#CeritaIbu: Menjaga Kesehatan Anak di Masa Pandemi

#CeritaIbu: Menjaga Kesehatan Anak di Masa Pandemi

Sejak corona diumumkan positif ada di Indonesia, kewaspadaan saya terhadap kesehatan keluarga makin meningkat. Apalagi semakin bertambah hari, mereka yang berlabel positif Covid-19 pun makin banyak. Siapa saja bisa terjangkit apalagi virus ini pun penularannya sangat mudah. Belum lagi ketika tempat tinggal saya ternyata statusnya zona merah Covid-19. Sudah jadi tugas saya sebagai ibu untuk jadi garda terdepan pelindung anak yang notabene masih berusia setahunan agar tidak tertular virus ini.

Prinsip saya ketika situasi semakin tidak menentu, diputuskan WFH, ditetapkan kebijakan social distancing hingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) adalah waspada boleh, panik jangan. Masalahnya kalau panik, lagi-lagi justru akan menurunkan imun dan menghabiskan tenaga dengan percuma. Jadi, sebagai ibu saya tetap harus bisa berpikir rasional tetapi tetap waspada saat pandemi melanda.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Tentang Flu dan Bagaimana Menghadapinya

Well, saya adalah ibu dari anak laki-laki berusia 1,5 tahun yang masih sangat bergantung sama saya. Walaupun konon Covid-19 lebih tidak bersahabat pada mereka yang notabene orang tua, punya penyakit tertentu (hipertensi, diabetes, atau jantung), dan orang-orang yang imunnya rendah, bukan berarti bayi atau balita nggak bisa terjangkit. Bayi atau balita bahkan seusia anak saya bisa saja menjadi carrier atau malah positif Covid-19 karena corona tidak memandang akan menjangkiti siapa. Namun, virus ini bisa dicegah dengan penerapan perilaku hidup sehat dalam keluarga.

Namun, covid-19 bukanlah satu-satunya ancaman. Jangan lupakan juga fakta bahwa saat ini musim hujan telah tiba. Itu artinya cuaca nggak menentu juga bakal menjadi momok tersendiri bagi mereka khususnya yang memiliki anak kecil. Penyakit pernafasan seperti batuk dan pilek menjadi ancaman. Nggak cuma itu juga, ada ancaman lain yang bernama demam berdarah yang juga ‘mengantri’ untuk meneror kesehatan kita. Oleh sebab itu, saat di rumah aja seperti sekarang ini menjadi sehat adalah suatu keharusan.

Sehat buat saya nggak cuma soal fisik tapi juga emosi. Oleh karena itu, keduanya harus seimbang bukan cuma untuk saya tetapi juga Aqsa. Saya berupaya keras untuk membuatnya sehat dan nyaman saat di rumah aja seperti sekarang. Jadi sebisa mungkin saya jaga semuanya demi Aqsa bisa tetap sehat secara fisik tetapi juga bahagia secara emosi. Dan inilah cara saya menjaga kesehatan Aqsa saat pandemik dan harus di rumah aja seperti sekarang:

1. Beri asupan makanan kaya nutrisi

Seorang dokter anak mengatakan bahwa tidak ada multivitamin atau obat khusus yang bisa mencegah virus corona menular pada anak, bahkan rimpang dan jejamuan yang katanya ampuh untuk mencegah virus corona pun belum ada bukti medisnya. Sebagai ikhtiar, untuk menjaga kesehatan tubuh anak saya pun memberikan asupan makanan kaya nutrisi pada Aqsa. Makanan yang memang biasa dia makan sehari-hari bahkan ketika corona belum menyerang.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Ekspektasi dan Realita Menghadapi Fase Makan Anak

Kalau ada yang tanya nggak ada bedanya donk sama makanan yang biasa dikonsumsi saat bukan dalam masa pandemi? Iya memang nggak ada bedanya. Palingan sekarang proteinnya saja yang saya tambahin alias double protein hewani, ini pun juga atas inisiatif saya untuk menjaga kenaikan BB Aqsa tetap sesuai kurvanya. Kalaupun tidak double prohe, beri makanan dengan menu lengkap yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, dan serat setiap hari dengan porsi sesuai usianya sudah cukup kok.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Salah Kaprah Soal MPASI

2. Istirahat yang cukup

Saya percaya kalau istirahat yang cukup, baik itu untuk orang dewasa maupun anak-anak, selain bisa menjaga mood dan juga perasaan juga bisa meningkatkan imunitas pada tubuh. Manfaatkan waktu seefektif mungkin untuk istirahat apalagi saat sedang di rumah aja seperti ini. Jangan lupa, dengarkan alarm untuk istirahat tubuh kita dan anak. Jangan memaksa untuk melakukan sesuatu hingga kelelahan.

