Tetap Sehat Mental dan Keuangan setelah Setahun Pandemi

Tetap Sehat Mental dan Keuangan setelah Setahun Pandemi

Beberapa hari yang lalu di grup komunitas yang saya dirikan, pembicaraan soal setahun pandemi dan ternyata langsung ramai karena para member yang notabene ibu-ibu mendadak curhat. Banyak yang bilang lelah karena terus-terusan PJJ (pembelajaran jarak jauh), sering cek-cok dengan suami karena seringnya bertemu, anak yang terus-terusan pegang gadget, memendam kangen sama keluarga karena sudah nggak pulang kampung bertahun-tahun, hingga beberapa orang yang terpaksa menjual asetnya untuk hidup karena keuangan yang morat-marit setelah pandemi melanda.

Itu semua nyata. Dan banyak kaum ibu yang paling terkena dampaknya, nggak peduli dia ibu bekerja atau di rumah aja. Nggak heran kalau banyak ibu jadi stres saat pandemi. Lha bayangkan aja, ibu harus di rumah aja dan terus-menerus menyesuaikan sesuatu yang ‘dipindah’ ke rumah, dari sekolah sampai bekerja, dalam kurun waktu lebih dari setahun. Belum lagi, beberapa ibu yang jadi tulang punggung, single mom, hingga yang tiba-tiba suaminya kena PHK atau dirumahkan saat pandemi harus putar otak agar bagaimana dapur tetap ngebul.

Dear ibu yang merasa paling menderita saat pandemi, kalian nggak sendiri kok. Ada saya dan ibu-ibu lain yang merasa senasib.

Saking stresnya saya saat pandemi ini, saya sampai sering sekali ngobrol dan tanya pada teman saya yang psikolog anak. Beruntung banget saya punya teman seorang psikolog anak, jadi bisa ngobrol, tanya-tanya, bahkan minta tips agar bisa tetap ‘waras’ selama di rumah aja. Saya juga sempat ikut webinar soal Manajemen Emosi saking bingungnya bagaimana mengelola emosi negatif yang terus memuncak saat pandemi ini. Jadi, kalian nggak sendiri kok, buibuk!

Bicara soal pandemi emang nggak ada habisnya. Apalagi kalau menuliskannya, beuh bisa-bisa jadi berartikel-artikel karena mendadak curhat. Setahun pandemi yang cukup sulit dilewati ini ternyata disadari betul oleh FWD Insurance. Itulah kenapa akhirnya FWD mengadakan ngobrol bareng psikolog anak dan financial planner untuk memotivasi dan menjaga agar para kaum ibu, yang merupakan ‘sumbu’nya keluarga, tetap bisa waras dan menjaga kesehatan keuangan keluarga.

Tetap Sehat Mental saat Pandemi

Buat saya, pandemi paling kuat menghajar mental. Selalu gelisah, nggak bisa tidur, overthinking parah, sampai suka nangis sendiri di kamar mandi akrab banget dengan hidup saya sehingga jadi sering sakit. Di awal pandemi, mental saya sempat koyak karena harus beradaptasi dengan suami yang WFH, anak yang susah makan dan BB-nya seret, dan masih banyak lagi. Sampai akhirnya saya disuruh journaling untuk menyalurkan emosi negatif yang terus-menerus mendominasi saat itu.

Baca Juga:   #CeritaCorona: Berdamai dengan #DiRumahAja

Ternyata saya nggak sendiri kok. Banyak ibu dan perempuan lain di luar sana yang mengalami hal yang sama atau bahkan lebih buruk dari saya. Hal seperti ini juga bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara lain yang terdampak covid seperti Amerika Serikat. Bahkan di China, kasus perceraian meningkat karena pandemi ini karena penyebab utama finansial. Sungguh, efek dominonya emang banyak banget dari pandemi ini.

Ibu sebagai pusat pengendali emosi keluarga idealnya memiliki mental yang sehat. Psikolog anak, Irma Gustiana atau yang biasa disapa Mbak Ayank, menyatakan mental yang sehat pada ibu berfungsi agar sebagai pengendali emosi anak dan suami mentalnya tetap terjaga, kerja bisa maksimal, relasi sosial tetap terjaga, sehingga nantinya kalau pandemi berakhir daya tahan kita terhadap hal-hal krisis pun bisa lebih tangguh. Itulah kenapa kita sebagai ibu dan perempuan harus punya keterampilan meregulasi emosi.

