Sulitnya Cari Makanan yang ‘Nyetel’ di Lidah di Gili Trawangan

Sebelum berangkat ke Gili Trawangan, satu hal yang paling saya khawatirkan adalah gimana nanti makannya di sana. Saya agak trauma ketika ke Bali tahun 2014 karena buat saya yang newbie ke Bali waktu itu agak susah untuk mencari makanan halal dan pas di lidah. Inilah yang saya takutkan akan terjadi juga di Gili Trawangan. Tapi Cenie menghibur saya dengan bilang pasti banyak makanan halal di Gili karena mayoritas masyarakat Lombok kan Muslim.

Awalnya saya agak deg-degan sih takut saya dan Cenie ‘berbeda arah’ dalam menentukan makanan. Tapi dia yang Kristen sangat menghargai saya dengan mencari makanan yang halal untuk dimakan. Ah indahnya perbedaan. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, sebelum ke Gili Trawangan saya sudah baca terlebih dahulu beberapa review kuliner kafe-kafe di sana dan ada beberapa yang memang menyediakan makanan non halal. Makanya saya agak khawatir.

Makanan di Gili Trawangan Mahal?

Iya, saya sangat mahfum akan hal ini bahkan sebelum sampai di Gili Trawangan. Saya maklum mungkin karena letak Gili Trawangan di tengah laut alias pulau kecil. Jadi untuk belanja dan membawa bahan makanan pasti butuh effort yang lebih dibandingkan dari yang ada di daratan biasa. Buat belanja aja harus naik kapal bolak-balik ke pasar yang lebih besar. Belum lagi biaya angkut dan lain-lainnya. Makanya maklum sekali kalau makanan di Gili Trawangan (dan mungkin pulau-pulau lain di tengah laut) menjadi lebih mahal dari biasanya.

(Baca juga: Mewujudkan Mimpi yang Tertunda ke Gili Trawangan)

Selain itu, Gili Trawangan kan memang sudah jadi destinasi wisata dengan mayoritas turisnya adalah turis asing. Maka nggak heran kalau mungkin menu makanan dan harga-harganya juga menyesuaikan untuk turis asing. Tapi ini bukan berarti menutup kemungkinan adanya makanan murah di Gili Trawangan. Ada kok, ada banget. Toh nggak semua wisatawan asing maunya yang fancy. Kalau kata kenalan saya yang jaga penginapan di sana, banyak juga kok bule budget traveller yang semua-muanya nggak harus mahal.

Buat saya kalo traveling, perkara makanan lumayan penting posisinya. Makanya, saya selalu googling terlebih dahulu, dicatat satu-persatu rekomendasinya, dan dimasukkan dalam itinerary. Soalnya kan kalo perut lapar jadi nggak konsen ngapa-ngapain termasuk jalan-jalan, hahaha. Makanya penting banget buat makan tepat waktu apalagi saya punya maag. Lebih enak lagi kalau nyobain makanan khas setempat. Kan katanya kalau lagi traveling, hiduplah seperti orang lokal di sana hidup.

Nah, pas di Gili ini saya dan Cenie nggak sempat kuliner banyak. Selain karena cuma 3 hari di sana, kegiatan kami juga lumayan padat. Acara hunting kuliner paling leluasa hanya dilakukan di malam hari. Sayangnya, dari 3 hari di sana, hanya sedikit makanan yang ‘nyetel’ di lidah saya. Nggak tahu kenapa. Beda banget dengan pas di Lombok. Hampir semua makanannya masuk semua ke lidah saya. Makanya pas di Gili Trawangan saya makan lumayan sedikit.

Hunting Makanan di Gili Trawangan

Beberapa tempat makan di Gili Trawangan sudah saya tandai. Satu dua tempat di antaranya kesampaian buat mampir. Sayangnya, ekspektasi saya mungkin terlalu tinggi dan ada beberapa yang rasanya meleset dari perkiraan. Cenie juga sempat tanya-tanya temannya yang sebelumnya pernah ke Gili Trawangan. Ternyata ada beberapa tempat yang direkomendasikan salah satunya adalah Regina Pizzeria yang konon rasanya enak banget. Sayang seribu sayang kita nggak jadi ke Regina Pizzeria karena antriannya udah bikin malas duluan.