Tips di atas yang selalu saya terapkan, bahkan saat corona belum menyerang. Saya tahu banget apabila saya kurang istirahat yang paling sederhana saja, flu mudah menyerang. Kalau saya sudah flu otomatis Aqsa pun ikut ketularan. Pun dengan Aqsa kalau kurang istirahat nggak berapa lama hidungnya meler. Sejak itu saya tahu kalau kurang istirahat, imun kami menurun. Oleh karena itu, istirahat cukup jadi salah satu kunci kami untuk mencegah penularan virus corona.

Baca Juga:   Ikhtiar Membersihkan Tempat Tidur dengan Jasa Hydroclean

3. Jaga jarak

Karena virus corona bisa menular lewat air liur, sentuhan tangan, bahkan cipika-cipiki, memang sudah paling benar untuk turut menaati aturan social and physical distancing alias jaga jarak. Jaga jarak ketika di tempat umum dan sebisa mungkin nggak ke suatu tempat yang berpotensi mengundang keramaian. Nggak cuma itu, jaga jarak ini juga saya terapkan di rumah.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Menciptakan Rumah Nyaman bagi Anak saat Social Distancing

Sekarang, saya membatasi ruang bermain Aqsa. Dia hanya boleh bermain di dalam atau sekitar rumah. Saya tidak memperbolehkannya dulu untuk bermain ke tempat teman-temannya atau tetangga. Begitu pun sebaliknya, tetangga juga sebisa mungkin saya ‘hindari’ dulu untuk bermain dengan Aqsa mengingat kita nggak pernah tahu apakah mereka bersih dari virus atau nggak. Jadi, sekarang orang rumah jadi sahabat dan teman bermain Aqsa biar dia nggak kesepian dan tetap happy.

4. Ubah kebiasaan

Jujur, saya bukan orang yang terbiasa cuci tangan bahkan ketika mau makan karena mikirnya ‘Ah, pakai sendok ini’. Kebiasaan ini juga jadi saya tularkan ke Aqsa. Namun, sejak pandemi, cuci tangan menjadi suatu keharusan setelah berkontak dengan apapun itu yang berpotensi bisa menjadi media untuk penularan virus. Cuci tangan ini diterapkan bukan cuma buat saya tapi juga Aqsa dan anggota keluarga yang lain. Cuci tangannya pun harus menggunakan sabun.

Baca Juga:   Cerita Kehamilan Ketiga: Kebiasaan-Kebiasaan Baru di Rumah

Selain cuci tangan, ada juga kebiasaan-kebiasaan lain yang berubah seperti batuk dan bersin. Sebisa mungkin kami menerapkan etika batuk dan bersin yang ditutup menggunakan pergelangan tangan supaya air liur yang terpercik tidak menempel kemana-mana karena kita nggak tahu kan di dalam air liur itu ada virusnya atau nggak.

5. Peduli dengan kesehatan orang-orang di sekitarnya

Karena masih kecil dan belum bisa mengurus dirinya sendiri, Aqsa memang menjadi perhatian utama saya saat di rumah. Namun, tidak lantas menjadikan saya abai dengan anggota keluarga yang lain. Selain kami berdua ada suami dan adik saya yang tinggal serumah. Dan sejak virus corona ini menghebohkan Indonesia, saya selalu cerewet serta mewanti-wanti mereka untuk menjaga kesehatan dan kebersihan di rumah. Sebisa mungkin kami bersama melindungi satu sama lain.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Menciptakan Rumah Nyaman bagi Anak saat Social Distancing

Bukannya apa-apa, karena jika daya tahan tubuh mereka menurun virus pun akan mudah masuk. Penyakit pun akan mudah menempel. Kalau itu penyakit menular, besar kemungkinannya untuk menularkannya pada anggota keluarga lain. Kalaupun itu bukan penyakit menular dan butuh penanganan dokter atau rumah sakit, duh jangan sampai deh. Pasalnya sekarang tempat pelayanan kesehatan (klinik, RS, atau puskesmas) jadi tempat terakhir yang ingin dikunjungi karena infeksius sekali. Saat pandemi seperti ini, pameo ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’ memang paling benar.

6. Memberi si kecil ruang untuk bermain

Saya percaya bermain adalah salah satu hal yang membuat dunia anak-anak menyenangkan. Melalui bermain, ia bisa mengeksplorasi banyak hal. Ada banyak hal yang berubah saat pandemi ini salah satunya adalah tidak memungkinkannya untuk bermain di dunia luar. Saya pun juga nggak bisa terus-terusan mengalihkan perhatiannya pada gadget karena anak seusianya memang sebenarnya tidak terlalu baik terus-terusan akrab dengan gadget.

