Cerita Program Hamil Ketiga: Balada Salah Jadwal

Yeaayyy, akhirnya sudah diperbolehkan nulis soal program hamil ketiga ini sama suami. Tadinya, kami berniat mau keep program hamil yang ketiga sampai beneran punya anak. Tapi ya sudahlah takut sayanya keburu lupa dan sayang banget kan infonya. Siapa tahu ada pejuang momongan di luar sana yang juga mau program hamil kayak saya. Infonya kan jadi berguna. Tulisannya juga nggak mau sedih-sedihan dulu deh, biar semangaaattt program hamilnya.

Jadi, awal Agustus 2016 ini kami sudah mulai program hamil lagi karena sudah setahun sejak keguguran. Program hamil tahun ini PIC-nya suami. Loh, pake PIC segala? Iya, biar sense of belonging suami besar pas program hamil ini. Biar ada penyegaran lah, masa saya mulu yang ribet nelponin bikin jadwal sana sini.

Di program hamil ketiga ini akhirnya kami sepakat untuk pindah dokter. Dari yang tadinya sama dr Budi Wiweko di Klinik Yasmin RSCM Kencana jadi ke Prof. Jacoeb di SamMarie Healthcare. Pindahnya kami dari Klinik Yasmin dan dr Budi selain karena pengen ganti suasana dan dapat opini yang lain juga karena Klinik Yasmin sekarang jauh banget dari rumah kami. Bayangin dari Ciledug ke Salemba dan dr Budi yang selalu praktik siang ke sore hari nggak kukuh bok. Kalau dulu pas masih di Serdang kan dekat banget ke RSCM Kencana.

(Baca juga: Tak Bisa Ke Lain Hati)

Nah, Prof. Jacoeb ini praktiknya di Klinik SamMarie Wijaya dan SamMarie Basra. Kami memutuskan buat program hamil di SamMarie Wijaya karena lebih dekat. Sebelum pindah ke Prof. Jacoeb, saya juga sempat baca-baca tulisan orang-orang yang pernah promil di beliau. Langkah-langkahnya panjang banget dan lumayan ribet. Tapi saya butuh yang kayak begini sekarang soalnya belajar dari dua kali keguguran udah nggak bisa disepelekan lagi. Saya butuh dokter yang lebih teliti tahu kondisi saya dan suami.

(Baca juga: Trauma Healing Pascakeguguran Berulang)

Padahal, sebenernya saya udah sreg dan cocok banget sama dr Budi. Tindakannya nggak ribet dan selalu bisa bikin saya hamil dalam beberapa bulan. Tapi ya itu, ujungnya selalu nggak enak karena nggak sampai lahir. Padahal dari dua kali hamil, semua atas bantuan dr Budi. Tapi ya sudahlah, kali ini dicoba ke Prof Jacoeb dulu. Ntar kalo “kangen” ke dr Budi, ya ke Klinik Yasmin lagi, hihi.

Balada Salah Jadwal

Better, sebelum promil ke Prof Jacoeb baca-baca dulu deh tulisan yang promil ke beliau plus langkah-langkah pendaftarannya. Karena ternyata beda banget sama kalo ke Klinik Yasmin (yaiyalah ya!). Saya dan suami pertama-tama cari info dan nomer telepon SamMarie dulu. Setelah itu baru tanya-tanya jadwal dokter plus jam praktiknya. Sayangnya, website SamMarie ini kayaknya kurang update deh jadi aja ada kejadian konyol pas saya sama suami pertama kali ke sana.

Saya dan suami telepon dulu di nomer telepon yang tertera di website SamMarie. Kata yang menerima telepon, pasien baru nggak perlu isi-isi biodata dan lain-lain tapi hanya bayar biaya pendaftaran awal Rp 50.000 nanti saat kami ke kliniknya. Untuk konsultasi setelahnya hanya bayar biaya pendaftaran Rp 35.000. Nah, pas hari Prof Jacoeb praktik, paginya (sekitar jam 8) kita harus telepon buat daftarin nomer. Kalo nggak salah, satu kali praktik cuma terima 35 pasien. Nah, mbaknya bilang kalau jadwal dokternya hari Selasa dan Kamis.

Hari Kamis tanggal 11 Agustus 2016 kami semangat ’45 ke SamMarie Wijaya. Saya dan suami berangkat dari kantornya sekitar jam 18.30 setelah Maghrib karena kami dapat giliran sekitar jam 19.30. Saat itu, pihak SamMarie juga sudah telepon lagi buat konfirmasi apakah kami jadi datang. Kami jawab dengan mantap “Jadi”. Walaupun sempat meraba-raba tempatnya (karena kami belum pernah ke SamMarie dan hanya berbekal Google Maps) akhirnya sampai juga. Kami pun langsung ke meja resepsionis dan menghampiri mbak resepsionisnya dan terjadilah percakapan antara saya (D), resepsionis (R), dan suami (K).

R: Mau ke siapa, Mbak?

D: Mau ke Prof Jacoeb Mbak, sudah daftar tadi pagi.

R: Oh, Prof Jacoeb baru praktik besok.

K: Lho, bukannya hari ini sama Selasa?

R: Iya, tapi itu di SamMarie Basra

Seketika itu saya lemes. Soalnya, saya dan suami udah ngebut ke SamMarie Wijaya karena udah diteleponin. Jadi selama ini suami saya ngobrol di telepon sama operator SamMarie Basra. Capek deh, hahaha.

K: Padahal itu nomer telepon yang ada di websitenya lho.

D: Ya udah lah ya.

Buat mengobati kekecewaan, akhirnya kami daftar aja sekalian buat ke Prof Jacoeb esok harinya. Mbak resepsionis lalu mencatat nama saya dan kami harus membayar Rp 50.000 sebagai biaya pendaftaran awal. Setelah itu, resepsionis menginstruksikan kami untuk ambil nomer antrian dengan cara menelepon di nomer yang ia berikan. Ia memberikan beberapa potong kertas yang berisi nomer telepon. Ada nomer handphone dari beberapa provider jadi kita bisa menyesuaikan sama provider yang kita pakai biar murah. Kata mbaknya, pendaftaran mulai dibuka pukul 08.00 dan akan ditutup setelah 35 pasien.

Setelah selesai pendaftaran, saya mengambil beberapa brosur yang ada di meja resepsionis buat dibaca-baca. Kami pun pulang dan suami dilema mau ke kantor lagi atau bablas pulang. Akhirnya ia memutuskan bablas pulang aja soalnya besok akan capek banget karena katanya Hari Jumat suami mau futsal disambung zumba, biar langsing. Nggak dink, zumba dalam rangka ulang tahun kantornya.

Jadilah kita cuss pulang.

Esok harinya…

Jadi PIC promil kali ini membuat saya kagum sama semangat suami. Saya kirain dia akan males-malesan telepon ternyata dari pagi udah semangat. Kami yang biasanya bangun siang jadi bangun pagi, tapi khusus suami aja sih, hihihi. Dia telepon ke nomer yang dikasih resepsionis dan hari itu kami dapat nomer 15. Padahal baru beberapa menit lewat dari jam 08.00 lho. Dalam hati saya, banyak juga pasiennya Prof Jacoeb. Lalu kami diminta datang pukul 19.30 karena jam segitu kira-kira kami masuk. Okelah.

Oh iya, FYI jadwal praktik Prof Jacob di RS Sam Marie Wijaya hari Senin dan Jumat pukul 15.00-21.00.

Bersambung yaa…

 

ratna dewi

 

 

 

Notes:

Vector from www.freepik.com

1 Comment
Previous Post
Next Post