Jadi, kemana saja kita makan pas di Gili Trawangan? Ini dia rekapannya:

1. Pasar Malam Gili Trawangan

Pasar malam ini kayaknya udah terkenal banget jadi pusat kuliner di Gili Trawangan pada malam hari. Pasar malam Gili Trawangan letaknya gampang dicari yaitu di dekat dermaga Gili Trawangan. Kalau siang, tempat ini adalah pasar seni dan pasar oleh-oleh. Sedangkan di malam hari, tempat ini disulap menjadi Pasar Malam Gili Trawangan.

Awalnya, bayangan saya pasar malam ini gede kayak kalau pasar malam di alun-alun gitu. Tapi ternyata pasarnya nggak begitu luas. Bahkan, kalo lagi banyak pengunjung, kita terpaksa harus dempet-dempetan untuk berjalan kesana-kemari. Kadang juga kalau lagi rame jadi susah cari tempat duduk.

Pasar malam ini adalah tempat dimana saya dan Cenie mencari makan di malam pertama dan terakhir kami di Gili Trawangan. Di pasar ini ada banyak sekali makanan yang ditawarkan dari jajanan khas Indonesia, berbagai minuman, sayuran matang, hingga seafood yang jadi trademark-nya Gili Trawangan. Di malam pertama yang notabene Hari Minggu, banyak sekali wisatawan yang ada di sini. Mayoritas mereka adalah wisatawan asing. Di Minggu malam itulah saya dan Cenie makan di sini dan bertemu Oji, warga lokal kenalan baru kami yang akhirnya jadi teman dan ‘guide dadakan’ selama di Gili Trawangan.

Oh ya, makan malam di Pasar Malam ini menunya relatif mahal sih kalau menurut saya. Padahal di beberapa tulisan yang saya baca, tempat ini merupakan tempat mencari makanan murah di Gili Trawangan. Mungkin kalau dibandingkan dengan harga makanan di kafe-kafe di sana, harga di Pasar Malam ini relatif lebih murah dan juga makanannya lebih bervariasi.

Di hari pertama, saya dan Cenie mencicip ikan snapper (kakap merah) yang satu ekornya sekitar Rp 110.000. Kami tawar ke penjualnya jadi Rp 100.000 termasuk sama nasi dan sambalnya. Selain snapper, kami juga pesan sate udang. Di sini sate-satean (udang, cumi, dll) dihargai Rp 100.000 per 3 tusuk. Satu tusuknya lumayan besar kok. Semuanya dibakar. Entah ini kemahalan apa nggak soalnya saya belum browsing lagi harga-harga di Pasar Malam Gili Trawangan pas mau kesini.

Selain makan malam, saya juga minum es teh dan jajan gorengan. Gorengan di pasar malam ini harganya Rp 10.000 per biji. Jangan sedih sist kalau kamu beli gorengan di Jakarta satunya Rp 2.000, karena di sini lebih mahal, hahaha. Tapi gorengannya gede-gede kok, gede banget malah. Sementara sayur matang harganya Rp 5.000 per item. Makanya nggak heran banyak bule yang makan cuma nasi, sayur, plus gorengan sebagai lauknya.

Makan malam di hari pertama kelihatannya mewah tapi entah kenapa kurang nendang. Rasa ikan bakarnya agak sepa alias nggak berasa bumbunya. Udangnya juga kurang greng, kurang nyetel sama lidah saya. Hanya saja ketolong sama sambal tomat yang encer tapi lumayan pedas dengan bau harum jeruk purut. Oh ya, untuk makan malam yang ini sayang banget nggak sempat difoto makanannya. Soalnya malam itu suasana pasar malam penuh banget. Untuk duduk aja kita harus sharing tempat sama wisatawan lain. Yah maklum saja mungkin karena Hari Minggu jadi penuh sesak.

Saya dan Cenie mengulangi makan di Pasar Malam Gili Trawangan saat hari terakhir di sana. Kali ini bukan saya dan Cenie aja tapi juga sama Oji sebagai malam perpisahan karena besok kita sudah menyeberang ke Lombok. Malam itu suasana pasar sepi. Yah mungkin karena Hari Rabu. Buat saya, kali ini suasananya lebih enak karena nggak desak-desakan saat milih makanan. Penjualnya pun lebih ramah karena nggak hectic melayani banyak orang.

