Berkompromi dengan Kebiasaan Buruk Pasangan, Bisa Nggak Sih?

Pernikahan konon akan menelanjangi kebiasaan seseorang seluruhnya. Dari kebiasaan baik hingga yang buruk sekaligus. Tak ada yang bisa ditutup-tutupi oleh dua orang yang telah menikah. Apalagi kalau sudah menginjak umur pernikahan bertahun-tahun. Tiap-tiap orang pasti sudah tahu kebiasaan pasangannya khususnya kebiasaan buruk.

Zaman perkenalan atau pacaran, kita biasanya selalu melihat pasangan semuanya dari sisi yang baik. Namun, apa yang terjadi ketika sudah menikah? Bahkan dari hari pertama sesudah menikah kita akan melihat kebiasaan-kebiasaan pasangan yang tidak sesuai dengan kita (kalau tidak mau kebiasaan itu disebut kebiasaan buruk). Begitu juga dengan saya.

(Baca juga: Alasan-Alasan yang Membuat Menikah Menjadi Begitu Sulit)

Terkadang, dilematis juga menyikapi kebiasaan pasangan yang tidak sesuai dengan kita. Awalnya dulu saya sering marah-marah kalau suami saya melakukan kebiasaan buruk itu. Tapi lama-lama capek juga bok. Masak mau marah-marah tiap hari. Eits, bukan berarti dia aja yang punya kebiasaan tidak bagus. Saya juga sama kok. Cuma beda dalam bereaksi. Kalau saya kadang meletup-letup sementara suami saya kebanyakan stay cool.

Kayaknya tiap rumah tangga punya sisi yang seperti itu ya. Pun rumah tangga saya dan suami. Ada aja kebiasaan saya yang tidak sesuai di mata suami begitu pula sebaliknya. Berikut beberapa kebiasaan suami dan saya yang tidak sesuai di mata masing-masing:

Suami

  • Nonton bola sampai pagi hari. Kadang saya dongkol banget kalau suami begadang sampai pagi demi nonton bola. Untungnya suami saya bukan tipikal orang yang suka berisik dan teriak-teriak ketika nonton bola. Tapi tetap saja bikin kesal soalnya kalau sudah nonton bola sampai pagi kadang susah dibangunkan buat solat subuh dan tidur pagi bikin moodnya sedikit nggak bagus keesokannya.
  • Pegang handphone tak kenal waktu. Karena profesinya sebagai programmer yang punya banyak klien, akhirnya mengharuskan suami selalu cek email di hape. Tapi lama kelamaan dia jadi nggak bisa lepas dari hape ketika nggak ada kegiatan atau lagi berdua sama saya. Saya lagi ngomong, matanya di depan hape. Lagi makan bersama keluarga tangannya nggak bisa lepas dari hape. Dan itu suka bikin saya dongkol.
  • Belanja online diam-diam. Di antara saya dan suami ternyata suamilah yang lebih suka belanja online. Dia rajin melongok program diskon di berbagai e-commerce. Untungnya barang-barang yang dibeli yang unik, kecil, dan kadang murah (karena tergoda diskon) seperti cantolan baju, jam dinding stiker, jam tangan, sepatu, atau tumblr dan bukannya barang-barang mahal jutaan. Tapi tetap saja kadang bikin KZL. Bukannya apa-apa, kadang saya kan pengen nitip sekalian mumpung dibayarin, haha misalnya nitip sepatu nike air max wanita buat olahraga. Selain itu, kadang barang yang dibeli justru teronggok tak terpakai atau malah cepat rusak karena murah. Nah, kalau udah begini jadi simpan sampah deh. Kalau mau dibuang barangnya, saya suka diomelin.

Istri

  • Makan jengkol. Suami saya benci banget kalau saya masak dan makan jengkol (dan juga petai). Baunya bisa serumah-rumah dan pas ngomong sama dia nafas saya jadi bau. Padahal menurut saya jengkol tuh enak banget, ya nggak?
  • Ngupil dan ditempelin di sembarang tempat. It sounds iyucks ya. Tapi kadang saya memang jorok dan suami saya kesel banget karena ada tempelan upil dimana-mana. Dulu pas masih mengontrak, saya punya dinding khusus buat meletakkan upil.
  • Meletakkan sesuatu sekenanya. Suami saya udah hafal banget ini. Dari baju yang habis dipakai, jilbab, tas-tas goodie bag, buku bacaan, jarum pentul, dan masih banyak lagi yang kadang saya taruh brak-bruk gitu aja sekenanya. Alhasil, rumah jadi berantakan deh.

