Icip-Icip 4 Makanan Lombok yang Bikin Ketagihan

Saat pertama kali kapal motor yang saya naiki bersandar di Pelabuhan Bangsal dan menjejak Lombok, satu hal yang ada di benak saya adalah apakah saya akan suka makanan-makanan yang ada di Lombok. Mengingat saat di Gili Trawangan sedikit sekali makanan yang ‘nyetel’ di lidah saya.

Tapi rasa trauma akan icip-icip makanan itu coba saya hapuskan. Saat menjejak Lombok, saya sudah pengen sekali makan makanan khas Lombok. Kata Oji, teman baru saya dan Cenie di Gili Trawangan, kami nggak boleh melewatkan untuk makan pelecing kangkung, ayam taliwang, dan nasi puyung. Semuanya adalah makanan khas yang harus dicoba saat mengunjungi Lombok.

(Baca juga: Sulitnya Cari Makanan yang ‘Nyetel’ di Lidah di Gili Trawangan)

Saat saya dan Cenie stay di Kuta Lombok, agak sulit buat kami untuk mengeksplore makanan-makanan tersebut di tempat-tempat makan populernya. Di Kuta Lombok yang notabene jauh dari pusat keramaian Lombok, justru malah banyak ditemui kedai-kedai pizza khas Italia dan warung-warung seafood. Ah, rasanya saya dan Cenie sudah agak bosan makan seafood dan pengen mencoba makanan ‘must try’ yang direkomendasikan Oji.

(Baca juga: Melihat Keindahan Alam Bawah Laut Gili Trawangan)

Kami pun tak menyerah. Sambil mengeksplore keindahan pantai-pantai di sekitar Kuta Lombok, mata kami terus mencari dimana tempat-tempat makan yang menyediakan menu-menu tersebut. Dan inilah beberapa makanan khas Lombok yang akhirnya saya dan Cenie bisa rasakan selama 2 hari kami berada di Lombok.

Sop Bebalung

Makanan ini nggak sengaja saya dan Cenie temukan saat hari pertama mencari makan di Kuta Lombok. Dengan hati masih syok akibat tabrakan mobil beberapa jam sebelumnya, kami pun akhirnya memberanikan diri mencari makan karena tuntutan perut siang itu yang makin lapar. Saya berkeliling bersama Cenie dan nggak sengaja ketemu warung nasi bebalung yang letaknya tak begitu jauh dari sentral Kuta Lombok.

(Baca juga: Drama Tabrakan Mobil hingga Menginap di Airy Rooms Kuta Indah Hotel)

Warung nasi bebalung ini letaknya masih di Jalan Raya Kuta. Letaknya dekat dengan masjid. Warungnya pun sederhana, seperti tempat makan biasa. Namun ternyata menunya istimewa. Siang menuju sore itu, saya dan Cenie memesan nasi bebalung dengan air mineral botol. Semuanya dibanderol Rp 24.000. Cukup murah untuk kawasan tempat wisata macam Kuta Lombok dimana banyak wisatawan mancanegara di sana.

Tak berapa lama menunggu, nasi bebalung yang kami pesan pun datang. Yang ada di hadapan saya saat itu adalah sepiring nasi dan semangkuk bebalung. Bebalung berasal dari kata balung yang berarti tulang. Bebalung ini adalah olahan makanan yang berasal dari tulang sapi lalu diberi kuah dan bumbu rempah. Sekilas rasanya mirip sup iga, namun bumbu rempahnya sedikit pekat dan agak berwarna kuning. Selain itu, dalam bebalung juga tidak ada sayur-sayuran seperti wortel dan kentang layaknya sup iga.

 

Lidah saya cocok dengan nasi bebalung ini. Apalagi ketika kuah bebalung dicampur dengan sambal. Kuah hangat dan pedasnya sambal membuat hangat perut. Setelah saya baca-baca dan ngobrol dengan driver kami ketika perjalanan ke Lombok, bebalung ini merupakan makanan khas Suku Sasak. Khasiat nasi bebalung adalah membangkitkan tenaga dan vitalitas, uuwwww. Rasanya bebalung jadi pembuka yang pas untuk saya saat menjejak Lombok.