Aqsa ceritanya jualan buku

Oleh karena itu, untuk menjaga kestabilan emosinya, saya memberikan keleluasaan dan ruang gerak untuknya bermain di rumah. Saya jadikan teras rumah kami sebagai tempat bermain dan guling-gulingan Aqsa. Saya pun membebaskannya untuk bermain yang ia mau di rumah. Salah satu permainan yang dia suka adalah bermain air. Saya memang masih melarang dia untuk bermain air hujan, tapi saya bebaskan dia untuk bermain air di rumah.

Aqsa suka sekali bermain air, dari hanya bermain air warna-warni alias air yang ditetesi pewarna makanan, menyiram tanaman, ikut saya mengepel lantai, atau membantu ayahnya mencuci motor/mobil. Ya, semua ‘modus’-nya adalah untuk bermain air. Saya sih nggak pernah melarangnya untuk bermain air karena hal tersebut bisa menjadi sesuatu yang eksploratif untuknya.

Akhirnya, saya sudah biasa dengan carport yang banjir air, lantai berwarna-warni karena tumpahan air berwarna, atau acara ganti baju berkali-kali setiap hari. Namun yang selalu harus saya pastikan adalah setelah bermain air, Aqsa nggak masuk angin atau flu. Oleh karena itu, saya punya beberapa tips yang biasa saya terapkan untuk Aqsa:

– Batasi durasi bermain

Biasanya saya membatasi durasi bermain airnya maksimal hanya sampai 30 menit. Kalau lebih lama dari itu, saya langsung ambil dan sudahi saja kegiatannya.

– Segera mandi atau ganti bajunya

Baju basah sebadan-badan karena bermain air sih sudah biasa. Tapi setelah itu saya langsung mandikan atau keringkan badannya lalu mengganti bajunya. Biasanya sih saya akan atur timing Aqsa bermain air di pagi atau sore hari sebelum mandi biar setelah itu dia bisa langsung mandi dan saya bersihkan secara menyeluruh.

– Pakaikan minyak telon

Minyak telon adalah salah satu item wajib yang harus ada buat Aqsa. Selain untuk menghangatkan badan, fungsi minyak telon untuk Aqsa juga sebagai ‘parfum bayi’ karena dari sejak lahir Aqsa tidak pernah saya berikan bedak. Yup, minyak telon yang identik dengan bau bayi, dioleskan ke kulit, dan bercampur dengan sedikit keringat bayi itu baunya nagih banget. Wangi bayi kalau saya bilang.

Tapi memilih minyak telon juga gampang-gampang susah nih. Saya tuh termasuk kolektor minyak telon. Tiap ada merk yang belum pernah saya pakaikan ke Aqsa, saya beli. Untungnya, kulit Aqsa nggak pernah alergi karena saya gonta-ganti minyak telon. Namun, setelah perjalanan panjang saya gonta-ganti minyak telon akhirnya saya jatuh cinta sama Sleek Baby Telon Oil.

Sleek Baby Telon Oil adalah varian baru dari produk Sleek. Sebagai pemakai produk Sleek garis keras, selama ini saya hanya tahu kalau Sleek memiliki produk-produk yang berhubungan dengan cuci-mencuci. Tapi setelah tahu kalau Sleek juga punya produk Sleek Baby Telon Oil, saya pun penasaran sama varian minyak telonnya. Dan setelah mencoba, saya langsung jatuh hati dengan produk ini.

Satu hal yang menjadikan Sleek Baby Telon Oil berbeda dengan minyak telon biasa adalah karena memiliki kandungan, antara lain:

  • 20% minyak anisi (oleum anisi). Kandungan ini 2 kali lebih banyak daripada minyak telon pada umumnya. Minyak anisi (oleum anisi) atau yang biasa dikenal dengan minyak adas memiliki efek menghangatkan dan mengatasi perut kembung yang sering terjadi pada bayi. Karena kandungan minyak anisi yang 2 kali lebih banyak inilah, Sleek Baby Telon Oil tak hanya mampu menghangatkan badan si kecil tetapi juga efektif melancarkan pernafasan dan melindungi kulit dari bakteri penyebab iritasi.
  • 60% minyak kelapa. Minyak kelapa dalam kandungan telon sendiri berfungsi untuk menjaga kelembapan kulit si kecil. Apalagi pada bayi, kulit adalah salah satu organ sensitif dan tipis yang rawan mengalami ruam, gatal, atau luka. Kandungan minyak kelapa ini juga memiliki manfaat untuk membuat kulit bayi menjadi lebih lembut dan tidak kering.
  • 20% minyak kayu putih (oleum cajuput). Sebagai salah satu komposisi dari Sleek Baby Telon Oil, minyak kayu putih sendiri memiliki manfaat untuk memberikan rasa hangat pada tubuh. Pada dasarnya minyak kayu putih murni tidak direkomendasikan untuk diberikan langsung pada bayi karena kandungannya yang kuat bisa menyebabkan panas pada kulit. Namun, ketika minyak kayu putih sudah dicampur dengan kandungan minyak lain seperti halnya pada Sleek Baby Telon Oil ini maka membuatnya lebih aman saat dioleskan pada kulit bayi.

