Pilah-Pilih Acara Buka Puasa Bersama di Bulan Ramadan

Saat Ramadan tiba orang-orang jadi antusias sama banyak hal. Dari merencanakan mudik Lebaran, beli baju baru, bikin kue khas Lebaran, mempersiapkan menu buka dan sahur, sampai yang nggak kalah ketinggalan adalah euforia merencanakan acara buka puasa bersama. Banyak jadwal buka bersama (bukber) yang direncanakan dari jauh-jauh hari. Event bukber ini juga sekalian bisa jadi ajang reuni bagi beberapa kelompok.

(Baca juga: Jalan Tengah agar Reuni Tak Berakhir Hanya Sebagai Wacana)

Bukber khususnya bagi kaum urban sepertinya jadi agenda wajib yang harus dilaksanakan dan dihadiri di setiap tahunnya. Selain mempertemukan lagi dengan beberapa teman yang sudah sibuk masing-masing, acara bukber juga bisa jadi ladang pahala kalau dikonsep dengan baik misalnya menyertakan anak yatim piatu atau sambil mengumpulkan sumbangan untuk dhuafa. Jadi, bukber nggak melulu terkesan jadi acara kumpul-kumpul yang mubazir.

Kalau dulu saat masih kerja, acara bukber lembaga, komunitas, atau organisasi ini justru jadi acara yang ditunggu-tunggu. Apalagi kalau kena shift siang atau sore. Diplot ke acara bukber berarti siap makan makanan enak alias perbaikan gizi, sedikit kerja (paling cuma kejar beberapa tokoh yang hadir disitu), kalau beruntung syukur-syukur dapat doorprize. Makanya dulu paling senang kalau ditempatkan liputan di acara bukber. Tapi semua jadi berbeda saat sudah nggak kerja. Acara bukber masih ada tapi kali ini dari kalangan pertemanan.

jadwal bukber

Bukber Butuh Banyak Pertimbangan

Nah, kamu sampai hari ini sudah menerima atau menghadiri berapa event bukber Ramadan?

Kalau saya sih belum. Selain memang sedikit grup teman yang merencanakan bukber (yang lain sudah nggak begitu antusias karena tahun-tahun sebelumnya ada beberapa yang cuma jadi wacana), saya juga selektif pilih ajakan buka puasa bersama saat Ramadan kali ini. Sama seperti Ramadan sebelumnya, saya memang meniatkan selektif mengambil acara apapun termasuk buka bersama.

(Baca juga: Inilah Saya, Mantan Wartawan yang (Beruntung) Memilih Menjadi Blogger)

Iya, menurut saya menerima ajakan bukber juga harus selektif. Apalagi kalau tinggalnya di kota besar seperti Jakarta ini. Bukannya apa-apa, karena banyak hal yang harus banget jadi pertimbangan, antara lain:

1. Macet

Alasan saya selektif banget menghadiri acara bukber salah satunya adalah nggak kuat menghadapi macetnya Jakarta saat menuju jam buka puasa. Kayaknya pas jam-jam 4-5 sore semua orang tumplek blek di jalan raya. Kombinasi banyaknya pedagang dadakan beserta pembelinya di pinggir jalan, orang-orang yang pulang cepat demi berbuka puasa di rumah bersama keluarga, dan orang-orang yang menuju pusat keramaian demi acara bukber menjadi pemicu macet di sore hari jelang berbuka puasa. Apalagi semua orang sama-sama pengen cepat sampai rumah. Banyak orang juga sudah ada di batas kritis lapar dan haus. Nggak heran kalau jadi banyak yang emosi karena jalanan macet.

traffic jam

Begitu juga dengan saya yang kadang suka emosi sendiri kalau sudah macet begini. Belum apa-apa sudah capek di jalan. Apalagi untuk keluar dari daerah rumah saya yang memang terkenal macet. Walaupun sudah memilih naik ojek online atau kereta tetap saja harus menghadapi kenyataan berdesakan sama banyak orang. Inilah yang akhirnya bikin saya selektif banget pilih bukber. Takut-takut emosi di jalan, pas nunggu abang ojek online yang tak kunjung datang, atau rebutan masuk KRL malah akan merusak puasa, huhuhu. Kan sayang kalau puasa rusak karena hal sepele.