Ayam Taliwang dan Pelecing Kangkung

Sebenarnya makanan ayam taliwang ini sudah banyak di Jakarta dan saya pun beberapa kali sudah pernah mencobanya. Namun, rasa penasaran saya tentu masih menggebu dan ingin mencoba ayam taliwang langsung di kampung halamannya. Setelah bingung mau makan dimana saat siang yang panas bersama Cenie, kami pun menemukan sebuah tempat makan sederhana yang menyajikan beberapa masakan Indonesia.

Brand-nya sih rumah makan Jawa. Letaknya ada di Jalan Pariwisata Pantai Kuta, tak jauh dari Pantai Kuta dan sentral keramaian Kuta. Warung makannya sangat sederhana tapi ternyata yang makan di situ pun kebanyakan bule. Beruntungnya kami pas mampir ke warung tersebut saat kelelahan, kami menemukan menu ayam taliwang dan pelecing kangkung di sana. Segera saya dan Cenie memesan dua menu itu untuk dimakan barengan. Selain pelecing kangkung dan ayam taliwang, kami juga memesan nasi putih dan es teh.

Setelah menunggu lumayan lama (selidik punya selidik ternyata si ibunya beli tomat dulu, hahaha), menu kami pun datang. Seekor ayam taliwang dan pelecing kangkung. Bau harum terasi dan tomat menguar dari dua makanan itu. Warnanya pun menantang, merah merona membuat air liur saya seketika mengucur. Tak sabar rasanya ingin mencoba dua makanan itu.

Menu pertama yang saya coba adalah ayam taliwang. Ayam taliwang yang disajikan ini adalah berupa ayam bakar dengan bumbu sambal yang berisi cabai, terasi, dan tomat yang dibalurkan di atasnya. Tak lupa ada pula irisan jeruk purut yang menambah segar makanan saat perasan airnya dicampurkan dalam sambal dan ayam. Sebagai pelengkap, lalapan berupa kacang panjang, kol, timun, dan terung mentah juga tersedia.

Rasa ayam taliwang ini sungguh menggelegar. Ayamnya dibakar sampai matang dan bertekstur empuk sedangkan sambalnya memiliki rasa dominan pedas namun ada sedikit rasa manis di dalamnya. Cocok banget dimakan pakai nasi putih hangat. Makan nasi sama sambalnya aja pun jadi, hahaha. Ayam taliwang ini bikin saya dan Cenie kalap seketika. Paduan rasa manis pedas sambal dan sedikit asam dari jeruk sukses membuat makan siang kami lahap bercucuran keringat.

Setelah ayam taliwang dicoba, kami pun beralih ke menu selanjutnya yaitu pelecing kangkung. Bau sambal tomat terasi di atas rebusan kangkung dan tauge pedasnya terasa nyegrak di hidung. Dari baunya saja saya dan Cenie sudah tahu ini pedas. Saat dicocol sedikit saja sambalnya, pedasnya ternyata melebihi perkiraan kami. Cenie sengaja belum mengaduk sambal dan sayuran karena tahu saya nggak begitu kuat pedas.

Saya yang sekarang ini cupu urusan makanan pedas akhirnya mengambil duluan. Sayuran dan sambal sengaja nggak saya aduk karena takut terlalu pedas. Dan benar saja, sayuran akhirnya hanya saya cocol-cocol ke sambal karena takut pedas #anaknyacupu. Sedangkan sisanya dicampur sama Cenie dan tampak semakin ‘menyeramkan’ pedasnya.

Tekstur sayuran di pelecing kangkung ini pas banget, matang tapi masih crunchy dan enak dimakan bersama sambal. Sambalnya terbuat dari 3 bumbu utama yaitu cabai, tomat, dan terasi yang menurut analisis sotoy saya sih masih setengah matang. Pelecing kangkung itu sukses membuat siang saya dan Cenie segar kembali. Selain pelecing kangkung dan ayam taliwang, di Warung Jawa itu juga menyediakan menu-menu lainnya seperti sup, soto, nasi goreng, seafood, hingga urap. Beberapa bule yang makan di situ saya lihat memesan urap-urap. Harga seporsi urapnya Rp 25.000 tapi porsinya besar banget.

menunya dibahasa-Inggrisin malah jadi kocak

Oh ya, saat jalan-jalan ke Mataram, saya dan Cenie juga sempat icip-icip pelecing kangkung lagi. Saat itu pelecing kangkungnya disajikan hampir mirip dengan yang ada di Kuta namun diberi tambahan taburan kacang goreng dan parutan kelapa khas bumbu urap. Saya pun sempat icip-icip makanan yang dipesan sama Cenie itu. Rasanya enak tapi pelecing kangkung di Kuta lebih cocok di lidah saya walau sambalnya pedas banget.

