Jalan-Jalan bersama Bayi, Antara Ekspektasi, Realita, dan Segudang Rencana

Setelah punya anak, saya masih punya segudang cita-cita traveling. Bahkan saya pengen ajak anak saya ikutan traveling sekaligus memperkenalkannya pada sesuatu yang baru. Pada desiran angin laut, menggelitiknya pasir di pantai, birunya air laut, sejuknya udara pegunungan, hijaunya hutan, sejarah suatu tempat, hingga berinteraksi dengan orang baru.

Namun ternyata melakukan perjalanan bersama anak baik itu bayi atau balita tak semudah yang dibayangkan, Ferguso! Nggak seindah feed instagram travel blogger yang bawa anak-anaknya, Sist! Ada kondisi tubuh dan mood lain yang harus dijaga. Apalagi kalau melakukan perjalanannya bersama bayi. Terlebih buat saya yang punya anaknya lama, wajib kudu harus dijaga banget kondisi anak jangan sampai sakit, luka, atau lecet gara-gara traveling. Tentunya kenyamanan adalah keutamaannya. Kalau dulu saat masih sendiri, traveling bersama teman, atau pasangan kita bisa seseruan gila-gilaan, kini ada ego yang harus sedikit diredam.

Baca Juga:   #CeritaIbu: Pengalaman Pertama Berkereta Api bersama Bayi

Buat sebagian mama-mama lain mungkin ada yang santai saja membawa anak mereka yang masih bayi traveling. Mau masih bayi berapa minggu atau bulan, santai saja dibawa naik pesawat, berjemur di tepi pantai, atau bahkan ke luar negeri. Tapi bagi saya yang dapat anaknya lama, penuh pertimbangan banget. Buat memulai perjalanan jauh pun, saya harus melewati tahapan-tahapan belajar dulu. Dari belajar ngajarin Aqsa tidur bukan di kamar, naik kendaraan umum yang paling sederhana, bepergian yang agak lama di luar rumah, jalan-jalan sambil digendong dengan durasi yang agak lama, hingga puncaknya mengajak dia pulang kampung.

Baca Juga:   Staycation Pertama bersama Aqsa di Hotel Neo Kebayoran

Setelah menjalani sendiri melakukan perjalanan bersama Aqsa yang notabene masih berusia 4 bulan, saya jadi terbuka pikirannya. Saya yang ngoyo dan ambisius jadi memetik banyak pelajaran. Belajar meredam ego tentulah jadi kunci utamanya.

Traveling bersama Bayi, Antara Ekspektasi dan Realita

1. Jangan berharap menghasilkan multikarya

Sebagai penganut paham ‘sekali dayung dua tiga pulau terlampaui’ saat traveling dulu sebelum punya anak, kini saya harus mengubah total kebiasaan ini. Dulu, sekali pergi ke suatu tempat saya bisa dapat foto bagus paripurna buat blog dan social media, stock video buat vlog, dan banyak informasi buat postingan blog. Sekarang saat Aqsa masih bayi 4 bulan? Bisa dapat semua itu udah anugerah banget. Sekarang paling banter hanya dapat informasi buat blog. Sementara foto didapat kadang seadanya karena melihat mood Aqsa serta situasi dan kondisi.

Baca Juga:   Vlogging Bebas Ribet dengan Alat dan Media Sederhana

2. Bersyukur aja kalau dapat satu dua kali jepretan foto

Kalau dulu sebelum punya anak saya bisa bikin foto yang paripurna sampai puluhan bahkan ratusan jepretan, jangan harap itu terjadi sekarang. Bahkan dulu, buat berfoto aja saya suka menyiapkan properti tambahan seperti kain, topi, kacamata, kipas, atau properti lainnya. Kalau sekarang? No! Jalan-jalan trus dapat 1 atau 2 foto yang layak tayang buat social media atau blog aja udah bersyukur banget.

beginilah jadinya mau foto bareng tapi bayi sudah gelisah kepanasan

Apalagi kalau Aqsa kooperatif buat difoto, wah senangnya berlipat ganda. Sayangnya, kadang harapan nggak sesuai kenyataan. Cuaca panas, kondisi capek, atau suara yang terlalu bising bisa mempengaruhi mood Aqsa. Jangankan mau berpose cantik, ayahnya lagi fokusin kamera aja dia udah ngulet-ngulet gelisah. Jadilah 1 atau 2 jepretan yang kira-kira bagus ya udah terima itu saja.

DULU
SEKARANG

3. ‘Buang jauh-jauh’ dulu itinerary

Saya juga termasuk orang yang kalau jalan-jalan harus selalu bikin itinerary walaupun kasar dan nggak selalu ditepati tetapi itinerary itu wajib hukumnya. Dengan itinerary, ada target tempat atau suasana tertentu yang bisa dicapai. Kalau sekarang? No! Lupakan itinerary karena kalau bayi sudah gelisah, rewel, apalagi ngamuk, dialah yang utama. Rencana buat ke suatu tempat bisa batal dan dialihkan menjadi bobok-bobok cantik alias staycation saja di hotel karena kenyamanan si bayi adalah yang utama.