2. Boros pengeluaran

Menerima ajakan bukber berarti harus menyiapkan dana ekstra paling tidak buat bayar makan. Seringnya acara bukber diadakan di cafe atau restoran. Itu berarti ada uang yang harus dikeluarkan untuk membeli makanan. Kalaupun diadakan di rumah satu teman pun, ada uang patungannya. Ini saja sudah pengeluaran ekstra menurut saya. Belum lagi biaya transport yang harus dikeluarkan untuk sampai ke lokasi acara.

Buat saya aja, sekali bukber paling nggak mengeluarkan Rp 100-150 ribu rupiah buat makan. Belum biaya transportasi menuju tempat bukber dari rumah bisa Rp 50.000. Kalau dirata-rata sehari mengeluarkan Rp 200.000. Kalau ada 10x acara bukber aja, bisa 2 juta loh keluarnya. Nggak terasa ya tapi 2 juta ini lumayan banget kalau buat ngapa-ngapain. Lebih berfaedah lagi malah kalau disumbangkan ke anak yatim.

3. Nggak nyaman dengan tempat bukber

Saat jam buka puasa, banyak tempat makan di Jakarta yang penuh. Untuk bisa dapat tempat duduk, biasanya kita harus reservasi terlebih dahulu. Kalau nggak reservasi dulu ya siap-siap aja bete nunggu antrian waiting list yang kadang suka nggak masuk akal. Apalagi yang waiting list sama-sama dalam kondisi lapar dan dahaga.

Saat sudah dapat tempat duduk karena tiba giliran atau memang sudah reservasi sebelumnya, kadang drama belum berakhir. Banyaknya pesanan di jam yang sama membuat para pramusaji sibuk dan pontang-panting melayani konsumen. Nggak jarang ada pesanan yang salah, ketinggalan, nggak diantar, dobel, atau datangnya lama. Mau marah sama pelayannya juga nggak tega karena mereka juga mengorbankan waktu berbuka buat bersabar menghadapi konsumen yang kadang maunya macam-macam.

Ini baru drama di tempat makan. Saat habis berbuka dan makan sedikit takjil, otomatis kita harus salat Maghrib. Kalau tempat makan atau mall tempat bukbernya ada masjid atau musala sih nggak apa-apa, tapi kalau nggak ada kan harus ada effort lebih buat nyari tempat ibadah. Kalaupun ada tempat ibadah pasti antriannya juga mengular mengingat waktu Maghrib yang sangat sempit. Inilah yang bikin kadang bukber jadi nggak tenang.

4. Meninggalkan beberapa hal saat Ramadhan

Acara bukber nggak cuma 30 menit atau 1 jam kan? Nggak cuma bedug-makan-pulang kan? Bahkan kadang banyak acara bukber yang sampai berjam-jam. Bisa sampai jam 8 atau 9 malam. Itu juga kadang acara cuma diisi sama ngobrol-ngobrol yang bisa menjurus ke gosipan. Artinya, waktu terbuang sia-sia dan banyak hal yang harus ditinggalkan. Yang paling sering adalah salat tarawih yang jadi skip gara-gara bukber. Sampai rumah pun sudah ngantuk. Niat salat tarawih di rumah jadi batal gegara badan capek dan ngantuk, huhu.

Sayang banget ya. Padahal momen salat tarawih kan cuma ada di Bulan Ramadan. Buat saya kalau Bulan Ramadan nggak mencicipi tarawih itu kurang greget. Belum lagi kalau yang suka tadarusan setelah salat pasti jadwal dan targetnya jadi berantakan. Nah, buat yang punya keluarga kecil juga sayang banget kan kalau momen buka puasa bareng keluarga di rumah ditinggalkan gara-gara memenuhi undangan buka puasa bersama yang nggak ada habisnya.