Sate Rembiga

Sate rembiga ini saya coba ketika perjalanan menuju Pantai Senggigi dari Desa Sasak Sade. Siang itu driver mengarahkan kami menuju warung lesehan sate rembiga. Saya pun penasaran sebenarnya kayak apa sih sate rembiga ini. Kalau kata Pak Lalu, driver kami, sih mirip sama sate maranggi.

Di warung lesehan sate rembiga, saya dan Cenie memesan sate rembiga. Sedangkan Pak Lalu memesan nasi bebalung. Sebagai pelengkapnya saya memesan nasi putih sementara Cenie memesan pelecing kangkung dan lontong. Saat disajikan, saya takjub dengan bentuk lontongnya. Ternyata bentuk lontongnya tidak silinder memanjang tetapi seperti contong atau kerucut.

Tak lama, sate rembiga saya pun datang. Sate rembiga terbuat dari daging sapi yang telah dibumbui dengan bumbu rempah khas hingga meresap lalu dibakar. Untuk memakannya, tak perlu bumbu lagi seperti bumbu kacang atau kecap karena ternyata satenya sendiri pun sudah gurih.

Tekstur sate rembiga ini empuk sekali saat dikunyah. Selain gurih dan sedikit manis, rasa yang saya rasakan saat mengunyahnya adalah sedikit pedas. Entah pedasnya berasal dari cabai atau lada, tapi yang pasti lama-kelamaan terasa juga pedasnya di lidah. Walau pedas namun rasa sate ini nagih buat saya. Rasanya pengen lagi dan lagi, tapi tetiba langsung ingat takut kolesterolan, hahaha. Harga sate rembiga pun cukup bersahabat di kantong. Harga seporsinya hanya Rp 25.000 untuk 10 tusuk sate rembiga yang patut untuk dicoba.

Itu dia 4 makanan khas Lombok yang sempat saya cobain saat kesana. Sayang banget saya belum sempat mencoba nasi puyung yang Oji rekomendasikan saat di Gili Trawangan karena waktu yang sangat terbatas. Semoga kapan-kapan ada kesempatan buat mencoba nasi puyung langsung di Lombok.

(Baca juga: Menanti Senja di Pantai Kuta Lombok)

Oh ya, saya juga punya ‘bonus track’ nih. Jadi saat di Kuta Lombok, saya dan Cenie selalu kesulitan cari makan saat malam hari. Selain Cenie susah nyetir motor di malam yang gelap, area keluar kami pun terbatas hanya di Kuta karena di luar itu tidak direkomendasikan dengan alasan keamanan. Maka selama 2 malam berturut-turut saya dan Cenie makan bakso yang letaknya di perempatan Jalan Raya Kuta. Warung baksonya sederhana, hanya kios kaki lima dengan gerobak bakso menempel pada mobil bak.

Rasa baksonya cocok di lidah saya kok dan kayaknya itu warung bakso satu-satunya di Kuta karena lumayan laris. Dua malam itu saya dan Cenie makan bakso telur. Sayangnya, harga baksonya fluktuatif. Di malam pertama, kami membayar Rp 10.000 per mangkuk dengan pelayanan dari bapak pemiliknya. Sementara di malam kedua, kami membayar Rp 15.000 per mangkuk dengan pelayanan dari istri si bapak pemiliknya. Saya dan Cenie agak heran memang, karena beda yang melayani beda harga. Tapi ya sudahlah, yang penting kenyang.

Buat kalian yang bingung mau makan apa kalau malam di Kuta Lombok, bisa banget cobain bakso ini. Wes nggak apa-apa jauh-jauh ke Lombok makannya bakso, yang penting perut kenyang, hahaha. Tapi maaf ya saya nggak sempat motret baksonya karena tempatnya remang-remang.

 

9 Comments
Previous Post
Next Post