4. Barang keperluan anak lebih penting

Jalan-jalan dengan anak bayi ternyata membutuhkan lebih banyak kesiapan khususnya dalam hal bawa barang-barang. Kalau dulu sebelum punya anak, ransel saya akan dipenuhi oleh properti foto, lensa, tripod, atau monopod, sekarang semuanya itu bukan lagi menjadi prioritas. Karena yang menjadi prioritas masuk ke dalam tas sekarang adalah diapers, baju ganti anak, minyak telon, tisu basah dan kering, payung, dan segudang keperluan lain yang digunakan buat bayi. Bahkan kadang tangan satunya masih harus menggenggam stroller buat kenyamanan bayi di lokasi jalan-jalan.

sekarang properti berganti menjadi payung dan gendongan

Rencana-Rencana Traveling bersama Bayi Tercinta

Setelah mengalami beberapa kali traveling sederhana bersama Aqsa, si bayi imut kesayangan, saya memang dapat banyak pelajaran berharga. Salah satunya memang harus menekan ego. Perubahan besar yang saya alami saat traveling sebelum dan sesudah punya anak ini apakah bikin saya kapok buat jalan-jalan sama Aqsa? NO! Walaupun sedikit ribet dan nggak bisa mengakomodasi ekspektasi saya soal traveling seperti saat belum punya anak dulu, tapi traveling bersama anak itu ternyata menyenangkan.

Baca Juga:   5 Tip Bulan Madu Tak Terlupakan untuk Pengantin Baru

Kuncinya mungkin saya harus sedikit bersabar dan belajar pelan-pelan. Kalau kemarin-kemarin saya sudah memperkenalkan Aqsa naik kendaraan umum seperti bus Transjakarta, kereta api jarak jauh, dan kereta api jarak pendek, PR selanjutnya adalah memperkenalkannya pada moda kendaraan lain seperti pesawat terbang, bus jarak jauh, atau shuttle bus agar Aqsa punya pengalaman bepergian dengan banyak moda transportasi.

Kalau kemarin-kemarin saya sudah memperkenalkan kampung halaman saya Purworejo dan Yogyakarta pada Aqsa, maka selanjutnya kota-kota lainnya siap diperkenalkan. Dalam waktu dekat, Aqsa dan kami (ayah dan ibunya) akan bepergian ke Semarang dengan menggunakan mobil pribadi. Jarak Purworejo Semarang yang memakan waktu 5 jam di dalam kendaraan pribadi tentulah akan menjadi tantangan buat kami. Semoga Aqsa betah melakukan perjalanan ini.

Baca Juga:   5 Hal yang Dirindukan dari Kampung Halaman Tercinta, Purworejo

Satu kota lainnya yang juga ingin saya perkenalkan pada Aqsa adalah Bandung, kota dimana saya menuntut ilmu dan pernah bekerja selama beberapa tahun di sana. Di kota ini pula, nenek dan kakek Aqsa (kakak dari ibu saya) tinggal. Di kota yang udaranya sejuk ini pula, banyak teman saya bermukim dan mencari sejumput rezeki. Dan di kota ini pula, Aqsa si pecinta udara dingin akan saya perkenalkan dengan sejuk udara Kota Kembang. Jadi, kami bisa sekalian liburan sambil mengunjungi kerabat serta saudara.

Baca Juga:   Nostalgia Bandung di Akhir Tahun 2017

Namun, memiliki rencana jalan-jalan ke Bandung tentulah saya harus punya persiapan lain yang lebih matang. Apalagi suhu di Bandung lebih sejuk dari di Jakarta, Purworejo, Yogyakarta, atau Semarang. Tentulah ini akan menjadi tantangan dan pengalaman baru buat kami. Lalu, untuk memperkenalkannya dengan moda transportasi lainnya, saya ingin mengajak Aqsa untuk naik shuttle bus. Salah satu shuttle yang bisa saya naiki adalah Cititrans. Apalagi lokasi pool Cititrans Pasteur yang dekat dengan rumah kakek nenek Aqsa memudahkan kami buat mengatur jadwal liburan. Tinggal booking tiketnya di Traveloka, maka liburan tinggal di depan mata.

Selanjutnya, saya dan suami tinggal harus menetapkan jadwal, lebih giat mencari rezeki untuk memperbesar budget liburan, mencari informasi rekomendasi tempat-tempat wisata ramah anak di Bandung dan Lembang dari Detik Travel, menjaga tubuh Aqsa agar selalu fit dan sehat, lalu mengosongkan jadwal kami untuk sejenak melepas lelah di Bandung. Maka, Sa, ibuk akan perkenalkan kamu dengan kota dimana ibuk menggali banyak pengalaman hidup di sana.

Sudah siap untuk petualangan selanjutnya, Sa? Let’s go!

 

1 Comment
Previous Post
Next Post