#ExplorePurworejo (Bagian 1): Menikmati Bruno dari Ketinggian di Curug Gunung Putri

Kalau ditanya hal apa yang mengesankan selama libur Lebaran kemarin, jawabannya banyak. Salah satunya adalah saya berhasil untuk reuni dan menjelajah beberapa destinasi wisata di Purworejo bersama teman-teman. Iya, akhirnya rencana ini kesampaian juga setelah yang sudah-sudah rencana berakhir sebagai wacana. Pada libur Lebaran kali inilah semuanya serba mendukung untuk kami menjelajah bersama.

Perjalanan kali ini saya ikuti bersama suami. Selain bersama suami ada pula beberapa teman saya baik teman SMP atau SMA yang jadi peserta. Yah, itung-itung sebagai reuni dan ajang halalal bihalal. Oh ya, ini adalah kali pertama saya mengeksplore Purworejo bersama teman-teman. Sebelum-sebelumnya, saya selalu mengeksplore Purworejo bersama suami alias hanya berdua.

(Baca juga:ย Syahdunya Senja dan Deburan Ombak di Pantai Jatimalang, Purworejo)

Teman saya, Amien, bertindak sebagai pemandu. Ia sudah membuat dan mempersiapkan itinerary agar perjalanan kami terarah. Asyiknya lagi, explore Purworejo kali ini menggunakan motor alias touring. Ah, saya jadi flashback kala terakhir touring adalah saat saya masih kuliah sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah itu, saya nggak pernah lagi ‘gila-gilaan’ bersama teman-teman. Makanya saya sangat excited pada perjalanan kali ini.

Jalan Berliku yang Memanjakan Mata

Rute touring kali ini adalah wilayah Kemiri-Bruno-Pituruh. Kami semua berkumpul saat pagi hari tepatnya pukul 06.45 di Alun-Alun Kemiri. Karena jarak yang ditempuh antar satu tempat ke tempat lain cukup jauh, maka kami memulainya pada pagi hari. Setelah semuanya berkumpul, kami pun segera bergerak menuju arah Bruno. Perjalanan kali ini kami tempuh melalui rute Kemiri- Karangdhuwur-Bruno.

Sebagai orang Purworejo, jujur saja saya ini kuper kalau masalah jelajah-menjelajah. Selain karena nggak bisa naik motor, saya juga tipikal anak rumahan. Jadi, selama belasan tahun tinggal di Purworejo uplak-uplek kegiatan saya hanya sekitar rumah-sekolah alias Kutoarjo-Purworejo. Makanya, saya nggak pernah tahu daerah-daerah lain di Purworejo dan baru tahu akhir-akhir ini. Dan inilah perjalanan pertama kali saya untuk menuju daerah Bruno.

Kalau kata bapak dan orang-orang lain, Bruno itu identik dengan dingin karena dataran tinggi dan aksesnya yang rusak. Namun, apa yang saya lihat pagi hari itu sangat berbeda. Jalanan menuju Bruno halus sekali dengan aspal barunya. Sementara udara pagi itu sejuk. Saya pakai sweater hanya karena naik motor dan menghindari angin kencang.

Sebagai seorang pemandu, Amien tidak lantas membiarkan kami tidak menikmati perjalanan. Belum sampai setengah perjalanan berlangsung, kami berhenti di area persawahan yang sudah masuk kawasan Kecamatan Bruno untuk beristirahat sebentar dan menikmati alam. Area persawahan itu juga jadi tempat yang bagus untuk foto-foto. Ketika melihatnya, saya jadi dejavu dengan sawah-sawah yang mirip di Ubud, Bali.

persawahan-bruno

persawahan-di-bruno

Wah pemandangan Purworejo memang nggak kalah sama Ubud, batin saya. Sawah-sawah dengan sengkedannya, bukit yang berbaris, tanaman hijau, dan pohon-pohon kelapa yang menjulang membuat suasana persawahan di Bruno mirip dengan Ubud. Tak mau menyiakan kesempatan, kami pun mengambil banyak gambar di area tersebut. Selain pemandangannya indah, udaranya pun sangat segar. Beruntung saya bisa menikmatinya di pagi hari.

Puas berfoto, kami pun segera melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kami menuju Desa Cepedak, Bruno, tempat dimana destinasi pertama perjalanan ini. Namun, sebelum menuju destinasi yang dimaksud, kami mampir terlebih dahulu ke Pasar Desa Cepedak untuk mengisi amunisi alias makan. Pasarnya sangat tradisional, berada di kaki bukit. Pasar Desa Cepedak ini juga sangat berbeda dengan Pasar Kutoarjo, pasar dekat rumah saya, yang sudah tumbuh menjadi pasar yang cukup modern.