Lalu bagaimana kami menghadapi kebiasaan yang tidak sesuai menurut masing-masing itu? Marah? Pernah, tapi masa tiap hari. Kami nggak akan menghabiskan energi hanya buat marah-marah tiap hari. Lagian kehidupan rumah tangga kan mau marah tiap hari pada akhirnya ketemu lagi, serumah lagi, pas balik badan saat tidur ketemunya muka dia lagi. Nah, makanya saya dan suami harus berkompromi dengan kebiasaan buruk masing-masing. Inilah cara kami berkompromi dengan kebiasaan pasangan yang tidak sesuai:

1. Obrolkan dengan kepala dingin

Biasanya saya utarakan kebiasaan-kebiasaan suami yang tidak saya suka saat kami berduaan, dalam suasana tenang, dan hati adem jadi bicaranya enak nggak pakai emosi. Kebanyakan kami bicara sewaktu sebelum tidur. Kalau sudah saling ngobrol kami jadi plong dan saling berpelukan.

2. Buat perjanjian

Biar kebiasaan buruk itu nggak terus-menerus dilakukan, kami berdua perlu membuat perjanjian atau deal tertentu. Misal, ‘suami boleh nonton bola sampai pagi asal tidak keseringan dan solat malam serta nggak boleh telat solat subuh’, ‘boleh belanja online tapi milih barangnya bareng’, ‘boleh makan jengkol tapi habis itu harus selalu makan permen mint’, dan lain sebagainya. Kalau perjanjiannya tidak ditepati berarti berlaku poin di bawah ini.

3. Berlakukan larangan

Nah, kadang masing-masing dari kita kadang ada waktunya harus keras terhadap kebiasaan buruk pasangan yang nggak bisa hilang atau berubah dengan perjanjian. Kalau sudah begini memang mending diberlakukan larangan dengan periode tertentu atau bahkan selamanya. Misalnya: ternyata suami saya kesiangan solat subuh karena nonton bola sampai pagi maka sebagai hukuman ia dilarang nonton bola sampai pagi selama satu bulan atau setelah dibelikan rumah baru saya tidak boleh meper upil sembarangan di tembok rumah dan tempat-tempat lain.

4. Marah boleh tetapi jangan keseringan


Kalau sudah dongkol banget karena pasangan nggak bisa dikasih tahu, bolehlah marah sesekali asal wajar. Saya juga pernah kok marah sama suami yang seharian lihat handphone terus di hari libur, sementara saya tahu waktu itu nggak ada proyekan atau ‘pekerjaan rumah’. Saat itu sudah saya tegur berkali-kali dan cuek. Alhasil pas dia lagi lengah nggak pegang hape, hapenya saya buang di tempat tak terduga. Setelah itu, suami saya jadi sadar kalau saya marah. Suami saya pun pernah marah kalau saya juga susah dibilangin buat mengendalikan kebiasaan buruk saya.

5. Berdamai dengan kebiasaan buruk pasangan

Kadang ada saatnya saya atau suami sudah capek marah, malas mengungkit perjanjian, atau nggak mau melarang-larang ketika kebiasaan buruk di antara kami ‘kambuh’ kembali. Biasanya yang seperti ini terjadi ketika kami lelah, ngantuk, atau banyak kerjaan. Kalau sudah begini ya sudah cuek saja. Kami memilih berdamai dan menerima apa adanya kebiasaan pasangan yang tak sesuai. Anggap saja itu ‘paket plus-plus’ yang kami dapat ketika bersedia mengarungi hidup bersama. Tak lupa kami mengingat kembali komitmen pernikahan “saya mau terima kamu apa adanya”.

Kalau sudah begini kadang kami maklum sama kebiasaan buruk pasangan. Saya, misalnya, kadang memilih mencari kesibukan lain ketika suami sedang nggak bisa lepas dari hape. Sementara suami lebih memilih berinisiatif membereskan sendiri barang-barang saya yang berserak ketika kebiasaan berantakan saya lagi ‘kambuh’.

Nah, buat kalian yang sudah menikah bagaimana berkompromi dengan kebiasaan pasangan yang tak sesuai di matamu? Share juga yuk pengalamanmu!

 

ratna dewi

35 Comments
Previous Post
Next Post