#3HariDiBatam: Batam dan Permasalahan Kesehatan di Dalamnya

Apa yang dibayangkan ketika mendengar nama “Batam”? Pasti banyak yang terpikir tentang handphone murah, tas branded KW, parfum, Jembatan Barelang, atau seafood. Semuanya tidak salah. Batam memang terkenal dengan beberapa benda yang disebutkan sebelumnya. Apalagi Batam yang letaknya memang sangat strategis, kepulauan yang berada di jalur pelayaran internasional.

Kota Batam berada di Provinsi Kepulauan Riau yang seluruh wilayahnya dikelilingi Selat Singapura dan Selat Malaka. Batam merupakan kota terbesar di Kepulauan Riau dan kota terbesar ketiga di wilayah Sumatera setelah Medan dan Palembang menurut jumlah penduduknya. Terhitung per April 2012 menurut Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam, jumlah penduduk Batam mencapai 1.153.860 jiwa.

Batam selama ini terkenal sebagai kota niaga dan industri. Tak heran jika kita berkunjung disana banyak dijumpai kawasan industri. Banyak orang asing khususnya dari Singapura yang sering berkunjung ke Batam. Apalagi dari Singapura ke Batam bisa ditempuh dalam satu kali penyeberangan menggunakan kapal feri. Hal inilah yang akhirnya membuat Kota Batam tumbuh menjadi kota yang sibuk dengan segala gemerlapnya.

Makanan seafood memang mudah sekali dijumpai di kota yang terkenal dengan ikon Jembatan Barelang ini. Maklum saja, karena memang Batam terletak di kepulauan. Jumlah makanan laut di Batam lebih banyak daripada sayuran. Ini bukan hal yang mengherankan karena memang Batam terkenal kurang subur. Sekilas saat berkeliling city tour Kota Batam, kota ini terdiri atas bukit-bukit dan lembah dengan tanah merahnya. Saat itu, cuaca sangat panas dan gersang. Iya, konon cuaca di Batam memang sering berubah. Hal-hal inilah yang menyebabkan tanaman-tanaman tertentu saja yang bisa bertahan tumbuh di tanah Batam.

Kondisi Kesehatan Kota Batam

Sebagai kota industri yang pertumbuhannya cukup pesat, ternyata Batam juga menyimpan banyak masalah kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Chandra, menyebutkan bahwa salah satu masalah kesehatan yang cukup pelik di Batam adalah masih tingginya angka HIV/AIDS di kota ini. Batam merupakan salah satu daerah yang banyak menyumbang angka HIV/AIDS yang cukup besar di Indonesia. Saya baru tahu fakta ini dan terus terang agak kaget. Di sebuah kepulauan ternyata angka HIV/AIDS-nya cukup besar.

permasalahan-kesehatan-batam

Informasi mengenai HIV/AIDS di Kota Batam akan diuraikan tersendiri di postingan lain biar lebih lengkap. Namun, sebelum membedah mengenai HIV/AIDS di Kota Batam, ada beberapa informasi kesehatan yang perlu diketahui dari kota ini. Walaupun berada di kepulauan, fasilitas kesehatan Kota Batam ternyata sudah cukup berkembang. Hal ini terbukti dengan sudah banyak sarana kesehatan yang terdapat di Kota Batam. Saat ini Batam tidak hanya memiliki puluhan rumah sakit (baik rumah sakit umum dan rumah sakit bersalin), belasan puskesmas, dan ratusan klinik tetapi juga puskel atau Puskesmas Keliling baik di darat dan laut. Saat ini saja tercatat sudah ada 31 puskel darat dan 17 puskel laut yang dimiliki Batam.

Selain fasilitas kesehatan, gizi di Kota Batam juga cukup baik jika dibandingkan dengan nasional. Tak hanya itu, 65 persen penduduk kota Batam juga sudah memiliki jaminan kesehatan yang mencakup antara lain: JKN, Jamkesda, dan asuransi swasta. Saat ini 9 dari 15 rumah sakit umum di Batam juga sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Angka tersebut didapat di tahun ketiga pelaksanaan program jaminan kesehatan. Sisanya, Batam mengalokasikan dana kesehatan dari APBD. Dengan pencapaian ini maka tak heran jika Kota Batam berhasil menyabet penghargaan dari Kementerian Kesehatan karena keberhasilannya mengintergrasikan Jamkesda dengan JKN.

