Pasangan Halal yang Ingin Traveling Hemat, Yuk Intip Dulu Tipnya Di Sini!

Sebagai pasangan suami istri yang belum memiliki anak, buat kami traveling is a must. Saya dan suami memang tidak hobi traveling tapi paling tidak setiap tahun melakukan tiga hingga empat kali traveling ke suatu tempat. Memang tidak banyak sih, tapi kesempatan itu benar-benar jadi kesempatan emas yang tidak kami sia-siakan.

Selama ini kami masih melakukan traveling di dalam negeri. Pertimbangannya karena kesibukan suami yang kadang tidak bisa ditinggalkan sedangkan jatah cutinya terbatas. Kadang jatah cuti suami juga digunakan pulang kampung. Jadi, kami memilih traveling di dalam negeri yang tidak membutuhkan waktu lama dalam perjalanan.

Traveling benar-benar jadi moment langka yang setiap detiknya harus kami lewatkan dengan keseruan. Bukan tanpa sebab saya bilang seperti itu. Pasalnya, kesibukan kami sehari-hari yang tinggal di pinggiran ibu kota dan mencari nafkah di Jakarta sangat menyita waktu dan membuat stres. Makanya, penting sekali buat kami menyempatkan traveling. Ini bukan hanya berlaku untuk saya dan suami lho. Bagi pasangan halal lain baik yang sudah ataupun belum memiliki anak, kegiatan traveling berdua dengan pasangan bisa menjadi ajang refreshing, mengembalikan romansa, dan recharge energi.

Untuk kami yang hanya bisa traveling beberapa kali selama setahun, traveling jadi momen yang harus diutamakan kenyamanannya. Kami biasanya lebih memilih konsep koper daripada ransel saat traveling. Namun, sebagai Menteri Keuangan rumah tangga saya juga harus menyiasati traveling ala koper yang ramah di kantong. Jangan sampai, niat refreshing berbuah stress karena tabungan terkuras hanya untuk satu kali traveling.

Nah, buat kamu pasangan halal yang pengen traveling berdua saja berikut tip traveling hemat ala saya dan suami:

1. Jangan Traveling Saat Peak Season

Kami memang sangat menghindari traveling saat peak season misalnya long weekend, Lebaran, Natal, atau Tahun Baru. Soalnya saat peak season semua orang juga pengen liburan. Hal inilah yang membuat biaya tiket dan hotel jadi membengkak beberapa kali lipat. Selain itu, kami justru tidak nyaman traveling saat peak season karena banyak hotel atau tempat wisata jadi penuh.

Pantai, hutan, gunung, museum, hingga tempat makan semuanya penuh sesak bak pasar. Belum lagi jalanan yang mendadak macet penuh kendaraan hingga kawasan wisata yang penuh sampah. Saya pernah sekali mengalaminya. Semua itu justru merusak mood dan angan indah yang kami bangun sebelum traveling. Jadi, kalau kami mending memilih traveling di hari kerja. Suasana tempat wisata atau hotel tidak penuh. Kami bisa melakukan traveling dengan nyaman.

2. Booking Online Tiket dan Hotel dari Jauh Hari

Kami tampaknya harus berterima kasih dengan kemajuan teknologi. Kami memang penggemar berat booking online. Selain memudahkan dalam bertransaksi, sistem booking online juga memungkinkan kami untuk melihat dan membandingkan harga tiket dan fasilitas hotel. Apalagi sekarang sering ada diskon, potongan harga, atau penawaran khusus tiket serta hotel dengan harga terjangkau. Nah, yang seperti ini nggak boleh dilewatkan.

(Baca juga: Asyiknya Liburan dengan Kemudahan Booking Tiket dan Hotel Secara Online)

Jangan lupa juga untuk booking hotel dan tiket dari jauh hari karena kemungkinan kita masih bisa mendapatkan harga lebih murah. Kebetulan kami memang bukan tipikal pasangan yang suka traveling secara mendadak. Kami biasa merencanakan traveling dari jauh hari sehingga bisa memilih harga tiket dan hotel yang terjangkau.

3. Susun Itinerary

Untung suami saya bukan seperti Rangga yang orangnya spontan berkunjung ke suatu tempat kalau sedang travelling. Kami biasa membuat itinerary terlebih dahulu kalau mau traveling. Itinerary ini berguna sekali lho buat kami. Selain menyusun jadwal dan tempat yang harus dikunjungi, itinerary membantu mendisiplinkan saya dan suami yang kadang susah bangun pagi. Kalau ada itinerary, saya jadi bisa mengingatkan suami “Hayoh, cepetan bangun trus siap-siap. Kita harus ke tempat A jam sekian loh. Kalau nggak nanti keburu ramai/tutup”.

