FAM Trip’s Diary: 9 Destinasi 9 Keistimewaan di Resorts World Genting

Kabut lumayan tebal masih menyelimuti Genting pagi itu saat saya membuka tirai kaca kamar hotel. Tulisan dan sebagian bangunan Hotel First World pun masih tertutup kabut. Namun, aktivitas di Genting sudah dimulai. Cable car sudah beroperasi sejak tadi pagi. Dan pagi ini saya pun harus mengumpulkan semangat dari posesifnya tempat tidur untuk kemudian mandi dan bersiap.

Wajar kalau kasur pagi di Genting begitu posesif. Pasalnya udara di sana yang dingin membuat saya nggak ingin cepat-cepat beranjak. Walaupun di kamar mandi menggunakan fasilitas air panas tapi tetap saja keluar dari kamar mandi AC alami alias udara dingin Genting menyambut saya. Namun sungguh sayang kalau waktu di Genting hanya dihabiskan untuk bermalas di atas kasur karena begitu banyak tempat seru yang bisa dieksplor, seperti saya hari itu.

(Baca juga: Hello Resorts World Genting, Saya Datang…)

Seluruh teman sudah menunggu di lobby kala saya turun. Hari itu, jadwal lumayan padat tetapi kami semua tetap bersemangat. Apalagi hari itu saya dan teman-teman sudah siap dengan kostum santai bertema olahraga karena memang terdapat kegiatan hiking di rainforest dalam jadwal kami. Hari kedua di Genting itu, kami mengunjungi 9 titik dimana kesembilannya memiliki keistimewaan sendiri yang bikin saya kagum. Oke, mari kita bahas satu-persatu 9 spot yang saya kunjungi hari itu.

1. Makan Pagi di Food Story

Food story adalah sebuah restoran yang letaknya di Mall Sky Avenue level 3. Food Story ini juga merupakan restoran untuk para tamu yang menginap di First World Hotel. Karena merupakan restoran dari salah satu hotel terbesar di dunia, nggak heran kalau Food Story sendiri pun sangat luas dengan kapasitas tempat duduk bisa untuk ratusan orang.

Sama halnya dengan restoran hotel pada umumnya yang melayani sarapan pagi, berbagai menu pun disajikan di Food Story. Dari sekadar kudapan seperti roti, pancake, telur mata sapi, atau omelet hingga makanan berat dengan berbagai lauknya. Selain itu, disediakan pula kue-kue kecil dan buah segar sebagai pelengkap sarapan. Sementara itu untuk minuman, ada banyak macam minuman dari kopi, teh, teh tarik, hingga air putih. Semua makanan dan minuman itu disajikan dengan cara prasmanan.

Karena hari itu akan banyak kegiatan, saya pun mengisi perut dengan makan lumayan banyak. Pancake, sosis, telur ceplok, omelet, hingga orange jus masuk ke perut. Saya juga bisa mengisi air putih ke dalam tumblr di sini karena memang hari itu disarankan membawa botol minum mengingat akan ada kegiatan hiking. Saya pun menyudahi makan di Food Story dengan agak kekenyangan dan bersiap untuk menuju destinasi selanjutnya.

(Baca juga: FAM Trip’s Diary: Kekenyangan di Bubbles & Bites hingga Mengenal Sejarah Genting di The Visitors Galleria)

2. Melihat Warisan Seni dan Budaya di Seni Kome Peng Heng

Letak Seni Kome Peng Heng di dalam Mall Sky Avenue, lebih tepatnya berada di depan Food Story. Seperti halnya nama yang disandang, Seni Kome yang berarti Seni Kami, Seni Kome Peng Heng adalah sebuah museum yang menyimpan kekayaan seni dan budaya Malaysia. Kata ‘Kome’ berasal dari dialek yang digunakan masyarakat Pahang serta beberapa daerah lain di Malaysia. Sementara ‘Peng Heng’ merupakan nama yang tercatat dalam dokumen sejarah Dinasti Ming semasa tahun 1520an, yang merujuk pada kawasan Pantai Timur di Semenanjung Tanah Melayu.