Buat saya, Sleek Baby Telon Oil nggak cuma berfungsi sebagai minyak telon yang hanya dioleskan setelah mandi pada Aqsa. Karena kandungannya ini, saya punya beberapa rekomendasi pemakaian Sleek Baby Telon Oil agar bisa diperoleh manfaat yang maksimal, antara lain:

  • Oleskan minyak telon setelah anak mandi, ini sudah pasti rekomendasi pemakaian pertama untuk penggunaan Sleek Baby Telon Oil
  • Oleskan Sleek Baby Telon Oil pada bagian perut dan punggung setelah si kecil selesai bermain air, hujan-hujanan, atau berenang.
  • Oleskan Sleek Baby Telon Oil pada bagian dada, punggung, dan telapak kaki serta berikan pijatan lembut di daerah-daerah tersebut saat si kecil sudah mulai menunjukkan gejala flu seperti hidung tersumbat atau meler. Pada Aqsa biasanya hal ini saya lakukan untuk melegakan pernafasannya.
  • Teteskan Sleek Baby Telon Oil pada air panas dalam wadah baskom saat si kecil mengalami hidung tersumbat. Fungsi dekongestan pada kandungan minyak kayu putihnya biasanya efektif bisa membantu mengurangi hidung tersumbat pada Aqsa.
  • Oleskan Sleek Baby Telon Oil pada titik-titik bekas gigitan nyamuk atau serangga. Manfaatnya bekerja banget lho untuk mengatasi gatal pada kulit.

Selain direkomendasikan untuk poin-poin di atas, biasanya saya selalu taruh 1 botol kemasan kecil Sleek Baby Telon Oil di dalam tas bepergian Aqsa. Yep, saya biasanya membawanya untuk traveling. Menurut saya Sleek Baby Telon Oil ini sangat direkomendasikan untuk traveling karena kemasannya yang mudah dibawa atau dimasukkan pouch. Selain itu, satu hal yang saya suka adalah tutup flip topnya yang kencang dan tidak mudah terbuka saat botol bersentuhan dengan benda-benda lain di dalam tas.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Mudik Lebaran Pertama bersama Bayi

Bukannya apa-apa, saya pernah punya pengalaman buruk dengan minyak telon yang memiliki tutup flip top dan tidak fit. Minyak telon tersebut tumpah hingga ludes di dalam tas yang akhirnya mengenai baju ganti Aqsa, dompet, sampai Ipad saya, huhu. Setelah itu, saya selalu pastikan untuk membawa minyak telon yang memiliki tutup tidak mudah terbuka saat dibawa traveling.

FYI, Sleek Baby Telon Oil ini direkomendasikan untuk diberikan sejak usia 0 tahun, lho. Pas banget untuk mendukung kesehatan dan perlindungan si kecil di 1000 hari pertama kehidupannya. Sebagai produk yang akan diberikan pada anak-anak dan bayi, kalian nggak perlu khawatir pada Sleek Baby Telon Oil karena produk ini sudah lulus uji dermatologis dan memiliki kandungan natural antibacterial. Jadi nggak khawatir saat digunakan pada anak-anak bahkan bayi baru lahir sekalipun karena Sleek Baby Telon Oil adalah produk bayi yang aman. Yang perlu diperhatikan hanyalah berikan secukupnya saja pada kulit untuk memeroleh hasil maksimal seperti yang diharapkan.

Buat para ibu dan calon ibu, saya rasa Sleek Baby Telon Oil bisa dipertimbangkan sebagai perlengkapan bayi dan anak yang harus masuk wishlist saat akan berbelanja. Seperti halnya produk-produk Sleek Baby lainnya, Sleek Baby Telon Oil sudah bisa didapatkan di toko-toko baik online ataupun offline. Sleek Baby Telon Oil ini memiliki 2 kemasan yaitu 30 ml dengan HET (harga eceran toko) Rp 13.000 dan 70 ml dengan HET 28.000. Oh ya, kalau mau tahu info selengkapnya soal Sleek Baby Telon Oil dan lihat produk-produk Sleek lainnya bisa langsung kepoin media sosialnya Sleek Baby di bawah ini ya.

Instagram: @sleekbaby_id,
Website: https://www.sleekbaby.co.id/
Facebook: https://www.facebook.com/SleekJugaSayangAnak/

 

 

5 Comments
Previous Post
Next Post