Di Pasar Cepedak, penjual menjajakan dagangannya di los-los pasar tanpa sekat. Khas pasar tradisional di daerah-daerah banget lah pokoknya. Kadang ada juga penjual yang menjajakan barang dagangan di sepanjang jalan karena tidak memiliki kios atau los. Nggak cuma itu, harga-harga barang di Pasar Cepedak pun relatif murah. Saya makan sate plus lontong hanya mengeluarkan Rp 5000. Cukup untuk mengganjal perut pagi itu. Selain membeli makanan, saya juga membeli cermin jadul di mbah-mbah penjual kembang seharga Rp 7500. Oh ya, kalau kamu ke daerah-daerah di Jawa Tengah jangan heran kalau melihat masih banyak mbah-mbah yang berjualan atau turun ke sawah. Banyak dari mereka yang masih sehat dan punya daya juang hidup yang tinggi lho.

pasar-cepedak

pasar-desa-cepedak

pasar-cepedak-bruno

Sementara itu, sebelum beranjak meninggalkan pasar rombongan kami bertemu dengan penjual gula aren lumut khas Bruno. Gula aren ini khas sekali karena bentuknya yang seperti lempeng cakram, bundar dan pipih dengan diameter sekitar 20cm. Namanya gula aren lumut. Gula aren ini berbeda dengan gula aren yang biasa dijual dengan bentuk setengah bola atau berbentuk mirip bakwan. Satu buah gula aren lumut dibanderol dengan harga Rp 16.000 dengan perkiraan berat 1kg pun masuk ke tas sebagai oleh-oleh.

gula-aren-lumut

gula-aren-khas-bruno

Perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Setelah dari pasar, medan yang kami lalui bukan lagi jalan besar melainkan jalan setapak kecil atau jalan kampung yang terjal dan menanjak. Agak horor memang mengingat saya dan suami khususnya memakai motor matic. Tapi alhamdulillah bisa juga untuk menempuh jalanan yang menanjak.

Sebelum sampai ke destinasi pertama, kami akan melewati hutan pinus nan asri dan instagrammable. Kami pun berhenti sejenak sebelum melewati hutan pinus yang jalanannya akan terus menanjak hingga sampai ke tujuan. Setelah semuanya berkumpul dan siap, kami pun menanjak naik jalanan hutan pinus untuk menuju ke destinasi yang pertama yaitu Curug Gunung Putri.

Menikmati Hijaunya Pemandangan dari Curug Gunung Putri

Destinasi pertama kami adalah Curug Gunung Putri. Curug ini sudah lama ada namun ngetrend baru-baru ini di Purworejo karena beberapa bulan yang lalu baru dibuka oleh Tora Sudiro bersama dengan Bupati Purworejo. Sebelum masuk, kami pun memarkirkan kendaraan di depan pintu masuk. Biaya parkir motor di sini adalah Rp 2000 sedangkan tiket masuknya Rp 5000.

tiket-masuk-curug-gunung-putri

Untuk menuju ke curugnya, kami hanya tinggal jalan kaki kurang lebih 300-500 meter. Jalanannya juga gampang, nggak naik-turun yang curam dan terjal seperti halnya akses-akses menuju curug lainnya. Setelah berjalan kaki, lalu kami tiba di ruangan luas terbuka dengan pemandangan air terjun setinggi 70 meter dan juga hutan pinus. Ya, itulah Curug Gunung Putri.

Curug Gunung Putri berada di Desa Cepedak, Bruno. Curug ini dikelilingi oleh hutan pinus dan berada di atas ketinggian perbukitan. Kalau saya sih berasa di setting film Indiana Jones pas kesini, hahaha. Selain menikmati segarnya pemandangan air terjun, pengunjung juga bisa menikmati indahnya pemandangan bukit bebatuan dan hutan pinus sambil duduk-duduk. Di kawasan Curug Gunung Putri memang disediakan banyak tempat duduk untuk bersantai menikmati pemandangan, baik itu tempat duduk kayu ataupun hammock.

wisata-curug-gunung-putri

Thumbnail Youtube

Selain duduk dan menikmati pemandangan, pengunjung juga bisa berfoto di berbagai tempat seperti jembatan buatan, di atas bebatuan di depan air terjun, atau di bawah payung-payung yang digantung di sekitar pepohonan pinus. Oh ya, di curug ini pengunjung tidak disarankan untuk mandi atau berenang karena medannya yang curam dan banyak bebatuan.

Saat kami bersantai para lelaki pindah ke destinasi lain yaitu Curug Kaliurang buat mandi dan berenang. Kami sengaja ditinggal di Curug Gunung Putri karena jalanan menuju Curug Kaliurang curam dan licin. Itu semua karena curug tersebut belum dibuka untuk umum. Kata suami saya sih jalanannya memang tidak recommended tapi ketika sampai di curugnya, airnya segar sekali dan pemandangannya bagus.

Puas duduk-duduk santai di bawah, saya dan teman-teman perempuan pun pindah ke area lain. Kami berjalan menuju Jembatan Awang-Awang. Mengapa disebut Jembatan Awang-Awang? Karena jembatan ini akan membawa kita seolah di atas langit. Kata awang-awang dalam Bahasa Jawa berarti langit. Memang, ketika berada di jembatan ini kami bisa melihat Bruno dari ketinggian dan seolah berada di langit.

