#ExplorePurworejo (Bagian 2): Napak Tilas Curug Kyai Kate

Hari sudah mulai panas. Matahari semakin naik. Perjalanan saya dan teman baru separuh. Setelah puas menikmati segar dan hijaunya pemandangan di Curug Gunung Putri, Bruno, kami pun segera bergegas untuk menuju destinasi selanjutnya. Kali ini Mas Arif, salah satu pengelola Curug Gunung Putri menjadi penunjuk jalan sekaligus mengantar kami ke destinasi selanjutnya yaitu Curug Kyai Kate.

Kalau sebelumnya perjalanan saya ke Curug Gunung Putri lumayan terjal, ini belum seberapa jika dibandingkan perjalanan ke Curug Kyai Kate. Dari Curug Gunung Putri, saya melewati jalanan pedesaan yang kadang halus tapi kebanyakan sih sudah rusak. Hingga akhirnya kami memasuki sebuah gapura kecil sebagai penunjuk jalan arah menuju Curug Kyai Kate.

(Baca juga: #ExplorePurworejo (Bagian 1): Menikmati Bruno dari Ketinggian di Curug Gunung Putri)

Lalu apakah tidak jauh lagi saya akan sampai? Awalnya perkiraan saya dan teman mungkin begitu tapi ternyata tidak. Kami harus melewati ‘loket’ dadakan yang dibuat dari susunan meja dan terdapat beberapa pemuda pengelola di sana. Sekilas mirip meja-meja penerima tamu di acara pernikahan. Setelah melewatinya saya baru tahu kalau itu adalah loket.

Beberapa orang sudah tidak boleh masuk menggunakan sepeda motor untuk menuju curug. Mereka harus menitipkannya di penitipan dekat dengan loket dadakan tersebut. Alasannya adalah karena tempat penitipan motor di Curug Kyai Kate terbatas dan sudah penuh. Pun dengan jalanan menuju sana yang sempit dan licin tidak memungkinkan untuk dilewati banyak kendaraan. Kadang, kalau ada motor dari arah yang berlawanan kami pun harus berhenti sejenak dan bergantian lewat.

Melewati loket dadakan tersebut, rombongan saya dan teman akhirnya diperbolehkan masuk menggunakan motor. Karena dibantu Mas Arif yang punya jaringan dengan pengelola di sana, kami pun bisa melaju dengan sepeda motor dan tidak harus capek berjalan naik turun jalan sempit menuju Curug Kyai Kate. Iya, saat itu banyak orang yang akhirnya memilih berjalan menuju curug.

(Baca juga: Syahdunya Senja dan Deburan Ombak di Pantai Jatimalang, Purworejo)

Jalan yang dilewati adalah jalan setapak dengan lebar kurang lebih 1 meter. Jalannya naik-turun, dengan kondisi ada yang sudah teraspal ada juga yang masih berupa tanah basah. Rombongan kami pun harus berhati-hati pasalnya kombinasi turunan dan tikungan tajam yang licin bisa saja menggelincirkan ban motor kami. Namun, pemandangan di sepanjang jalan setapak sangat bagus. Mulai dari hamparan sawah hingga hutan-hutan nan asri. Sepanjang jalan pun ada beberapa petugas yang berjaga untuk memandu dan memeringatkan kami agar selalu berhati-hati khususnya di jalanan licin. Biasanya mereka berjaga di tikungan-tikungan yang tajam.

