Tetap Bahagia dalam Pernikahan Walaupun Belum Memiliki Momongan

Memiliki momongan adalah satu hal yang diimpikan setiap pasangan yang telah memasuki gerbang pernikahan. Namun, tak semua pasangan bisa dengan mudah memiliki momongan setelah menikah. Ada yang sampai menunggu hingga bertahun-tahun dengan usaha yang berlipat ganda untuk sekadar memiliki buah hati. Bahkan terkadang hati dan perasaan sampai terkuras habis karena memikirkan momongan yang tak kunjung tiba.

Bagi saya, setiap orang itu berhak punya kebahagiaan. Belum punya momongan, lantas tak membuat pasangan suami istri tidak berhak untuk bahagia. Saya percaya bahwa bahagia adalah harus diciptakan sendiri. Jangan habiskan banyak waktu untuk bersedih atau stres karena sayang banget waktu yang akan terbuang hanya untuk bersedih. Nah, biar pernikahan tetap dan selalu bahagia walaupun belum memiliki momongan, ini ada tipsnya dari saya:

1. Positive thinking

Sepertinya positive thinking merupakan kunci utama agar pasangan suami istri yang belum diberi momongan selalu bahagia. Jangan saling menyalahkan satu sama lain melainkan harus mendukung satu sama lain. Saling menyalahkan satu sama lain hanya akan membuat api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar habis keharmonisan dalam pernikahan. Percayalah bahwa anak adalah karunia yang akan diberikan jika satu sama lain sudah siap dan pantas untuk mendapatkannya.

Dengan positive thinking, hal-hal buruk bisa disikapi dengan lebih bijak. Ini yang saya dan suami lakukan ketika sudah tiga tahun menikah dan belum dikaruniai momongan. Positive thinking juga membuat kita bersyukur bahwa ada hal-hal lain yang dianugerahkan dalam pernikahan selain momongan seperti rezeki yang mengalir sangat lancar, kesehatan saya dan suami, hingga kesetiaan. Semuanya adalah anugerah asal kita mau mensyukurinya.

2. Siapkan waktu untuk quality time bersama

Quality time merupakan kesempatan yang sangat penting bagi pasangan suami istri untuk menyegarkan kembali hubungan mereka. Apalagi untuk pasangan suami istri yang belum memiliki anak. Quality time juga merupakan kesempatan untuk lebih merekatkan hubungan, menjalin keharmonisan, atau berbicara dari hati ke hati satu sama lain. MenikmatiΒ quality time sebelum memiliki anak bisa jadi lebih sering dilakukan berdua ketimbang ketika nanti sudah memiliki anak. Di pikiran saya, ketika nanti sudah memiliki anak waktu dan perhatian kita akan lebih banyak tercurah pada anak.

Quality time nggak harus mahal kok. Ketika ada rezeki, saya dan suami mengisiΒ quality time dengan travelling dan menikmati perjalanan. Kalau lagi pas-pasan ya paling cuma nonton, jalan berdua, olahraga bareng, makan di tempat makan favorit yang mana tidak selalu mahal, atau bahkan sekadar pillow talk ngobrol apapun sebelum tidur. Yang pasti dengan quality time berdua, banyak hal-hal yang sulit diungkapkan jadi mudah.

3. Travelling berdua

Travelling sepertinya obat yang mujarab untuk melepaskan penat ataupun beban hidup. Termasuk penat ketika pasangan suami istri selalu ditanya “Udah punya anak belum?” atau “Udah hamil belum?” atau “Udah isi belum?”. Travelling bersama pasangan itu juga salah satu cara untuk lebih mendekatkan hubungan satu sama lain. Kalau saya sih yah sekalian hitung-hitung puas-puasin jalan-jalan bareng suami sebelum nantinya hamil dan punya anak yang mana waktunya akan habis untuk mengurus anak dan tumbuh kembangnya.