Susunan itinerary terdiri atas tujuan wisata, tempat makan/jajan, dan waktu kunjung. Dengan itinerary, traveling kami disiplin terjadwal walau hanya berdua (tidak ikut travel agent). Kami juga jadi terarah ke tempat-tempat tujuan. Misalnya hari ini ke tempat A setelah itu ke tempat B yang searah jalan. Kemudian besok ke tempat C yang berbeda arah. Kami jadi irit ongkos bensin/kendaraan deh.

4. Minta Referensi Teman

Beruntungnya kami yang punya banyak teman khususnya mereka yang memang hobi traveling. Selain membuat itinerary setiap traveling kami juga selalu meminta referensi dari teman. Teman yang biasanya kami mintai referensi adalah teman yang tinggal atau sudah pernah/sering ke tempat tersebut.

Biasanya, kami meminta referensi mengenai tempat yang rekomendasi untuk dikunjungi, penginapan, tempat makan, kendaraan, kondisi daerah, rute, dan masih banyak lagi. Referensi tersebut menjadi salah satu patokan bagi saya atau suami dalam menyusun itinerary. Sebelum meminta rekomendasi, saya akan bilang ke teman “Yang sesuai sama budget kami ya”. Kalau sudah begitu kan kami jadi tahu sama tahu. Bahkan, kadang ada teman yang berbaik hati justru menyusunkan itinerary bagi kami.

5. Sewa Motor atau Naik Kendaraan Umum

Karena traveling berdua dengan suami kami selalu mempertimbangkan akomodasi apa yang ingin dipakai selama di sana. Biasanya kami menggunakan kendaraan umum seperti angkutan kota (angkot) dan bus jika memang kendaraan umum mudah dijangkau. Kalau tidak ya kami memilih menyewa motor.

Kenapa menyewa motor? Selain harga sewa per harinya murah, ongkos bensin dan parkirnya pun relatif lebih murah daripada mobil. Kami yang sering eksplore beberapa tempat lebih senang menggunakan motor karena bisa selap-selip atau lewat perkampungan penduduk. Selain itu, motor juga mempercepat perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Nah, untuk yang akan traveling berdua dengan menyewa motor pastikan motor yang kalian sewa keadaannya baik ya. Jangan lupa juga untuk meminta dua helm dan jas hujan sebagai kelengkapannya.

6. Pilih Penginapan yang Nyaman dan Hemat

Penginapan jadi pertimbangan besar saat merencanakan traveling. Kami biasanya memilih tempat menginap yang tidak terlalu mewah dengan kamar tidak terlalu besar. Pertimbangannya adalah kami tidak akan menghabiskan banyak waktu di penginapan. Selain itu, saya dan suami juga agak sungkan kalau menginap di tempat yang terlalu besar.

Pengalaman kami saat ke Bali menginap di private cottage dua lantai dengan fasilitas kamar, ruang nonton tv, ruang makan, dan dapur malah justru berakhir dengan tidur berdua di sofa ruang menonton tv. Penyebabnya karena ruangan terlalu besar jadi kesannya sepi. Sementara saya penakut kalau sepi dan harus ada suara-suara televisi. Sejak itu, kami pun lebih senang menginap di hotel yang tidak terlalu besar kamarnya tetapi nyaman. Yang penting bersih, fasilitas lengkap, nyaman, sistem booking mudah, dan harga terjangkau.

 

7. Jangan Membeli Oleh-Oleh Terlalu Banyak

Untuk yang satu ini, kami harus berani bilang nggak sama yang mau nitip oleh-oleh. Jangan sampai urusan traveling kita malah direpotkan sama mencari oleh-oleh buat banyak orang apalagi yang nitip. Kalau pun mau memberi oleh-oleh, berilah pada circle terdekat misalnya orang tua, kakak, atau adik. Agar tidak banyak yang meminta/titip oleh-oleh, biasanya saya nggak akan menggembar-gemborkan perjalanan travelling di media sosial.

Saya pun mulai memangkas banyak budget oleh-oleh saat traveling. Dulu, saat traveling saya bisa menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli oleh-oleh. Misalnya, oleh-oleh untuk saya hanya Rp 100.000, sementara untuk banyak orang bisa tiga sampai empat kali lipatnya. Alamak! Selain menghabiskan uang, kadang kami juga kerepotan membawa oleh-oleh tersebut.

Jadi gimana? Yuk, para pasangan halal kita berkemas koper buat traveling hemat!

 

ratna dewi

66 Comments
Previous Post
Next Post