Seni Kome Peng Heng ini terbuka untuk umum dengan tiket masuk 10 RM (Dewasa), 8 RM (anak-anak), dan 32 RM (paket keluarga, 2 dewasa, 2 anak-anak) untuk wisatawan asing. Di dalam museum, tersimpan banyak benda-benda seni, budaya, dan sejarah. Karena masih satu rumpun dengan Indonesia, nggak heran kalau beberapa itemnya mirip dengan seni atau budaya Indonesia seperti gamelan, permainan tradisional (congklak dan permainan gunungan), wayang, hingga batik.

di Seni Kome Peng Heng ada gamelan juga
nasi kerabu yang nasinya warna biru
belajar suku-suku di Malaysia

Selain menampilkan benda seni dan budaya, tersaji pula makanan dan minuman khas Malaysia di antaranya adalah nasi kerabu, keropok lekor (mirip otak-otak namun lebih crunchy), mee siam, dan minuman Sarsi (mirip orson/soda/sarsaparila). Saya sempat icip-icip nasi kerabu yang unik. Warna nasinya biru agak ungu dengan pelengkap sayuran (mirip urap), sambal, ayam goreng, dan telur asin. Cara makanya pun unik karena nasi dan sayuran harus dicampur atau diaduk terlebih dahulu kemudian dimakan menggunakan lauknya. Rasanya pas di lidah saya. Sayurannya pun segar karena ada aroma rempah seperti irisan serai.

3. Keliling First World Hotel

Selesai dan kekenyangan dari Seni Kome Peng Heng, saya dan rombongan pun melanjutkan perjalanan ke First World Hotel. First World Hotel dikenal sebagai salah satu hotel terbesar di dunia. Saking besarnya, lobby hotelnya pun luas banget dengan puluhan customer servicenya yang siap melayani tamu. Oh ya, lobby hotel ini masih berada di area Mall Sky Avenue dan nggak jauh dari Seni Kome Peng Heng.

Karena sangat besar, sistem check in dan check out kamar hotel pun dilakukan swalayan alias dilakukan sendiri oleh tamu melalui mesin-mesin yang telah tersedia di hotel. Di hotel yang memiliki 3 tower dan 7000-an kamar ini, ada banyak tipe kamar yang ditawarkan antara lain: tipe standard room, deluxe room, Y5 deluxe room, deluxe triple room, Y5 triple room, superior deluxe room, dan world club room. Tinggal disesuaikan saja sama kebutuhan dan jumlah anggota yang liburan. Enaknya lagi, ada kamar-kamar yang bisa memuat 4 orang lho jadi lumayan bisa sharing budget kan kalau nginepnya di First World Hotel.

Sama halnya dengan Theme Park Hotel/Hotel On The Park, tidak dilengkapi dengan AC. Tapi tenang aja kok, udara Genting sejuknya sudah melebihi AC. Apalagi kalau pagi dan malam hari. Jadi jangan takut kedinginan. Oh ya, hingga saat ini First World Hotel masih terus membangun tower baru. Jadi kebayang donk, jumlah kamarnya akan semakin bertambah dan mungkin saja akan menjadi hotel dengan jumlah kamar terbanyak di dunia. WOW!

4. Dibuat Takjub oleh Sky Symphony

Setelah dibuat kagum sama First World Hotel, perjalanan kami pun masih dilanjutkan dengan aneka kejutan baru. Awalnya saya kira Alicia dan Jay akan membawa kami makan siang tapi perjalanan makan siang nampaknya harus ditunda dulu karena kami akan diberi suguhan Sky Symphony di atrium Mall Sky Avenue. Atraksi Sky Symphony ini adalah atraksi unik yang menggunakan aneka macam lampu. Jadi semacam melihat aneka kumpulan lampu menari diiringi musik dengan latar cerita tertentu.

Untuk menikmati Sky Symphony, saya harus berjalan terlebih dahulu ke tengah-tengah atrium Mall Sky Avenue yang memang penuh dengan pemandangan LCD besar. Sekilas terlihat kayak di Times Square New York karena memang terinspirasi dari tempat itu. Selain saya dan rombongan, pengunjung lain pun bisa menikmati atraksi ini karena memang free. Atraksi dimainkan sekitar 30 menit dari sekitar pukul 12.00-12.30 waktu Malaysia.

5. Makan ala Italia d Motorino Pizza Cafe

Motorino Pizza Cafe adalah tempat makan siang saya hari itu. Seperti namanya, cafe ini memiliki menu khas yaitu pizza. Salah satu pizza yang jadi andalan adalah Crazy Hot Pizza, pizza yang dibakar di dalam tungku dengan suhu 800-900 derajat Farenheit. Selain topingnya yang nikmat, tekstur Crazy Hot Pizza ini crunchy banget karena memang tipis. Pizza yang kayak gini nih yang saya suka karena nggak terlalu tebal jadi nggak bikin cepat bosan.