Baca Juga:   Belajar Mengendalikan Emosi dan Berhenti Menyalahkan Orang Lain

Keterampilan meregulasi emosi akan membuat kita survive dalam situasi yang tidak menyenangkan sehingga kalau kita ditempatkan dalam situasi yang sulit, kita bisa tetap mengambil keputusan yang tepat. Keterampilan ini harus diasah terus-menerus dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk mengontrol emosi ini, Mbak Ayank punya tips tersendiri yaitu SANTAI yang merupakan akronim dari beberapa kegiatan, yaitu:

  1. Sehat fisik dengan olahraga, prioritaskan dan luangkan waktu untuk diri sendiri.
  2. Adaptif terhadap situasi dan tunda dulu sesuatu yang tidak penting.
  3. Networking dengan luangkan waktu selama 15 menit sehari untuk menyapa social circle yang kita miliki.
  4. Tahan diri dengan kuncinya adalah olah napas. Itulah kenapa kita harus selalu sadar dan olah napas agar punya ‘ruang’ sebentar untuk mengambil keputusan yang tepat. Gunakan teknik pernapasan 4-4-8. Caranya adalah duduk dengan posisi santai dan tempelkan kaki di kursi kemudian ambil 4 kali tarikan napas dari hidung, tahan sebentar selama 4 hitungan, kemudian buang dari mulut dalam 8 kali hitungan. Olah napas ini bisa dilakukan selama 3 kali.
  5. Atasi kelelahan dengan 15 menit me time setiap hari.
  6. Ingat, ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan tidak. So, jangan meribetkan diri sendiri dengan respon orang lain.

Merencanakan Keuangan Syariah saat Pandemi

Satu sektor yang paling terimbas saat pandemi adalah ekonomi, dari yang skala global hingga skala kecil yaitu keluarga. Masalah keuangan yang meningkat di skala paling kecil saja, keluarga, bisa menghancurkan ketahanan. Nggak heran kalau akhirnya banyak pasangan memilih bercerai karena masalah keuangan keluarga yang membelit di masa pandemi ini.

Tahun 2020 merupakan tahun yang berat. Banyak keluarga yang keuangannya ambyar di tahun 2020. Nah, setelah masuk 2021 ini gimana? Karena setelah setahun pandemi ini pun belum terlihat kapan ujungnya. Rista Zwestika, Certified Financial Planner dari Financialku menyatakan bahwa risiko keuangan tetap akan ada di tahun 2021 ini. Salah satu hal yang bisa mengatasi risiko keuangan ini adalah merencanakan keuangan secara syariah.

Baca Juga:   Pelajari Hal-Hal Berikut Ini Jika Tak Mau Keuangan Keluargamu Bangkrut

Perencanaan keuangan syariah adalah proses pencapaian tujuan keuangan yang secara komprehensif, terintegrasi, dan terstruktur sesuai dengan prinsip dan kaidah syariah. Tujuan perencanaan keuangan syariah ini adalah keberkahan finansial.

Prinsip dan kaidah syariah, meliputi:

  1. Dari mana harta itu didapatkan. Dalam prinsip keuangan syariah, harta yang didapat haruslah halal (mengikuti aturan dan syariat agama Islam)
  2. Bagaimana harta kita dilindungi. Dalam keuangan syariah, perlindungan harta adalah dengan sedekah, infak, zakat, dan manajemen risiko yang syariah.
  3. Bagaimana harta dikelola. Karena harta sifatnya sementara dan bisa dinikmati saat kita sehat.
  4. Bagaimana harta dibelanjakan secara smart karena suatu hari nanti kita akan meninggalkan dunia sehingga harta yang ada wajib dibenjakan secara bijak.

Ngomongin soal perencanaan keuangan, yang paling pertama diprioritaskan pastilah cashflow. Dengan menggunakan prinsip piramida perencana keuangan, level pertama dan kedua berfokus pada keamanan keuangan. Artinya, setelah pendapatan masuk harus diatur dan dikelola dengan skala prioritas wajib, butuh, dan ingin, antara lain:

  • Cashflow bulanan, meliputi hal-hal yang wajib seperti pajak, zakat, infak, sedekah, hingga dana darurat. Covid 19 mengajarkan bahwa dana darurat amatlah penting dan wajib hukumnya karena kita nggak tahu kalau tiba-tiba kita terkena covid 19 dan harus keluar lebih banyak uang. Selain itu, jangan lupakan pula untuk mengatur utang-piutang.
  • Manajemen risiko biasanya berfokus pada sesuatu yang semakin memperkuat pondasi keuangan kita. Hal ini berhubungan pula dengan mitigasi risiko yang akan berhubungan dengan perlindungan dan manajemen risiko, seperti asuransi jiwa, kesehatan, hingga kecelakaan. Manajemen risiko juga menempatkan kita di posisi pencari nafkah utama. Itulah kenapa, pentingnya asuransi bagi kita untuk memiliki asuransi.
  • Tujuan keuangan adalah untuk apa dana yang ada digunakan, meliputi: dana pendidikan anak, dana pensiun, warisan, dll
  • Distribusi kekayaan berfokus pada apa yang akan kita tinggalkan pada keluarga saat suatu waktu nanti kita meninggal, biasanya bisa berupa warisan atau wakaf.