Segarnya Tempat Pertapaan Kyai Kate

Setelah melewati jalan setapak yang bikin sport jantung sejauh sekitar 1 km, akhirnya sampailah kami ke Curug Kyai Kate. Awalnya, perkiraan saya curug ini akan kecil karena jalan menuju ke sana memang sangat sempit. Ternyata saya salah. Tiba di area curug, kami memang harus menempatkan motor di area parkiran yang lumayan kecil dan terbatas, tapi ini berbanding terbalik dengan suasana curug.

curug-kyai-kate-6-curug-kyai-kate-3-

Kami masuk dalam gapura bambu sederhana sebagai penanda pintu masuk curug dan disambut oleh area curug yang sangat luas. Untuk menuju ke lokasi air terjunnya, kami harus melewati jembatan bambu bergantian karena jembatan ini hanya disarankan dilewati maksimal 5 orang. Jembatan ini membentang di atas sungai dimana mata air Curug Kyai Kate mengalir. Sungai tersebut dangkal dan terdapat banyak bebatuan. Tak heran jika sesekali mata ini melihat beberapa anak kecil melakukan kegiatan tubing menggunakan ban yang berjalan searah arus air.

Hanya perlu berjalan sebentar sekitar 300 meter dari jembatan untuk menuju ke arah air terjun. Dibandingkan dengan Curug Gunung Putri, air terjun di Curug Kyai Kate jauh lebih deras. Saat mendekat ke area air terjun terasa sekali segarnya air yang sesekali menciprat ke arah kami. Air yang mengalir pun sangat jernih. Sesekali saya mencelupkan kaki ke dalam air tersebut sambil duduk di bebatuan yang ada di pinggiran sungai. Airnya dingin dan bersih.

(Baca juga: Pantai Jetis, Pantai Penuh Cinta dengan Spot Foto Kekinian)

curug-kyai-kate-7- curug-kyai-kate-8-

Sementara itu, beberapa teman memilih mendekat ke arah air terjun untuk berfoto atau sekadar menikmati derasnya air yang jatuh dari atas perbukitan. Persis di depan air terjun, ada banyak batu-batu besar yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk dan menjadi spot berfoto. Mas Anto dan Pak Basirun, selaku pengelola curug pun bercerita kalau konon batu-batu besar itu jatuh dari atas perbukitan di atas.

Awal mula nama Kyai Kate pada curug ini juga berawal dari cerita masyarakat turun-temurun di Desa Gunung Condong, Bruno. Konon, dulu seorang sesepuh bernama Kyai Kate bertapa di bawah air terjun tersebut hingga akhirnya menghilang. Tak lama, pohon beringin yang semula ada di atas bukit bebatuan roboh sehingga mengakibatkan batu-batu besar yang ada di atas berjatuhan dan kini berada tepat di depan air terjun Curug Kyai Kate tersebut. Sejak itulah, di tempat tersebut terdapat air terjun yang dinamakan Curug Kyai Kate. Nama Kyai Kate sendiri diambil dari nama pertapa yang konon pernah bertapa di tempat tersebut.

Pak Basirun, salah satu pengelola Curug Kyai Kate
Pak Basirun, salah satu pengelola Curug Kyai Kate

Di Curug Kyai Kate ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh pengunjung. Dari sekadar menikmati sejuknya air dan indahnya pemandangan hingga tubing menggunakan ban di area air tenang atau air berarus di sungai aliran Curug Kyai Kate. Selain itu, pengunjung juga bisa berenang di area sungai dekat dengan air terjun. Namun, ketika berenang usahakan tetap berhati-hati karena arus air terjun deras dan kedalaman air di bawah air terjun mencapai sekitar 5 meter. Khusus untuk anak-anak, sangat perlu pendampingan orang tua apabila ingin bermain air di area Curug Kyai Kate. Sementara itu bagi mereka yang ingin menikmati pemandangan alam bisa berjalan ke pos-pos pemantauan yang terletak di atas. Di sana, pengunjung bisa melihat suasana Curug Kyai Kate secara keseluruhan.

pemandangan dari pos pantau Curug Kyai Kate
pemandangan dari pos pantau Curug Kyai Kate

Walaupun masih bisa dikategorikan tempat wisata yang baru namun Curug Kyai Kate sudah memiliki beberapa fasilitas antara lain toilet, tempat parkir, dan juga warung-warung yang berdiri tak jauh dari jembatan yang membentang di atas sungai. Sayangnya beberapa hal masih sangat terbatas seperti tempat parkir dan akses jalan. Tapi saya sangat maklum mengingat Curug Kyai Kate juga dibangun dan dikelola oleh swadaya masyarakat Desa Gunung Condong, seperti halnya Curug Gunung Putri. Tiket masuknya pun sangat murah meriah yaitu Rp 8.000. Walaupun begitu, saya tetap salut dengan para pemuda dan tokoh masyarakat di sana yang mau memajukan tempat wisata hingga layak untuk dikunjungi wisatawan.