Selain itu, Batam juga pernah memperoleh penghargaan di bidang TOGA (tanaman obat keluarga) dan juga posyandu. Namun sayang, angka kematian ibu di kota ini pada tahun 2013 hingga 2014 meningkat. Hal ini dikarenakan belum adanya Jaminan Persalinan (jampersal) di Batam. Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah Dinkes Batam yang harus dibenahi selain juga menekan angka HIV/AIDS di kota ini.

Pembangunan Kesehatan di Batam

Saat ini ada beberapa isu pembangunan kesehatan di Kota Batam, di antaranya adalah:

  • pelaksanaan program JKN melalui BPJS Kesehatan
  • peningkatan puskesmas
  • penempatan Nakes (tenaga kesehatan) di pulau-pulau (Nusantara Sehat) dan penempatan Nakes Provinsi Kepri (dokter keluarga dan bidan keluarga)

Tercatat saat ini di Kota Batam tercatat memiliki 600 dokter, 160 dokter gigi, dan 17 puskesmas. Batam juga masih sangat kekurangan tenaga medis lainnya seperti ahli gizi, sanitarian, dan perawat gigi. Dikirimnya lima pemuda sebagai Tim Nusantara Sehat di Belakang Padang yang di antaranya terdapat ahli gizi dan sanitarian otomatis membantu Dinkes Batam dalam kekurangan tenaga medis tersebut.

Menyinggung soal isu pembangunan kesehatan Kota Batam, dr Chandra menyebutkan bahwa pihaknya sangat terbantu dengan adanya program Nusantara Sehat yang digagas oleh Kementerian Kesehatan. Apalagi Nusantara Sehat ini ditempatkan di DTPK (daerah terluar perbatasan kepulauan) yang memang sangat cocok dengan kondisi Batam.

Penempatan Tim Nusantara Sehat ini juga sudah melalui berbagai riset. Apalagi Pulau Belakang Padang menjadi salah satu pulau terluar di Indonesia dengan berbagai permasalahan kesehatan dan sosialnya. Berkali-kali dr Chandra menegaskan bahwa yang sulit di Belakang Padang adalah mengubah kebiasaan masyarakatnya. Hal ini diamini betul oleh Tim Nusantara Sehat Belakang Padang saat saya bersama rombongan mengunjungi mereka di Pulau Penawar Rindu.

Dyah Satyani Saminarsih, M.Sc, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDG’s menyatakan bahwa indikator kesuksesan Nusantara Sehat adalah bukan berapa banyak yang datang ke puskesmas tetapi berapa orang yang memahami gaya hidup sehat. Bagaimana Nusantara Sehat mengedukasi dan mengadvokasi masyarakat inilah yang menjadi poin penting dalam pembangunan kesehatan di daerah tujuan NS. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah Tim NS Belakang Padang.

(Baca juga: #3HariDiBatam: Menjejak Batam Bersama Kementerian Kesehatan)

Selain itu, Batam juga sangat concern dengan masalah kesehatan. Isu-isu kesehatan dipertegas melalui Perda yang dibuat setiap tahunnya. Pada tahun 2015 Batam sudah membuat Perda Kawasan Antirokok. Tahun ini (2016) Perda tentang sistem kesehatan daerah sedang digodok di Batam. Sedangkan tahun 2017, Batam berencana ingin mengeluarkan Perda tentang HIV/AIDS. Perda-perda ini dibuat untuk meningkatkan pembangunan kesehatan Kota Batam dan menekan angka HIV/AIDS yang memang menjadi satu masalah pelik di Batam.

Semoga Pemerintah Kota Batam dan Dinkes Batam terus bersemangat untuk membangun pelayanan kesehatan di kota ini. Mari kita dukung!!!

 

ratna dewi

9 Comments
Previous Post
Next Post