Tujuan keuangan dinyatakan sehat apabila di level 1 dan 2 yang merupakan pondasi sudah terpenuhi. Hal itu karena perencanaan keuangan diibaratkan SIP, yaitu:

  • Saving karena adanya kebutuhan sehari-hari
  • Investasi karena selalu ada inflasi setiap tahun
  • Proteksi sebagai salah satu ikhtiar dari mitigasi risiko

Ketiga unsur ini kalau sudah terpenuhi, apabila suatu hari terjadi hal-hal darurat atau yang tidak diinginkan maka setiap unsur tidak saling mengganggu. Khusus untuk proteksi, unsur inilah yang tugasnya memastikan tujuan keuangan tercapai.

Salah satu proteksi yang bisa dilakukan untuk mencapai mencapai tujuan keuangan yang sehat adalah dengan memiliki asuransi berbasis syariah. Asuransi syariah pada prinsipnya terjadi risk sharing bukan risk transfer. Maksudnya adalah konsepnya saling tolong menolong atau membantu sehingga akad dalam asuransi syariah terdiri dari tabarru’ dan tisarah.

So, untuk mencapai tujuan perencanaan keuangan syariah, Mbak Rista memberikan 4 cara sebagai berikut:

Proteksi Keuangan dengan Asuransi FWD

Salah satu bentuk proteksi keuangan adalah dengan memiliki asuransi bagi keluarga dan FWD Insurance mencoba mengerti itu. Namun, mendengar kata asuransi pastilah banyak di antara kita yang merasa malas duluan buat memiliki proteksi yang satu ini karena memang kesan asuransi selama ini identik dengan ribet. Tetapi, FWD mencoba mendobrak kesan buruk soal asuransi melalui kemudahan dalam banyak hal.

Baca Juga:   FWD Life, Asuransi yang Mengerti Para Penghobi Kegiatan Ekstrem

Melalui aplikasi FWD Max, FWD bisa menjangkau lebih banyak kalangan dengan kemudahan bertransaksi baik itu dari pertama hingga periode-periode sebelumnya. Salah satu produk unggulannya adalah Asuransi Bebas Handal. Asuransi Bebas Handal adalah produk asuransi kesehatan online berbasis syariah yang dapat memberikan manfaat rawat inap dengan perlindungan hingga usia 60 tahun.

Asuransi Bebas Handa diklaim memiliki 3 keunggulan yaitu terjangkau, simpel, dan lengkap.

  • Terjangkau artinya nasabah bisa memberinkan kontribusi mulai dari Rp 75.000 per bulan dengan manfaat hingga Rp 100.000.000 per tahun. Selain itu, bagi nasabah yang melakukan pembayaran secara tahunan juga akan mendapatkan free 1 bulan kontribusi.
  • Simpel artinya cara membelinya mudah yaitu hanya melalui aplikasi FWD MAX atau kunjungi ifwd.co.id. Ketika sakit pun, klaimnya mudah. Proses masuk dan keluar rumah sakit rekanan nggak ribet, cukup dengan menunjukan kartu asuransi.
  • Lengkap artinya produk asuransi syariah ini juga memiliki Manfaat Khusus Covid-19 tanpa tambahan biaya untuk seluruh nasabah aktif maupun yang baru bergabung periode 1-30 Juni 2021 agar mendapatkan Manfaat Khusus Isolasi Mandiri (Isoman) serta perlindungan termasuk pengobatan selama masa isolasi mandiri.

Selain itu, produk ini juga dibuat atas dasar kebutuhan masyarakat akan perlindungan kesehatan yang terus berkembang. Karena inilah, berbagai nasabah dari berbagai segmen bisa lebih dijangkau termasuk di antaranya adalah pekerja sektor informal seperti freelancer kayak saya ini. Khusus untuk syariahnya, Asuransi Bebas Handal ini pun berada di bawah pengawasan Dewan Pengawas Syariah.

Baca Juga:   Bicara Asuransi, Dulu dan Kini

Pandemi belum tahu kapan akan berakhir. Masihkah kalian survive dan punya bekal keuangan yang sehat untuk menghadapi pandemi yang entah sampai kapan? Belum telat kok kalau mau membenahi keuangan, lakukan satu per satu dengan hati-hati. Jangan lupa juga berikan proteksi berupa asuransi untuk diri sendiri dan orang-orang yang dicintai agar hidup kita semakin terlindungi.

 

8 Comments
Previous Post
Next Post
Begin Again, Lika-Liku Panjang Kehidupan Pasangan Nikah Kontrak
Rekomendasi

Begin Again, Lika-Liku Panjang Kehidupan Pasangan Nikah Kontrak