Siang itu, selain makan Crazy Hot Pizza saya juga disuguhkan oleh berbagai menu antara lain calamary (tapi yang ini tepungnya sedikit basah, Motorino’s meatballs (menu seperti bakso yang diberi saus khas Motorino), dan roasted chicken wings yang diberi perasan lemon di atasnya. Sementara untuk minumnya, saya memilih jus semangka yang menjadikan siang itu semakin segar.

Gong dari semua menu yang sudah disediakan adalah pizza jumbo yang bentuknya seperti pastel tapi berukuran besar yang datang paling akhir di saat saya dan teman-teman sudah kekenyangan. Isi pizza jumbo itu adalah sayuran dan daging dengan dominasi melted cheese. Ulalaaa, perut yang sudah kenyang ini tergoda juga untuk icip-icip dan benar saja rasanya ngeju banget. Nikmat!

Selain bisa menikmati kuliner yang disediakan di Motorino, pengunjung juga bisa melihat langsung pembuatan pizza oleh chef di dapurnya. Pengunjung, termasuk juga saya, bisa melihat chef meracik pizza dari balik kaca jendela. Proses membuat pizza dari memberikan toping-toping di atas adonan hingga membakarnya di tungku api bisa dilihat dengan jelas dan terpampang nyata, hihi.

6. Menguji adrenalin di Sky Train

Sepertinya klimaks dari hari ini ada pada kegiatan naik cable car dari Awana SkyWay. Setelah kekenyangan di Motorino, kami pun menuju Awana SkyWay yang masih berada di Mall Sky Avenue. Di sana kami bersiap untuk naik gondola atau kereta gantung yang memang terkenal dan menurut saya jadi ikon serta daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Genting.

Untuk menguji nyali dan biar terasa makin greget, saya dan teman-teman naik glass floor gondola. Kebayang donk kayak apa ngeri-ngeri sedapnya saat si gondola berjalan dan menambah kecepatan di ketinggian lebih dari 1000 meter permukaan laut. Saat itu jantung benar-benar deg-deg serrr tapi untungnya saya nggak kencing di celana. Oh ya, untuk naik gondola ini satu gerbong bisa dinaiki 5-6 orang saja. Saat itu saya naik bersama Ben, Katie, Bang Aswi, Bang Tunis, dan Bang Rudi.

Saat itu rute perjalanan kami adalah Awana SkyWay menuju SkyAvenue Station lalu balik lagi dan turun di Chin Swee Caves Temple Station. Untuk naik glass floor gondola, penumpang dikenakan biaya 50 RM. Sementara kalau mau naik gondola yang biasa, hanya butuh uang 8 RM. Kalau ke Genting sih memang harus, kudu, dan wajib banget naik gondola ini. Selain bisa melihat pemandangan pegunungan di Genting Highlands, kita juga bisa menguji adrenaline di ketinggian lebih dari 1000 meter. Eits, jangan khawatir kenapa-kenapa dulu karena semua gondola ini sudah teruji keamanannya.

7. Syahdunya Chin Swee Caves Temple

Untuk menuju Chin Swee Caves Temple, saya turun di stasiun cable car yang memang menghubungkan langsung dengan kuil tersebut. Awalnya, di bayangan saya rombongan harus treking naik turun tangga untuk menuju ke kuil dengan 8 lantai tersebut karena dari atas cable car terlihat deretan anak tangga yang mengarah ke kuil. Namun ternyata dugaan saya salah. Dari stasiun cable car saya memang harus naik turun tangga tetapi sudah ada fasilitas eskalator di sana.

Chin Swee Caves Temple merupakan kuil Tao yang berada di ketinggian sekitar 4600 meter di atas permukaan air laut. Kuil ini didirikan di atas ketinggian oleh founder Resorts World Genting, Tan Sri Dato Seri Lim Goh Tong untuk menghormati para leluhurnya di Fujian China.

Di kuil ini terdapat beberapa patung yang menggambarkan ajaran-ajaran Budha. Namun yang jadi daya tarik pengunjung adalah patung Budha raksasa yang tingginya mencapai 15 meter. Selain itu, bangunan kuil 8 lantai juga merupakan bangunan yang ikonik karena bangunan itulah yang terlihat dari atas ketinggian kala naik cable car. Dari atas kuil pun pengunjung bisa melihat hamparan pemandangan pegunungan Genting yang hijau. Oh ya, selain sebagai tempat wisata, banyak orang yang datang ke Chin Swee Temple untuk berdoa.

