#MarriedLifeSeries: Tinggal di Rumah Kontrakan Setelah Menikah

Buat pasangan perantau di Jakarta atau bahkan kota lain, salah satu hal yang dipertimbangkan setelah menikah adalah tinggal dimana. Maklum saja, baik orang tua atau mertua tidak ada yang tinggal satu kota. Kalau sudah begini salah satu jalan pintas yang ditempuh adalah menyewa rumah.

Sama halnya seperti saya dan suami. Orang tua kami berdua tinggal di kampung. Jadi tidak ada opsi untuk tinggal di rumah orang tua ataupun mertua. Kalaupun ada, saya dan suami sudah tentu enggan karena kami berdua tipikal pasangan yang ingin hidup mandiri tanpa campur tangan orang tua setelah menikah. Sementara kami belum punya uang buat beli rumah baru. Pun nggak ada yang kasih kami hadiah rumah setelah menikah #kasian #padahalpengen, hahaha. Menyewa tempat tinggal memang jadi pilihan.

(Baca juga: #MarriedLifeSeries: Kok Nggak Beli Mobil?)

Mengapa Memilih Mengontrak Rumah?

Pertimbangan menyewa tempat tinggal setelah menikah sudah kami pikirkan dari jauh-jauh hari. Bahkan sebelum kami resmi menikah. Sambil ribet mengurus pernikahan, kami juga ribet mencari tempat tinggal setelah menikah. Perkara mencari tempat tinggal ini gampang-gampang susah sih. Pasalnya ada beberapa hal yang kami pertimbangkan.

Di antaranya adalah jarak rumah dari tempat kami bekerja. Maklum saja, saat itu saya bekerja di kawasan Jakarta Timur sementara suami di Jakarta Barat. Dengan posisi kantor yang tidak searah ini maka kami harus mencari posisi tempat tinggal yang strategis dan tidak ‘berat sebelah’. Pertimbangan lainnya adalah kami tidak tinggal berdua saja tetapi ada adik ipar saya alias adik suami yang ikut tinggal bersama saya. Kalau cuma berdua mungkin saya bisa mengontrak rumah petakan tiga ruangan. Lha kalau tinggal bertiga di rumah petakan tiga ruangan dengan satu kamar ya tentu nggak bagus buat kehidupan pengantin baru yang sedang bergelora, hahaha.

Sebelum memutuskan untuk mengontrak rumah, saya dan suami punya beberapa opsi. Opsinya yaitu mengontrak rumah, sewa apartemen, atau beli rumah. Opsi ketiga tentu kami kandangkan dulu karena uang tabungan masih pas-pasan. Kami sempat mempertimbangkan opsi kedua yaitu sewa apartemen. Bahkan, kami sudah survey salah satu apartemen di kawasan Pulogadung.

Dari segi lokasi, apartemen ini sangat dekat dengan kantor saya dan adik ipar tetapi sangat jauh dari kantor suami. Ini tentu jadi bahan pertimbangan juga. Kasihan kalau setiap hari suami bolak-balik kantor menggunakan motor dengan kondisi jalanan yang jauh dan cukup macet. Opsi ini menjadi lebih berat untuk dijalankan karena ruangan apartemen ternyata sempit sekali. Waktu itu saya melihat apartemen dengan tipe two bedrooms. Ukuran kamar sangat kecil dengan sekat berbahan seperti gypsum. Selain itu setelah dihitung-hitung, uang sewa nggak masuk budget kami. Iya, karena di apartemen selain ada uang sewa kan masih ada uang lain-lain seperti maintenance atau kebersihan. Saat itu yang ada di pikiran kami dengan uang yang dikeluarkan sebesar ini mending dibuat ngontrak rumah akan dapat rumah yang bagus atau malah buat nyicil rumah sekalian.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ketika tengah pusing mencari tempat tinggal setelah menikah, ternyata bulik saya mengabarkan kalau di dekat rumahnya ada kontrakan kosong. Kami pun melihat kesana. Kontrakannya terletak nggak jauh dari rumah bulik saya, hanya berjarak tiga rumah. Depan rumah kontrakan pun rumah sepupu saya. Sayangnya memang jalan di depan kontrakan ini tidak bisa dilalui mobil karena banyak pot tanaman. Tetapi masih lebar untuk dilalui dua motor.

