pihak perempuan sudah S1 atau S2. Teman saya pun ada yang terganjal menikah karena pasangannya (calon suami) belum S1 padahal sudah bisa dibilang sukses. Hmm, mungkin orang tuanya kurang sreg kali ya kalo calon menantu di undangan pernikahannya nggak seimbang tulisan gelarnya.

2. Calon pasangan bukan sama-sama dari universitas negeri atau universitas bonafide

Kalo denger syarat yang satu ini pengen ketawa. Ihik, lucu aja berasa mau masuk PNS harus ada akreditasi kelulusan. Mungkin untuk masalah ini, dibutuhkan pihak ketiga yaitu badan akreditasi lembaga pendidikan untuk menengahi ganjalan yang satu ini.

3. Calon pasangan bukan pegawai

Ada banyak orang tua yang pengen punya menantu khususnya menantu cowok yang pegawai, baik itu pegawai negeri ataupun swasta. Kenapa emangnya? Ya karena image pegawai itu punya pekerjaan dan gaji tetap walaupun besarannya entahlah. Padahal zaman sekarang wiraswasta atau freelance terkadang malah pendapatannya jauuuhh lebih besar daripada ‘cuma’ pegawai. Ya, mungkin orang tua khawatir anaknya telantar kalau calon suaminya nggak punya penghasilan tetap.

Yang kayak begini ada lho dialami teman saya. Biar kata calon suami sudah punya usaha yang cukup maju dan lumayan mapan tetap belum direstui karena bukan pegawai. Ternyata masih banyak orang tua yang menganggap kalau wiraswasta atau freelance itu ibarat nggak punya pekerjaan tetap. Hmmm, apa kabarnya kalo calon mantunya blogger ya? Belum tahu aja kalo banyak blogger yang kantongnya tebal-tebal, hihi.

4. Nggak bisa bikin pesta resepsi besar-besaran
pict from 1cak

Momen pernikahan di Indonesia selalu dibarengi dengan resepsi. Banyak yang masih berpedoman kalau resepsi harus besar-besaran. Mungkin orang tua saya juga termasuk yang mensyaratkan resepsi. Walaupun nggak besar-besaran kayak artis (hmmm, yakali) tapi alhamdulillah waktu itu ada dananya jadi bisa merayakan resepsi walaupun di rumah.

Tapi ada juga yang ternyata belum direstui menikah karena sang pasangan belum punya cukup dana buat ‘pestain’ besar-besaran. Coba calon mertuanya dikasih gambaran pernikahannya Mark Zuckerberg, siapa tahu jadi sadar, ihik. Atau jangan-jangan malah tambah nggak disetujui menikah.

5. Kepergok ‘noyor’ kepala pasangan sama orang tuanya

Tetangga saya ada yang stres batal nikah gara-gara pas lagi becanda sama calon suaminya trus noyor dan terlihat sama calon mertua. Tahu kan noyor? Itu lho kayak memukul ringan kepala dengan tangan, biasanya pas lagi becanda. Sepertinya sang calon mertua tersinggung karena noyor laki-laki yang dianggap akan jadi suami itu nggak sopan. Memang benar sih nggak sopan, tapi sayangnya karena hal ini pernikahan tetangga saya jadi benar-benar batal. Sang calon pengantin perempuan pun stres berat. Sepele ya? Sepele sekali mungkin, tapi pelajaran yang didapat adalah tetap sopan dengan calon pasangan. Biar sudah pacaran lama dan mau menikah tetap harus sopan walaupun saat bercanda.

pernikahan-tak-direstui

Hmmm, kompleks ya ternyata kalau mau menikah di Indonesia? Punya cerita tentang halangan konyol untuk menikah juga? Share yuk.

 

ratna dewi

43 Comments
Previous Post
Next Post