(Baca juga:Β November Rain, No More Cry)

Ssstt, travelling berdua sama suami itu asyik banget lho karena ibaratnya pacaran tapi dengan pasangan halal. Kebayang donk bisa ngapain aja tanpa takut ina ini itu. Dan bagi saya, teman travelling yang paling asyik itu adalah pasangan halal.

3. Bergaul dengan orang-orang yang memberi pengaruh positif

Percaya atau tidak, bertemu dengan banyak orang yang memberi pengaruh positif akan berdampak positif juga buat kita? Saya sih percaya. Bergaul di lingkungan yang memberikan support itu meringankan ‘beban’ kita sebagai pasangan yang belum dikaruniai momongan. Bergaullah di lingkungan yang selalu support dengan usahamu dalam memiliki anak. Bertemulah dengan orang-orang yang selalu mendoakanmu untuk dimudahkan memiliki momongan.

Minimalisir bergaul di lingkungan yang selalu membebanimu dengan pertanyaan “Udah hamil belum?” atau “Kok belum hamil-hamil juga?” dan yang selalu kasih pernyataan “Ati-ati loh belum punya anak ntar pasanganmu kawin lagi”. Bergaul dengan orang-orang yang selalu memberikan sugesti negatif hanya akan membuat stres. Dan ingat, stres itu nggak baik buat yang mau program hamil karena justru streslah yang bisa jadi membuat orang makin susah buat hamil atau punya anak.

4. Ingat komitmen awal menikah

Ujian pernikahan terkadang datang melalui berbagai hal, salah satunya dengan belum diberi momongan. Kalau sudah begini, saya dan suami suka mengingat kembali komitmen awal pernikahan. Kami sebelum menikah beberapa kali membicarakan berbagai hal yang akan dilakukan jika kondisi buruk menimpa pernikahan, salah satunya adalah jika kami lama diberi momongan atau justru tidak memiliki momongan. Saya sering tanya atau ngobrolin seputar hal ini lagi kalau kami sedang santai misalnya pas ngobrol-ngobrol sebelum tidur.

Dan satu kalimat yang selalu saya ingat dari suami saya ketika saya belum hamil lagi atau baru keguguran adalah “Aku nikahin kamu kan bukan cuma buat punya anak dari kamu”.

5. Saling melindungi

Belum punya anak setelah menikah bertahun-tahun adalah hal yang berat. Akan ada saja orang yang entah basa-basi bertanya “Kok ga hamil-hamil juga?” atau ada yang secara terang-terangan ngomongin kalimat yang menyakitkan untuk kita. Intinya adalah kita harus melindungi pasangan kita. Jangan membuka aib apapun. Saling melindungi jika ada ‘serangan’ bertubi-tubi dari orang lain khususnya mereka yang pertanyaan dan pernyataannya bisa membuat sakit hati karena setajam silet.

(Baca juga:Β Jangan Katakan Ini Pada Perempuan yang Belum Memiliki Anak)

6. Mendukung pasangan untuk melakukan kegiatan yang positif

Sebelum memiliki anak berarti kita punya banyak waktu luang yang mungkin saja lebih luang daripada mereka yang telah memiliki momongan. Itu artinya kita punya banyak waktu untuk melakukan kegiatan yang positif dan bebas mengaktualisasikan diri. Nah mendingan juga kita lakukan kegiatan yang positif saja daripada tenggelam dalam stres atau sedih karena tidak kunjung diberi momongan.

Kalau sudah begini, libatkan juga pasangan atau diri kita untuk melakukan kegiatan positif tersebut. Jika memang tidak bisa, dukung penuh pasangan kita yang melakukan kegiatan positif. Lucky me, pasca-resign saya didukung penuh sama suami untuk ngeblog dan saya mendukung pekerjaan serta semua project yang ia lakukan. Yang penting kita bahagia.

ratna dewi

66 Comments
Previous Post
Next Post