8. Treking di hutan kekinian Trek Forest

Perjalanan belum usai ketika rombongan kami sampai di Chin Swee Caves Temple. Setelah dari kuil, kami melanjutkan perjalanan ke Trek Fashion Forest. Trek fashion forest merupakan private forest yang dimiliki Resorts World Genting yang pengelolaannya diatur oleh pihak swasta. Walaupun kawasan di sekelilingnya terlihat sangat modern, namun  Trek Fashion Forest ini masih dihuni oleh satwa-satwa liar.

Trek Fashion Forest adalah ‘hutan kekinian’ yang berada di Genting. Kenapa saya sebut hutan kekinian? Karena di dalam hutan ini kita dapat melakukan aktivitas menggunakan internet yang tersambung ke wifi. Beberapa pohon pun sudah dipasang teknologi NFC yang apabila dipindai kita bisa tahu informasi tentang pohon atau tanaman tertentu. Selama mengelilingi hutan kami dipandu oleh Mr Eddie dan istrinya. Kami diberitahu banyak hal khususnya tentang tanaman-tanaman ikonik. Sambil diterangkan tentang banyak hal, kami pun diajak treking keliling hutan.

teknologi NFC yang dipasang di beberapa pohon di Trek Fashion Forest

Treking kami lakukan dengan jarak yang tak begitu jauh mengingat kami hanya punya sedikit waktu. Tapi selama treking kami terus dijelaskan mengenai banyak hal. Saya agak was-was sebelumnya karena konon di hutan ini masih banyak pacet walaupun itu di jalur hutan yang telah dibuka. Untungnya pas treking, tak terlihat satu pun pacet atau lintah, fiuuhhh. Treking kami pun berakhir di tempat awal kami bertemu Mr Eddie. Kami pun membubuhkan tanda tangan sebagai bukti bahwa pernah datang ke hutan ini.

9. Kalap makan di Resort Seafood Stemboat

Hujan dan kabut yang mulai tebal menyelimuti kami kala selesai treking dari Trek Fashion Forest. Saya pun sempat kedinginan apalagi saat sampai di depan Grand Genting Hotel. Namun, saya jadi kembali bersemangat saat Jay mengarahkan kami menuju sebuah restoran bernama Resort Seafood Stemboat. Di restoran ini, saya dan rombongan disuguhi makanan stemboat yang cocok sekali dengan suasana sore jelang malam yang dingin di Genting.

Di Resort Seafood Stemboat, kita bisa makan stemboat dengan 20 varian sambal, dari sambal belacan, bawang putih, blackpepper, thai sauce, grinded chilli padi, oyster sauce, dan masih banyak lagi. Pilihan saya jatuh ke sambal belacan yang wanginya aduhai dan bawang putih yang telah dihancurkan kecil-kecil. Sedangkan di meja makan kami (saya semeja dengan 7 orang lainnya) sudah tersedia berbagai macam bahan untuk isian kuah stemboat antara lain sayuran (bayam dan selada), bakso ikan, udang, irisan daging ikan, dumpling, tofu, udon, dan masih banyak lagi. Kuah stemboat yang dipilih adalah kuah tomyam dan kaldu.

Jangan ditanya kami makan kayak apa karena masing-masing dari kami kalap dengan makanan yang ada di meja. Kuah tomyam dan kaldu yang hangat berpadu dengan campuran sambal yang tadi saya ambil, aduhai surga dunia banget. Saya sampai makan 3 mangkuk. Selain itu, ada pula nasi goreng jahe. Nasi goreng ini seharusnya dimakan sama kuah stemboat tapi sudah terlanjur saya makan duluan. Rasanya sedikit tawar dengan dominan rasa jahe tapi tetap nyetel di lidah saya. Pas saya coba pakai kuah tomyam juga enak banget. Ditambah lagi minuman kami saat makan malam itu adalah teh tawar hangat. Sungguh, nikmatnya pas banget di tengah udara dingin Genting.

Makan malam di Resort Seafood Stemboat itu pun menjadi penutup yang manis, nendang, sekaligus berkesan untuk menebus lelahnya berkegiatan di hari kedua. Saya pun bisa pulang dengan tenang ke hotel malam itu untuk kemudian beristirahat.

Untuk yang masih penasaran sama kegiatan saya dan teman-teman di hari kedua di Genting, bisa lihat di video berikut ini ya:

 

 

 

 

*Featured Image by Bang Aswi

8 Comments
Previous Post
Next Post