Oh ya, kalau ditanya bagaimana akses untuk menuju ke Curug Kyai Kate, sungguh saya clueless karena memang tidak ada angkutan umum yang saya lihat menuju ke area ini. Transportasi paling fleksibel untuk ke Curug Kyai Kate adalah menggunakan motor mengingat aksesnya yang masih terbatas. Nah, apabila di antara kalian ada yang ingin ke Curug Kyai Kate namun masih bingung, nanti di akhir tulisan akan saya sertakan nomer kontak pengelola Curug Kyai Kate yang bisa ditanya dan menjadi guide untuk perjalanan ke tempat tersebut.

explore purworejo 5
Photo by Amien Budiarto

Mengakhiri #ExplorePurworejo di Pamriyan, Pituruh

Puas menggali informasi dan mengeksplore Curug Kyai Kate, kami pun beranjak pulang. Perjalanan pulang kali ini lebih berat karena motor kami harus menanjak di jalanan yang sempit dan licin tadi. Bahkan, beberapa motor hampir tergelincir. Saya pun terpaksa turun dan berjalan sebentar di tanjakan biar motor tetap bisa menanjak. Maklum saja, motor matik yang dipakai.

Selesai dari Curug Kyai Kate, kami pun menuju pemancingan yang berada di Desa Pamriyan, Kecamatan Pituruh. Kali ini medan yang ditempuh masih naik turun bahkan ada beberapa jalan yang rusak namun jalanan masih lebar dan bersahabat bagi touring kami kala itu. Sepanjang jalan, kami pun tak henti-hentinya dimanjakan oleh indahnya pemandangan dari sengkedan sawah yang bertingkat-tingkat hingga hutan pinus yang menawarkan aroma kesegaran.

Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menempuh perjalanan. Sekitar 20 menit kami pun sampai di salah satu rumah makan sekaligus pemancingan yang terletak di Desa Pamriyan, Pituruh. Di sana sudah ada beberapa orang teman yang menunggu rombongan kami. Iya, lagi-lagi untuk reuni. Uniknya, reuninya dilakukan di pemancingan dan rumah makan yang letaknya di tengah-tengah pedesaan. Walaupun begitu, tempat makan dan pemancingan ini ramai dikunjungi orang meski letaknya cukup terpencil.

explore-purworejo-6

explore-purworejo-7

explore purworejo 2
Photo by Amien Budiarto

Selain makan (dan ternyata makanannya enak dan murah banget, ikan bakar plus nasi saja nggak sampai Rp 20.000, wow!) kami pun melepas rindu dan tentu saja hasrat berfoto-foto. Sungguh reuni yang tak direncanakan matang dan juga antimainstream tapi terlaksana juga, haha. Reuni dan kegiatan touring ini jadi pengalaman berharga dan tak terlupakan buat saya saat libur Lebaran kemarin. Selain bertemu kembali dengan kawan lama, saya pun bisa lebih mempopulerkan dan memperoleh banyak informasi tentang destinasi wisata Purworejo yang selama ini tak pernah saya bayangkan.

explore purworejo
Photo by Amien Budiarto

explore-purworejo-8

Buat yang pengen tahu keseruan kegiatan #ExplorePurworejo ke Curug Kyai Kate, bisa lihat video di bawah ini ya.

CURUG KYAI KATE:
Lokasi: Desa Gunung Condong, Bruno
Contact Person: Anto (082298704593)

 

ratna dewi

 

7 Comments
Previous Post
Next Post