Jalan Tengah agar Reuni Tak Berakhir Hanya Sebagai Wacana

reunited

A: Jadi kapan nih kita ketemuan?

B: Sabtu ya, gue bisa nih.

C: Terserah.

D: Yah, jangan sabtu, gue masuk. Liburnya Kamis Jumat

A: Ya udah Jumat sore aja gimana?

B: Deal ya Jumat sore.

E: Yah kok sore sih? Gue nggak bisa kalo sore udah ada acara.

(DAN SETERUSNYA SELALU SEPERTI ITU HINGGA TAK PERNAH BERTEMU)

Sering nggak sih mengalami kejadian kayak percakapan di atas? Terlalu heboh merencanakan reuni lalu hanya berakhir sebagai wacana. Saya sih sering, sering banget malah. Rencana reuni dan kumpul-kumpul 90 persen biasanya hanya berakhir sebagai wacana. Hot diawal, melempem di akhir dan begitu terus sampai negara api menyerang.

Apalagi pas bulan puasa seperti sekarang ini. Berbagai reuni direncanakan dengan berbagai teman dari banyak golongan dengan embel-embel sekalian buka puasa bareng. Dari teman SD, SMP, SMA, kuliah, kantor, teman hang out, sampai teman satu organisasi semuanya mengajak reuni. Dari tempat, waktu, sampai kostum atau dresscode mungkin sudah dibicarakan matang. Tapi berapa rencana reuni yang akhirnya berakhir cuma sebagai wacana? Saya yakin ada. Atau mungkin saja ada yang akhirnya reuninya jadi garing karena terbentur si ini nggak bisa begini dan si itu nggak bisa begitu.

Buat yang sudah punya jalan hidup masing-masing reuni memang bukan hal yang mudah. Ada yang sudah sibuk sama keluarganya, pekerjaannya, teman-teman barunya, atau kegiatannya. Kehidupan orang dewasa memangย complicated. Perkara berkumpul saja begitu susah. Lalu bagaimana baiknya? Haruskah kita memaksakan untuk bertemu dengan formasi genk lengkap? Lalu sampai kapan akan menunggu? Kalau terlalu lama, bagaimana menyimpan rindu bertemu teman-teman?

Enaknya memang berdamai sama keadaan. Ada banyak jalan tengah yang bisa diambil sebenarnya untuk masalah ini.

1. Sadarilah bahwa mengumpulkan banyak teman dalam satu waktu dan tempat akan sangat sulit dan hampir mustahil

Berapa banyak dari kita yang ‘keukeuh’ mengumpulkan formasi teman satu genk tapi semuanya hanya bermuara di rencana? Sadarlah bahwa mengumpulkan orang dewasa dalam satu waktu adalah hal yang sulit. Bahkan, Mira Lesmana saja gagal mengumpulkan Genk Cinta karena terbentur Alya yang sedang sekolah dan nggak bisa ditinggalkan. Kalau sudah begini ya kita yang harus legowo dan bikin plan A, B, C, dan seterusnya buat reuni. Satu atau dua orang yang nggak bisa terkadang memang harus ‘dikorbankan’ agar reuni tetap bisa berjalan.

2. Jangan rencanakan reuni karena rencana biasanya berakhir sebagai wacana

Saran saya sih jangan rencanakan reuni terlalu heboh. Berapa banyak rencana reuni dengan formasi lengkap yang berakhir hanya sebagai wacana? Biasanya reuni yang terlalu ‘hot’ direncanakan akan berakhir sebagai wacana. Kalaupun tidak, maka reuni yang terjadi tidaklah se’hot’ yang direncanakan. Akan ada beberapa orang yang akhirnya nggak bisa ikut karena jadwal yang tidak cocok. Atau karena banyak yang bilang ‘terserah’ atau ‘ngikut aja’ akhirnya jadi bingung sendiri. Karena yang bilang terserah sebenarnya pasrah tapi ujung-ujungnya tak bisa ketemu.

rencana buka bersama 3. Tegas memutuskan sesuatu

Merencanakan reuni berarti harus berunding bahkan berargumen dengan banyak kepala. Oleh karena itu dibutuhkan satu koordinator pengambil keputusan. Sang koordinator harus tegas dan konsisten dengan komitmen reuni. Sang koordinator juga harus bisa mengambil keputusan yang mengutamakan kepentingan banyak orang, bukan satu atau dua orang.

Misalnya, akan ada yang protes atau bilang nggak bisa atau kejauhan ketika reuni dilakukan di tempat A. Ketika koordinator memutuskan pindah ke tempat B, si X sama Z justru yang balik protes. Nah, kalau sudah begini dibutuhkan ketegasan ekstra buat memutuskan. Keputusan bisa jadi tidak akan memuaskan semua pihak. Tapi paling tidak keputusan yang diambil bisa mengakomodir banyak orang.

4. Buatlah janji dengan beberapa orang yang bisa saja

Kalau sudah begini, jalan tengah yang bisa diambil mungkin berencana dengan beberapa orang saja. Rencanakan ketemuan dengan satu atau dua orang saja, kemudian lakukan seperti itu dengan yang lain. Selain lebih intim, janjian dengan sedikit orang lebih simpel mengaturnya. Beberapa hal yang kebetulan biasanya malah bisa terjadi jika janjian dengan satu atau dua orang. Ini pernah saya alami betul beberapa kali. Secara kebetulan, kita akan ketemu dengan teman kita yang kebetulan sedang berada di tempat itu.

5. Jika sangat rindu dengan teman, datangilah satu per satu lalu minta yang lain ikut menyusul

Terkadang ada saatnya kita sangat rindu sama seorang atau beberapa teman, Atau kadang justru sebaliknya. Sekadar ngobrol, curhat, atau sedikit gosip jadi sesuatu yang bikin kangen. Kalau sudah begini, baiknya mending janjian secara pribadi dengan satu atau beberapa teman. Janjian dengan sedikit orang tentu lebih mudah dibandingkan dengan banyak orang yang biasanya akan berakhir sebagai wacana.

Kalau sudah begini biasanya saya memilih janjian dengan satu orang. Kalau sudah bertemu, jangan lupa foto bareng, trus upload di media sosial dan tag teman yang lain. Yah, biar mereka jadi ngiri dikit nggak apa-apalah. Trus suruh teman yang lain merapat ke tempat ketemuan deh. Biasanya akan ada satu atau dua orang yang memperjuangkan dirinya untuk bisa ketemuan.

6. Berbesar hati kalau memang tidak bisa bertemu banyak teman dalam satu waktu

Kalau pada akhirnya semua cara yang telah dituliskan tak bisa mewujudkan kita untuk bertemu atau reuni dengan teman-teman, ya sudahlah berbesar hati saja. Pada akhirnya kita harus menyadari bahwa kita dan teman-teman tumbuh dan memiliki kehidupan masing-masing. Kehidupan orang dewasa yang complicated memang menyusahkan untuk bertemu atau sekadar janjian. Jika memang tidak bisa bertemu di dunia nyata, kita masih bisa bertemu dan berkomunikasi lewat media sosial atau aplikasi pesan. Yang penting kan silaturahmi dan komunikasi tetap terjaga dan tidak terputus.

 

ratna dewi

 

 

28 Comments
Previous Post
penyebab-jarang-update-blog
Next Post
lazada-super-mama