Rumah yang ditawarkan terdiri dari empat ruangan: satu ruang tamu, kamar tidur, ruangan serbaguna, dan dapur. Kamarnya memang satu tetapi ruangan satunya bisa kami modifikasi untuk kamar adik ipar. Di depan rumah masih ada halaman kecil yang muat untuk menjemur baju dan parkir dua motor. Ada pagar rumah yang membatasi kontrakan dengan jalan. Kalau kondisi rumah memang terlihat seperti rumah lama. Aslinya, kontrakan ini adalah satu rumah yang disekat dan dibagi menjadi tiga untuk kontrakan. Harga yang ditawarkan Bu Haji, begitu kami biasa memanggil pemilik kontrakan, adalah Rp 11 juta per tahun. Budgetnya pas dengan kantong kami. Akhirnya kami pun deal sewa rumah Bu Haji dengan kompensasi rumah dicat terlebih dahulu biar tampak baru.

Drama di Rumah Kontrakan

Tinggal di rumah kontrakan ada enaknya ada nggaknya. Enaknya, rumah kontrakan saya dulu lokasinya strategis di Jakarta Pusat. Jadi dekat kalau mau kemana-mana misalnya mau belanja, ke rumah sakit, stasiun, mall, pasar, dan fasilitas umum lainnya dekat. Selain itu, lokasinya juga dekat sama rumah bulik saya. Saya nggak pernah kesepian kalau lagi sendiri di rumah. Tinggal ngesot ke rumah bulik atau sepupu saya maka udah ada teman. Sering juga keponakan-keponakan saya yang main ke rumah kontrakan. Jadi memang nggak pernah ada kata kesepian.

Selain itu, tinggal dekat saudara juga jadi aman dalam hal makanan. Kadang kalau bulik saya masak kebanyakan kami selalu kena limpahannya. Bahkan saat dulu saya nggak bisa masak karena habis melahirkan, tinggal pesan katering masakan sama bulik saya. Praktis. Kalaupun mau beli makanan, lokasi rumah kontrakan kami juga dekat dengan tempat makan baik itu kios atau warung tenda. Nggak cuma itu, banyak tukang jualan keliling yang lalu lalang setiap waktu. Saya pun nggak khawatir kesulitan mencari makan di sana.

Seperti halnya hidup, ada enaknya ada juga nggaknya. Begitu pula saat kami tinggal di rumah kontrakan. Saya mulai tinggal di kontrakan sekitar tiga minggu sebelum menikah bersama calon adik ipar. Selama menempati kontrakan pun kami nggak bebas dari drama dan duka. Dari mulai teror kecoa sampai banjir.

  • Muncul Kecoa dan Kawan-Kawannya

Beberapa hari setelah tinggal ternyata saya baru tahu kalau bagian belakang kontrakan banyak sekali kecoa. Bisa jadi karena posisi rumah di Jakarta yang sudah saling berhimpitan dan dekat dengan got. Mungkin bagi orang yang biasa sama kecoa ini hal remeh. Tapi buat saya ini masalah besar. Apalagi kecoa sekali muncul rombongan. Alhasil di awal-awal kalau malam dan kebelet ke kamar mandi, saya numpang di rumah bulik saya.

Keesokan harinya, saya pun beli semprotan serangga. Selama di kontrakan semprotan ini adalah andalan saya banget. Setelah kemunculan kecoa ternyata banyak hewan lain bermunculan selama dua tahun saya mengontrak disana. Dari mulai tikus, kelabang, kalajengking, kucing, sampai puncaknya adalah ketika saya tidur ada belatung berjatuhan dari plafon. Setelah peristiwa ini, akhirnya saya dan suami berpikir untuk pindah kontrakan atau beli rumah sekalian.

  • Atap Bocor

Saya sangat sadar bahwa rumah yang kami tempati adalah rumah lama jadi mungkin akan ada peristiwa bocor sekali dua kali saat hujan lebat. Nyatanya memang begitu tapi kejadiannya di luar perkiraan kami. Titik bocor dan rembesan di rumah kontrakan Bu Haji ini banyak banget dan cukup deras. Jadilah kalau hujan tiba kami sedih karena bocor dan rembesannya bisa menggenang cukup banyak di ruang tamu. Sampai-sampai kalau hujan kami selalu titip kunci sama bulik dan nggak berani mengosongkan rumah untuk bepergian jauh saat musim hujan.

Sekali dua kali keluhan bocor ini diadukan ke Bu Haji dan ditangani. Tapi tetap saja masih muncul bocornya. Maklum, rumah lama memang seharusnya dipugar jadi baru. Puncaknya, bocor dan rembesan ini membuat plafon rumah jebol karena terus-terusan lembab dan basah.