Salah satu kendala di Purworejo adalah susah sinyal di beberapa tempat. Termasuk di desanya suami dan tempat-tempat wisata. Makanya foto-foto indahnya jadi #superlatepost. Tapi nggak apa-apa lah, susahnya sinyal bukan jadi penghalang untuk memviralkan Purworejo di dunia maya. . . Ini adalah salah satu spot favorit saya waktu touring, pemandangan dari gardu pandang di Curug Gunung Putri, Bruno. Kalau kesana, jangan lupa naik ke jembatan dan lihat pemandangan dari atas. Serasa kayak di atas awan. . . . #traveldiary #instatravel #travel #traveling #backtonature #brunoupdate #wisatabruno #green #purworejonan #purworejohitz #explorepurworejo #sorotpurworejo #dolanjateng #jatenggayeng #visitjateng #wonderfulindonesia #like4like #follow4follow #daysofhappiness

A post shared by Ratna Dewi (@ratnadewime) on


Gazeebo WR Supratman yang berada di Jembatan Awang-Awang merupakan tempat yang pas untuk melihat Bruno dari ketinggian. Di situ kami bisa melihat gugusan pegunungan dan perbukitan yang mengelilingi Kecamatan Bruno. Ya, gazeebo tersebut memang merupakan titik pandang tertinggi di Curug Gunung Putri. Selain bisa menikmati hijaunya pemandangan, pengunjung juga bisa berfoto di titik foto yang telah dibuat oleh pengelola tempat wisata.

Sebelum menuju Jembatan Awang-Awang, saya sempat berbincang sejenak dengan salah satu pengelola wisata yaitu Mas Tutur Kimin. Ia menyebutkan bahwa ide dan pemeliharaan lokasi wisata ini sepenuhnya dilakukan oleh pemuda desa atau yang biasa disebut LMD (Lembaga Masyarakat Desa).

(Baca juga:ย Pantai Jetis, Pantai Penuh Cinta dengan Spot Foto Kekinian)

“Kalaupun ada campur tangan pemerintah paling hanya kami minta izin sama Perhutani untuk mengelola wilayah ini,” ujar Tutur Kimin.

Oleh karenanya, saya salut dengan masyarakat lokal yang ingin maju dan membangun secara swadaya potensi-potensi wisata yang ada di wilayahnya. Salah satunya ya yang ada di lingkungan Curug Gunung Putri ini. Melalui pendapatan dari tiket masuk (atau terkadang ada sponsor dari pihak swasta) mereka mengembangkan sendiri kawasan wisata yang dikelolanya. Untuk Curug Gunung Putri, rencana pembangunan selanjutnya yang akan dilakukan adalah membangun arena permainan kolam air dan juga outbond.

curug-gunung-putri-cepedak

Karena terhitung masih baru, belum banyak fasilitas pendukung yang ada di kawasan wisata ini. Saya hanya melihat beberapa kios yang menjajakan minuman dan makanan ringan serta oleh-oleh seperti gantungan kunci atau kaos di area dekat pintu masuk. Bahkan saya tak melihat (atau mungkin luput dari pandangan) fasilitas seperti toilet dan juga musala yang biasanya memang sangat dibutuhkan oleh pengunjung.

Lalu bagaimana caranya untuk ke kawasan Curug Gunung Putri ini? Kendaraan paling praktis dan mudah menjangkau lokasi adalah motor. Kalau pengunjung naik motor bisa langsung parkir di depan pintu masuknya walau jalan menuju ke pintu masuk menanjak. Sementara jika menggunakan mobil, pengunjung musti parkir di bawah dan berjalan sekitar 1,5 km untuk menuju lokasi wisata, Sedangkan bagi mereka yang ingin menggunakan kendaraan umum, bisa naik Kopada jurusan Bruno dari Pasar Kutoarjo hingga Pasar Cepedak lalu dilanjutkan dengan naik ojek atau jalan kaki sejauh sekitar 2 km untuk menuju lokasi curug. Usahakan berangkat saat pagi hari agar sampai di curug tidak terlalu panas dan siang.

Memang, akomodasi menuju Curug Gunung Putri masih sangat terbatas namun tak menyurutkan bagi para wisatawan untuk menikmati segarnya udara di sana. Sementara bagi kalian yang mungkin tertarik ingin ke Curug Gunung Putri, kalian bisa melewati rute Kutoarjo-Karangdhuwur-Bruno atau Kemiri-Karangdhuwur-Bruno.

Oh ya, buat yang pengen tahu keseruan saat saya dan teman-teman mengeksplore wilayah Kemiri-Bruno-Pituruh bisa lihat videonya di bawah ini:

CURUG GUNUNG PUTRI
Lokasi: Desa Cepedak, Bruno
Contact Person:ย Arif (085201712017)

ratna dewi

25 Comments
Previous Post
Next Post