Saya udah nggak nafsu makan seafood karena lihat antriannya. Sementara Cenie masih semangat buat mengantri di penjual seafood yang letaknya paling pojok dekat pintu masuk kecil. Penjual seafood yang Cenie incar memang paling panjang antriannya. Akhirnya saya memilih makan nasi campur, nasi-telur balado-2 macam sayur-1 gorengan dengan total harga Rp 25.000 aja. Sementara Oji memilih makan bakso karena katanya bosan makan itu-itu saja di Gili Trawangan (ya iyalah pasti, soalnya dia udah tiap hari, hahaha).

Cenie datang dengan nasi, sayur, sambal, dan sate-satean. Kata Cenie, sate-satean ini harganya Rp 30.000 per sate tusuk dan dia membeli 2 macam sate yaitu sate tuna dan cumi. Sementara nasi, sambal, dan sayurnya free. Selain makan, saya juga pesan es teh. Harga es teh di Pasar Malam Gili Trawangan adalah Rp 10.000 dengan porsi yang lumayan besar.

2. Gili Gogo Cafe

Nggak banyak cerita yang bisa saya utarakan tentang Gili Gogo karena selain tempat ini saya singgahi cuma sebentar saat snorkling, rasa makanannya pun biasa banget dan nothing special. Gili Gogo Cafe letaknya di Gili Air. Saya makan di Gili Gogo saat snorkling di 3 Gili. Di postingan sebelumnya, sudah saya review sedikit tentang makanan di Gili Gogo.

(Baca juga: Melihat Keindahan Alam Bawah Laut Gili Trawangan)

Saya makan nasi ayam taliwang sementara Cenie makan nasi campur. Buat saya, makanan di Gili Gogo ini rasanya so so banget. Saya makan juga karena udah lapar kecapekan snorkling. Sambalnya nggak nyetel blass di lidah saya. Bahkan saya yang biasanya makan selalu habis, di sini nggak habis karena nggak tahu kenapa rasa sambal dan ayamnya nggak menyatu.

3. Warung Makan Bu Dewi

Warung makan ini cukup fenomenal karena beberapa media telah meliputnya dan katanya sudah go internasional. Bahkan banyak artis yang sudah pernah mampir ke Warung Ibu Dewi. Makanya, sebelum saya ke Gili Trawangan saya udah masukkan Warung Ibu Dewi dalam daftar tempat makan yang harus dicoba karena konon rasanya enak, harganya murah, dan yang datang ramai khususnya pada siang hari.

Agak susah untuk mencari warung ini karena letaknya yang masuk-masuk gang. Mungkin karena Cenie dan saya kesana pada saat malam hari, setelah kelar melihat sunset di kawasan pantai barat Gili Trawangan. Untung sebelumnya Oji sudah memberitahu saya gang menuju Warung Ibu Dewi. Gangnya dekat dengan pelabuhan kapal Gili Trawangan kok. Saya lupa nama gangnya tapi dari pintu masuk gang hanya berjarak sekitar 20-30 meter saja. Pokoknya di depan Warung Ibu Dewi ini ada pasar saat siang hari. Jangan bayangin pasarnya besar kayak pasar-pasar di Pulau Jawa ya. Pasarnya cuma kayak pedagang kaki lima ngemper-ngemper di los terbuka beratap terpal.

Saya dan Cenie sempat kebablasan sedikit tapi nggak susah kok buat menemukan Warung Ibu Dewi karena ada tulisannya. Awalnya saya sempat ragu dan bilang dalam hati “apa ini benar warungnya?” karena nothing special untuk sebuah warung yang katanya sudah go internesyenel. Apa mungkin karena sudah malam jadinya sepi dan nggak semarak pembeli.