  • Banjir

jalanan depan rumah saat banjir
jalanan depan rumah saat banjir

Bukan, bukan rumah kontrakan kami yang banjir. Tetapi akses menuju hingga jalanan depan rumah kontrakan kami kalau musim banjir besar bisa terkepung banjir. Maklum saja, letaknya yang dekat dengan Kali Sunter dan biasanya ditambah banjir rob dari Pantai Utara Jakarta. Bahkan saat Februari 2015 lalu, saya sampai harus pulang kerja ke rumah dengan jalan kaki menembus banjir besar dari Cempaka Mas menuju rumah dengan jarak sekitar 1km lebih dan ketinggian air lebih dari lutut. Duh rasanya sedih banget. Setelah itu, saya nggak masuk kerja karena masih banjir dan rumah mati listrik hingga dua hari.

(Baca juga: Haru Biru Hari Baru)

  • Lingkungan Tidak Tenang

Posisi rumah kontrakan saya berada di tengah dari tiga rumah. Alhasil, suara-suara dari tetangga kanan kiri sering terdengar. Apalagi tetangga di kiri dan kanan terbiasa dengan suara kencang. Sering banyak orang di rumahnya juga membuat kaget atau tidak tenang saat kami tidur. Untuk menonton televisi pun kadang harus pakai volume yang cukup besar. Nah, aspek ini yang juga jadi pertimbangan saya dan suami akhirnya memilih hengkang dari rumah kontrakan dan membeli rumah baru.

Sekarang saya dan suami puji syukur telah memiliki rumah sendiri. Kami menempati rumah kontrakan hanya sekitar 2,5 tahun. Namun, ada banyak pelajaran, pengalaman, hingga suka duka yang dirasakan. Kadang kalau dipikir saya suka amazing sendiri dulu bisa bertahan di rumah kontrakan seadanya selama dua tahun. Walaupun begitu, sampai sekarang pengalaman mengontrak rumah ini jadi pengalaman yang berharga buat saya dan suami. Pengalaman bahwa saya dan suami pernah sama-sama hidup susah, berjuang di rumah kontrakan kecil yang bocor dan penuh kecoa. Insyaallah pengalaman ini semakin membuat kami menghargai jerih payah membeli rumah yang kami miliki sekarang.

Buat kalian yang akan menikah dan akan memilih tinggal di rumah kontrakan, ini ada sedikit tip dari saya untuk memilih rumah kontrakan:

  • Lokasi, pertimbangkan lokasi rumah yang akan dikontrak. Dari sisi lokasi apakah tempatnya strategis untuk menjangkau tempat-tempat dan fasilitas kendaraan umum. Pertimbangan lokasi ini juga penting apalagi buat suami istri yang sama-sama bekerja. Kebanyakan orang memilih menyewa rumah yang dekat ke tempat kerja istri.
  • Lingkungan sekitar, lihat apakah lingkungan sekitarnya rawan kejahatan, kebakaran, tawuran warga,, narkoba, penggusuran, atau banjir. Ini penting untuk menjaga kenyamanan kita selama mengontrak rumah. Lihat juga kondisi airnya apakah bersih dan lancar atau tidak.
  • Bentuk, siapa saja yang akan ikut tinggal sangat jadi pertimbangan untuk memilih bentuk rumah kontrakan. Apakah mau rumah kontrakan di kompleks perumahan, petakan, ruko, bangunan baru, atau tak masalah dengan bangunan lama. Apakah butuh rumah di jalan besar atau masuk gang juga sudah cukup. Apakah butuh rumah yang punya garasi mobil atau untuk parkir motor saja sudah cukup.
  • Kondisi Rumah, jangan malas untuk survey calon rumah kontrakan sebelum ditempati. Lihat bagaimana kondisi rumah dan bangunannya. Kalau memang bangunannya lama, cek apakah masih layak tinggal. Kalau butuh perbaikan lebih baik dilakukan sebelum ditempati.
  • Harga, yang satu ini juga nggak luput jadi pertimbangan. Jangan sampai gaji bulananmu tergerus hanya untuk membayar rumah kontrakan. Pikirkan juga kebutuhan lain termasuk menabung dan rencana membeli rumah agar tidak terus-menerus menjadi ‘kontraktor’.

Itu dia #MarriedLifeSeries kali ini tentang tinggal di rumah kontrakan setelah menikah plus tip mencari rumah kontrakan. Kamu pernah atau sedang tinggal di rumah kontrakan setelah menikah? Yuk share juga suka dukanya.

 

ratna dewi

15 Comments
Previous Post
Next Post