Tip Bukber

Tapi nggak berarti trus saya anti-bukber dan nggak ikutan bukber sama sekali kok. Saya masih ikutan beberapa bukber tapi selektif banget. Tahun lalu, saya 3 kali datang di acara bukber bareng teman. Itu pun acaranya nggak formal alias cuma janjian spontan lalu jadi. Nah, dari saya ada beberapa tip nih agar selektif mengikuti bukber di Bulan Ramadan:

1. Nggak semua acara bukber wajib dihadiri

Ini adalah prinsip saya biar nggak jadi beban. Pilih acara bukber yang sekiranya penting banget. Seperti tahun lalu, saya pilih 3 acara bukber dan semuanya dengan teman-teman dekat. Alasannya adalah karena sudah jarang bisa ngumpul dan lebih intim. Salah satu acara bukber bahkan rela saya datangi karena ada teman akrab saya zaman kuliah yang lagi pulang dari Australia dan setelah Lebaran sudah terbang ke Amerika. Jadi mau nggak mau saya bela-belain datang karena kita sudah sekitar 6 tahun nggak jumpa.

tahun lalu sempat bukber sama genk jurnalis zaman masih di tv merah

tahun lalu sempat bukber sama genk jurnalis zaman masih di tv merah

Saya justru biasanya jarang datang di acara bukber komunitas (alumni atau organisasi). Beberapa kali acara bukber komunitas yang saya datangi anggotanya terlalu banyak sehingga saat acara bukber malah jadi sibuk sendiri-sendiri dan kurang fokus sama acara inti.

2. Sesuaikan dengan kondisi

Ini juga penting banget. Jangan memaksakan ikut bukber kalau kondisi nggak memungkinkan. Kondisi ini luas banget cakupannya, dari kondisi waktu, kemanan, tempat, kesehatan, dompet atau keuangan, kesehatan keluarga, jalanan, cuaca, pekerjaan, dan masih banyak lagi. Jangan segan untuk bilang “Maaf nggak bisa datang” kalau memang situasi dan kondisi nggak memungkinkan.

3. Urun rembug untuk acara bukber

Walaupun hanya bukber dengan teman-teman segenk, tapi nggak ada salahnya kalau kita urun rembug atau kasih masukan saat merencanakan acara bukber. Jadi jangan pasrah-pasrah banget. Misalnya, kita boleh protes dan mengajukan alternatif tempat bukber kalau ternyata venue yang diusulkan berada di kawasan macet, nggak ramah anak, nggak ada tempat salat, makanannya terlalu mahal, atau pelayanannya nggak enak. Dengan urun rembug, orang yang jadi PIC acara bukber jadi tahu dan mempertimbangkan apa maunya orang-orang yang ikut acara bukber.

4. Bukber nggak harus di tempat makan

Banyak tempat makan yang full booked dan pelayannya repot saat bukber. Kalau sudah begini, mending bikin acara bukber di tempat yang berbeda misalnya di tempat salah satu anggota bukber. Syaratnya memang harus ada yang mau mengorbankan tempatnya jadi venue acara plus harus mau repot menyiapkan segala sesuatunya. Pun harus ada anggota lain yang komitmen ikut membantu biar si tuan rumah juga nggak kerepotan.

Jangan lupa, pilih rumah yang luas agar bisa menampung banyak orang jika anggota bukber ada banyak. Bukber di rumah juga nggak kalah seru kok kalau benar-benar dikonsep. Misalnya, bikin acara ngeliwet, pakai tema, pengajian yang mengundang ustaz, atau tarawih bareng. Waktunya pun jadi lebih fleksibel.

5. Konsepkan acara bukber 

Seringnya acara bukber diisi dengan makan-makan lalu ngobrol ngalor-ngidul atau malah berakhir sibuk sendiri-sendiri sama handphone. Bosen nggak sih? Kalau saya sih iya. Jadi memang mendambakan acara bukber yang lain misalnya sambil ngundang anak yatim atau malah dilaksanakan di panti asuhan, dikonsep dengan acara khusus misalnya ada doorprize atau tukar kado, atau malah bukber dengan tema tertentu misalnya kaftan atau nuansa Timur Tengah. Jadi, acara ada fokus utamanya nggak sekadar ngobrol nggak menentu.

Nah, gimana? Sudah merencanakan bukbermu mau sama siapa aja?

Bukber boleh saja tapi jangan lupa, yang paling penting dari Ramadan adalah bukan melulu euforia keduniawiannya tetapi juga harus bergembira dan berlomba-lomba beribadah karena bulan ini adalah bulan yang benar-benar istimewa. Jadi, boleh bukber tapi ibadah jangan sampai keteteran ya.

 

ratna dewi

23 Comments
Previous Post
Next Post