Saya dan Cenie pun duduk di meja. Saya pengen nasi campurnya sementara Cenie pengen makanan berkuah. Suasana Warung Bu Dewi mirip warteg kali ya kalau di Jakarta. Lauk dan sayur dijajarkan di etalase kaca. Sementara pembelinya tinggal tunjuk mau makan apa saja. Malam itu saya makan nasi, oseng kikil, kangkung, sambal, serta es teh manis. Sementara Cenie pengen makan soto. Tapi pas dia pesan soto ayam, Ibu Dewi-nya malah bilang “Soto-nya di indomie ya” yang maksudnya adalah indomie soto ayam. Padahal di warung ada menu soto ayam. Di situ saya pengen ngakak karena ingat sama sebuah anekdot.

“Pagi makan soto, siang makan rendang, malam makan empal gentong tapi dalam bentuk mie.”

HAHAHAHAHA

Numpang ngakak dulu, Cen! Cenie sih dongkol tapi saya pengen ketawa, hahaha. *teman macam apa ini?*

anaknya puyeng, minta soto malah dikasih indomie soto

Akhirnya Cenie pun mengiyakan makan mie instan. Ternyata eh ternyata yang datang juga bukan indomie melainkan mie merk lain dengan porsi dobel dan di dalamnya dikasih irisan sayuran kol, sawi, dan wortel.

“Baru kali ini gue makan mie instan ada wortelnya,” ujar Cenie. Saya pun ngakak dobel sampe mie-nya Cenie lupa difoto.

Overall, rasa makanan di Warung Ibu Dewi ini ya biasa aja cuma memang murah untuk kalangan Gili Trawangan. Kikilnya lumayan pedas. Yang paling enak justru serundengnya, nyetel di lidah saya. Sementara makanan Cenie saya nggak nafsu buat nyobain, hahaha. Sambil makan kami pun menunggu Oji yang malam itu diminta Cenie buat ketemuan. Tak lama setelah Oji datang, kami pun pergi karena sudah selesai makan. Semua menu yang saya makan harganya Rp 28.000. Untuk ukuran Gili Trawangan ini murah banget.

4. Nasi Campur di Pinggir Jalan

Kalau sudah pernah ke Gili Trawangan pasti sudah paham juga jika disana banyak pedagang-pedagang kecil, ya sebut saja asongan atau pedagang keliling, yang menjajakan makanan dari rujak hingga nasi campur. Di balik hingar-bingar cafe yang ada di Gili Trawangan ada pula beberapa orang yang menjajakan makanan dengan harga murah di pinggir-pinggir jalan utama Gili Trawangan. Kalian yang akan kesana mungkin bisa mencoba membelinya satu dua kali.

Nasi campur yang dijajakan di pinggir jalan ini bentuknya biasa banget, malah cenderung nggak menarik. Sayangnya, saya lupa blasss motoin gimana bentukannya. Yang pasti kayak nasi rames pada umumnya, dibungkus kertas nasi dan dikaretin. Sementara di dalamnya, nasi sudah dicampur dengan lauk. Dilihat sekilas sih bikin saya nggak nafsu, beneran deh. Apalagi kalau sudah dijajakan di pinggir jalan yang kena debu tercampur kotoran kuda dari cidomo yang mondar-mandir.

Saya beli makanan ini saat bersepeda pagi hari sama Cenie. Karena nggak tega sama ibunya yang menjajakan, akhirnya saya dan Cenie sama-sama beli nasi bungkusnya. Saya memilih yang lauknya hati, sementara Cenie memilih yang lauknya cumi. Selain hati dan cumi ada banyak varian lauk lain yang ditawarkan dari ayam, ikan, hingga daging. Saya raba bungkusnya kala sehabis beli dan masih terasa panas. Mungkin saja baru matang karena ia menjajakannya di pagi hari. Setelah itu, saya pun menyimpan nasi itu di keranjang sepeda dan belum berniat memakannya karena belum nafsu. Ya, saya adalah orang yang suka judge makanan by its cover, huhuhu. Makanya kalau nggak suka lihat bungkusnya nggak akan saya makan.

Saya emang udah underestimated duluan sama rasanya. Tapi siangnya, saat saya keliling Gili Trawangan karena ditinggal Cenie diving, trus melihat beberapa wisatawan Indonesia makan nasi campur ini di bawah pohon di pinggir pantai kayaknya enak banget. Trus saya jadi tergugah buat makan nasi campur saya, yang udah dingin dan saya tinggal di penginapan.

Setelah lelah berkeliling Gili Trawangan, siang menuju sore akhirnya saya makan juga tuh nasi campur. Entah karena lapar atau memang enak, tapi nasi campur ini adalah THE FIRST FOOD YANG RASANYA NYETEL DI LIDAH SAYA. Setelah berhari-hari saya hampir putus asa karena semua makanan yang saya coba nggak ada yang nyetel di lidah akhirnya nemu juga.

Rasa nasi campur ini benar-benar pas di lidah. Walau sudah dingin, nasinya tetap enak (apalagi saya anti makanan panas). Sayur ati ampela dan bihunnya juga enak, sambalnya pun cocok di lidah saya walau sedikit pedas. Semuanya pas, hanya saja porsinya ternyata sedikit, hahaha. Menyesal deh cuma beli 1 bungkus. Punya Cenie bahkan belum dimakan, baru sempat dimakan sekitar jam 16.00 setelah dia kelaparan pulang diving. Oh ya, Cenie juga minta sayur buncis yang dipotong kecil-kecil dan itu free dikasih sama ibunya. Sayangnya saya lupa makan tuh sayur karena dibungkus plastik yang berbeda. Akhirnya dimakan si Cenie semuanya. Ga apa-apa lah yang penting saya bahagia karena akhirnya menemukan makanan yang pas di lidah.

5. Jajanan Pinggir Jalan

Selain makanan berat, di Gili Trawangan banyak juga kok makanan ringan (cemilan) yang dijajakan di pinggir jalan. Yang paling sering ditemui adalah gelato (Gili Gelato) dan jagung bakar. Gili Gelato ini sebenarnya kayak es krim tapi punya banyak rasa. Setiap rasa beda warnanya dan yang paling saya suka adalah warna-warnanya ngejreng eye catching banget buat di-upload di instagram. Kalo kata anak muda zaman sekarang sih instagramable banget lah. Gili Gelato ini ada banyak gerai, mungkin setiap 100 meter di pinggir jalan utama Gili Trawangan ada yang jual Gili Gelato.

Sebenarnya, saya udah mengincar lama pengen beli Gili Gelato ini tapi nggak ada kesempatan buat beli. Pas lagi pengen eh belum ada yang buka karena masih kepagian. Tapi giliran udah buka malah sayanya nggak pengen beli, hahaha #galau. Akhirnya malah Cenie yang beli Gili Gelato pas kita mau nyeberang ke Pelabuhan Bangsal. Kenapa kok nggak ikutan beli? Soalnya repot bawa ransel gede sambil makan gelato yang netes-netes.

Cenie beli yang rasa mangga dan strawberry. Rasanya sih ya rasa ice cream kalo kata Cenie, hahaha nggak menuntaskan rasa penasaran yak? Saya kira awalnya kalau gelato itu nggak mudah mencair tapi ini cepat juga kok mencair (hmm, teori dari manakah itu? haha). Gili Gelato ini harganya Rp 20.000 untuk 1 scoop. Kalau 2 scoop harganya Rp 35.000. Nah Cenie beli yang 2 scoop.

Selain Gili Gelato, di sepanjang jalan Gili Trawangan juga banyak tukang jagung bakar. Dari awal sampai sana udah tergiur bau jagung bakarnya. Alhasil jadi juga beli di malam ketiga di Gili Trawangan, itupun tanya dulu sama Oji berapa harganya karena takut dimahalin. Harga jagung bakar di Gili Trawangan Rp 15.000. Overall saya suka rasa jagungnya, masuk di lidah. Kalau beli jagung bakar di Gili Trawangan, ada 2 rasa yang ditawarkan abangnya yaitu rasa asin dan pedas. Saya sih milih rasa asin aja.

Itu dia kisah makan-makan saya di Gili Trawangan sama Cenie. Tiga hari di sana rasanya kurang sih karena belum eksplore banyak makanan. Tapi kalau kelamaan nggak tega juga sama kantong, bisa kering kerontang karena makanannya mahal, hahaha.

Semoga suatu hari bisa ke Gili Trawangan lagi dan nyobain lebih banyak makanan. Amiiiinnn. Aminin juga yak.

 

 

7 Comments
Previous Post
Next Post